Archive for February, 2006

Sekuntum Mawar Untukmu

Sunday, February 5th, 2006

Aduhai indah nian, ya Allah, mawar yang Engkau
hadiahkan untukku. Ia lah permata hatiku, yang menebar sejuk dan harum ke
segara penjuru hati hamba. Merah mahkotanya adalah cinta kasih-Mu. Hijau segar
kelopaknya adalah kekuatan-Mu untuk diri yang lemah ini. Untai tangkai
berdurinya adalah ujian keimananku agar tak pernah sedetik pun berpaling,
mencari pengganti Diri-Mu. Aromanya adalah terapi jiwaku yang ingin selalu
bersandar pada-Mu, bergantung pada kuasa dan kehendak agung-Mu… 

Mawar ini adalah bukti betapa sayang-Mu pada
hamba; lebih luas dari alam semesta-Mu; lebih dalam dari samudera biru-Mu;
lebih lembut dari sutera surga-Mu; lebih kokoh dari langit dan bumi-Mu. Betapa
elok rupanya, membuat mata zhahir dan bathin hamba tak kuasa menahan haru. Air
mata cinta mengalir, menyejukkan wajah dan hatiku, saat kunikmati keindahannya.
Saat sendiri di tengah malam, saat terbina dalam ukhuwah, adalah saat saat
terindah…ketika sang mawar mekar bersemi…menebar harum yang terus mewangi…

Engkau telah tetapkan ya Allah. Mawarku juga
untuk hamba-Mu, teman hidupku. Saat ini, hanya Engkau yang Maha Tahu rahasia
itu. Kepada siapa kurangkaikan mawar terindah ini, agar terjalin dua kuntumnya
di dua hati yang bersatu selamanya; agar sempurna jalan yang harus ditempuh
dalam kemuliaan agama-Mu; agar tentramnya selalu bercahaya di sepanjang jalan
menuju ridha-Mu.

Terkadang hati ini gundah dan tak sabar
menunggu. Saat itulah sejatinya, Engkau menguji kesetiaanku pada-Mu. Saat itu
pula, musuhku yang paling nyata menertawakan kelemahanku; saat tanpa sadar,
kaki ini melangkah menjauh dari-Mu; saat tanpa sadar, hati ini berharap pada
makhluk-Mu, bukan pada-Mu. Ampuni hamba, ya Allah. Sungguh, hamba tidak tahu,
sedang Engkau Mengetahui segalanya. Engkau mengetahui yang terbaik untuk
hamba-Mu.

Aku hanya bisa mengerahkan
ikhtiar dan menghulurkan doa. Harap dan cemas berpadu, tunduk di bawah
kebesaran-Mu. Rabbii, aku tak berharap kesempurnaan, tetapi hamba merindukan
harmoni yang selalu menggubah nada-nada cinta-Mu, di dalam mahligai mawar yang
terangkai indah. Rabbii, aku tak mau melayang dalam angan yang panjang. Karenanya,
hamba memohon kekuatan dan ketegaran agar terjaga dalam kekhusyukan, membara
dalam persiapan jiwa dan raga, menanti hari yang tak pernah dilupakan. Itulah
hari, saat hamba mengucapkan dan Engkau pun menyaksikan : “Sekuntum mawar ini
kurangkaikan untukmu, teman sejatiku…”

Mutiara Al-Fath (2)

Sunday, February 5th, 2006

Perjanjian Hudaibiyah secara resmi berlaku setelah Nabi saw memberikan cap dengan cincin beliau. Namun, para sahabat mengajukan protes keras kepada Nabi yang begitu mudahnya menerima perjanjian yang merendahkan umat Islam tersebut. Mereka sangat yakin bahwa perjanjian tersebut sangat merugikan umat Islam. Mereka, kecuali Abu Bakar, sangat menyesali langkah yang diambil Rasulullah saw yang sangat tidak masuk akal tersebut. Umar bin Khattab yang geram dengan sikap Nabi pun sampai melontarkan kata-kata yang keras kepada beliau.

"Wahai Nabi Allah! Bukankah engkau Rasul Allah?"

"Tentu saja ya", jawab Nabi.

