Pandangan Penuh Cinta (2)
Sunday, December 11th, 2005Saudaraku…
Senantiasa mendekatkan diri
kepada Allah, berusaha menemukan hikmah setiap peristiwa, dan berikhtiar untuk
memantapkan keikhlasan hati adalah tiga modal pertama dan utama untuk
melahirkan cara pandang positif atas segenap masalah. Mengapa demikian? Sebab,
cara pandang positif akan hadir dengan syarat kita dalam kondisi yang relatif
tenang, meyakini bahwa ada sesuatu yang positif pada apa yang kita pandang, dan
mengharapkan efek terbaik untuk sesuatu yang kita pandang itu.
Apa pendapat Anda tentang
orang yang sedang dikuasai amarah (bukan sekedar marah lho)? Apakah saat itu ia
mampu memandang secara positif?. Di sinilah ketenangan dibutuhkan. Kemudian,
apa pendapat Anda tentang dua orang yang melakukan kesalahan yang sama
derajatnya pada Anda; orang yang pertama sudah dikenal sangat shalih sementara
orang yang kedua terkenal sebagai preman? Kesalahan siapa yang lebih cepat anda
maklumi dan maafkan? Lazimnya orang pertama
lebih mudah dimaafkan karena anda tahu sebenarnya dia orang baik-baik, bukan?. Di
sinilah kesadaran akan adanya sesuatu yang positif pada sesuatu yang dipandang
sangat diperlukan. Lalu, misalnya suatu
saat anda sedang berjalan-jalan di sebuah lembah. Kemudian saat Anda
beristirahat di bantaran sungai, Anda mencium bau yang tidak enak. Selidik
punya selidik, ternyata ada kotoran kerbau yang menempel di batu tempat Anda
duduk. Bagaimana reaksi Anda? Tentunya Anda akan segera menjauh dari batu itu,
bukan? Namun, apa yang terjadi saat Anda sedang membuang (maaf3x) kotoran/feses
Anda sendiri? Anda tentu tidak akan menjauh darinya sampai Anda selesai
mengeluarkannya meski bau tak sedap menyeruak ke seluruh penjuru, bukan? Bahkan
Anda sangat ikhlas mengeluarkannya karena Anda yakin hal itu akan menyehatkan/baik
untuk Anda meski sebelumnya Anda mengkonsumsi makanan terlezat sedunia! Saat
itu Anda tidak lagi berpikir tentang makanan yang telah berubah menjadi feses,
tetapi Anda hanya berpikir bagaimana Anda bisa “membersihkan” perut Anda dari feses
tersebut. Pengharapan terbaik untuk sesuatu yang kita pandang akhirnya menjadi
kekuatan yang mampu mengubah cara pandang kita.
Saudaraku…
ketenangan sejati hanyalah mewujud di saat-saat kita dekat dengan-Nya. Kita
hanya bisa yakin ada sesuatu yang positif di balik sesuatu setelah kita merenungi
sejuta hikmah di dalamnya, dan hikmah-hikmah di setiap detik yang kita alami. Dan
kita hanya tergerak untuk mengharapkan serta melakukan sesuatu yang terbaik,
ketika keikhlasan menjadi cahaya di hati ini. Saudaraku, itulah beberapa bekal untuk
senantiasa memandang positif apa-apa yang Allah sajikan untuk kita, termasuk
berbagai masalah yang mewarnai hari-hari kita.
Ketika
suatu masalah menghampiri diri ini, pertama kali yang harus kita lakukan adalah
tidak melakukan apapun. Berdiam sejenak dan menenangkan diri. Diri,
hati, dan pikiran yang tenang adalah pintu gerbang untuk sebuah cara pandang
yang positif. Selanjutnya, coba kita renungi apa hikmah di balik kehadiran
masalah itu. Kita coba ingat kembali pengalaman masa lalu dan nasihat-nasihat
yang terkait dengan masalah itu. Pada saat itulah kita bisa
mengetahui apa dan dimana akar masalahnya dan secara perlahan kita bisa
mengetahui pula apa “manfaat” masalah itu bagi kita. Kemudian, mari kita
menerima masalah itu sebagai sebuah ujian atau peringatan dari Allah, berusaha
sebaik mungkin dan memilih cara-cara terbaik untuk mengatasinya agar Allah
mencatat kita sebagai hamba-Nya yang tak pernah lelah mendaki untuk mencapai
puncak keimanan, agar Allah semakin mencintai dan meridhoi hamba-Nya yang terus
berusaha mengikhlaskan diri. Saudaraku, ketika kesungguhan yang ikhlas mewarnai
ikhtiar kita, maka niscaya Allah akan menunjukkan jalan-jalan-Nya,
menganugerahkan kekuatan, dan menurunkan ketenangan kepada kita. Semua ini lah
yang akan membuat kita tangguh dan tetap bisa berkonsentrasi dalam
menyelesaikan amanah-amanah lainnya. Jika demikian, pada gilirannya kita akan
mampu menghindari efek domino dalam
dinamika kehidupan ini.
Saudaraku.
Sampai kapanpun kita hidup di dunia ini, masalah akan terus mengetuk pintu diri
kita. Suatu saat mungkin kita terjatuh, lalu tertimpa tangga. Terkadang ketika satu masalah belum usai diselesaikan,
masalah lain datang menghampiri. Inilah salah satu ciri kehidupan dunia, yang
tak akan kita temui di akhirat nanti. Saudaraku.., tidak ada pilihan lain bagi
kita selain berikhtiar menyelesaikan masalah-masalah itu dengan tetap yakin
sepenuh hati, bahwa Allah tidak akan pernah menzhalimi hamba-hamba-Nya. Mari
kita berusaha sekuat tenaga untuk memandang secara positif apapun masalah yang
kita hadapi. Hanya cara pandang positif yang akan melahirkan sikap dan perilaku
positif dan akhirnya menghadirkan manfaat yang luar biasa untuk diri serta
lingkungan kita. Itulah cara pandang yang kemana pun
kita arahkan, tiada satupun yang kita temukan selain noktah-noktah cinta Allah
kepada hamba-Nya. Itulah Pandangan Penuh
Cinta… Wallaahu a’lam bi ash-shawwaab
(Ada
satu aspek lagi tentang cara pandang positif yang belum dituliskan pada wacana
ini. Insya Allah akan dihadirkan untuk pembaca dalam Pandangan Penuh Cinta
edisi kedua)