Archive for January, 2006

Tafakkur Langit (3) : Kilauan Matahari

Thursday, January 19th, 2006

Kita sedang berada di sebuah universitas besar. Penulis ingin mengajak
pembaca untuk mengunjungi dan belajar di salah satu ruang kuliahnya.
“Universitas
besar” itu adalah alam semesta dan salah satu “ruang kuliah” yang penulis
maksud adalah langit.

Mari kita
gunakan imajinasi kita barang sebentar. Anggaplah kita sedang melayang di
angkasa dengan sebuah pesawat ulang alik. Kita melintasi keindahan kerlap-kerlip cahaya di luar sana. Dan
sekarang, kita siap untuk menikmati sebuah proses belajar yang menarik.

Kita sudah menikmati keindahan bebintang nun jauh dan
merasa takjub akan “keajaiban” latar. Penulis yakin kita belum cukup puas
dengan semua itu. Sekarang, marilah kita mengarahkan pandangan ke tata surya
kita. Lihatlah bintang yang menyala di pusatnya dan renungkanlah hal-hal yang
bisa kita pelajari darinya.

Matahari
bukan sekedar bintang. Lebih dari itu,
ia patut kita juluki sebagai “jantung tata surya”. Ia lah yang “memompa” sumber
energi utama ke seluruh penghuni tata surya berdasarkan instruksi Sang
Pencipta. Sumber energi itu dipancarkan dalam bentuk sinarnya yang berkilauan.
Ia juga yang “mengomandoi” peredaran planet, asteroid, satelit, dan benda tata
surya lain untuk mengelilingi dirinya atas perintah Allah, layaknya jantung
yang mengatur peredaran darah di dalam tubuh kita.

Kita semua sudah mengetahui manfaat matahari yang sangat
besar bagi tata surya. Kita pun sepertinya “tidak sanggup” menjawab pertanyaan:
Apa jadinya jika matahari hancur atau berpindah ke lain hati alias meninggalkan
tata surya ini? Kalaupun ada jawaban tegas, penulis percaya bahwa
jawaban itu adalah: Kiamat! Inilah ungkapan jujur tentang pentingnya matahari dalam kehidupan kita.

Tanpa
matahari, tidak akan ada fotosintesis konvensional. Jika fotosintesis terhenti,
tumbuhan hijau tidak bisa tumbuh dan bahkan akan segera musnah. Hewan-hewan
herbivora secara otomatis akan mengalami kelaparan karena jumlah sumber makanan
mereka menurun drastis dan akhirnya berangsur punah. Selanjutnya, hewan-hewan
karnivora menderita karena mangsanya semakin sedikit. Mereka pun akhirnya tewas
beramai-ramai. Seiring dengan itu, manusia menangis karena bahan makanan alami
mereka, tumbuhan dan hewan, semakin
langka. Manusia pun lama kelamaan akan mati kelaparan. Begitulah, satu contoh kecil
cerita berantai yang menyedihkan setelah ketiadaan matahari. Masih banyak
cerita lain yang sangat memiriskan hati yang akan terakumulasi hingga semua itu
akan berakhir pada satu kemungkinan besar: kehancuran bumi beserta segala
isinya.

Allah Maha
Bijaksana dan Maha Penyayang. Sampai saat ini Dia masih memelihara matahari di
tata surya kita. Dia masih memfasilitasi matahari dengan segala manfaat yang
sangat signifikan bagi penghuni tata surya. Kita pun berhak bernapas lega
karena penelitian para ahli menghasilkan suatu kesimpulan bahwa usia produktif
matahari masih sangat panjang (mencapai orde jutaan tahun). Kita masih bisa
tersenyum karena tidak akan mengalami cerita menyedihkan di atas dalam waktu
dekat.

Kita pun
seharusnya semakin bahagia karena kebijaksanaan Allah tidak hanya terbatas pada
sumber manfaat yang Dia anugerahkan kepada matahari. Dia, dengan penuh kasih
sayang, juga menurunkan pelajaran yang sangat berharga di balik eksistensi
matahari beserta manfaat-manfaatnya. Marilah kita pikirkan sejenak tentang
pelajaran-pelajaran itu.