"Bukankah musuh-musuh kita penyembah berhala?"

"Itu sudah pasti", jawab Nabi.

"Lalu mengapa kita mengaibkan agama kita?"

"Aku adalah utusan Allah dan aku tidak menyalahi Perintah-perintah-Nya", sahut Nabi tegas

Setelah penandatanganan perjanjian yang menyesakkan dada itu, kaum muslimin kembali ke Madinah. Di tengah perjalanan, Allah menurunkan surat Al-Fath. Nabi begitu senangnya menerima ayat-ayat "kemenangan " ini dan bahkan diriwayatkan bahwa Nabi mencintai ayat-ayat tersebut lebih dari segalanya di dunia ini. Pada ayat ke 27, Allah menegaskan tentang kebenaran mimpi Rasulullah saw bahwa beliau akan memasuki Mekkah untuk beribadah haji dengan aman. Pada ayat yang sama Allah juga menegaskan bahwa Allah mengetahui apa yang tidak diketahui oleh kaum muslimin berkaitan dengan kebenaran mimpi tersebut.

Seiring waktu berjalan, Nabi saw mulai merasakan keuntungan besar yang tersembunyi di balik perjanjian Hudaibiyah yang terkesan kontroversial itu. Keuntungan yang sangat signifikan adalah meluasnya dakwah islamiyah hingga  ke berbagai penjuru dunia. Masih banyak keuntungan-keuntungan lainnya yang akhirnya malah cenderung menimbulkan kerugian di pihak Kafir Quraisy. Pada akhirnya, kaum Quraisy sendiri yang melanggar perjanjian tersebut. Pelanggaran ini disambut oleh kaum muslimin dengan peristiwa yang membuktikan bahwa Allah tidak pernah melanggar janjinya sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Fath. Peristiwa itu adalah Fathu Makkah….

Banyak sekali hikmah berharga yang bisa kita ambil dari peristiwa di atas. Salah satu hikmah yang sepatutnya membuat hati bergetar adalah bagaimana Allah mendudukkan wahyu-Nya jauh sekali di atas kemampuan akal dan logika manusia. Hal ini tercermin dalam perjanjian Hudaibiyah yang disetujui Rasulullah saw atas petunjuk Allah swt.

Hikmah ini menjadi begitu unik karena kita telah membaca bagaimana para sahabat sangat meragukan keputusan yang diambil oleh Rasulullah saw, bahkan sahabat sekaliber Umar pun hampir-hampir meragukan integritas pribadi Nabi Muhammad sebagai utusan Allah. Alhamdulillah, para sahabat itu memiliki iman yang sangat kuat sehingga seberapa besar pun kekesalan mereka, mereka tetap patuh kepada Nabi saw. Andaikata saya yang berada pada posisi sahabat saat itu, boleh jadi dengan kadar iman yang seperti ini saya meninggalkan Nabi dan tidak menuruti perintahnya! Naudzubillah min dzaalik.

Peristiwa Hudaibiyah tersebut sangat jelas menunjukkan pada kita bahwa ilmu yang dititipkan Allah kepada kita tidaklah lebih dari buih di samudera ilmu-Nya. Selain itu, peristiwa ini menunjukkan bahwa skenario Allah yang diperuntukkan bagi hamba-Nya adalah yang terbaik, meskipun logika kita kadangkala sangat sulit menerimanya. Oleh sebab itu, sudah selayaknya kita kembali melihat ke dalam diri kita. Sebagai manusia yang tak lepas dari kesalahan, boleh jadi kita pernah "lupa" bahwa apa pun yang menimpa diri kita merupakan skenario Allah Yang Maha Bijaksana. Boleh jadi kita pernah putus asa ketika apa yang kita dapatkan tidak sesuai dengan keinginan kita sehingga semangat kita untuk meraih rahmat-Nya mengendur begitu rupa. Boleh jadi kita pernah terlalu berbangga ketika kita meraih keberhasilan sehingga kita tidak mengoptimalkan rasa syukur kepada-Nya.

