Tafakkur Langit (3) : Kilauan Matahari
Thursday, January 19th, 2006Kita sedang berada di sebuah universitas besar. Penulis ingin mengajak
pembaca untuk mengunjungi dan belajar di salah satu ruang kuliahnya. “Universitas
besar” itu adalah alam semesta dan salah satu “ruang kuliah” yang penulis
maksud adalah langit.
Mari kita
gunakan imajinasi kita barang sebentar. Anggaplah kita sedang melayang di
angkasa dengan sebuah pesawat ulang alik. Kita melintasi keindahan kerlap-kerlip cahaya di luar sana. Dan
sekarang, kita siap untuk menikmati sebuah proses belajar yang menarik.
Kita sudah menikmati keindahan bebintang nun jauh dan
merasa takjub akan “keajaiban” latar. Penulis yakin kita belum cukup puas
dengan semua itu. Sekarang, marilah kita mengarahkan pandangan ke tata surya
kita. Lihatlah bintang yang menyala di pusatnya dan renungkanlah hal-hal yang
bisa kita pelajari darinya.
Matahari
bukan sekedar bintang. Lebih dari itu,
ia patut kita juluki sebagai “jantung tata surya”. Ia lah yang “memompa” sumber
energi utama ke seluruh penghuni tata surya berdasarkan instruksi Sang
Pencipta. Sumber energi itu dipancarkan dalam bentuk sinarnya yang berkilauan.
Ia juga yang “mengomandoi” peredaran planet, asteroid, satelit, dan benda tata
surya lain untuk mengelilingi dirinya atas perintah Allah, layaknya jantung
yang mengatur peredaran darah di dalam tubuh kita.
Kita semua sudah mengetahui manfaat matahari yang sangat
besar bagi tata surya. Kita pun sepertinya “tidak sanggup” menjawab pertanyaan:
Apa jadinya jika matahari hancur atau berpindah ke lain hati alias meninggalkan
tata surya ini? Kalaupun ada jawaban tegas, penulis percaya bahwa
jawaban itu adalah: Kiamat! Inilah ungkapan jujur tentang pentingnya matahari dalam kehidupan kita.
Tanpa
matahari, tidak akan ada fotosintesis konvensional. Jika fotosintesis terhenti,
tumbuhan hijau tidak bisa tumbuh dan bahkan akan segera musnah. Hewan-hewan
herbivora secara otomatis akan mengalami kelaparan karena jumlah sumber makanan
mereka menurun drastis dan akhirnya berangsur punah. Selanjutnya, hewan-hewan
karnivora menderita karena mangsanya semakin sedikit. Mereka pun akhirnya tewas
beramai-ramai. Seiring dengan itu, manusia menangis karena bahan makanan alami
mereka, tumbuhan dan hewan, semakin
langka. Manusia pun lama kelamaan akan mati kelaparan. Begitulah, satu contoh kecil
cerita berantai yang menyedihkan setelah ketiadaan matahari. Masih banyak
cerita lain yang sangat memiriskan hati yang akan terakumulasi hingga semua itu
akan berakhir pada satu kemungkinan besar: kehancuran bumi beserta segala
isinya.
Allah Maha
Bijaksana dan Maha Penyayang. Sampai saat ini Dia masih memelihara matahari di
tata surya kita. Dia masih memfasilitasi matahari dengan segala manfaat yang
sangat signifikan bagi penghuni tata surya. Kita pun berhak bernapas lega
karena penelitian para ahli menghasilkan suatu kesimpulan bahwa usia produktif
matahari masih sangat panjang (mencapai orde jutaan tahun). Kita masih bisa
tersenyum karena tidak akan mengalami cerita menyedihkan di atas dalam waktu
dekat.
Kita pun
seharusnya semakin bahagia karena kebijaksanaan Allah tidak hanya terbatas pada
sumber manfaat yang Dia anugerahkan kepada matahari. Dia, dengan penuh kasih
sayang, juga menurunkan pelajaran yang sangat berharga di balik eksistensi
matahari beserta manfaat-manfaatnya. Marilah kita pikirkan sejenak tentang
pelajaran-pelajaran itu.
Apa yang
bisa kita pelajari dari matahari? Pertama, matahari “mengajarkan” kita untuk lebih
mendahulukan kepentingan orang banyak daripada kepentingan pribadi. Kita
telah mengetahui bahwa proses pembentukan energi yang dipancarkan matahari
merupakan reaksi fusi yang mengubah dua atom hidrogen menjadi satu atom helium.
