Setetes Embun pada Kesejatian yang Terluka*

October 16th, 2007 by albaab

Buat saya yang awam, eksistensi profil pemimpin sejati di negeri Indonesia ini benar-benar menjadi sesuatu yang sangat langka. Apa yang tertulis di media cetak, tergambar dan terdengar dari media elektronik, atau terlihat oleh mata kepala, tak pernah jemu membuat hati kita miris. Hampir seluruh media massa dan realita itu mengisyaratkan, ketika banyak orang yang merana akibat bencana, terlilit kemiskinan dan kebodohan dalam kungkungan “lingkaran setan” struktur sosial-ekonomi yang begitu menjepit, para pejabat negara yang juga (katanya disebut) pemimpin bangsa malah terperangkap dalam intrik-intrik politik yang menyesakkan dada, “ribut-ribut” pembagian kekuasaan, sibuk mengundang para VOC baru untuk menguras kekayaan negeri sendiri, dan memulai manuver-manuver politik untuk menjemput peluang sukses pada pemilu 2009-padahal masih banyak problem bangsa hingga tahun 2007 ini yang belum jua terselesaikan,.

Dalam skala dan hierarki yang non-strategis, kita pun tak kalah prihatinnya. Lihat saja bagaimana para pejabat negara tampak tersenyum dalam kemewahan yang di luar kepantasan, tergoda oleh insting dasar manusia yang tak pernah merasa kaya dan puas sehingga kenaikan gaji, komisi, pendapatan, fasilitas, atau apalah namanya itu, dianggap sebuah kewajaran (atau mungkin sebuah keharusan?). Tanpa merasa risih, di antara kenaikan itu ada dipertontonkan kepada publik dengan alasan bahwa mereka memiliki tanggung jawab yang besar terhadap tugas-tugas kenegaraan. Sebagian dari mereka bahkan tak kuasa menahan desakan syahwatnya sehingga korupsi pun tak terelakkan. Kita lihat pula, bagaimana aturan protokoler yang menyertai para pejabat digulirkan. Warga sipil dianggap wajar menikmati kemacetan dan efek pemutarbalikan aturan rambu-rambu lalu lintas, tetapi tidak demikian untuk para pejabat setingkat gubernur hingga presiden. Sebab, bagi mereka, semua sudut dan lajur di jalan raya harus menjadi jalan bebas hambatan. Alasannya memang sangat logis : supaya mereka tidak terlambat dalam menunaikan tugas-tugas kenegaraan!

Sebagian besar fenomena di atas mungkin bukanlah suatu kepincangan ketika dipandang melalui kacamata hukum positif dan aturan-aturan  di negeri ini, tetapi jelas, menjadi fakta yang melukai kesejatian sebuah proses kepemimpinan. Pun demikian, setidaknya kita masih layak untuk berbahagia karena di tengah kesejatian yang terluka itu, ternyata ada potret teladan yang mengharukan sekaligus membanggakan.

Potret yang bagaikan setetes embun segar itu adalah kisah kepemimpinan seorang Hamdan (50), pria lulusan sekolah dasar yang menjadi Kepala Dusun Penyangkak, Bengkulu Utara. Kisah empatik ini ini disuguhkan oleh harian Republika edisi Jumat, 12 Oktober 2007. Kita akan coba ulas lagi kisahnya pada alinea berikutnya. Namun, izinkan saya dahulu untuk sedikit berseloroh : wahai para pemimpin negeri, tidak perlu lah negara merogoh koceknya hingga puluhan juta rupiah hanya untuk biaya training kepemimpinan Anda. Anda cukup menyiapkan tiket pesawat ke Bengkulu dan menginap beberapa hari di Dusun Penyangkak untuk berguru pada Pak Hamdan J.

**

Dusun Penyangkak adalah satu dari sekian banyak daerah yang porak-poranda akibat gempa Sumatera di awal bulan puasa tahun ini. Di dusun ini, banyak rumah warga yang luluh lantak, termasuk rumah Pak Hamdan. Tentu saja setiap warga sangat mengharapkan agar rumah mereka kembali dibangun dan tak mau berlama-lama berteduh di bawah tenda. Meskipun demikian, Pak Hamdan tidak ingin pembangunan rumah keluarganya dinomorsatukan hanya karena ia adalah seorang kepala dusun. “Selesaikan rumah warga dulu, saya belakangan saja”, demikian perintah Pak Hamdan kepada warganya. Tidak hanya masalah rumah, Pak Hamdan pun memilih untuk memastikan bahwa setiap warganya sudah berteduh di bawah tenda sebelum diri dan keluarganya sendiri. Terpal biru yang beliau dapatkan bahkan adalah terpal terakhir dari seluruh terpal yang disediakan untuk warga.

Pak Hamdan juga berhati-hati dalam segenap aktivitas pemberian bantuan atau penggunaan fasilitas yang terkait dengan keluarga dan kerabatnya. Kalau diistilahkan secara populer, Pak Hamdan tak ingin terjebak dalam KKN, apalagi di tengah suasana sulit kala itu. “Dia masih keponakan saya, tolong pengurus posko saja yang memutuskan”, pesannya suatu saat ketika mendistribusikan sembako. Pada kesempatan lain, seorang relawan hendak memakai sebilah papan untuk tiang posko. Pak Hamdan pun melarangnya dengan halus, “Jangan bayari papan itu, pak. Karena dia adik saya, apa nanti kata warga. Lebih baik bapak pakai papan warga saja. ”

Pak Hamdan menjadi sosok yang berupaya menjaga harga diri pribadi dan keluarganya dalam kapasitasnya sebagai pemimpin warga Dusun Penyangkak. Ia tidak tergoda untuk memanfaatkan “jabatannya” sebagai alat untuk memuluskan dan memprioritaskan pemenuhan keinginan dan kebutuhan keluarganya, bahkan di tengah-tengah bencana, saat semua orang tanpa terkecuali sama-sama membutuhkan bantuan sandang, pangan, dan papan. Ia berusaha menjaga diri dan keluarganya dari fitnah, karena memang jabatan bisa menjadi sumber fitnah dimanapun dan kapanpun. Pak Hamdan dan keluarganya, berusaha menahan penderitaan lebih lama dari derita para warga. Ia akan mengambil paling terakhir, itupun jika masih ada sisa.