Apa yang
bisa kita pelajari dari matahari? Pertama, matahari “mengajarkan” kita untuk lebih
mendahulukan kepentingan orang banyak daripada kepentingan pribadi
. Kita
telah mengetahui bahwa proses pembentukan energi yang dipancarkan matahari
merupakan reaksi fusi yang mengubah dua atom hidrogen menjadi satu atom helium.
Proses ini berlangsung terus menerus sehingga massa
matahari berkurang sedikit demi sedikit. Itulah “pengorbanan” matahari. Ia
terus memancarkan energi ke benda-benda langit disekitarnya meskipun berat
badannya juga terus menurun. Ia terus memancarkan cahaya walaupun eksistensinya
sendiri “terancam”. Ia lebih “memikirkan” kebutuhan energi benda-benda tata
surya yang mengelilinginya daripada dirinya sendiri. Dengan begitu, matahari
telah menomorduakan “ego”nya dan menomorsatukan “kepentingan” tata surya.

Begitulah kita seharusnya. Kita hendaknya mampu
mendahulukan kepentingan orang banyak daripada kepentingan kita sendiri. Kita
hendaknya mampu berkorban secara ikhlas untuk masyarakat, bangsa, negara, dan
agama kendati diri kita menuai penderitaan duniawi dalam pengorbanan itu.
Pernyataan ini terdengar klise, tetapi menjadi tidak demikian jika kita
mengingat kembali sejarah Islam yang banyak memuat teladan kerelaan berkorban
para nabi dan sahabat-sahabat mereka. Kerelaan berkorban untuk kepentingan yang
lebih besar telah menjadi budaya Islam, sejak zaman nabi Adam hingga Nabi
Muhammad saw. Bahkan, para pembaca tentu sudah tidak merasa asing lagi dengan
kisah Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya yang didera kesengsaraan hebat
dalam rangka dakwah islamiyah. Inilah yang harus direnungi dan dimaknai oleh
kita untuk “rela berkorban” saat ini. Pemaknaan adalah langkah pertama. Iringi
dengan penghayatan, setelah itu baru implementasikan dalam tindakan yang disesuaikan dengan kemampuan. Jika demikian,
insyaa Allah kerelaan berkorban bukan lagi wacana sarat klise dan bukan lagi
sebuah keterpaksaan yang hampa nilai.

Pembaca yang budiman, perlu dipahami bahwa mendahulukan
kepentingan orang banyak tidak berarti melupakan diri sendiri. Kita juga
makhluk yang punya berbagai macam hak untuk dipenuhi. Di sinilah kita
memerlukan sebuah kebijaksanaan, proporsionalitas, dan kesederhanaan.

Kita harus bijaksana dalam memilih kapan saatnya
meluangkan waktu untuk diri sendiri dan kapan waktu yang tepat untuk membantu
orang lain. Tanpa kebijaksanaan, kita bisa terjerumus menjadi seorang yang
egois atau sebaliknya, menjadi seseorang
yang tersiksa karena tidak pernah memikirkan jasmani dan ruhani kita. Kita juga
harus proporsional. Ketika kita dihadapkan kepada kepentingan sendiri dan
kepentingan masyarakat, kita harus dengan cermat menyiapkan energi yang
proporsional untuk masing-masing kepentingan itu. Proporsional tidak selalu
berarti sama berat dan sama porsi, tetapi merupakan ukuran yang pas sehingga
mampu memuaskan orang lain dan juga tidak mengebiri hak pribadi. Kita pun harus
sederhana. Kita hendaknya tidak berlebih-lebihan, baik dalam memenuhi
kepentingan pribadi maupun saat mengurusi orang banyak. Bukankah Allah membenci
orang yang perilakunya berlebih-lebihan?

Ketiga hal di atas tidak muncul secara instan. Rela
berkorban pun cuma ringan untuk diucapkan, tetapi berat untuk dilaksanakan.
Kita membutuhkan latihan. Latihannya adalah mempraktekkan “rela berkorban”
sebagai bentuk ibadah dan meningkatkan
kekuatan ruhiyah. Praktek penting untuk membiasakan dan melatih kepekaan diri,
sedangkan kekuatan ruhiyah penting untuk dapat merasakan kenikmatan batin dari
praktek ibadah yang kita lakukan itu. 

