Keaslian Hati 2
Tuesday, November 8th, 2005Akhir Ramadhan telah melambaikan tangannya, meninggalkan berjuta kesan
dan kenangan manis yang begitu sulit dilupakan; mungkin tak kan pernah terlupakan. Sedih dan gembira berjabat
tangan. Mereka bercengkrama memadukan rasa di hati Allifandra, sang pemuda yang
beranjak dewasa. Ia merindu Ramadhan saat detik-detik kesucian menghiasi jiwa
orang-orang yang beriman. Tak henti bibirnya berucap pelan. Semoga Ramadhan
selalu menjadi ‘miliknya’. Semoga butir-butir kebaikan adalah mutiara tahun-tahun
berjalan. Semoga kemurnian dan kemenangan tak pernah lepas dari genggaman.
Begitulah pinta Allifandra, yang mencintai keaslian dirinya; bukan siapa-siapa,
melainkan sebutir debu yang bernapas di ujung padang cipta-Nya; yang merindukan
keaslian hatinya; bukan berarti tak mencintai makhluk-Nya yang indah, melainkan
selalu gundah saat ia menjauh dari cahaya cinta-Nya, saat berlalu dari shaf-shaf cinta-Nya yang tersusun
rapat, lurus, dan rapi.
Zaman ini adalah zamannya silaturahmi ghaib. Tidak hanya manusia yang
berlalu lalang bertemu saudara dan menjumpai sahabat, tetapi juga berjuta
gelombang pesan hati yang menyesakkan langit dunia dari sebuah kotak kecil di
genggaman tangan. Allifandra tersenyum saat membaca sebuah pesan dari kawan
lama:
ASs. Htiku tk sbnigXL n scrah MENTARI, byk slh n khilf yg aku bt, FREN
aku mnt SIMPATI mu, BEBAS kn aku dg maafmu agr ibdh Qt mndpt acungan JEMPOL dr
Alloh. Aamiin.
Ucapan indah dan doa yang menyejukkan beribu menghampiri, mengiringi
suasana fitri; saat penyair-penyair muda tumbuh seketika lewat goresan
pena-pena digital. Namun, tidak sama rasanya dengan pesan kawan lama itu. Ada kesederhanaan dalam kata, ada canda yang
menggelitik, tetapi tak surut makna yang tersimpan di dalamnya.
Pesan itu adalah sebuah pengakuan diri bahwa hatinya bukan kristal yang
selalu cemerlang, bahkan terkadang redup; tak seperti matahari di siang hari.
Hati yang sekali waktu tertoreh noda. Hati yang seringkali menggerakkan indera.
Dan indera itu sekali waktu menorehkan noda, di hati segenap sahabat. Betapa
menakjubkan fitrah yang Allah ciptakan untuk manusia. Di dalamnya ada
kecenderungan untuk bebas. Membebaskan diri dari amarah. Membebaskan diri dari
dengki. Membebaskan diri dari keinginan ‘memenjarakan’ orang lain dengan maaf
yang tertahan dan kerelaan yang tak tersampaikan.
Allifandra merenungi pesan itu sekali lagi. Dan ia semakin yakin bahwa
maaf yang ia hadiahkan tak hanya membebaskan sang penerima maaf, tetapi justru
pada mulanya membebaskan dirinya sendiri dari belenggu ketinggian hati
Hati yang terbelenggu bukanlah hati yang dulu. Bukan pula hati yang
sanggup menerima cahaya-Nya. Bukan juga hati yang mampu menggerakkan jiwa raga
untuk bersimpuh ke hadirat-Nya. Ia lah hati yang tak lagi dikenali. Hati yang
diragukan keasliannya. Siapa sih yang yang tak mau melihat senyuman
keridhaan-Nya? Senyuman yang tak serupa dengan senyuman dunia. Senyuman yang
tak pernah terlintas dalam benak manusia; atau…acungan jempol dari Allah Azza
Wa Jalla, seperti ujar singkat si kawan lama. Ketika amal-amal kita dihitung
teliti satu persatu, wa ahshaa kulla syai-in ‘adadaa. Itulah buah dari
hati yang masih seperti dulu. Saat ia terlahir dari kehangatan rahim ibu…
Sahabat, selalu ada kejutan di hari yang fitri, begitu pula syair-syair
yang digubah sebagai tanda maaf tiada bertepi, tulus hati yang paling dalam.
Semoga hatimu dan hatiku…, jauh lebih indah dari syair-syair itu.
Taqabbalallaahu minnaa wa minkum, shiyaamanaa wa shiyaamakum.