Setelah kita meluruskan niat untuk meraih ridha Allah, berikhtiar dengan optimal dan dengan cara yang halal, dan bertawakkal hanya kepada Allah, marilah kita mengazzamkan diri kita untuk senantiasa meyakini bahwa apa pun yang kita dapatkan nantinya adalah wujud Kemahabijaksanaan Allah yang menyimpan ribuan mutiara hikmah. Mari kita ambil mutiara-mutiara itu untuk menguatkan semangat dan kesyukuran kita kepada-Nya.

Mutiara Al-Fath (1)

Sunday, February 5th, 2006

Mungkin pembaca sudah mengetahui kisah
Perjanjian Hudaibiyah. Meskipun demikian, izinkan saya untuk bercerita secara
singkat tentang peristiwa bersejarah ini yang Insya Allah akan meneguhkan
keyakinan kita akan Kemahaluasan Ilmu Allah swt.

Suatu ketika di tahun 6 H, Rasulullah saw
bermimpi bahwa dirinya dan kaum muslimin akan memasuki kota Mekkah dengan aman
untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Sebagaimana lazimnya, mimpi Nabi saw
adalah merupakan wahyu dari Allah yang harus dilaksanakan. 

Maka berangkatlah Nabi saw beserta rombongan
pengikutnya yang berjumlah 1400 orang menuju Mekkah. Karena tujuan mereka pergi
ke Mekkah adalah untuk beribadah, bukan untuk berperang, maka Nabi saw
memerintahkan kepada seluruh pengikutnya untuk tidak membawa senjata. Setelah
sampai di Dzul Hulaifah (6 mil dari Madinah), Umar bin Khattab berpikir dan
merasakan bahwa tidaklah baik melakukan perjalanan jauh tanpa membawa senjata
sedikitpun. Umar pun menyampaikan pendapatnya kepada Nabi saw dan ternyata beliau
menyetujuinya. Nabi saw pun memerintahkan para sahabat untuk mengambil senjata
di Madinah

Ketika kaum muslimin semakin mendekati
Mekkah, salah seorang sahabat datang dan menyampaikan bahwa kaum Quraisy tidak
mengizinkan Nabi saw dan pengikutnya untuk memasuki Mekkah. Setelah mendengar
informasi tersebut, Nabi saw memutuskan untuk singgah di lembah Hudaibiyah.  

Di lembah inilah, berbagai upaya diplomasi
dilakukan. Kaum Quraisy mengirimkan beberapa utusannya untuk mengetahui kondisi
kaum muslimin dan mencegah mereka memasuki Mekkah. Setiap kali utusan ini
kembali ke Mekkah, informasi yang diterima para petinggi Quraisy sama saja,
yakni bahwa Nabi saw sama sekali tidak berniat untuk berperang, tetapi datang
ke Mekkah semata-mata untuk menunaikan ibadah haji. Nabi saw juga mengirim
utusannya ke Mekkah, yakni Utsman bin Affan untuk menjelaskan secara langsung
tentang niat ibadah haji tersebut. Meskipun demikian, penjelasan-penjelasan
tersebut tidak melunturkan larangan menuju Mekkah yang dicanangkan oleh para petinggi
Quraisy. Bahkan, tersiar isu bahwa Utsman bin Affan telah dibunuh. Maka Nabi
pun bergerak cepat. Beliau mengambil janji setia dari kaum muslimin yang
menyatakan siap berjihad terhadap kaum kafir sampai titik darah penghabisan.
Janji setia ini kemudian dikenal dengan
sebutan Bai’atur Ridwaan atau Bai’atusy Syajarah.

Sebagai langkah pamungkas, kaum Quraisy
mengirim Suhail bin Amr untuk mengadakan perundingan dengan Nabi saw di
Hudaibiyah. Perundingan itu menghasilkan perjanjian yang sepintas sangat
merugikan umat Islam, yakni perjanjian Hudaibiyah. Nabi saw memerintahkan Ali
untuk menuliskan perjanjian tersebut. Di awal surat perjanjian, Nabi
memerintahkan Ali untuk menulis kalimat "Bismillaahirrahmanirrahiim".
Utusan kafir memprotes kalimat tersebut karena ia tidak mengenal
"Ar-Rahman". Ia pun menawarkan kalimat lain, yakni "Bismika
Allahumma". Nabi setuju saja dan langsung memerintahkan Ali untuk
menghapusnya serta menggantinya sesuai keinginan utusan itu. Dengan gemetar
sebagai tanda ketidaksetujuannya, Ali menuruti perintah Nabi saw.  