Kedua, matahari “mengajarkan” kepada kita untuk menjaga
perilaku kita agar tetap menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi lingkungan
.
Kita telah tahu bahwa matahari mempunyai fotosfer dan korona selain intinya.
Korona adalah lapisan atmosfer matahari yang berbahaya bagi mata kita jika
dilihat secara langsung, bahkan beresiko tinggi menyebabkan kebutaan. Sementara itu, fotosfer relatif lebih aman apabila
dilihat telanjang mata, asal tidak terlalu lama. Beruntunglah kita karena dalam
keadaan biasa (tidak terjadi gerhana), hanya cahaya fotosfer yang dapat kita
lihat dari bumi. Cahaya fotosfer “mengalahkan” kilauan korona yang sekaligus
menghalangi kita dari melihat atmosfer “ganas” itu. Dari sinilah kita mendapat
pelajaran berharga. Bagaimanapun watak, sifat, dan kondisi kita, hendaknya kita
tetap berperilaku yang menimbulkan rasa aman dan nyaman bagi sesama manusia dan
makhluk Allah lainnya. Kegembiraan dan kelebihan diri yang kita nikmati jangan
sampai membuat orang lain merasa minder dan putus asa. Kesedihan dan
kelemahan kita pun jangan sampai
menyusahkan orang lain, mengesalkan orang yang berusaha menghibur kita, atau
bahkan hingga membuat orang menolong kita hanya karena takut kita kecewa, bukan
karena menginginkan keridhaan Allah semata. Dalam keadaan biasa, marah, senang
ataupun kecewa, kendalikanlah diri kita seoptimal mungkin agar tidak
menimbulkan perasaan-perasaan negatif dalam diri orang-orang di sekitar kita.
Sebaliknya, kita diharapkan tetap membangun dan menghidupkan aura positif yang
niscaya berpengaruh baik bagi diri dan lingkungan kita.

Di akhir pelajaran kedua ini, mari kita ingat kembali
sabda Rasulullah saw. dalam hadits berikut: Demi Allah tidak beriman! Demi
Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman! Ketika ditanya tentang siapa
yang dimaksud Rasulullah saw. dengan ucapannya itu, beliau menjawab, “Orang
yang tetangganya tidak merasa aman dari perilakunya.”

Ketiga, matahari “mengajarkan” kepada kita agar memiliki
kepekaan diri yang tinggi
. Kita
sama-sama mengetahui bahwa bintang matahari adalah bola gas panas. Jika kita
berada satu kilometer saja di atas permukaannya, mungkin kita berteriak sembari
buru-buru menjauh darinya: seperti di neraka!. Alternatif lainnya, kita diam
seribu bahasa karena sudah terlebih dahulu terpanggang. Yaah, matahari memang
sangat panas sehingga wajar kita berteriak atau “diam” seperti itu. Namun, kita
merasakan manfaatnya yang begitu besar di bumi ini. Manfaat itu relatif sangat murah dan kita pun
tidak perlu repot-repot pergi ke ruang angkasa untuk meraihnya. Cukup dengan
membuka jendela kamar, menanam tetumbuhan di pekarangan, menjemur pakaian, atau
menebar gabah di lapangan berlapis semen, kita sudah dapat mencicipi sebagian
manfaat matahari yang jaraknya 150 juta kilometer dari bumi itu.

Subhanallah
, kita
dapat mengambil pelajaran berharga dari fenomena ini. Inilah salah satu analogi
kepekaan diri. Matahari menyalurkan manfaat tanpa mengharuskan makhluk Allah
lain datang kepadanya. Ia memberi dengan
sangat cepat sehingga makhluk Allah di tata surya “tidak perlu” memintanya
secara langsung. Beginilah kita seharusnya. Kita hendaknya tidak perlu
disuruh-suruh atau dipaksa-paksa beribadah dan beramal shaleh. Hendaknya kita
mampu menyegerakan diri untuk beribadah pada waktu dan kondisi ritual yang digariskan
syariat Islam telah datang menjumpai kita. Kita hendaknya peka dengan kondisi orang-orang yang memerlukan
pertolongan. Hendaknya kita mampu membantu dengan cepat sebelum mereka
memohon-mohon kepada kita. Semua ini hanya bisa terlaksana dengan lancar,
apabila kita memiliki kesadaran ruhiyah yang tinggi. Pembaca yang budiman, inilah salah satu awal bagi kita
untuk belajar membangun empati kepada sesama manusia dan makhluk Allah lainnya.