Proses ini berlangsung terus menerus sehingga massa
matahari berkurang sedikit demi sedikit. Itulah “pengorbanan” matahari. Ia
terus memancarkan energi ke benda-benda langit disekitarnya meskipun berat
badannya juga terus menurun. Ia terus memancarkan cahaya walaupun eksistensinya
sendiri “terancam”. Ia lebih “memikirkan” kebutuhan energi benda-benda tata
surya yang mengelilinginya daripada dirinya sendiri. Dengan begitu, matahari
telah menomorduakan “ego”nya dan menomorsatukan “kepentingan” tata surya.
Begitulah kita seharusnya. Kita hendaknya mampu
mendahulukan kepentingan orang banyak daripada kepentingan kita sendiri. Kita
hendaknya mampu berkorban secara ikhlas untuk masyarakat, bangsa, negara, dan
agama kendati diri kita menuai penderitaan duniawi dalam pengorbanan itu.
Pernyataan ini terdengar klise, tetapi menjadi tidak demikian jika kita
mengingat kembali sejarah Islam yang banyak memuat teladan kerelaan berkorban
para nabi dan sahabat-sahabat mereka. Kerelaan berkorban untuk kepentingan yang
lebih besar telah menjadi budaya Islam, sejak zaman nabi Adam hingga Nabi
Muhammad saw. Bahkan, para pembaca tentu sudah tidak merasa asing lagi dengan
kisah Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya yang didera kesengsaraan hebat
dalam rangka dakwah islamiyah. Inilah yang harus direnungi dan dimaknai oleh
kita untuk “rela berkorban” saat ini. Pemaknaan adalah langkah pertama. Iringi
dengan penghayatan, setelah itu baru implementasikan dalam tindakan yang disesuaikan dengan kemampuan. Jika demikian,
insyaa Allah kerelaan berkorban bukan lagi wacana sarat klise dan bukan lagi
sebuah keterpaksaan yang hampa nilai.
Pembaca yang budiman, perlu dipahami bahwa mendahulukan
kepentingan orang banyak tidak berarti melupakan diri sendiri. Kita juga
makhluk yang punya berbagai macam hak untuk dipenuhi. Di sinilah kita
memerlukan sebuah kebijaksanaan, proporsionalitas, dan kesederhanaan.
Kita harus bijaksana dalam memilih kapan saatnya
meluangkan waktu untuk diri sendiri dan kapan waktu yang tepat untuk membantu
orang lain. Tanpa kebijaksanaan, kita bisa terjerumus menjadi seorang yang
egois atau sebaliknya, menjadi seseorang
yang tersiksa karena tidak pernah memikirkan jasmani dan ruhani kita. Kita juga
harus proporsional. Ketika kita dihadapkan kepada kepentingan sendiri dan
kepentingan masyarakat, kita harus dengan cermat menyiapkan energi yang
proporsional untuk masing-masing kepentingan itu. Proporsional tidak selalu
berarti sama berat dan sama porsi, tetapi merupakan ukuran yang pas sehingga
mampu memuaskan orang lain dan juga tidak mengebiri hak pribadi. Kita pun harus
sederhana. Kita hendaknya tidak berlebih-lebihan, baik dalam memenuhi
kepentingan pribadi maupun saat mengurusi orang banyak. Bukankah Allah membenci
orang yang perilakunya berlebih-lebihan?
Ketiga hal di atas tidak muncul secara instan. Rela
berkorban pun cuma ringan untuk diucapkan, tetapi berat untuk dilaksanakan.
Kita membutuhkan latihan. Latihannya adalah mempraktekkan “rela berkorban”
sebagai bentuk ibadah dan meningkatkan
kekuatan ruhiyah. Praktek penting untuk membiasakan dan melatih kepekaan diri,
sedangkan kekuatan ruhiyah penting untuk dapat merasakan kenikmatan batin dari
praktek ibadah yang kita lakukan itu.
Kedua, matahari “mengajarkan” kepada kita untuk menjaga
perilaku kita agar tetap menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi lingkungan.
Kita telah tahu bahwa matahari mempunyai fotosfer dan korona selain intinya.