Tak hanya untuk diri dan keluarganya, teladan ini ia ajarkan pula kepada warganya. Pada saat, sebagian warga korban gempa di sepanjang jalur Lais hingga Muko Muko mempersempit jalan dengan meminta-minta bantuan, Pak Hamdan melarang keras warganya melakukan itu. “Kalau rezeki kita, pasti tidak kemana. Jangan memaksa orang membantu dengan mengiba-iba. Apalagi memaksa, kemana harga diri kita. Bukannya mereka mau membantu malah segan berhenti memberikan bantuan”, terangnya. Nasihat Pak Hamdan ini berbuah sikap tenang dan bijak para warganya. Meski 90 persen rumah di Dusun Penyangkak hancur total, warga tidak terpancing untuk bertindak anarkis. Pada suatu rapat dengan warga, Pak Hamdan berpesan, “Kita tidak perlu marah pada pemerintah dan bupati. Bukan mereka yang membuat gempa ini. Biar saja, kita urus masalah kita sendiri. Kedatangan pejabat juga tidak akan menyelesaikan masalah. Kita tunggu dengan sabar bantuan pemerintah, sambil kita berusaha bangkit sendiri”. Subhaanallah…

Kearifan kepemimpinan Pak Hamdan yang diiringi oleh kesabaran dan ikhtiar para warganya, ibarat doa mustajab yang mengetuk pintu-pintu keberkahan di langit. Dusun Penyangkak kebanjiran bantuan dari para donatur. Semua warga dusun sudah mendapatkan lebih dari cukup termasuk keperluan lebaran. Pak Hamdan yang mengetahui kondisi ini berusaha mengingatkan warganya agar tidak bersikap egois. Atas persetujuan dari warga, kelebihan bantuan itu didistribusikan ke desa-desa lain. Pak Hamdan memimpin sendiri pendistribusian bantuan itu hingga ke Serangai (satu jam perjalanan dari Penyangkak)

“Kami sudah dapat lebih dari cukup hingga lebaran nanti. Saudara kami di desa lain belum tentu mendapat keberkahan sebesar ini. Semoga ini bermanfaat untuk warga bapak”, ujar Pak Hamdan pada tokoh Desa Kembang Manis, Lais.

**

Demikianlah cuplikan kisah kepemimpinan Pak Hamdan di tengah suasana pasca gempa Sumatera. Boleh jadi, sebagian dari pembaca yang budiman merasa heran dan tak percaya bahwa masih ada sosok pemimpin seperti Pak Hamdan di negeri ini. Kisah Pak Hamdan bukanlah cerita dalam novel, tetapi memang benar-benar ada dan nyata. Meskipun latar kisahnya adalah suasana pasca bencana, kita patut untuk yakin bahwa keteladanan yang ditunjukkan Pak Hamdan itu merepresentasikan kepemimpinannya pada hari-hari biasa dan normal. Bukankah karakter manusia yang sesungguhnya akan terlihat jelas pada saat-saat terjepit dan menderita?

Para pembaca yang budiman, tulisan ini disajikan bukanlah untuk melebih-lebihkan satu pihak dan kemudian mengabaikan pihak lainnya. Kita perlu optimis bahwa masih banyak Pak Hamdan-Pak Hamdan lainnya di berbagai pelosok negeri ini dan tak mustahil ada pula para pemimpin seperti Pak Hamdan dalam lembaga tinggi dan tertinggi negeri ini. Mereka bukan lah pemimpin yang bebas dari kekurangan dan kelemahan, tetapi mereka adalah pemimpin yang perlahan tapi pasti, terus berjuang dengan kekuatannya untuk mengobati luka pada kesejatian sebuah proses kepemimpinan, mengakui kelemahan mereka agar bisa dilengkapi sehingga menjadi hebat tanpa pakaian keangkuhan, menjiwai intisari kepemimpinan sehingga mereka berjaya karena berusaha membahagiakan semua orang, bukan dengan membahagiakan sebagian orang lantas menindas sebagian lainnya.

Siapa pun kita, yang terlibat dalam proses kepemimpinan dimana pun dan kapan pun, perlu mengambil dan mengimplementasikan hikmah dari kisah kepemimpinan orang-orang seperti Pak Hamdan. Tidak mudah menjadi mereka, tapi jejak langkah mereka jelas-jelas merupakan ikhtiar untuk menjadi pemimpin sejati. Semakin sulit menjadi seperti mereka, ketika pangkat dan kekuasaan kita semakin tinggi dan harta kita semakin menumpuk, karena hal-hal inilah yang terus menjadi kendaraan syaithan untuk melesatkan syahwat kita hingga terjerumus ke dalam lembah kecurangan, kepentingan-kepentingan sesaat, pengabaian hak-hak wong cilik, dan bermegah-megahan dalam kemewahan.

Wallahu a’lam bi ash-shawwaab…

* Percakapan dan sebagian pernyataan dalam artikel ini dikutip dari kolom Lirih bertema “Keteladanan Pemimpin dari Kampung Gempa” di harian Republika, Jumat 12 Oktober 2007.

Prinsip “Teh Manis” : Meneladani Percakapan Nabi Yusuf a.s. dengan Dua Orang Pemuda (2)

June 10th, 2007 by albaab

Dan bersama dengan dia masuk pula kedalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang di antara keduanya: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur." Dan yang lainnya berkata: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung." Berikanlah kepada kami ta`birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena`birkan mimpi) (Yusuf:36).

Pada ayat ke-36 di atas, dua pemuda itu tampak mengapresiasi kepandaian Nabi Yusuf a.s. dalam menjelaskan makna di balik mimpi. Maka mereka pun menanyakan perihal mimpi mereka kepada sang nabi. Lantas, bagaimana reaksi Nabi Yusuf a.s.? Mari kita perhatikan ayat selanjutnya.

Yusuf berkata: Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian(Yusuf:37).

Wow, jelaslah bagi kita bahwa ternyata Nabi Yusuf tidak to the point memberikan penjelasan mengenai mimpi masing-masing pemuda. “Penjelasan mengenai mimpi” dapat diibaratkan sebagai “gula dalam teh manis” dan ternyata Nabi Yusuf tidak mengutamakan itu. Kita bisa mengamati pada ayat ke-37 ini, bahwa Nabi Yusuf memilih untuk mengutamakan penjelasan mengenai hal substansial : Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. Penjelasan mengenai hal substansial ini, yakni dakwah ilaa tauhiidillah, diteruskan oleh Nabi Yusuf sebagaimana diilustrasikan Allah pada ayat 38 hingga 40.

Dan aku mengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya`qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia itu tidak mensyukuri (Nya)(Yusuf:38).

Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?(Yusuf:39)

Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.(Yusuf:40)

Barulah pada ayat ke 41, kedua pemuda mendapatkan jawaban mengenai ta’bir mimpi mereka dari Nabi Yusuf a.s.

Hai kedua penghuni penjara, "Adapun salah seorang di antara kamu berdua, akan memberi minum tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku)."(Yusuf:41)

Saudaraku,

Kita dapat memahami beberapa poin penting dari enam ayat di atas. Pertama, kita menyadari bahwa pribadi Nabi Yusuf a.s. yang berbudi luhur berhasil menarik simpati dari dua orang pemuda sesama penghuni penjara. Kedua, Nabi Yusuf dengan cerdas memanfaatkan percakapan yang simpatik itu untuk menunaikan tugasnya sebagai pesuruh Allah, yakni mengajak kedua pemuda untuk memurnikan tauhid kepada Allah SWT. Ketiga, Nabi Yusuf tampaknya tidak tergesa-gesa untuk segera menjawab pertanyaan kedua pemuda, karena bukan itulah substansi percakapan di antara mereka. Beliau bisa memahami bahwa kedua pemuda itu akan tetap mendengarkannya dengan seksama sampai ia menjawab pertanyaan mereka. Nabi Yusuf pun menggunakan kesempatan emas itu untuk mengajarkan tauhid kepada keduanya. Kalau saja Nabi Yusuf a.s. langsung menjelaskan mengenai mimpi kedua pemuda itu, boleh jadi mereka tidak terlalu semangat lagi untuk menyimak ajaran tauhid yang disampaikan beliau.

