Archive for December, 2005

Pandangan Penuh Cinta (2)

Sunday, December 11th, 2005

Saudaraku…

Senantiasa mendekatkan diri
kepada Allah, berusaha menemukan hikmah setiap peristiwa, dan berikhtiar untuk
memantapkan keikhlasan hati adalah tiga modal pertama dan utama untuk
melahirkan cara pandang positif atas segenap masalah. Mengapa demikian? Sebab,
cara pandang positif akan hadir dengan syarat kita dalam kondisi yang relatif
tenang, meyakini bahwa ada sesuatu yang positif pada apa yang kita pandang, dan
mengharapkan efek terbaik untuk sesuatu yang kita pandang itu.

Apa pendapat Anda tentang
orang yang sedang dikuasai amarah (bukan sekedar marah lho)? Apakah saat itu ia
mampu memandang secara positif?. Di sinilah ketenangan dibutuhkan. Kemudian,
apa pendapat Anda tentang dua orang yang melakukan kesalahan yang sama
derajatnya pada Anda; orang yang pertama sudah dikenal sangat shalih sementara
orang yang kedua terkenal sebagai preman? Kesalahan siapa yang lebih cepat anda
maklumi dan maafkan?
Lazimnya orang pertama
lebih mudah dimaafkan karena anda tahu sebenarnya dia orang baik-baik, bukan?. Di
sinilah kesadaran akan adanya sesuatu yang positif pada sesuatu yang dipandang
sangat diperlukan. Lalu, misalnya suatu
saat anda sedang berjalan-jalan di sebuah lembah. Kemudian saat Anda
beristirahat di bantaran sungai, Anda mencium bau yang tidak enak. Selidik
punya selidik, ternyata ada kotoran kerbau yang menempel di batu tempat Anda
duduk. Bagaimana reaksi Anda? Tentunya Anda akan segera menjauh dari batu itu,
bukan? Namun, apa yang terjadi saat Anda sedang membuang (maaf3x) kotoran/feses
Anda sendiri? Anda tentu tidak akan menjauh darinya sampai Anda selesai
mengeluarkannya meski bau tak sedap menyeruak ke seluruh penjuru, bukan? Bahkan
Anda sangat ikhlas mengeluarkannya karena Anda yakin hal itu akan menyehatkan/baik
untuk Anda meski sebelumnya Anda mengkonsumsi makanan terlezat sedunia! Saat
itu Anda tidak lagi berpikir tentang makanan yang telah berubah menjadi feses,
tetapi Anda hanya berpikir bagaimana Anda bisa “membersihkan” perut Anda dari feses
tersebut. Pengharapan terbaik untuk sesuatu yang kita pandang akhirnya menjadi
kekuatan yang mampu mengubah cara pandang kita.

Saudaraku…
ketenangan sejati hanyalah mewujud di saat-saat kita dekat dengan-Nya. Kita
hanya bisa yakin ada sesuatu yang positif di balik sesuatu setelah kita merenungi
sejuta hikmah di dalamnya, dan hikmah-hikmah di setiap detik yang kita alami. Dan
kita hanya tergerak untuk mengharapkan serta melakukan sesuatu yang terbaik,
ketika keikhlasan menjadi cahaya di hati ini. Saudaraku, itulah beberapa bekal untuk
senantiasa memandang positif apa-apa yang Allah sajikan untuk kita, termasuk
berbagai masalah yang mewarnai hari-hari kita.

Ketika
suatu masalah menghampiri diri ini, pertama kali yang harus kita lakukan adalah
tidak melakukan apapun. Berdiam sejenak dan menenangkan diri.
Diri,
hati, dan pikiran yang tenang adalah pintu gerbang untuk sebuah cara pandang
yang positif. Selanjutnya, coba kita renungi apa hikmah di balik kehadiran
masalah itu. Kita coba ingat kembali pengalaman masa lalu dan nasihat-nasihat
yang terkait dengan masalah itu.
Pada saat itulah kita bisa
mengetahui apa dan dimana akar masalahnya dan secara perlahan kita bisa
mengetahui pula apa “manfaat” masalah itu bagi kita. Kemudian, mari kita
menerima masalah itu sebagai sebuah ujian atau peringatan dari Allah, berusaha
sebaik mungkin dan memilih cara-cara terbaik untuk mengatasinya agar Allah
mencatat kita sebagai hamba-Nya yang tak pernah lelah mendaki untuk mencapai
puncak keimanan, agar Allah semakin mencintai dan meridhoi hamba-Nya yang terus
berusaha mengikhlaskan diri. Saudaraku, ketika kesungguhan yang ikhlas mewarnai
ikhtiar kita, maka niscaya Allah akan menunjukkan jalan-jalan-Nya,
menganugerahkan kekuatan, dan menurunkan ketenangan kepada kita. Semua ini lah
yang akan membuat kita tangguh dan tetap bisa berkonsentrasi dalam
menyelesaikan amanah-amanah lainnya. Jika demikian, pada gilirannya kita akan
mampu menghindari efek domino dalam
dinamika kehidupan ini.