**

 

Itulah setitik buih
pelajaran dalam samudera ilmu Allah yang bisa kita ambil dari bintang-bintang,
latar, dan matahari yang begitu menakjubkan . Penulis yakin, masih banyak
pelajaran lain yang bisa kita petik dari fenomena-fenomena alam ini dan
fenomena lain yang belum terulas di sini. Kita harus terus merenung dan
bertafakur, jika kita mau menikmati buih-buih pelajaran lain yang tak terhingga
jumlahnya. Satu hal yang perlu penulis tegaskan di akhir tulisan ini adalah
penggunaan tanda petik pada kata “mengajarkan” yang mengiringi kata “bintang”,
“latar”, dan “matahari”. Maksud dari penggunaan tanda petik itu adalah untuk
menyatakan secara tidak langsung bahwa bintang, latar, dan matahari hanyalah
sebagai sarana yang diciptakan Allah untuk menjelaskan ilmu-Nya. Dia lah
sebenarnya yang mengajarkan semua pelajaran itu. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Tafakkur Langit (2) : Kegelapan Latar

Thursday, January 19th, 2006


Kita sedang berada di sebuah universitas besar. Penulis ingin mengajak
pembaca untuk mengunjungi dan belajar di salah satu ruang kuliahnya.
“Universitas
besar” itu adalah alam semesta dan salah satu “ruang kuliah” yang penulis
maksud adalah langit.

Mari kita
gunakan imajinasi kita barang sebentar. Anggaplah kita sedang melayang di
angkasa dengan sebuah pesawat ulang alik. Kita melintasi keindahan kerlap-kerlip cahaya di luar sana. Dan
sekarang, kita siap untuk menikmati sebuah proses belajar yang menarik.

Setelah
kita menyelami keindahan bebintang, mari kita alihkan pandangan kita lebih
“jauh”. Perhatikanlah kegelapan yang melatari cahaya bintang-bintang itu;
kegelapan yang tidak lebih dari sekedar warna hitam, tetapi menyimpan ribuan misteri
yang belum terungkap. Kegelapan itu begitu sederhana terlihat, tetapi begitu
cocok dengan cahaya bintang-bintang “di atas”nya sehingga begitu indah dilihat
mata.

Ruang
angkasa, inilah salah satu frase yang sering disejajarkan maknanya dengan latar
berwarna hitam itu. Kita juga sering menyebutnya “langit”. Apapun sebutannya,
dalam konteks ini izinkanlah penulis untuk menyebutnya sebagai “latar”. Alasan penulis sebetulnya sederhana saja;
latar adalah sesuatu yang secara fisik berada di belakang sesuatu, tidak peduli
apapun wujudnya dan tidak peduli berapa jarak yang terbentang antara dirinya
dengan sesuatu yang di depannya itu. 

Ketika sedang merenung,
penulis acapkali dilanda sebuah pertanyaan yang membingungkan: Apakah latar itu
sejatinya memiliki sebuah lapisan batas,
seperti halnya atmosfer bumi kita, atau tidak? Pertanyaan ini terus menggayut
karena sampai detik ini belum ada satu ilmuwan pun yang mengabarkan bahwa
dirinya telah menemukan ujung batas alam semesta. Latar itu adalah bagaikan
sesuatu yang gaib. Ia (seperti) ada, tetapi sulit bagi kita untuk menyadari
keberadaannya secara inderawi. Penulis yakin, pertanyaan yang sama pun
menggayuti pikiran mereka hingga saat ini dan sampai kapan pun. Mereka memang
masih terus berusaha untuk menemukan jawabannya.

Dalam pada
itu, eksistensi batas latar sebenarnya hanya satu dari sekian banyak rahasia
dirinya yang belum terpecahkan. Masih banyak rahasia lain yang bahkan belum
terbayang dalam benak kita. Namun, Allah adalah Tuhan yang mahapemurah. Di balik
kerumitan rahasia alam semesta-Nya, Allah menyediakan ruang bagi hamba-Nya
untuk mengambil pelajaran. Pelajaran ini tidak hanya menjadi monopoli para
ilmuwan, tetapi “milik” kita yang mau meluangkan waktu untuk merenung dan
bertafakur. Nah, latar adalah salah satu bagian keajaiban alam semesta yang
ditetesi Allah dengan pelajaran itu.