Saudaraku,

Demikianlah kisah percakapan Nabi Yusuf a.s. bersama dua orang pemuda penghuni penjara. Dari situlah saya menyimpulkan sebuah teladan yang saya namakan sebagai prinsip “Teh Manis”. Dalam prinsip sederhana ini, pengutamaan hal-hal substansial bukanlah semata-mata dari segi waktu (dilakukan terlebih dahulu daripada hal-hal pelengkap) karena kita pun bisa “melarutkan gula” terlebih dahulu sembari atau sebelum “menyeduh teh”. Namun, pengutamaan ini lebih ditekankan pada perhatian dan strategi kita dalam mengemas dan menyampaikannya. Penekanan pada aspek perhatian menunjukkan pemahaman kita bahwa hal substansial itu sangat penting dan jangan sampai terlewatkan untuk disampaikan. Sementara itu, penekanan pada aspek strategi menunjukkan bahwa kita memikirkan cara dan waktu yang paling tepat agar hal substansial itu dapat diterima dan dipahami dengan baik. Apa yang dilakukan Nabi Yusuf a.s., dalam petikan ayat 36 hingga 41 di atas, menunjukkan kualitas dirinya dalam mengelola aspek perhatian dan strategi tersebut.

Saudaraku

Mementingkan substansi tanpa melupakan aksesori adalah salah satu upaya kita dalam mencapai keberhasilan hidup, baik dalam interaksi vertikal (antara kita dengan Allah SWT) maupun dalam interaksi horizontal (antara kita dan sesama makhluk Allah SWT). Percakapan antara Nabi Yusuf a.s dan kedua pemuda di penjara itu pun menjadi titik awal kemenangan Nabi Yusuf a.s. atas perilaku semena-mena istri majikannya (bisa disimak pada kelanjutan kisah Yusuf a.s. pada ayat 42 dan seterusnya). Semoga kita terus berlatih dan dimudahkan oleh Allah SWT. dalam menerapkan prinsip ini.

Wallahu a’lam.

Prinsip “Teh Manis” : Meneladani Percakapan Nabi Yusuf a.s. dengan Dua Orang Pemuda (1)

June 10th, 2007 by albaab

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Anda tentu pernah atau bahkan menyukai teh manis. Anda membuat teh manis sendiri atau meminta orang lain untuk membuatkannya. Pertama kali Anda menyeduh daun teh atau teh celup di dalam segelas air panas. Anda bisa menambahkan gula pada air panas sebelum menyeduh teh atau setelah warna air memerah. Lantas, Anda mengaduk-aduk gula sampai larut sehingga rasa air teh semanis yang Anda inginkan. Jika cuaca sedang panas, Anda mungkin memilih untuk menambahkan beberapa butir es batu supaya teh manis terasa lebih segar. Tak lama kemudian, segelas teh manis nikmat terhidang di depan Anda.

Sembari Anda menyeruput teh manis, saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan sederhana. Mana yang lebih penting bagi Anda dalam suatu perjamuan teh manis, tehnya atau gulanya? Saya yakin dua-duanya penting bagi Anda dan kalau salah satunya tidak ada, maka bukan teh manis namanya. Jika air teh itu tidak diberi gula, maka rasa pahitnya akan mengurangi kenikmatan bagi Anda yang tak suka teh pahit. Sementara itu, jika cuma air panas yang berisi gula, maka Anda pun tidak suka meski rasanya manis, karena Anda kehilangan sesuatu yang lebih penting, yakni sensasi rasa teh J.

Nah, jadi mana nih yang lebih penting? Meski dua-duanya penting, Anda tetap harus mengurutkan. Hmm…kalau pertanyaan itu ditujukan pada saya, maka saya akan menjawab teh jauh lebih penting daripada gula dalam komponen teh manis. Sebab, (daun) teh adalah sumber sensasi dalam segelas teh manis, sementara gula adalah sekedar bumbu penyedap terpenting yang bersifat melengkapi dan tidak memiliki sedikitpun sensasi khas daun teh.

Saudaraku,

Ada sebuah analisis sederhana dari apapun pilihan saya dan Anda. Jika kita perhatikan, pentingnya daun teh seringkali tersamarkan karena hal yang membuat kita bersemangat untuk menikmati teh manis adalah rasa manis dari air teh itu. Kita “lupa” bahwa tanpa daun teh, kita tidak akan pernah menikmati kekhasan rasa air teh. Ditambah lagi, sugesti yang kita bangun bahwa daun teh adalah suatu “konstruksi” yang bersifat built-in atau pasti ada. Sebagai contoh sederhana, kita yang memesan segelas teh manis secara jelas dan tertulis sangat yakin bahwa kita tidak akan dihidangkan segelas kopi. Kalau pun salah, kita pun dengan enteng mengatakan: “Oh, saya pesan teh, bukan kopi” atau “Kopinya buat teman saya, bukan buat saya”. Selanjutnya, perhatian kita lebih tertuju pada rasa manis teh itu; sudah pas kah rasa manisnya, terlalu manis atau malah kurang manis? Setelah kita menilai rasa manisnya, maka barulah perhatian kita beralih ke rasa khas daun tehnya. Inilah salah satu fakta dalam perjamuan teh manis.

Saudaraku,

Proses membuat teh manis sebenarnya mengajarkan kepada kita untuk selalu mengutamakan sesuatu yang lebih penting, tanpa mengabaikan sesuatu dapat melengkapinya (aksesori) sehingga memberikan hasil yang luar biasa. Kapanpun kita menuangkan gula saat membuat teh manis, pastilah kita tidak akan pernah lupa untuk menyeduh daun teh karena daun teh adalah substansinya. Tanpa daun teh/teh celup, kita tidak pernah membuat segelas teh manis, meskipun sekarung gula kita larutkan. Inilah yang saya sebut sebagai Prinsip “Teh Manis”. Prinsip ini seharusnya merevisi kebiasaan kita yang sering memberikan perhatian utama pada aspek pelengkap, dan cenderung “lupa” dengan pentingnya hal-hal yang lebih substansial.

Salah satu implementasi penting dari prinsip ini berada dalam ranah hubungan sosial. Anda mungkin tidak percaya seandainya belum membaca surat Yusuf dari ayat 36 hingga 41, bahwa kita bisa memahami Prinsip “Teh Manis” ini dari percakapan Nabi Yusuf a.s. dengan dua orang pemuda saat mereka bertiga mendekam di penjara. Melalui percakapan itulah, Nabi Yusuf a.s. menyeru kedua pemuda untuk mengesakan Allah SWT.

(Bersambung…)

Protesiklik (2)

May 20th, 2007 by albaab

Hmm… selanjutnya saya membayangkan jika saya menjadi pihak yang diprotes. Otak saya tidak hanya penuh dengan janji-janji dan program-program yang begitu mulia, tetapi berseliweran pula di sekelilingnya, lintasan-lintasan hati yang berwujud jutaan lembar kertas persegi panjang bergambar George Washington atau Ki Hajar Dewantara. Aahh…berat sekali rasanya otak ini. Godaannya sungguh ruaarrr biasa. Saya pun membatin: Kalau saya masih punya kadar keimanan yang cuma “segini” dan tetap “segini” saja, mampukah saya mempertahankan janji dan program-program mulia itu di otak saya? Mampukah saya menahan diri agar tidak tergiur dengan jutaan rupiah dan dolar itu? Tidaaaak, tidak mungkin!