Saudaraku.
Sampai kapanpun kita hidup di dunia ini, masalah akan terus mengetuk pintu diri
kita. Suatu saat mungkin kita terjatuh, lalu tertimpa tangga.
Terkadang ketika satu masalah belum usai diselesaikan,
masalah lain datang menghampiri. Inilah salah satu ciri kehidupan dunia, yang
tak akan kita temui di akhirat nanti. Saudaraku.., tidak ada pilihan lain bagi
kita selain berikhtiar menyelesaikan masalah-masalah itu dengan tetap yakin
sepenuh hati, bahwa Allah tidak akan pernah menzhalimi hamba-hamba-Nya. Mari
kita berusaha sekuat tenaga untuk memandang secara positif apapun masalah yang
kita hadapi. Hanya cara pandang positif yang akan melahirkan sikap dan perilaku
positif dan akhirnya menghadirkan manfaat yang luar biasa untuk diri serta
lingkungan kita.
Itulah cara pandang yang kemana pun
kita arahkan, tiada satupun yang kita temukan selain noktah-noktah cinta Allah
kepada hamba-Nya. Itulah Pandangan Penuh
Cinta
… Wallaahu a’lam bi ash-shawwaab

(Ada
satu aspek lagi tentang cara pandang positif yang belum dituliskan pada wacana
ini. Insya Allah akan dihadirkan untuk pembaca dalam Pandangan Penuh Cinta
edisi kedua)

Pandangan Penuh Cinta (1)

Sunday, December 11th, 2005

Saudaraku…

Saya ingin mengajak Anda sedikit berimajinasi. Bayangkan suatu hari Anda tengah berjalan-jalan di taman kota, hari minggu pagi. Saat itu Anda tidak sendiri. Ada adik dan orang tua yang menemani Anda menikmati keindahan dan kesejukan suasana taman. Apa yang Anda rasakan? Tentu saja senang bin bahagia. Namun, ternyata ada kejadian "lucu" saat Anda sekeluarga berjalan di bawah sebuah pohon yang tinggi dan rindang. Tepat dari atas kepala Anda, tiba-tiba meluncur cairan putih dengan begitu cepatnya dan mengenai kepala Anda yang baru saja dikeramas. Wah, kira-kira gimana perasaan Anda? Kurang lebih kalau saya boleh prediksi, Anda pasti kaget dan menggumam : "Waduhh" atau yang sejenisnya. Adik dan orang tua Anda pun akan kaget melihat reaksi Anda. Tak lama kemudian, mereka boleh jadi malah tertawa (dengan maksud bercanda) melihat kejadian yang baru saja menimpa Anda. Anda yang merengut pun akhirnya tak bisa menahan senyum. Meskipun kepala tidak lagi bau shampoo, Anda pun akhirnya ikut tertawa seolah-olah menertawakan diri Anda sendiri :). Luar biasa ya, kejadian yang tidak  mengenakkan malah berbuah suasana yang begitu hangat di keluarga Anda. Itulah saat-saat Anda diliputi kenyamanan dan kebahagiaan yang seakan tak memberi kesempatan bagi Anda untuk bersedih sewaktu masalah menerpa.

Namun, apa jadinya kalau Anda terkena kotoran burung itu saat Anda tengah sedih karena nilai UTS Anda kurang memuaskan, atau ada masalah pekerjaan di kantor, atau Anda baru saja bersitegang dengan teman Anda. Boleh jadi, kotoran yang cuma beberapa mililiter itu seperti batu besar yang menimpa kepala Anda. Masalah kecil terlihat seperti raksasa di pelupuk mata Anda. Anda yang sedang tidak enak hati boleh jadi malah semakin kesal dan melakukan sesuatu yang destruktif. Na’udzubillah min dzaalik   

Saudaraku,
tidak selamanya hidup kita sesuai dengan apa yang kita harapkan atau yang kita
rencanakan. Beragam masalah datang silih berganti sebagai sebuah keniscayaan
dan bukti bahwa kita masih hidup. Ada masalah yang bisa kita atasi dengan cepat
dan tuntas dengan hasil akhir yang begitu memuaskan. Namun, ada pula masalah
yang tak kunjung selesai, membuat semangat kita mengendur, dan bahkan
mengalihkan hampir seluruh konsentrasi kita kepada masalah itu. Akibatnya, banyak
hal lain yang akhirnya luput dari perhatian kita gara-gara kita terlalu
memusingkan diri dengan satu masalah pelik itu. Berhati-hatilah saudaraku,
karena yang bisa terjadi berikutnya adalah efek
domino
, yakni ketika satu masalah pelik “menyebabkan” hal-hal lain dalam
kehidupan kita menjadi bermasalah pula. Sebagai contoh, misalnya kita begitu
gusar setelah disakiti oleh salah seorang teman kita. Kemudian, kita menjadi
tak bergairah untuk makan dan belajar. Akhirnya muncul masalah berikutnya,
yakni kita menjadi sakit dan gagal dalam UTS. Sangat disayangkan, ketika satu
masalah harus dibayar mahal dengan kehadiran masalah lain yang semestinya bisa
kita cegah. Ketika efek domino telah
terjadi, maka ada dua kemungkinan yang bisa terjadi berikutnya. Kemungkinan
pertama adalah kita justru terpacu dengan semangat yang dahsyat untuk segera
menghentikan efek domino tersebut.
Kemungkinan kedua, kita malah semakin terpuruk ke dalam timbunan masalah yang
terus menggunung.