Pada baris berikutnya, Ali menuliskan
pihak-pihak yang mengadakan perjanjian sesuai yang dilafadzkan oleh Nabi.
Ketika Ali telah selesai menulis "Muhammad Rasul Allah", lagi-lagi
utusan kafir memprotesnya karena ia tidak mengakui Nabi saw sebagai utusan
Allah. Ia mengusulkan agar dituliskan "Muhammad bin Abdullah" saja.
Dengan lapang dada, Nabi saw meminta Ali untuk menghapusnya dan menggantinya
dengan "Muhammad bin Abdullah". Ali dengan spontan menolak permintaan
Nabi karena apabila ia menghapusnya berarti ia mengingkari kerasulan Muhammad.
Nabi tidak goyah dan tetap meminta Ali melakukannya. Ali pun bersikeras untuk
tidak memenuhi permintaan tersebut. Akhirnya, Nabi saw meminta surat itu dan
menghapus tulisan "Muhammad Rasul Allah" dengan tangan beliau
sendiri. Beliau lalu memerintahkan Ali untuk menuliskan "Muhammad bin
Abdullah". Subhaanallah, begitu luwes dan halusnya akhlak Rasulullah saw
dalam menghadapi kaum kafir!

Surat Cinta dari Allah

Sunday, February 5th, 2006

Dia tuliskan hikmah di atas lembaran jiwa sang kekasih
Dia turunkan ibrah lewat genggaman
malaikat-malaikat suci
Dia ceritakan hikayat teladan masa dahulu, saat
kerikil mengusik langkah kehidupan
Dia tegakkan undang-undang dengan kebijaksanaan dan
penuh cinta
Dia kabarkan berjuta kegembiraan dan berpuluh
kesedihan
Dalam
satu hembusan tiada terputus, surat cinta terindah yang pernah tercipta
 

Surat
cinta itu untuk semua makhluk-Nya, sebagai lambang kesempurnaan keajaiban-Nya
Surat
cinta itu telah lama bersandar di rumah-rumah kita, tergeletak membisu di
sudut-sudut rumah-Nya, berdiam diri di setiap lemari dan keranjang kayu…

Kita
telah lama bertilawah, membaca dan menikmati keagungan syairnya.
Adakah
kita telah mendudukkannya lebih dari surat cinta sesama manusia
Yang
berulangkali kita baca, kita lihat, dan kita bayangkan sang penggubahnya
Yang seringkali kita amalkan apa yang tertulis di
dalamnya
Dengan penuh cinta dan
kerinduan yang menggetarkan dada

Adakah hati kita
berhias rasa cinta dan kerinduan ketika mentartilkan surat cinta dari Dzat yang
cinta-Nya kepada kita tiada terbalas?
Adakah kita merasa
tiada setitikpun di hadapan-Nya?
Adakah keinginan
menggebu-gebu untuk menunaikan belaian perintah-Nya, yang terukir manis di dalamnya,
dan ketakutan tiada bertepi untuk membuat-Nya berpaling dari wajah kita?
Adakah getaran-getaran
ruhani yang mengguncang hati saat lafadz-lafadz itu mengalir kata demi kata?
Adakah getaran itu
telah menghancurkan kebekuan hati kita, telah mencairkan bukit-bukit es air
mata kita?

Semua
ini hadir tanpa tanda tanya karena kita telah lama bertilawah, membaca, dan
menikmati keagungan syairnya
Adakah keinginan untuk lebih dari sekedar itu?
Mmmmhh…

Dia tuliskan surat cinta untuk semua
makhluk-Nya, tanpa sedikitpun keinginan tuk dibalas
Tiada hadiah sedikitpun yang diharapkan, saat Dia
mengirimkan surat
cinta-Nya ke dunia
Tiada alasan yang paling
tepat selain kecintaan-Nya kepada kita, saat kita menerima surat cinta-Nya…