Sebelum saya menjadi penguasa, mungkin nilai godaan itu cuma 5 dalam skala 10 dan keimanan saya pun kira-kira bernilai 5 sehingga kondisinya cukup ‘aman’. Namun, saat ini, ketika pangkat dan kekuasaan bertumpuk di pundak saya, nilai godaan itu melesat hingga 10, dan keimanan saya masih bernilai 5 atau bahkan turun drastis setelah kalah telak dalam perang melawan syaithan. Secara matematis saja, jelas tidak mungkin bagi saya untuk mempertahankan idealisme saya sendiri. Lebih lagi, perkara godaan dan iman sebenarnya tidak bisa di-matematiskan sehingga mungkin nilai godaan itu jauh lebih besar dan keimanan itu jauh lebih rendah lagi.

Dari sinilah saya memikirkan dua hal terkait dengan upaya memutus rantai protesiklik. Pertama, bahwa kita harus lebih arif dalam mengkritisi dan memprotes para penguasa/pejabat. Ketika mengkritik atau memprotes, maka sebenarnya tanggung jawab terbesar dari kritik dan protes itu kembali ke diri kita sendiri: apakah kita mampu menjaga diri agar TIDAK menjadi SEPERTI MEREKA pada saat kita mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan mereka kelak? Pertanyaan ini secara logis sangat mudah dijawab oleh kita. Kebanyakan kita pasti menjawab “SUDAH” atau “YA” saat ini, tetapi nanti? Apakah kita tetap menjawab dengan jawaban yang sama?

Kedua, bahwa kesadaran kita untuk memegang dan menjaga amanah kepemimpinan dan kekuasaan tidaklah berada dalam konstelasi logika. Siapa di antara para penguasa itu yang belum tahu bahwa korupsi itu adalah suata dosa? Kemudian, siapakah di antara mereka yang tidak diajari oleh ibu kandung mereka bahwa “mencuri itu tidak boleh”? Selanjutnya, adakah di antara mereka yang ketika kuliah diperkenankan oleh dosen mereka untuk saling mencontek saat ujian? Dan, berapa banyak di antara mereka yang belum mengikuti penataran/pendidikan/pelatihan mengenai kepemimpinan yang baik dan benar? Meskipun mereka cerdas, intelek, dan bahkan ada juga yang pintar ilmu agama, ternyata itu semua tidak menjamin bahwa mereka tidak akan mengkhianati kepercayaan rakyat. Jelas sudah, bahwa kekuatan logika bukanlah satu-satunya kekuatan, bahkan seringkali tak berdaya, dalam membangun kesadaran menjaga amanah. Akal yang mengharamkan pengkhianatan tidak akan berdaya dan akhirnya menunduk patuh pada Hati yang memerintahkan kita untuk berkhianat.

Lantas, konstelasi apakah yang melingkupi dan mengendalikan kesadaran untuk menjaga amanah? Saya yakin Anda dan kita semua sudah tahu, dialah konstelasi keimanan. Konstelasi keimanan terkait dengan rendah atau tingginya keimanan dalam hati kita. Ketika iman kita sedang rendah, maka peluang berbuat dosa pun semakin besar. Sebaliknya, saat keimanan kita memuncak, maka pintu perbuatan dosa semakin merapat dan amal shalih pun mudah tercipta. Karena itu lah, kita semua yang akan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan, berkewajiban mengorientasikan diri agar grafik keimanan kita terus menaik positif. Keimanan adalah nutrisi bagi pohon diri kita yang terus tumbuh tinggi menjulang agar tetap lurus ke atas dan kuat menahan angin godaan yang semakin kencang.

Jadi, mungkinkah kita memutus protesiklik? Mungkin saja, jika kita bertanggung jawab atas kritik dan protes yang keluar dari mulut kita sendiri. Refleksi dari tanggung jawab itu adalah sejauh mana kita merapatkan diri selalu dalam konstelasi keimanan.

Saudaraku,

Kita harus terus berlatih untuk sadar bahwa keimanan berada di hati. Hati adalah raja diri, tempat segala keputusan akhir mengenai tingkah laku kita bermuara. Apapun yang diminta oleh Akal dan yang dihasut oleh Syahwat, hanya akan terbukti dalam perbuatan setelah Hati memberikan atau tidak memberikan “cap” persetujuan. Kita lah yang memilih siapa yang akan menggerakan Hati kita, apakah keimanan atau syaithan. Semoga kita dimudahkan oleh Allah SWT.

Wallahu a’lam…

Protesiklik (1)

May 20th, 2007 by albaab

Hmmmpppphh…Huuufff…. Menarik napas panjang dan melepaskannya sambil melemaskan badan hampir setiap hari kita lakukan. Maksudnya bukan untuk olahraga atau pun bermalas-malasan, tetapi merupakan ekspresi fisik dari ruhani kita yang prihatin. Prihatin merenungi dosa-dosa sendiri dan prihatin melihat orang-orang yang senangnya bermain saja.

Kita melihat para pemimpin negara yang senangnya bermain dengan kekuasaan. Sebelum terpilih, mereka meyakinkan diri dengan slogan-slogan penuh semangat, seolah berusaha menghangatkan rakyat dengan cahaya ketulusan hati mereka. Mereka yakin, sebagian rakyat pun yakin, sebagian lagi meragukan, dan sebagian lagi apatis alias masa bodoh.

Kita tak boleh berburuk sangka kepada mereka, dengan terburu-buru menganggap janji-janji mereka hanya dagelan semata. Namun, boleh jadi kita merasa lelah, karena sudah berulang kali kita menelan pil janji pendahulu mereka yang terasa pahit. Karena itulah, mari kita doakan saja mereka agar tak melupakan kata-kata mereka sendiri. Meski berat, ayo kita kuatkan langkah mereka dengan doa dan kepercayaan kita. Semoga itu menjadi setitik harapan agar Allah swt menjaga mereka dalam amanah dan menerangi jalan mereka dengan cahaya petunjukNya.

Demikianlah kecenderungan fisik manusia. Manusia semakin lapar ketika semakin banyak makan dan semakin haus ketika semakin banyak minum,…dan semakin miskin ketika semakin banyak harta yang dimiliki. Ketidakpuasan, inilah satu-satunya frase yang dikenal oleh aspek tanah diri manusia. Aspek tanah ini tak pernah mengenal kepuasan. Kepuasan hanyalah dimiliki oleh aspek langit dalam diri manusia. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa fenomena pergeseran aspek langit ke aspek tanah dalam diri manusia telah lama menjangkiti manusia, mulai dari rakyat biasa hingga para pemimpin mereka. Karena para pemimpin yang sering tampil di depan publik, maka fenomena pergeseran itu lebih sering dikaitkan dengan tingkah laku mereka.