Saudaraku,
pangkal dari semua ikhtiar dalam menghadapi masalah adalah cara pandang kita
terhadap masalah tersebut. Ada cara pandang yang positif (konstruktif), ada
pula cara pandang yang negatif (destruktif). Kita diberikan kebebasan untuk
memilih cara pandang yang mana pun, seperti halnya Anda yang “memilih” untuk tersenyum dan tertawa daripada menumpuk kekesalan saat terkena kotoran.
Namun, tidak mustahil Anda justru merasa begitu marah ketika kotoran itu itu jatuh pada "saat yang tidak tepat", yakni ketika Anda sedang BT-BT-nya. Apapun pilihan Anda, itulah hak Anda sepenuhnya. Kalaupun Anda memilih marah-marah, boleh jadi Anda tidak sepenuhnya salah dengan pilihan itu, karena toh
tetap sebagai suatu hal yang manusiawi. Meskipun demikian, kualitas hidup yang
baik tentu tidak akan tercapai jika selalu menuruti kecenderungan alami hawa
nafsu kita, tetapi justru lebih ditentukan oleh sejauh mana kita mampu
mengambil kecenderungan yang lebih positif dari sisi-sisi kemanusiaan kita.

Ketahanan diri untuk selalu
bersikap dengan didasarkan cara pandang positif biasanya tergoyahkan saat kita
berada dalam kondisi yang tidak nyaman atau tidak menyenangkan. Saat suasana hati sukacita, masalah berat bisa jadi terasa enteng. Namun, ketika hati ini berduka, masalah sebesar semut terkadang menjadi sekecil gajah dan pada gilrannya membuat kita berprilaku negatif. Kita seringkali tidak bisa
mengendalikan hal-hal yang akan terjadi atau kondisi yang akan kita alami
(apakah menyenangkan atau tidak), tetapi kita selalu bisa memilih cara pandang
yang positif dalam menyikapi setiap kondisi yang kita alami, betapapun buruknya
kondisi itu. Dan semuanya akan mengalir dalam koridor sunnatullah. Ketika cara
pandang positif yang dipilih, maka sikap positif akan tercipta dan membuahkan
perilaku positif serta efek yang sangat positif. Hal sebaliknya terjadi ketika
kita memilih cara pandang negatif. Masih ingat perilaku Rasululullah SAW yang
begitu mulia dalam menyikapi seseorang yang selalu melempari beliau dengan
kotoran? Cara dan sikap positif Rasulullah itu kemudian membuahkan pengalaman
yang tak tergantikan, yakni ketika orang tersebut melantunkan dua kalimat
syahadat dengan penuh ketulusan. Semua itu berawal dari cara pandang positif.

Mengetahui cara pandang
yang positif  dari yang negatif adalah
sesuatu yang terbilang mudah, tetapi
memilih serta bertahan pada cara pandang yang positif dan meninggalkan yang
negatif terkadang sangat berat bagi kita. Insya Allah ada beberapa hal yang
mudah-mudahan dapat kita renungkan dan amalkan untuk senantiasa memilih dan
bertahan  pada cara pandang yang positif

Pertama, mari kita perkuat
keimanan kita kepada Allah Yang Maha Hidup, Yang Senantiasa Mengurus makhluk2-Nya.
Mari kita renungi kembali apa yang menjadi aktivitas esensial dan terminal
akhir dari hidup ini melalui surat Ali Imran 142 : Apakah kamu mengira kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi
Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang
yang sabar
; dan juga pada surat Al-Ankabut 1 : Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan
mengatakan, “Kami telah beriman”, dan mereka tidak diuji?
.

Itulah dua ayat dari sekian
banyak ayat lain yang mengisyaratkan bahwa masalah
adalah suatu keniscayaan dalam hidup. Sikap dan tingkah laku kita dalam
menghadapi masalah pada gilirannya akan menjadi parameter kualitas keimanan
kita dan menjadi “ukuran” pula bagi Allah untuk menentukan dengan kehendak-Nya,
apakah kita layak berteduh di taman surga ataukah tidak. Seseorang akan sulit
mempertahankan dan meningkatkan kualitas keimanannya ketika sedang berikhtiar
menyelesaikan masalah, kecuali ia senantiasa
mendekatkan diri kepada-Nya
dan selalu
berikhtiar untuk meraih hikmah
dari setiap peristiwa. Hikmah itulah yang
akan menghadirkan ketakjuban diri akan kemahasempurnaan skenario Allah di balik
setiap masalah kehidupan.