Apa yang
bisa kita pelajari dari latar itu? Pertama,
latar “mengajarkan” kita untuk berlaku
istiqomah
. Pada saat pesawat kita baru saja lepas dari atmosfer terluar
bumi, kita mengamati latar seperti sebuah lapisan berbentuk bola hitam dan
gelap yang mengelilingi kita. Setelah kita menempuh jarak ribuan kilometer dari
bumi, latar yang kita lihat tetap seperti itu. Kita akan semakin menyadari
ke”istiqomah”an latar ini saat kita mengingat kembali pelajaran IPA/Fisika di
SD, SLTP, atau SLTA. Pada materi tata surya dan yang sejenisnya, kita melihat
foto hasil pemotretan teleskop/ pesawat ruang angkasa. Foto-foto itu menyajikan
gambar-gambar planet, asteroid, bintang, galaksi, dan benda-benda langit
lainnya dari berbagai tempat di ruang angkasa dalam waktu yang berbeda-beda .
Dari semua foto itu, kita tentu melihat latar. Apakah latar satu foto berbeda
dengan latar foto lainnya? Tidak. Latar tetap sebagai sesuatu yang gelap dan hitam.
Inilah pelajaran sederhana yang berharga buat kita. Kita sepatutnya menjadi
manusia yang istiqomah. Dimana dan kapan pun kita berada, dimana dan kapan pun
dunia melihat kita, kita hendaknya senantiasa mampu menjadi manusia yang
berpendirian teguh. Ke”istiqomah”an latar tidak berakibat buruk bagi benda
langit yang berada di depannya, demikian juga sebaiknya kita. Keistiqomahan
kita haruslah pada hal-hal yang diridhai Allah dan jangan sampai justru
merugikan makhluk Allah lainnya.

Kedua, latar “mengajarkan” kesederhanaan dalam
kehidupan
. Latar tidak lebih dari sesuatu yang gelap dan hitam, tetapi ia
tidak mengurangi keindahan penampilan benda-benda langit yang berada di
depannya. Sebaliknya, kesederhanaan latar justru memperindah penampilan mereka
dan penampilan alam semesta secara keseluruhan. Tidak sekedar indah, tetapi
juga menakjubkan. Adakah manusia yang hati kecilnya menjawab “tidak” ketika
ditanya apakah wujud latar yang seperti itu cocok dengan pemandangan alam
semesta? Penulis yakin tidak ada seorangpun. Subhanallah, Allah telah
menurunkan pelajaran berharga lewat ini. Kita diajarkan untuk bersikap
sederhana dalam kehidupan. Kesederhanaan tidak berarti kemelaratan, tetapi
bermakna kemampuan memanfaatkan nikmat Allah secara wajar sekaligus mensyukurinya
sebagaimana yang telah digariskan dalam Islam. Kesederhanaan memang sejajar
dengan kewajaran, tetapi tidak berarti sesuatu yang biasa-biasa saja, tidak
berarti tidak bisa menghadirkan pesona. Tirulah latar. Ia sederhana, tetapi
tetap bisa menebar keindahan ke seluruh alam semesta. Jadilah manusia sederhana
yang bisa melahirkan “keindahan” di tengah masyarakat. “Keindahan” itu adalah
akhlak yang mulia dan manfaat bagi lingkungannya.

Banyak orang yang disukai dan dihormati karena harta,
kedudukan sosial dan/atau keindahan fisiknya. Di samping itu, banyak juga orang
yang disukai dan dihormati karena kesederhanaan hidupnya, kemuliaan akhlaknya,
dan manfaat yang didedikasikannya untuk orang-orang di sekitarnya. Orang-orang
jenis pertama itu “indah” tetapi belum tentu melahirkan “keindahan”. Sementara
itu, orang-orang jenis kedua adalah manusia-manusia “indah” yang mampu
melahirkan “keindahan”. Lebih jauh, hendaknya kita mampu menyadari bahwa
“keindahan” orang sederhana jauh lebih bermakna daripada “keindahan” orang yang
bermegah-megahan.