Sebelum menjadi apa-apa, ketika masih berlomba meraih kemenangan, dan pada momen-momen awal setelah sumpah jabatan itu terucap, (mungkin) hanya aspek langit-lah yang menyelimuti jiwa dan raga mereka. Seiring waktu berjalan, para syaithan semakin gencar mengadu domba antara aspek tanah dan langit dalam diri mereka. Sebagian dari mereka takluk hingga aspek tanah yang disponsori syaithan berhasil menginjak-injak aspek langit. “Dunia” mereka telah berbalik, bukan lagi “tanah yang beratapkan langit”, tetapi “langit yang berlangitkan tanah”. Langit mereka tidak lagi berhiaskan bintang, tetapi malah berhiaskan binatang tanah. Mulai saat itulah, berbagai penyimpangan tinggal menunggu waktu untuk dikuak, diprotes oleh mahasiswa, dihujat, dan dijebloskan ke penjara (kalo hakimnya tidak “kasihan” sama mereka). Kasihan para pemimpin, karena tidak ada yang mengasihani mereka setelah itu…

Saya jadi berpikir, betapa “membosankan”-nya realita itu. Saat muda dan masih mahasiswa, mereka mengumbar idealisme putih dan panji-panji kebenaran. Saat mapan dalam kekuasaan, idealisme itu luruh perlahan dan panji kebenaran pun jatuh dari genggaman tangan. Kemudian, mereka diprotes oleh anak-anak muda yang tak lain, adalah gambaran diri mereka di masa lampau. Apakah nanti anak-anak muda yang memprotes mereka akan juga diprotes oleh para mahasiswa masa depan? Pertanyaan yang menyedihkan ini seolah menjadi penegas bahwa rantai siklus protes (protesiklik) adalah suatu keniscayaan. Si A akan diprotes oleh “anak”nya yang bernama Si B. Kemudian, Si B akan diprotes oleh “anak”nya yang bernama Si C. Demikianlah seterusnya hingga hari kiamat tiba.

Mungkinkah kita memutus rantai protesiklik?? Sebelum menjawab ini, saya mencoba memosisikan diri sebagai pihak yang melakukan protes dan pihak yang diprotes. Jika saya menjadi pihak yang melakukan protes, maka kehidupan saya relatif “lurus”, apa adanya, dan tidak disibukkan dengan berbagai polemik, siasat, dan kepentingan sana-sini yang bernilai ratusan juta rupiah atau bahkan lebih. Singkatnya, saya tidak perlu berpusing-pusing ria dengan segala fitnah yang membuat mata menjadi “hijau”. Saya pun merasa bisa menjaga diri dengan kadar keimanan yang “segini” dan kalaupun berbuat dosa, umumnya tidak sampai terjerembab ke jurang korupsi dan kolusi yang merugikan rakyat banyak serta bermewah-mewahan seraya berdiri di atas kepala kaum dhuafa.

Bersambung…

Melestarikan Cinta

April 28th, 2007 by albaab

Salah seorang rekan saya pernah mengirimkan sebuah tulisan yang menggelitik tentang kemesraan antara sepasang suami-istri (mungkin Anda sudah pernah membacanya). Tulisan yang berjudul Usia Pernikahan Mempengaruhi Kemesraan itu menceritakan interaksi suami istri dalam beberapa titik waktu di kehidupan mereka. Two thumbs up buat Anda yang tidak tersenyum sedikitpun saat membacanya =D. Nah, supaya tidak penasaran, saya kutipkan tulisan tersebut sebagai berikut:

Sebelum Bobo:

6 weeks: selamat bobo sayang, mimpi indah ya, mmmuach.

6 months: tolong matiin lampunya, silau nih.

6 years : KESANA-AN DOONG… KAMU TIDUR DEMPET2AN KAYAK MIKROLET GINI SIH?!

Ngajarin Nyetir:

6 weeks : hati2 say, injek kopling dulu baru masukin perseneling ya

6 months: pelan2 dong lepas koplingnya.

6 years : PANTESAN SERING KE BENGKEL, MASUKIN PERSENELINGNYA AJA KAYAK GINI!

Balesin SMS:

6 weeks: iya sayang, bentar lagi nyampe rumah koq, aku beli martabak kesukaanmu dulu ya

6 months: mct bgt di jln nih

6 years : OK.

Dating process:

6 weeks : I love U, I love U, I love U.

6 months : Of course I love U.

6 years : YA IYALAH!! KALAU AKU TDK CINTA KAMU, NGAPAIN NIKAH SAMA KAMU??

Back from Work:

6 weeks : Honey, aku pulang…

6 months : I’m BACK!!

6 years : SI MBOK MASAK APA HARI INI??

Hadiah (ulang tahun):

6 weeks : Sayangku, kuharap kau menyukai cincin yang kubeli

6 months : Aku membeli lukisan, nampaknya cocok dengan suasana ruang tengah

6 years : NIH DUITNYA, LOE BELI SENDIRI DEH YANG LOE MAU

Telepon:

6 weeks : Baby, ada yang pengen bicara ama kamu di telpon

6 months : Eh…ini buat kamu nih…

6 years : WOOIII TELPON BUNYI TUUUHHH….ANGKAT DUOOONG!!!

Tulisan di atas boleh jadi sangatlah hiperbolik, tetapi siapa tahu bahwa percakapan-percakapan singkat di atas adalah refleksi dari realita di tengah masyarakat kita J.

Moral yang ingin disampaikan di sini sebenarnya tidak melulu terkait dengan interaksi suami-isteri. Insya Allah, kita bisa mengambil pelajaran yang lebih generik yang bisa kita kaitkan dengan segala bentuk amanah Allah untuk kita.

Cerita humor di atas berusaha menggambarkan ungkapan cinta yang pelan-pelan kehilangan ruhnya seiring dengan berjalannya waktu. Fenomena surutnya ruh ungkapan cinta tidak hanya terjadi dalam kehidupan suami-istri semata, tetapi juga bisa menjangkiti kehidupan kita sebagai makhluk sosial.

Sebagai suatu fitrah, cinta hadir dalam hati manusia untuk diwujudkan kepada mereka atau sesuatu yang ia cintai. Pada awalnya, cinta cenderung diungkapkan dengan sangat ekspresif. Seorang manajer merawat dengan apik mobil barunya, selalu menginginkan mobil baru itu tampil licin dan mengkilap, dan sangat gusar jika ada goresan sedikit saja. Seorang remaja begitu senang dibelikan telepon seluler (ponsel) baru. Ia sangat hati-hati memakainya, tidak mau bertindak ceroboh sekali pun karena khawatir mencederai ponsel itu, bahkan sampai membatasi atau mungkin malah melarang kakak atau adiknya ketika mereka mau meminjam ponsel itu. Seorang bocah berteriak kegirangan ketika dihadiahi sebuah mobil remote control terbaru. Biasanya ia menjadi begitu posesif dan setia dengan mainan barunya. Hampir setiap hari, sang bocah sibuk mengeksplorasi mobil kendali-jarak-jauh itu, seolah-olah lupa bahwa ia punya sekotak besar yang berisi puluhan mainan lamanya.

Hari berganti hari, bulan tak lelah berevolusi, dan bilangan tahun pun terus bertambah. Apakah semangat sang manajer masih sama dalam merawat mobilnya yang tak lagi baru? Apakah sang remaja masih ingat untuk berhati-hati dalam merawat ponselnya yang sudah layak ‘di-museum-kan’ itu? Apakah sang bocah masih memainkan mobil remote-control itu sementara ayahnya baru saja membelikan tamagotchi versi 4?