Keyakinan yang kuat bahwa
masalah yang berada di sekeliling kita adalah cara Allah dalam menguji
hamba-Nya akan menumbuhkan  keikhlasan. Dengan berbekal sikap
ikhlas, seseorang akan melakukan yang terbaik dan merasa nothing to lose. Seorang dermawan yang memberi hartanya kepada
fakir miskin dengan ikhlas, maka ia tidak merasa kehilangan apapun meskipun
secara nominal jumlah hartanya berkurang. Seorang mahasiswa yang belajar siang
malam dalam kerangka ikhlas, maka ia tidak akan merasa telah “menyia-nyiakan”
waktunya ketika ternyata nilai ujiannya kurang memuaskan. Pernyataan nothing to lose ini hadir dari hati
orang-orang yang ikhlas, karena yang diharapkannya bukan semata-mata hasil
akhir dari perbuatan itu di dunia, tetapi pada hakikatnya hanya mengharapkan
hasil akhir yang bebas kerugian di akhirat kelak

Ketika kita selalu
berikhtiar untuk ikhlas dalam menghadapi setiap masalah, maka kita pun akan
merasa nothing to lose. Artinya,
kalaupun masalah itu sulit dipecahkan dan begitu memberati pundak kita secara
berkepanjangan, kita tidak lantas dikalahkan olehnya. Orang yang dikalahkan
oleh masalah adalah orang yang berhasil didominasi oleh masalahnya sendiri dan
tenggelam di dalam keruwetannya sehingga tidak mampu melaksanakan amanah-amanah
kehidupan lainnya secara optimal. Pikirannya dikuasai oleh masalah itu sehingga
konsentrasinya pun melemah. Akibatnya, efek
domino
pun terjadi. Nah, kondisi ini cukup rentan terjadi pada mahasiswa
atau pelajar. Apabila ia begitu pusing memikirkan masalah organisasinya, m
asalah keluarganya, atau masalah hubungan dengan rekan-rekannya,
seringkali semua itu menyebabkan semangat belajarnya di perkuliahan/sekolah
menurun. Jika demikian, boleh jadi ia telah dikalahkan oleh masalahnya
sendiri.
Na’udzubillah min
dzaalik
. (Bersambung ke Pandangan Penuh Cinta (2))

Satu Sisi Bahagia

Sunday, December 4th, 2005

Seorang
gadis terduduk lesu. Pandangannya kosong. Wajahnya masam. Sama sekali tak
terlukis di raut mukanya setitik pun tanda kegembiraan. Kekecewaan dan
kesedihan; sepertinya dua hal ini yang menguasai jiwa dan raganya. Semua itu
tergambar ketika siapa pun memandangnya. Perasaan iba-lah yang sontak muncul
dalam kalbu orang-orang di sekitarnya begitu melihat keadaannya yang kontras
dengan hiruk pikuk keramaian suasana.

Dari
jauh terlihat bayangan sesosok pemuda yang lama kelamaan semakin jelas dicerna
mata. Pemuda yang masih hijau itu berjalan dengan mantap mendekati si gadis.
Tanpa ba-bi-bu, ia langsung duduk tepat lima sentimeter di
sebelah kanan si gadis.
Tangannnya segera melingkar di atas bahu si gadis seakan menjadi bantal ketenangan perempuan durjana
itu. Si gadis terkejut dan segera menoleh. Air matanya tiba-tiba saja menderas
dan tanpa ba-bi-bu pula, ia meletakkan kepalanya di bahu pemuda. Tak lama kemudian, percakapan yang diwarnai isak
tangis si gadis terjadi di antara sepasang anak manusia itu. Si gadis
memuntahkan semua uneg-unegnya, menceritakan semua masalah yang menghimpit hati
dan pikirannya, dan mengadukan segala beban yang memberati pundaknya. Sang
pemuda begitu hikmat dan setia mendengarkan setiap patah kata yang meluncur
dari mulut si gadis. Sesekali ia tersenyum, seakan berusaha menenangkan hati si
gadis dan meredam kegelisahannya

                                                                     
                                                                     **

Dua
jam telah berselang sejak si gadis dan sang pemuda membuka forum curhat.
Tangisan si gadis kini tak terdengar lagi. Sungai air matanya telah mengering
dipanasi sinar mentari Zhuhur yang semakin terik. Pasangan remaja itu akhirnya
beranjak dari tempat duduknya. Keduanya berjalan bersama, menembus kerumunan
orang-orang, hingga akhirnya lenyap ditelan keramaian.