Korona adalah lapisan atmosfer matahari yang berbahaya bagi mata kita jika
dilihat secara langsung, bahkan beresiko tinggi menyebabkan kebutaan. Sementara itu, fotosfer relatif lebih aman apabila
dilihat telanjang mata, asal tidak terlalu lama. Beruntunglah kita karena dalam
keadaan biasa (tidak terjadi gerhana), hanya cahaya fotosfer yang dapat kita
lihat dari bumi. Cahaya fotosfer “mengalahkan” kilauan korona yang sekaligus
menghalangi kita dari melihat atmosfer “ganas” itu. Dari sinilah kita mendapat
pelajaran berharga. Bagaimanapun watak, sifat, dan kondisi kita, hendaknya kita
tetap berperilaku yang menimbulkan rasa aman dan nyaman bagi sesama manusia dan
makhluk Allah lainnya. Kegembiraan dan kelebihan diri yang kita nikmati jangan
sampai membuat orang lain merasa minder dan putus asa. Kesedihan dan
kelemahan kita pun jangan sampai
menyusahkan orang lain, mengesalkan orang yang berusaha menghibur kita, atau
bahkan hingga membuat orang menolong kita hanya karena takut kita kecewa, bukan
karena menginginkan keridhaan Allah semata. Dalam keadaan biasa, marah, senang
ataupun kecewa, kendalikanlah diri kita seoptimal mungkin agar tidak
menimbulkan perasaan-perasaan negatif dalam diri orang-orang di sekitar kita.
Sebaliknya, kita diharapkan tetap membangun dan menghidupkan aura positif yang
niscaya berpengaruh baik bagi diri dan lingkungan kita.
Di akhir pelajaran kedua ini, mari kita ingat kembali
sabda Rasulullah saw. dalam hadits berikut: Demi Allah tidak beriman! Demi
Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman! Ketika ditanya tentang siapa
yang dimaksud Rasulullah saw. dengan ucapannya itu, beliau menjawab, “Orang
yang tetangganya tidak merasa aman dari perilakunya.”
Ketiga, matahari “mengajarkan” kepada kita agar memiliki
kepekaan diri yang tinggi. Kita
sama-sama mengetahui bahwa bintang matahari adalah bola gas panas. Jika kita
berada satu kilometer saja di atas permukaannya, mungkin kita berteriak sembari
buru-buru menjauh darinya: seperti di neraka!. Alternatif lainnya, kita diam
seribu bahasa karena sudah terlebih dahulu terpanggang. Yaah, matahari memang
sangat panas sehingga wajar kita berteriak atau “diam” seperti itu. Namun, kita
merasakan manfaatnya yang begitu besar di bumi ini. Manfaat itu relatif sangat murah dan kita pun
tidak perlu repot-repot pergi ke ruang angkasa untuk meraihnya. Cukup dengan
membuka jendela kamar, menanam tetumbuhan di pekarangan, menjemur pakaian, atau
menebar gabah di lapangan berlapis semen, kita sudah dapat mencicipi sebagian
manfaat matahari yang jaraknya 150 juta kilometer dari bumi itu.
Subhanallah, kita
dapat mengambil pelajaran berharga dari fenomena ini. Inilah salah satu analogi
kepekaan diri. Matahari menyalurkan manfaat tanpa mengharuskan makhluk Allah
lain datang kepadanya. Ia memberi dengan
sangat cepat sehingga makhluk Allah di tata surya “tidak perlu” memintanya
secara langsung. Beginilah kita seharusnya. Kita hendaknya tidak perlu
disuruh-suruh atau dipaksa-paksa beribadah dan beramal shaleh. Hendaknya kita
mampu menyegerakan diri untuk beribadah pada waktu dan kondisi ritual yang digariskan
syariat Islam telah datang menjumpai kita. Kita hendaknya peka dengan kondisi orang-orang yang memerlukan
pertolongan. Hendaknya kita mampu membantu dengan cepat sebelum mereka
memohon-mohon kepada kita. Semua ini hanya bisa terlaksana dengan lancar,
apabila kita memiliki kesadaran ruhiyah yang tinggi. Pembaca yang budiman, inilah salah satu awal bagi kita
untuk belajar membangun empati kepada sesama manusia dan makhluk Allah lainnya.
**
Itulah setitik buih
pelajaran dalam samudera ilmu Allah yang bisa kita ambil dari bintang-bintang,
latar, dan matahari yang begitu menakjubkan . Penulis yakin, masih banyak
pelajaran lain yang bisa kita petik dari fenomena-fenomena alam ini dan
fenomena lain yang belum terulas di sini. Kita harus terus merenung dan
bertafakur, jika kita mau menikmati buih-buih pelajaran lain yang tak terhingga
jumlahnya. Satu hal yang perlu penulis tegaskan di akhir tulisan ini adalah
penggunaan tanda petik pada kata “mengajarkan” yang mengiringi kata “bintang”,
“latar”, dan “matahari”. Maksud dari penggunaan tanda petik itu adalah untuk
menyatakan secara tidak langsung bahwa bintang, latar, dan matahari hanyalah
sebagai sarana yang diciptakan Allah untuk menjelaskan ilmu-Nya. Dia lah
sebenarnya yang mengajarkan semua pelajaran itu. Wallahu a’lam bi ash-shawab.