Sejauh pengamatan selama ini, pertanyaan-pertanyaan di atas seringkali tak mampu dijawab secara positif. Sedikit atau banyak, semangat kita berkurang dalam menjaga, merawat, dan mencintai apa-apa yang Allah titipkan untuk kita, khususnya yang bersifat harta duniawi, terlepas dari bagaimanapun karakter diri kita yang mempengaruhi kecermatan dalam memelihara sesuatu. Meskipun demikian, turunnya semangat ini tak mustahil pula terjadi dalam hubungan antara sesama manusia, seperti antara kita dengan istri/suami kita, kakak/adik kita, dan dengan sahabat kita. Dalam konteks hubungan antar manusia, turunnya semangat ini ditandai dengan menurunnya kualitas dan kuantitas ungkapan cinta, baik secara verbal maupun non verbal. Turunnya kualitas ini biasanya dibungkus dengan alasan “sudah bukan zamannya”, “sudah tidak pantas lagi”, “malas”, bahkan “bosan”.

Lantas, apa yang menyebabkan semangat itu turun, apa yang membuat kita malas dan bosan dalam mencintai, dan apa yang membuat kita “kehilangan” ruh dalam mencintai? Mari kita telusuri dengan analogi sederhana. Anggaplah cinta itu adalah pelita dalam sebuah lampu semprong. Ungkapan cinta adalah sinar yang dipancarkan pelita itu dan motivasi cinta adalah minyak yang terus memberi energi bagi si pelita agar tetap mampu menerangi. Nah, dari analogi ini, kita bisa menemukan akar masalah turunnya semangat itu. Jika pancaran sinar pelita itu semakin meredup perlahan-lahan, maka hal pertama yang patut dicurigai adalah minyaknya sudah habis atau minyaknya kurang berkualitas. Jika semangat kita dalam mengungkapkan cinta terus menurun, maka boleh jadi kita perlu menelisik kembali, apa dan bagaimana sebenarnya motivasi kita dalam mencintai.

Seluruh manusia dianugerahi syahwat (keinginan) oleh Allah terhadap beragam perhiasan duniawi, seperti wanita, emas, perak, dan harta benda lainnya (Ali Imran:14). Artinya, manusia sudah memiliki modal naluriah untuk menyukai sesuatu tanpa perlu “diajari” oleh lingkungannya, yaitu syahwat itu sendiri. Karena syahwat adalah sesuatu yang menggerakkan kita untuk mengungkapkan cinta, maka syahwat bisa dikategorikan sebagai motivasi kita dalam mencintai. Syahwat adalah motivasi kita yang paling manusiawi. Meskipun demikian, karena syahwat seringkali menjadi kendaraan syaithan untuk melenakan manusia, maka syahwat seharusnya tidak menjadi minyak/bahan bakar pelita cinta kita. Syahwat bukanlah “minyak berkualitas” yang dapat menjaga terangnya pelita itu. Maka dari itu, tidaklah heran apabila kita kehilangan ruh dalam mencintai, kehilangan semangat terbaik dalam mencintai, merasa bosan dan malas, selama kita menjadikan syahwat sebagai motivasi cinta kita.

Lalu, minyak apakah yang akan membuat pancaran sinar pelita tak pernah redup? Apa motivasi yang harus kita miliki? Saudaraku, jawabannya sudah sering diungkap di berbagai artikel dan wacana, dialah “ikhlas”. “Ikhlas” adalah motivasi terhebat dan karena begitu hebatnya, sampai-sampai kita pun harus berjuang habis-habisan sepanjang masa untuk meraihnya. Insya Allah, ketika kita terus berusaha memosisikan “ikhlas” sebagai sumber motivasi kita dalam mencintai, maka sejak awal dan sampai kapanpun kita akan memberikan yang terbaik dan proporsional untuk sesuatu/mereka yang kita cintai. Di sisi lain, “ikhlas” akan mencegah kita agar tidak “menuhankan” apa atau siapa yang kita cintai. “Ikhlas” menjadi modal utama kita untuk mencintai, bukan karena kita merasa memiliki apa atau siapa yang kita cintai, bukan pula karena sesuatu/mereka yang kita cintai itu selalu seiring dengan keinginan kita, tetapi karena Yang Memilikinya meminta kita untuk mencintainya.

Jika “ikhlas” menjadi minyak, cinta adalah pelita, dan pancaran sinarnya adalah ungkapan cinta kita, lalu dimanakah posisi “syahwat”? Syahwat adalah anugerah Allah yang tidak boleh kita abaikan, melainkan harus ditempatkan pada posisi yang sesuai. Kedudukan untuk “syahwat” adalah sebagai tali sumbu yang menghubungkan antara minyak dan pelita, sebab “syahwat” pada esensinya adalah fasilitas bagi manusia untuk memenuhi kebutuhannya di dunia ini.

Saudaraku, mari kita berusaha untuk memiliki “lampu semprong” yang diminyaki keikhlasan, yang menjadi ruh pengendali syahwat kita agar pelitanya mampu memancarkan sinar yang terang benderang. Aamiin.

Wallahu a’lam

Tiga Mutiara

February 3rd, 2007 by albaab

Tiga mutiara

Ditemukan di dasar hati

Tiga mutiara

Merangkai asa yang tersandar pada-Nya

Bersama tegapnya derap revolusi

Tiga mutiara

Lambang cahaya kasih sayang

Menjadi satu bintang

Penerang yang tak hilang

Tiga mutiara

Hadir di sini

Sebagai karunia

Sebagai ujian-Mu

Tiga mutiara

Meredam gamang di hati

Melucuti semua lencana

Menghinakan semua keangkuhan

Selukis Senyum dari Hati ke Wajah, Turun ke Hati

January 20th, 2007 by albaab

Saudaraku,

Bayangkan suatu ketika Anda sedang menunggu angkutan umum di halte yang becek. Sebuah mobil mewah kemudian melintas dengan kencangnya, menyambar air bercampur tanah di depan halte, dan akhirnya air berwarna coklat itu mengotori pakaian Anda. Anda kesal? Tentu saja, kita berpotensi untuk kesal jika demikian :) . Namun, semoga Anda sepakat dengan saya bahwa kekesalan itu tidak akan membuat pakaian Anda kembali bersih. Kekesalan itu justru membuat Anda uring-uringan dan membuat Anda menghabiskan beberapa menit hanya untuk memasang tampang masam dan dahi yang mengkerut, padahal hal itu sama sekali tidak mampu membersihkan pakaian yang terlanjur kotor. Sebaliknya, apa yang terjadi jika Anda lekas mengganti tampang masam Anda dengan sebuah senyuman?

Saudaraku,

Senyuman itu pun sudah jelas-jelas tidak akan secara otomatis membersihkan pakaian Anda. Namun, insya Allah senyuman akan membantu kita untuk cepat membersihkan (mengikhlaskan) hati dari kemarahan. Dengan hati yang bebas dari amarah, kita akan mampu memfokuskan diri pada solusi, bukan pada sumber masalah. Pada kasus terciprat air kotor di atas, maka senyuman Anda akan membuat Anda berpikir dan bergerak lebih cepat untuk mengatasi pakaian Anda yang kotor. Kalau kita memilih untuk merengut, maka mungkin kita cenderung melampiaskan kekesalan terlebih dahulu (dengan berteriak, ngedumel dalam hati, dll) sebelum akhirnya kita mencari solusi. Akibatnya, sedikit atau banyak waktu kita terbuang percuma. Selain itu, rasa kesal itu pun berpotensi hinggap lebih lama dalam hati karena kita tidak segera menawarkannya dengan selukis senyuman. Boleh jadi, rasa kesal yang cukup lama mendiami relung hati akan membuat kita mudah tersinggung sehingga menurunkan produktivitas kita hari itu. Jika setiap harinya kita bertemu dengan lebih satu hal yang membuat kita kesal, maka tak terbayangkan seberapa rendahnya produktivitas kita jika kita tidak melukis senyum sedikitpun.