Nah, bagaimana, ya, keadaan si gadis sekarang? Mungkin saja dia
sudah tenang dan kembali ceria. Namun, akankah ketenangan itu merasa betah bermukim dalam dirinya. Akankah keceriaan
itu akan selamanya menghiasi hari-hari si gadis? Bagaimana jika kesedihan dan
kekecewaan kembali datang? Bagaimana jika pada saat itu sang pemuda kebetulan
sedang berhalangan sehingga tidak bisa hadir di sisinya? Tidak ada seorang kita
pun yang bisa menjamin bahwa langkah si gadis selalu mulus, tanpa sedikitpun
onak dan duri

                                                                          **
Siang
terus merambat, malam tak sabar
menjelang. Keramaian perlahan-lahan menyurut dan keheningan pun segera
menyeruak hingga ke sudut-sudut kota. Canda tawa digantikan mulut-mulut yang
terkunci. Kesibukan yang melenakan digantikan kelelahan yang terus merayu raga
menuju pembaringan. Mimpi-mimpi pun datang berduyun-duyun, menghinggapi manusia
yang terlelap manis dalam tidurnya.

Suasana malam di langit kota terasa
hampa. Namun, di tengah kehampaan itu, ada satu panorama yang sangat berbeda
dengan pemandangan di sekitarnya. Sebuah panorama yang sama sekali tidak
menyiratkan kehampaan. Sebuah panorama yang justru menyajikan kesejukan,
ketentraman dan kedinamisan.

                                                                       **

Ketika gulita masih menyergap, ketika dinginnya malam
masih menusuk tulang, dan ketika sebagian besar penduduk kota masih bermain di
alam tidurnya, mata zhahir dan dan batin seorang pemuda yang shalih terjaga. Ia
mengambil air wudhu lalu mengenakan baju kokonya. Dengan perlahan tetapi pasti,
ia menghampar sajadah. Suasananya di sekitarnya cukup gelap. Ia hanya
menyisakan sedikit cahaya lewat lampu yang biasa ia pakai untuk belajar.

                                                                       **

 

Suasana
yang temaram itu begitu syahdu. Sang pemuda mulai merenung dan tiba- tiba saja
hati pemuda itu bergetar. Ia teringat akan dosa-dosa yang ia lakukan selama
beraktivitas di siang hari.
Ia merasa dirinya benar-benar hina di hadapan Allah.

Sang pemuda mencoba mengosongkan
pikirannya dari segala hal yang berbau dunia. Dengan segenap jiwa dan raganya,
ia berusaha memusatkan hati dan pikirannya ke satu Cahaya, Dia-lah Allah swt.

Belum lama sang pemuda duduk
bersimpuh, tetapi air matanya sudah mengalir. Awalnya adalah mata air mata,
tetapi lama kelamaan berubah menjadi sungai dan lautan air mata. Dengan
terisak-isak ia memohon ampun atas dosa-dosa yang ia lakukan di siang hari. Ia
mengadukan segala kelemahan dirinya kepada Allah; kelemahannya dalam
mengendalikan hawa nafsu dan kelemahannya dalam mencari hikmah di balik
keputusan Allah atas dirinya. Ia mencurahkan segala perasaan yang menghimpit
hati, perasaaan yang mengekang dirinya dari keikhlasan dan ketulusan. Ia
menceritakan segala beban yang ia pikul kepada Rabbul Izzati. Yaah, ia
mengadukan segalanya, ia mengadukan segalanya kepada Allah. Sang pemuda memang
tidak melihat Allah secara fisik, seperti sang gadis terhadap teman prianya.
Namun, ia sangat
yakin bahwa Allah mendengar rintihan hatinya dengan jelas. Ia yakin bahwa Allah
akan memberikan ketenangan yang ia butuhkan, karena memang Allah –lah
satu-satunya sumber ketenangan yang hakiki.

                                                                        **

 

Sang pemuda melanjutkan forum curhatnya kepada
Allah dengan beberapa rakaat shalat
tahajjud. Rakaat demi rakaat ia lalui dengan perlahan. Ia berusaha menghadapkan
hatinya hanya kepada Allah dalam kekhusyukan. Ia berusaha menghadirkan Allah
dalam setiap luncuran ayat al-Quran yang keluar dari lisannya dan dalam setiap
desahan hatinya.Tak kuasa pemuda menahan damainya suasana itu. Air matanya pun
meleleh lagi. Tempat sujudnya kini basah sudah….

 Sang pemuda terbuai
dalam nikmatnya semalam berdua dengan Allah. Ketenangan itu turun perlahan, menggantikan kegelisahan
yang memadati jiwa dan raganya, menghiasi ruang-ruang dalam hatinya yang
sebelumnya sesak dengan kesedihan dan duka…

                                                                         **

Matahari
pagi terbit akhirnya. Sang pemuda bangkit dari tempat sujud shubuhnya.
Ia segera membersihkan diri
dan bersiap-siap untuk melaksanakan amanahnya hari ini. Rona keharuan masih
membekas di wajahnya. Keharuan itu menyiratkan kekuatan, kepercayaan diri dan
kerendahan hatinya sebagai hamba yang senantiasa bergantung kepada Allah.
Sang pemuda sangat yakin bahwa Allah akan
memberikan petunjuk untuk memecahkan masalah yang dihadapinya dan untuk membuat
dirinya senantiasa ingat kepada Allah setiap kali rayuan dosa menggoda.
Keyakinan ini terus di bawanya sepanjang hari. Keyakinan ini terus membara
karena sang pemuda yakin bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang
berserah diri kepada-Nya. Ia yakin bahwa Allah sangat dekat dan kapanpun ia
bisa mengadu kepada-Nya. Ia tidak khawatir kalau-kalau Allah akan menjauh darinya
seperti si gadis yang mungkin ‘kecewa’ karena terik mentari telah melebarkan
jurang jarak antara dirinya dengan teman prianya. Ia justru khawatir kalau
dirinya melupakan Allah hingga Allah melupakan dirinya.