Ketiga, latar
“mengajarkan” kita agar mampu menilai diri dan orang lain dengan apa yang
dilakukan, bukan karena siapa saya dan siapa dia
. Latar mendukung keindahan
alam semesta dan kita pun merasa takjub. Namun, kita tidak bisa bertemu
dengannya, apalagi menyentuhnya. Kita merasakan kehadirannya dengan manfaat
yang ia tampakkan, bukan karena wujudnya yang bisa kita rasakan. Dalam bahasa
kita, seseorang bersikap seperti itu ketika ia merasa bahagia dengan manfaat
yang ia berikan untuk orang lain sekaligus mampu mengesampingkan egonya
sendiri. Ia tidak merasa bahagia hanya karena ayah-ibunyanya orang kaya dan
terkenal. Ia tidak merasa bahagia hanya karena dirinya keturunan bangsawan. Ia
juga tidak merasa bahagia hanya karena dirinya pandai dan mampu mendapatkan
pekerjaan yang “basah”. Bahkan, ia juga tidak merasa cukup bahagia hanya karena
bisa bermanfaat bagi orang lain. Lebih dari itu, ia merasa sangat bahagia
apabila apa yang ia lakukan benar-benar bermanfaat bagi manusia dan makhluk
Allah lainnya. Ia merasa sangat bahagia apabila apa yang ia lakukan
benar-benar disukai oleh Allah. Lebih jauh lagi, ada orang-orang yang menyadari
bahwa amal baik yang ia lakukan tidak semata-mata karena keinginannya. Ia yakin bahwa ia mampu
berbuat baik karena Allah menolongnya (lihat QS. Al-Fatihah:5). Ia merasa
begitu bahagia karena Allah rela menolongnya untuk melakukan hal itu. Allah
menggerakkan hati dan raganya untuk memberikan manfaat bagi siapapun yang
berada di luar dirinya.

Tafakkur Langit (1) : Indahnya Bebintang

Thursday, January 19th, 2006

Kita sedang berada di sebuah universitas besar. Penulis ingin mengajak
pembaca untuk mengunjungi dan belajar di salah satu ruang kuliahnya.
“Universitas
besar” itu adalah alam semesta dan salah satu “ruang kuliah” yang penulis
maksud adalah langit.

Mari kita
gunakan imajinasi kita barang sebentar. Anggaplah kita sedang melayang di
angkasa dengan sebuah pesawat ulang alik. Kita melintasi keindahan kerlap-kerlip cahaya di luar sana. Dan
sekarang, kita siap untuk menikmati sebuah proses belajar yang menarik.

Coba kita
perhatikan pemandangan di depan, kanan, dan kiri kita lewat jendela pesawat.
Kita menemukan ribuan bintang bertebaran dari kejauhan. Bintang-bintang itu bercahaya
dengan indahnya dan terus menerus, seakan tidak tega untuk tidak bersinar lagi.
Kesetiaan mereka dalam memancarkan cahaya sering membuat kita lupa untuk
merenungi peristiwa sebenarnya di balik keindahan itu.

Pernahkah
kita serius berpikir bahwa boleh jadi bintang yang kita lihat cahayanya itu
sudah tidak ada lagi saat ini? Ya, hal ini jelas sangat mungkin. Jarak mereka
ribuan tahun cahaya dari mata kita. Gambaran bintang yang kita lihat sekarang
adalah cahaya yang baru sampai ke mata kita setelah ia menempuh jarak milyaran
kilometer. Cahaya bintang yang kita lihat berasal dari “masa purba” bintang
itu. Dengan kata lain, cahaya yang kita lihat itu tidak lebih dari sekedar masa
lalu. Bintang yang kita lihat itu bisa jadi sudah meledak atau bahkan sudah
keriput menjadi sebuah lubang hitam pada saat ini. Kalau demikian, kita telah
melihat keberadaan sesuatu yang pada hakikatnya telah tiada.

Apa yang dapat kita pelajari dari bintang-bintang itu?
Pertama, mereka “mengajarkan” kekekalan manfaat dalam realitas kefanaan.
Bintang itu senantiasa bersinar meskipun mungkin eksistensinya telah hancur.
Kita, manusia, juga sebaiknya seperti itu. Kita hendaknya mampu menjadi manusia
yang bermanfaat sampai kapan pun. Manfaat yang kita berikan untuk manusia dan
makhluk Allah lain di sekitar kita jangan sampai dibatasi oleh usia kita. Kita
harus berpikir bagaimana caranya menjadi orang yang berguna pada saat ini, di
masa depan, dan setelah kita mati nanti. Intinya, kita harus berusaha
mengekalkan manfaat kita untuk mereka (setidaknya hingga sangkakala ditiup) di
tengah kenyataan bahwa kita ini adalah makhluk yang fana. Bukankah
salah satu parameter manusia terbaik adalah adalah manusia yang bermanfaat bagi
manusia lainnya? Tidakkah kita mengingat sabda nabi saw. berikut: “Barang siapa
yang mengasihi yang di bumi, maka Yang di langit akan mengasihinya”?