Saudaraku,

Senyuman adalah hal kecil dan mudah yang sudah kita ketahui ragam manfaatnya. Di antara sekian banyak manfaat senyuman, saya memahami bahwa core function dari senyuman adalah sebagai langkah pertama dalam menjaga kebersihan hati. Terkait hal ini, kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan dapat kapan saja menghampiri kita. Hal-hal inilah yang membuat kestabilan hati tiba-tiba terganggu tanpa mengenal waktu sehingga hati kita terkotori. Kemudian, Allah-lah yang menciptakan wajah yang mampu tersenyum sebagai pintu gerbang kebersihan hati.

Saudaraku,

Mari kita berlatih terus untuk tersenyum agar senyuman kita berdampak positif dan mampu mendekati core function tersebut. Sebab, ada juga senyuman yang cenderung negatif. Senyuman genit atau senyuman tebar pesona yang berlebihan kepada khalayak ramai cenderung mengotori hati kita dengan keangkuhan, sifat riya, dan hal-hal negatif lainnya, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. (na’udzubillah tsummaa na’udzubillah min dzaalik). Sebaliknya, senyuman yang “sehat” akan mempersiapkan hati kita untuk menjadi pemimpin yang baik bagi “kerajaan” diri.  Senyuman yang sehat insya Allah mengimplikasikan sebab-sebab hati yang bersih. Hati yang bersih mudah untuk ikhlas dalam menerima apa yang terjadi pada diri kita setelah berikhtiar. Hati yang bersih akan membuat kita pasrah dan menyerahkan sepenuhnya segala keputusan kepada-Nya. Hati yang bersih akan memerintahkan akal untuk berpikir dengan jernih sehingga dapat menemukan solusi yang relatif cepat dan tepat atas masalah yang menimpa kita. Hati yang bersih akan mudah memaafkan orang lain atas segenap perilaku yang menghadirkan kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan. Hati yang bersih akan mudah menerima dan mencerna nasihat dari orang lain.

Saudaraku,

Demikianlah implikasi dari core function selukis senyuman, sesuatu yang sangat  berbobot dan sangat mempengaruhi cara pandang dan pola perilaku kita di setiap lini kehidupan. Oleh karena itu, jelaslah bahwa kita tidak boleh berhenti berlatih untuk mendapatkan senyuman yang “sehat”, yakni senyuman yang mengantarkan hati kita kepada kebersihan. Bagaimanakah kita berlatih untuk tersenyum?

Saudaraku,

Sebaiknya kita selalu menghadirkan wajah yang menyenangkan ketika berinteraksi dengan siapapun. Namun, ini tentu saja adalah kondisi ideal yang kadangkala sulit kita raih. Alih-alih demikian, ada baiknya jika kita membiasakan latihan senyuman.

Latihan senyuman yang paling penting adalah membiasakan untuk tersenyum ketika bertemu muka dengan orang yang saling kenal dengan kita dan orang yang (mungkin) kita kenal. Orang yang saling kenal dengan kita adalah orang tua kita, saudara kita senasab, teman-teman kita, guru kita, murid kita, manajer kita, staf kita, dll. Orang yang (mungkin) kita kenal adalah orang yang kita (mungkin) mengenalnya, tetapi dia (mungkin) tidak mengenal kita. Contohnya adalah orang-orang yang bersama-sama kita ikut ta’lim di masjid, kolega orang tua kita, rekan-rekan kita sekantor tetapi berbeda bagian/divisinya dengan kita, orang yang shalat di sebelah kita di masjid, para office boy atau janitor di instansi tempat kita beraktivitas, petugas keamanan, tukang siomay yang berkeliling di kompleks perumahan kita, dll.

Selanjutnya, mari kita berlatih untuk tersenyum pada saat kestabilan hati kita terganggu. Misalnya saat terciprat air seperti contoh di atas, saat orang lain tak sengaja menginjak kaki kita di bus, saat mendapatkan nilai ujian yang jelek, dll. Tersenyum di saat-saat masalah menimpa seperti itu bukanlah tanda sikap meremehkan atau menggampangkan, tetapi sebagai upaya terapi diri dalam rangka mendekati core function dari senyuman dan langkah awal dalam pencarian solusinya. Tersenyum pada saat marah, sedih, atau kecewa terkadang memang tidak mudah, tetapi justru di sinilah keikhlasan kita diuji oleh Allah. Satu hal yang menjadi catatan saya di sini adalah kita boleh jadi akan sangat sulit tersenyum di waktu marah, kecewa atau sedih apabila kita tidak terbiasa tersenyum kepada orang-orang yang kita kenal atau orang-orang yang mungkin kita kenal.

Lalu, bagaimanakah sebaiknya wajah kita melukis senyuman itu? Menurut saya, kita tidak perlu repot-repot mengatur ekspresi wajah sedemikian rupa agar senyuman kita simetris dan sebagainya. Marilah tersenyum dengan spontan, tidak berlebihan, dan apa adanya. Saya yakin bahwa kekuatan positif senyuman yang pertama dan utama bukanlah dari kecantikan dan ketampanan orang yang tersenyum, atau teknik tersenyum, tetapi dari niat yang mendasari senyuman itu. Nah, niat inilah yang selanjutnya harus kita latih dan inilah aspek latihan yang paling berat.

Saudaraku,

Kita sudah memahami bahwa setiap amal tergantung niatnya. Begitu pula senyuman. Senyuman yang sehat lahir dari niat yang baik. Mari kita berikhtiar untuk selalu ikhlas dalam tersenyum, bukan karena ingin sekedar menyenangkan hati mereka yang melihatnya, dan bukan pula sekedar ingin membuat orang lain menyukai kita. Insya Allah, niat bersih yang mendasari senyuman kita adalah modal yang terpenting dalam rangka mendekati core function dari selukis senyum.

Saudaraku,

Mudah-mudahan segenap latihan tersenyum yang kita lakukan selalu mendapatkan ridha dari Allah swt dan tercatat sebagai upaya kita untuk meneladani Rasulullah SAW, manusia yang paling sehat senyumannya. Senyuman beliau tidak hanya mengimplikasikan hati yang bersih, tetapi bahkan mampu menggetarkan pintu sanubari umatnya sehingga terbuka dan menjadi gerbang masuknya hidayah Allah kepada mereka. Dalam Shahih Bukhari saja, terdapat sedikitnya 31 tema hadits (satu tema terdiri atas beberapa hadits) yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW tersenyum ketika menyampaikan nasihat-nasihatnya. Semoga demikian pula dengan senyuman kita, yakni senyuman yang datang dari hati yang bersih ke wajah kita, lalu turun kembali ke hati agar ia semakin bersih…

Wallahu a’lam.

Quo Vadis, Keislaman Kita? (3)

December 3rd, 2006 by albaab

Saudaraku,

Uraian singkat yang dikemukakan pada baris demi baris di atas, insya Allah, sama sekali tidak diniatkan untuk menyudutkan atau mendiskreditkan para muslim dan muslimah yang akrab dengan simbol-simbol keislaman, tetapi semoga menjadi salah satu bahan untuk merefleksikan kembali jati diri keislaman kita.