                                                                         **
Pembaca yang budiman, masa depan adalah sedetik
kemudian, sejam kemudian, seminggu kemudian, sebulan kemudian dan seterusnya.
Itulah saat-saat ketika kita harus senantiasa siap menghadapi segala hal di
depan kita. Kesenangan dan kedukaan, kedua-duanya berada di depan kita, bagai
dua sisi mata uang yang senantiasa berbolak-balik. Kita tidak tahu pasti kapan
kita melihat sisi kesenangan dan kapan kita melihat sisi kedukaan.
Kita mungkin sering mendapati sisi pertama, sisi kedua, atau kedua sisi
itu dengan kuantitas yang sama.
Namun, apakah kemunculan sisi-sisi itu yang harus
kita pentingkan? Sungguh sayang, jika kita berlaku demikian. Apakah kita bisa
mengendalikan peluang munculnya sisi-sisi itu? Tidak sama sekali, karena kita
adalah makhluk yang lemah. Makhluk yang hanya bisa menjalani sebuah proses
kehidupan, tanpa sama sekali mampu menentukan hasil akhir dari proses itu
secara mutlak.
Jika kesadaran sebagai makhluk yang
lemah
ini telah kita miliki, tiada lagi halangan bagi kita untuk merasakan
kebahagiaan yang sebenarnya di dunia ini. Kebahagiaan bukanlah semata-mata
ketika kita berhasil meraih apa yang kita inginkan hingga kita merasa senang. Kebahagiaan pun bisa kita raih, bahkan ketika kedukaan menimpa kita.
Kebahagiaan itu adalah ketika kita menyerahkan segalanya kepada Allah. Kebahagiaan
adalah ketika kita mampu menemukan hikmah dari setiap kejadian. Kebahagiaan itu
adalah ketika kita menjadikan Allah
sebagai satu-satunya tempat kita bergantung.

Semoga Allah menguatkan kita tuk semakin mampu meyakini bahwa hidup ini indah, apapun yang Allah sajikan untuk kita. Wallahu a’lam bi ash-shawwaab.

Ikhlas

Friday, December 2nd, 2005

Entah berapa banyak langkah telah ditempuh
Untuk sekedar membuat mereka
Bergerak, berjalan, berlari, melesat menjemput cahaya
Entah berapa banyak nasihat yang mengaura di sekujur tubuh
Untuk sekedar membuat mereka
Tersenyum dalam pengertian, mengangguk dalam pemahaman
Terpatri dalam paradigma kebenaran
Entah berapa banyak pula doa yang terucap setiap detik
Untuk sekedar mengharapkan kemurahan-Nya
Agar Dia Menghujamkan hidayah di hati kami, kita dan mereka

Namun akankah kita tetap sanggup berseru: Entah berapa banyak
Padahal kita tidak tahu betapa sedikit yang telah kita berikan
Akankah pula kita tenggelam dalam ketenangan hati
Ketika kita sadar berapa banyak keinginan untuk dihargai
Benak ini begitu berbunga-bunga saat kebaikan telah terbalas
Jiwa raga ini sangat merindukan tanda terimakasih
Hati ini robek ditikam pedang-pedang pengabaian dan ketidakpedulian
Dari mereka yang kita kasihi di taman ukhuwah dan dakwah ini

Masihkah kita terdiam dan terlalu angkuh untuk mengakui
Bahwa kita masih tertatih dalam menggenggam keikhlasan
Kita berada di tepi jurang kehancuran amal-amal kita sendiri
Yang ternoda oleh pengharapan akan balasan dan kesyukuran
Dari manusia…
Astaghfirullah….

Masihkaaah kita terlalu sombong untuk sekedar meratap pilu
Ya Allah, aku memang tidak mengharap pujian
Tetapi aku begitu menanti dan senang hati saat mereka menghargai
Ya Allah, aku memang hanya mengharapkan keridhaan-Mu saja
Tetapi jiwa ini menangis ketika ucapan terimakasih tak jua kuterima
Ya Allah, aku yakin hanya Engkau yang memberikan balasan terbaik
Tetapi diri ini masih saja mengeluh saat tiada yang memahami
Bahwa aku telah lelah berjuang di jalan ini
Diri ini terus berteriak agar mereka mau mengerti
Kalau aku ingin mereka semakin berarti
Dan betapa kecewanya aku ketika mereka tetap diam dan membisu
Saat aku tengah kencang berlari menghampiri rahmat-Mu

