Sambungan dari Semburat Bahagia di Jalan Dakwah (2)…
Wahai
orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang
dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah
yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
Kalau kita menjual sesuatu, maka kita memberikan
barang kepada pembeli lalu pembeli itu memberikan imbalan kepada kita atas
barang tersebut. Analogi inilah yang digunakan Allah untuk menggambarkan
perdagangan terdahsyat yang pernah ada! Allah yang membeli (dijelaskan lebih eksplisit
dalam surat At-Taubah 111) dan kita yang menjual. Imbalan yang Allah berikan
kepada kita adalah sesuatu yang tak ternilai dan tak terbayarkan oleh apapun di
seluruh jagat raya ini, yaitu surga (Ash-Shaff ayat 12). Wow, kalau imbalannya
surga, lantas apa yang kita jual?? Tentunya sesuatu yang juga tak ternilai. Bukankah tidak mungkin
kita memberikan sesuatu yang ternilai
lalu mendapatkan imbalan berupa sesuatu
yang tak ternilai? Hukum jual beli hanya mengakui transaksi yang dianggap setara;
sepotong tempe goreng dihargai 250 rupiah, sebuah Mercedes Benz S-Class
dihargai hampir setengah milyar atau bahkan lebih, maka sesuatu yang tak ternilai dihargai dengan sesuatu yang tak ternilai pula!
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa
“perdagangan” yang dimaksudkan Allah pada ayat di atas mencakup aktivitas
“menolong agama Allah” yang disebutkan pada surat Muhammad ayat 7 dan Al-Hajj
ayat 40. Berdakwah di jalan Allah adalah ikhtiar yang paling nyata untuk
menolong agama Allah sehingga dengan sendirinya ketika kita berdakwah, berarti
kita tengah terlibat dalam “perdagangan” terdahsyat itu. Dengan demikian, saat
kita berdakwah secara ikhlas, kita sejatinya sedang memberikan sesuatu yang tak
ternilai untuk hamba Allah untuk mendapatkan sesuatu yang tak ternilai (surga
Allah). Dengan kata lain, nasihat dan ajakan kepada orang lain dalam kerangka
dakwah adalah suatu pemberian yang tak ternilai! Subhaanallaah…
Betapa bahagianya orang yang bisa memberikan
sesuatu yang tak ternilai, sesuatu yang tidak pantas dibayar dengan ucapan
terimakasih, uang, pemberian yang serupa, bahkan dengan seluruh isi alam
semesta! Ya, inilah pusat kebahagiaan berdakwah, yakni ketika kita memberikan
sesuatu yang tak ternilai. Sesuatu yang tak ternilai bukan berarti
tidak punya nilai, tetapi kita tidak sanggup menilainya karena terlalu agung.
Sesuatu itu menjadi tak ternilai bukan karena harganya yang mahal secara
duniawi atau karena jumlahnya yang banyak, tetapi karena diberikan dengan penuh
keikhlasan dalam rangka menghadirkan perubahan yang positif. Orang yang ikhlas
dalam memberikan nasihat, mengajak orang lain menuju kebaikan, atau berinfak di
jalan Allah tidak pernah mengharapkan balasan dari manusia dalam bentuk apapun,
karena secara sadar atau tidak, ia menganggap balasan-balasan duniawi itu tidak
akan sanggup membayar apa yang telah ia berikan. Menurutnya, hanya balasan
Allah berupa keridhaan dan surga-Nya yang setara dengan nilai perbuatannya itu.
Dengan demikian, apa yang diberikan orang ikhlas itu telah menjadi sesuatu yang tak ternilai dan hanya bisa
dibalas dengan sesuatu yang tak ternilai pula!.
Lalu bagaimana dengan orang yang tidak
ikhlas dalam berdakwah? Orang-orang yang tidak ikhlas dalam berdakwah boleh
jadi memberikan hal yang sama dengan orang yang ikhlas. Namun, sayang sekali,
ia sendiri (dengan bantuan syaithan) yang menurunkan derajat pemberiannya itu
yang seharusnya tak ternilai menjadi ternilai. Hal ini disebabkan ia
“menerima” dengan senang hati penilaian manusia terhadap pemberiannya itu. Na’udzubillah min dzaalik…
Saudaraku…,
Sekali lagi, titik pusat kebahagiaan dalam
berdakwah berada pada pemberian yang tak ternilai dan
ketidakternilaiannya itu hanya bisa diraih dengan keikhlasan. Dari titik pusat
itu, keluarlah jari-jari kebahagiaan yang akan membentuk lingkaran keberkahan
hidup. Lingkaran itu terus meluas selama kita istiqamah di jalan dakwah.
Jari-jari kebahagiaan yang sekarang terlihat mungkin tidak banyak, tetapi kita
harus sadar bahwa jari-jari itu sebenarnya berjumlah tidak terhingga, karena titik-titik
yang membentuk keliling lingkaran juga tidak berhingga jumlahnya. Semakin luas
lingkaran keberkahan, maka secara otomatis jari-jari yang tak berhingga itu pun
semakin banyak. Jari-jari kebahagiaan itulah yang membentuk kekayaan hakiki di
dunia dan akhirat.
Itulah perumpamaan sederhana tentang
melimpahnya keberkahan hidup selama kita berada di jalan dakwah. Keberkahan itu
di alam dunia berbentuk keterjagaan dalam keshalihan, ketenangan hati, dan
kelapangan rizki. Insya Allah, berbagai bentuk kebahagiaan “kecil” di dunia
selama kita berada di jalan dakwah akan membawa kita kepada kebahagiaan “besar”
di kampung akhirat kelak. Kebahagiaan “besar” itu adalah keridhaan resiprokal
dan surga-Nya yang teramat tinggi. Allaahumma
Innaa nas-aluka ridhaaka wal jannah, wa na’uudzubika min sakhatika wa an-naar…
Wallahu a’lam
Pustaka :
Al-Quranul Kariim
Katsir, Ibnu.Tafsir Ibn Kathir (digital format)
Madjid, Nurcholish.Pesan-Pesan Takwa.2000.Jakarta:Paramadina
Mahmud.Ali Abdul Halim
Mahmud.Dakwah Fardiyah: Metode Membentuk
Pribadi Muslim.1995.Jakarta:Gema Insani Press
Marpaung, Parlindungan.
Setengah Isi Setengah Kosong.2005.Bandung:MQS
Publishing
Nursani, Muhammad.Berjuang di Dunia Berharap Pertemuan di
Surga.2005.Jakarta:Tarbawi Press
Setyawan, Palgunadi T. Daun Berserakan Sebuah Renungan Hati.2004.Jakarta:Gema
Insani Press
Yasmin, Ummu. Materi Tarbiyah.2003.Solo:Media Insani
Press
Taushiyah di lingkungan
Keluarga Remaja Islam Salman (Karisma) ITB