Simbol-simbol keislaman, bagaimanapun, adalah sarana pertama yang paling mudah bagi orang untuk mencitra kepribadian kita sebagai muslim atau muslimah. Lebih jauh, sebagian besar simbol-simbol itu pun adalah bentuk aktualisasi dari perintah Allah dan rasul-Nya. Beragam ibadah ritual pun sudah semestinya menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam keseharian kita. Namun, hal-hal tersebut tentu saja belum cukup. Yang jauh lebih penting dan tentu saja lebih berat adalah mengimplementasikan nilai-nilai ruhiyyah yang kita raih darinya di dalam kehidupan bermasyarakat (hablum min an-naas). Dalil yang menjadi landasan semangat kita untuk kaaffah dalam berislam sangat banyak kita temukan di al-Quran. Salah satunya yang sangat populer adalah pernyataan Allah yang disebut berulang kali di dalam Kitab-Nya: “Orang-orang yang beriman dan beramal shalih”… Saya memahami “amal shalih” secara luas sebagai implementasi terbaik dari nilai-nilai keimanan yang terpatri di dalam hati.

Dengan demikian, semoga Allah menganugerahkan kekuatan kepada kita untuk berikhtiar terus menerus agar Islam benar-benar menjadi the way of life kita, menjadi kepribadian kita, dan tidak sekedar pakaian belaka.

Islam sebagai the way of life adalah cita-cita kita semua. Dalam perjalanan kita menuju cita-cita itu, tak terhitung badai godaan yang menerjang kita. Salah satu godaan yang mungkin jarang kita sadari adalah kecenderungan untuk tergesa-gesa menilai keislaman orang lain dari aspek lahiriyah baik secara langsung maupun tidak langsung, sadar maupun tidak. Semoga Allah memberikan kekuatan bagi kita untuk menyelamatkan diri daripadanya. Salah satu senjata yang Allah anugerahkan kepada kita adalah perenungan terhadap ayat-ayat pamungkas dari surat Al-Ghasyiyah:

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan

Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,

Tetapi orang yang berpaling dan kafir,

Maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar

Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka,

Kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab (menilai) mereka

Pada akhirnya, semoga refleksi terhadap jati diri keislaman kita menjadi bekal untuk menjawab dengan tegas dan tepat pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini: Quo Vadis, Keislaman Kita?

Wallahu a’lam…

Quo Vadis, Keislaman Kita? (2)

December 2nd, 2006 by albaab

Islam sebagai the way of life berada pada tataran idealisme yang mungkin tidak selalu mudah untuk diimplementasikan, tetapi pasti menjadi cita-cita kita semua. Sementara itu, islam sebagai the way of worship justru menjadi hal yang sangat mudah untuk dicerna dan dipahami karena notabene terlihat oleh mata kepala (seperti ritual shalat, zakat, haji, dll). Islam sebagai the way of worship pada hakikatnya adalah konsepsi yang berada di konstelasi Islam sebagai the way of life. Orang yang menjadikan Islam sebagai the way of life secara otomatis telah mendudukkan Islam sebagai the way of worship, tetapi tidak sebaliknya. Orang yang menjadikan Islam sebatas the way of worship adalah mereka yang hanya berorientasi pada ibadah yang bersifat ritual. Sebagai contoh sederhana, kita tak pernah absen shalat lima waktu, tetapi sebagian dari kita pun seringkali absen kuliah tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan, telat datang ke kantor atau kampus, malas belajar, malas bekerja, malas berprestasi, tidak profesional dan hal-hal negatif lainnya.

Paradigma yang hanya mengorientasikan Islam sebagai the way of worship selanjutnya mempengaruhi persepsi kita terhadap pemakaian simbol-simbol keislaman. Kita cenderung mudah untuk mengatakan atau minimal beranggapan bahwa orang yang sering memakai baju koko, wanita yang berjilbab dengan baik, orang yang selalu membawa mushaf al-Quran kemana-mana (kecuali ke kamar kecil), orang yang sering berdzikir dan mengaji di masjid  sebagai orang-orang yang shalih (atau seringkali disebut “alim”). Hal ini sama sekali tidak salah dan sangat amat wajar serta relevan. Namun, berawal dari kesan wajar inilah kita kadangkala terlena sampai akhirnya terjebak di dalam pakaian luar keislaman kita sehingga di antara kita ada yang sampai men-cap bahwa orang-orang yang tidak seperti mereka adalah muslim yang tidak shalih. Pada titik inilah, kita, baik sadar maupun tidak, telah menstratifikasi “tingkat keshalihan” seseorang, padahal hanya Allah yang memiliki hak stratifikasi itu.

Satu fenomena lagi yang kerap membuat saya prihatin dan geram terkait dengan stratifikasi keshalihan adalah kebiasaan penggunaan sapaan “ikhwan” dan “akhwat”. Kedua istilah ini memiliki akar makna yang sama, yakni ”saudara”. Namun, saya mengamati kecenderungan bahwa sebutan “ikhwan” dan “akhwat” masing-masing telah menjadi monopoli muslim dan muslimah yang berafiliasi dengan institusi atau lembaga dakwah Islam. Seolah-olah, para muslim dan muslimah yang berada di luar lingkaran komunitas itu tidak berhak disebut “ikhwan” atau “akhwat”. Seolah-olah, seorang muslim harus aktif di organisasi dakwah terlebih dahulu kalau mau disebut “ikhwan”; seolah-olah, seorang muslimah harus berjilbab dengan sempurna terlebih dahulu kalau mau disebut “akhwat”. Seolah-olah, sebutan “ikhwan” dan “akhwat” menjadi representasi status sosial  yang tidak serta merta dimiliki oleh setiap pribadi yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat. Padahal, selama seseorang mengaku muslim dan beriman, berarti dia adalah saudara kita sesama muslim dan berarti pula kita berhak menunjukkan semangat persaudaraan kita dengan menyapa “wahai, akhii” atau “wahai, ukhtii” kepadanya.

Perkara penyebutan “ikhwan” dan “akhwat” di atas memang hal kecil dan terkesan sepele, tetapi tidak sepenuhnya demikian menurut saya. Jika kita tidak berhati-hati dengan hal kecil tersebut, saya khawatir hal itu secara perlahan akan semakin mengeksklusifkan para aktivis dakwah di masyarakat. Keeksklusifan ini pada gilirannya akan menjadi bumerang bagi efektivitas aktivitas dakwah itu sendiri.

Saudaraku,

Jika kita terlena di balik pakaian luar keislaman kita, maka mungkin kita akan lupa untuk memberikan apresiasi positif kepada para muslim yang selalu tepat waktu, muslim yang profesional, muslim yang bekerja keras dan cerdas, terlebih lagi jika mereka tidak selalu akrab simbol-simbol keislaman. Boleh jadi, mereka lebih suka memakai kemeja dan mencukur jenggotnya dibandingkan mengenakan koko dan memanjangkan rambut di dagu; boleh jadi, jilbab mereka tetap menutup aurat dengan baik meskipun ujungnya tidak sampai segaris dengan lutut. Bahkan, mungkin mereka baru saja belajar memakai jilbab di tengah desakan hebat tren jilbab modis yang sedikit-banyak mengaburkan pemahaman sebagian muslimah mengenai syariat penutupan aurat wanita.

Bersambung…