Ya Allah ku jatuh seketika saat ratapan itu terhulur
Jika demikian, apakah memang sejatinya ku tak harapkan pujian
Jika demikian, apakah memang sejatinya ku hanya harapkan ridha-Mu
Jika demikian, apakah memang sejatinya ku yakin hanya Engkau Pemberi balasan terbaik
Jika demikian, apakah yang telah ku lakukan masih bernilai di sisi-Mu

Aku hanya manusia lemah yang berusaha bangkit dan meraih kekuatan
Di jalan dakwah ini…
Tetapi aku tetap manusia yang lemah penuh keluh kesah
Seberapa kuat ikhtiarku tak kan pernah mampu menutupi kelemahanku
Jika Engkau tak Berkenan menegakkanku
Jika Engkau tak Berkenan menguatkanku
Jika Engkau tak Berkenan menyucikan hati ini
Agar diri ini menjadi hamba yang Engkau Cintai

Ya Allaah, iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin
Ketika pun aku berbuat sejuta kebaikan itu adalah buah pertolongan-Mu
Karena rahman dan rahim-Mu
Ketika pun aku ikhlas itu pula adalah bukti kehadiran-Mu
Yang Menolong hati ini agar senantiasa murni dalam agama-Mu

Karena itulah Ya Allah… tiada yang bisa kupinta dari-Mu
Selain bait-bait sederhana dari lisanku
Ya Allah, jadikan diri ini dalam pertempuran tiada henti
Melawan syaithan laknat-Mu atasnya
Yang menjadikan semua…
Semua keinginan untuk dihargai dalam diri ini
Yang menjadikan semua…
Semua harapan akan ucapan terimakasih
Yang menjadikan semua…
Semua kesedihan ketika kebaikanku tak terbalas, terabaikan, tidak dipedulikan
Sebagai peluru-peluru yang kan menerjang ikhlasku

Ya Allah, jangan biarkan sebesar dzarrah pun riya sum’ah bermukim di hatiku
Ya Allah, gantikanlah semua itu
Hanya dengan pengharapan akan keridhaan-Mu
Hanya dengan kegembiraan ketika Engkau Meridhaiku
Hanya dengan keinginan akan balasan terbaik dari-Mu
Hanya dengan keyakinan bahwa semua kebaikan yang kulakukan
Adalah sebentuk kasih sayang dan pertolongan-Mu

Ya Allah anugerahkanlah kekuatan sejati
Agar aku tak kecewa ketika tiada yang menghargai kebaikanku
Agar aku tak berduka ketika tiada yang berterima kasih atas kebaikanku
Agar aku tak mengeluh ketika pun manusia mengabaikan kebaikanku
Agar ku mampu melupakan semua amal shalih
Karena sejatinya amal shalih itu bukan kebaikanku, bukan dariku
Semua kebaikan itu…
adalah kebaikan-Mu semata
yang Kau titipkan padaku…

Carpe Diem!

Friday, December 2nd, 2005

Aku terjebak dalam
kebekuan ruang kelas yang dingin
Sekelompok teman
mengumbar senyum dan dengan kemesraan meraih tanganku
Mengajakku
mendengarkan keriuhan suasana tanpa telinga, memandangi keindahan alam tanpa
mata, dan mencoba terharu atas lintasan-lintasan sejarah yang begitu dinamis
hanya dalam cerita.
Aku
dipaksa menelan bulat-bulat realitas yang dibungkus dalam ribuan formula
Tiada
kesempatanku untuk sekedar mengambil nafas, membasahi pembuluh pikiranku dengan
secangkir kopi rehat, ataupun berbaring dalam kesegaran canda tawa
Aku
mau muntah tapi tiada satupun yang membiarkanku menumpahkannya.
Aku
pusing dalam keharusanku, tuk menajamkan mata ke arah wacana

yang membisu di atas
papan kayu itu…

Aku terjaga dari
kesadaran saat ini
Aku beranjak dari
kursi kayu dan segera berteriak: rebutlah hari ini, teman-teman!
mengapa kita masih
duduk diam di sini?
Apakah
kita cukup puas dengan diri kita yang seperti patung?
Diam
membeku, mendengar tanpa memahami yang didengar, memandang tanpa tahu apa yang
dilihat, merasakan apa yang tidak pernah kita alami
Seperti
itukah harapan kita, kita yang segera diselendangkan sutra bertuliskan pemimpin
masa depan, yang akan dijuluki sultan mesin futuristik dan dianugerahi mahkota
raja-raja dunia?
Kemalasan,
ketakutan, kemunduran, dan keraiban kekuatan adalah pakaian lusuh kita.
Pemberontakan jiwa yang menjerumuskan, perengkuhan jati diri yang melenakan,
dan visi yang mengaburkan cita-cita adalah panorama dunia kita.

Hai
teman semasa, tiada usaha yang pantas kita lakukan, tiada keinginan yang layak
diperjuangkan selain mengganti pakaian lusuh dan panorama itu.
Lepaskan,
lenyapkan, dan ganti sekarang juga atau kita jadi budak selamanya!