Kedua, bintang-bintang itu “mengajarkan” keikhlasan
dalam beramal
. Bintang-bintang itu bersinar, tetapi kita tidak mengetahui
secara pasti eksistensi bintang tersebut Kita selayaknya mencontoh perilaku
bintang yang satu ini. Jika kita melakukan amal baik, jangan biarkan orang lain
mengetahui bahwa kita telah berbuat amal itu. Jika tangan kanan kita memberikan
sedekah, jangan biarkan tangan kiri kita mengetahuinya. Sikap ini sangatlah
berguna untuk membantu menjaga keikhlasan hati kita dalam beramal baik.

Ketiga, bintang-bintang itu “mengajarkan” kita untuk bekerja
keras
. Saban hari, bintang-bintang itu rela “mengirimkan” cahayanya ke bumi
meski harus menempuh jarak ribuan tahun cahaya. Jarak itu adalah jarak yang
sangat panjang. Dalam satu detik saja, cahaya menempuh 300.000 km, bagaimana
kalau satu tahun, bagaimana kalau ribuan tahun? Subhanallah. Satu bintang yang cahayanya menempuh jarak
ribuan tahun cahaya itu, ternyata hanya menghasilkan satu titik cahaya di depan
mata kita. Ini tentu tidak sebanding dengan jarak yang ia tempuh. Namun, ia toh
tetap melakukannya. Sungguh, suatu kerja keras yang patut dibanggakan.
Sekarang, marilah kita melihat diri kita sendiri. Marilah kita bertanya apakah
kita sudah bekerja keras dengan optimal atau belum. Kita sebaiknya mencontoh
bintang dalam bekerja keras. Seseorang yang bekerja keras dengan baik akan
senantiasa menempatkan orientasi utamanya pada proses bekerja, bukan pada hasil
bekerja.

Proses adalah sebuah ikhtiar yang akan dinilai
kesungguhan dan keikhlasannya oleh Allah. Apapun hasil yang kita raih
sesudahnya, itu sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah semata. Di sinilah
Allah menilai kelegowoan kita untuk bertawakkal kepada-Nya. Pembaca yang
budiman, sebuah bintang tidak menyesali visualisasinya di mata kita yang hanya
sebagai titik cahaya kecil. Hal yang sangat penting baginya adalah
menjalankan tugas dari Allah swt. (Sunnatullah) sebaik-baiknya. Sudahkah
kita seperti itu?

Keempat,
bintang-bintang itu “mengajarkan” kita untuk bekerja sama dalam rangka
melahirkan kekuatan
. Pernahkah kita mengamati satu bintang yang bercahaya
dalam kesendirian di tengah gulita malam? Mungkin ada yang menjawab “ya”.
Namun, penulis yakin jawaban “ya” tersebut sangat relatif, tidak mutlak.
Kesendirian bintang yang diamati oleh si penjawab paling-paling disebabkan
cuaca yang mendung, atau ada bintang yang kebetulan letaknya agak berjauhan
dengan teman-temannya sesama bintang. Pada keadaan visual yang sebenarnya
(bukan berdasarkan posisi faktual di alam semesta), bintang-bintang itu
berkumpul dan membentuk kelompok-kelompok. Lantas, apa yang membuat hati kita
takjub ketika memandang langit di malam hari? Tentu saja kumpulan bintang yang
mengerlap-ngerlipkan cahaya secara bersamaan, bukan? Inilah pelajaran yang bisa
kita ambil. Para bintang bekerja sama untuk melahirkan keindahan yang
menakjubkan.
Mata
kita tergoda untuk menatap langit malam karena keindahan bintang-bintang yang
berkumpul itu, bukan karena kesendirian si bintang. Jika kita mau menciptakan
sebuah kekuatan yang menakjubkan, kita harus mau bekerja sama dengan orang
lain. Kita tidak akan dapat bertahan dalam kehidupan ini apabila hanya
mengandalkan kesendirian dan keegoisan kita.