Aku
sekali lagi berteriak dengan nada yang paling tinggi
Tidakkah kalian mendengar
cita-citaku, wahai teman?
Seorang
teman beranjak dan menjawab: Ya!
Semua hal di seluruh
dunia ada pasangannya dan isi hatimu pun ada kecualinya.
Kecuali kita telah
mampu menggenggam kemegahan dan kesenangan dunia dengan tangan kita, bukan
melesapkannya dalam hati
Kecuali mahaguru
telah sadar dari kemalasan dan kekeliruan jalan pikirnya
Kecuali mahapatih
telah mampu memandang masa depan dan tidak lagi bergembira dengan kesedihan
dirimu
Kecuali
mahapatih adalah mereka yang hancur hatinya seperti hatimu
Kecuali
sang raja telah turun ke relung hatimu yang terluka, menuju lorong jiwamu yang
dsesaki kekecewaan
Kecuali
sang raja telah pandai untuk menjadi dirimu, dirimu yang menyesali kelusuhan
dan begitu mengibakan
Kecuali
semua telah terbangun di malam yang gelap dan kembali berjalan mencari
Cahya-Nya

Aku tidak mau
mengalirkan air mataku hanya karena terharu atas kata-kata teman semasa itu
Aku tidak mau
tertegun karena kagum akan kebijaksanaan kata-kata itu
Aku hanya ingin
semua sedih seperti diriku, hingga akhirnya tersadar akan ketidaksadaran selama
ini
Aku tidak ingin
hanya bicara, tetapi ku mau mengerahkan kekuatan hati, pikiran, dan ragaku
untuk berjuang melawan sakitnya kesedihan ini.

Adakah
dari kalian yang setuju dengan deburan tekad ini?
Semua
hanya diam dan malah menggetarkan tubuhku yang merasa lelah sejak tadi.
Aku
benar-benar terjaga saat ini dan sayup-sayup kudengar pertanyaan yang memaksa
sebuah jawaban
Carpe
Diem, begitu merdunya kah suara Ibu, hingga pertanyaan Ibu tadi bagai angin
yang meredupkan matamu?!
Aku
tersenyum sembari menyampaikan salam:
Terima
kasih kuucapkan untuk Ibu dan untuk angin yang begitu menyejukkan.

 

Taman Dunia Terindah

Friday, December 2nd, 2005

(Bait-bait hadiah di hari pernikahan kakakku tercinta yang menjadi bukti pengharapan diri ini atas teman sejati yang kan meneguhkanku di jalan dakwah…)

Duhai Rabbi Yaa Muqallibal Quluub…
Belaian masa mengajak
jiwaku mengarungi anugerah-Mu
Perjalanan sang waktu
membawa diriku perlahan…
Menuju taman dunia terindah

Luasnya taman ini adalah
ampunan-Mu
Sejuknya udara dan semerbak
harum bunga adalah kasih sayang-Mu
Indahnya keajaiban -Mu
teguhkan hati dalam cinta ini
Bersamanya di taman ini, ku
ikrarkan sebuah janji suci
di bawah haribaan-Mu
Tuhanku, ridhailah kami.

Ya Allah, Tuhanku
Engkau turunkan cinta ke bumi, menelusuri ruang dan waktu…
dan sampailah pada hari ini
Cinta-Mu t’lah hangati
relung-relung jiwa kami
Cinta-Mu redamkan riuh dan
gemuruh dalam hati
Cinta-Mu di hatiku,
cinta-Mu di hatinya…….
…..adalah permata tautan
dua hati ini

Ya Allah, Dzat Pemilik Segala Rahasia
Engkau telah pilihkan ia
untukku, hingga aku merasa tentram kepadanya.
Engkau telah sandingkan ia untukku, teman hidupku untuk berjihad di
jalan-Mu
Engkau telah pertemukan kami, di taman yang penuh rindu
Maka ikatkanlah jiwa dan raga
ini hanya dengan tali-Mu

Ya, Allah, Yang Maha Berkehendak
atas hamba-Nya
Engkau tanam bebunga bahagia
yang ‘kan mekar ceria
Engkau sebar kerikil, onak dan duri duka
Ya, Allah, saat ini dan pada hari-hari yang segera menjelang
Kami ‘kan memetik bahagia
itu, kami pun ‘kan melangkah di
atas duka itu.
Kuatkanlah kami, Ya Allah

Kuatkanlah hati kami untuk bersyukur dalam gelimang bahagia itu
Kuatkanlah hati kami dengan kesabaran dalam kungkungan duka itu
Kuatkanlah kami dalam dingin dan panasnya ujian-Mu, Ya Allah

Ya, Allah, Tuhan Pemilik Cinta
Di taman ini…
Di taman sunnah sang musthafa
Di taman berjuta hikmah…
Di taman mawaddah dan rahmah…
Kami bersimpuh ke hadirat –Mu
Kami bersujud mengharap terang cahya-Mu