Archive for March, 2006

Dan Aku yang Lemah…

Friday, March 31st, 2006

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Masih
ingatkah engkau kan cerita raja
Ketika
ia berseru ke segara rakyatnya

Bawalah
sesendok madu untukku”

Agar
terkumpul seluruhnya di dalam kuali raksasa”
Sebagai
ujian kesetiaan dan bukti penghormatan

Dan
mereka semua berbisik
Biarlah
kubawa sesendok air
Yang
tak kan mengubah madu
Menjadi
air semata
Dan
mereka tidak menyadarinya

Hingga
akhirnya kuali madu raja
Hanya
berisi air persembahan rakyatnya
Tiada
madu yang menjadi harapan
Tiada
madu bukti kesetiaan
Layaklah
raja menangis sedih
Agar
sempurna isi kualinya
Ditambah
sekendi air mata

Ketika
madu adalah persembahan terbaik
Sebuah
ikhtiar istimewa untukmu yang kusebut
Sahabatku..
Karena
aku ingin mengenalmu
Memahamimu
agar menjadi hikmah bagiku

Menerimamu
untuk mengisi kuali dirimu

Dengan
sikap terbaik lagi berkhasiat
Seperti
madu

Apa
yang kuisi untukmu

Tak
kan pernah mengubah kualimu

Menjadi
segunung berlian dan mutiara
Ketika
madu yang kuberi
Kualimu
tetap kualimu
Tetapi
kau bisa menemukan sejuta khasiat dari madunya
Ketika
air yang kuberi
Karena
kupikir kualimu sudah berisi madu

Yang
kapanpun bisa kuminta

Maka
saat itu aku tidak sadar
Bahwa
sesungguhnya setetes yang kuberikan
Adalah
sesuatu yang sangat berarti

Meski
kualimu tak kan penuh dengannya

Engkau
seperti raja pemilik sejuta perhiasan

Tetapi
sama seperti diriku

Engkau
pun memiliki kuali kosong
Harapanmu
sama dengan harapanku
Ingin
sekali di antara kita
Saling
mengisi kuali-kuali persahabatan

Yang
hampa tanpa pengertian

Yang
gelap tanpa nasihat
Yang
dalam tanpa hikmah

Yang
sepi tanpa tawa

Sahabatku…
Hanya
sesendok madu yang kuharapkan
Semoga
tetes demi tetesnya kan bersatu
Menjadi
segara madu yang tak perlu kugenapkan
Dengan
sekendi air mataku

Cahaya di Atas Cahaya (3)

Friday, March 24th, 2006

(Sambungan…)

Setelah melalui panca
indera, informasi yang kita terima seharusnya kita olah dengan akal. Hasil
pengolahan ini berupa ide-ide yang menjadi sumber respons kita terhadap
informasi tersebut. Ide-ide tersebut layaknya cahaya pelita yang menerangi
jalan gelap. Seperti halnya pelita yang cahayanya menyebar (non-konsentris),
maka ide-ide tersebut juga belumlah terarah. Dengan kata lain, ide-ide itu
masih mentah karena lebih merupakan hasil instan dari pengolahan akal. Kita
harus membentuk dan membatasi ide-ide itu dengan "tabung kaca" kita,
yakni kemampuan nalar. Dengan menggunakan nalar, ide-ide itu tidak hanya akan
menjadi logis untuk kita terapkan, tetapi juga cocok dengan kondisi aktual yang
sedang terjadi. Apa yang dilakukan oleh nalar adalah mengkombinasikan informasi
utama yang sebelumnya diterima akal dengan pengetahuan yang telah tersimpan di
memori otak dan informasi pendukung lainnya untuk melahirkan keputusan terbaik mengenai
reaksi yang harus dilakukan. Oleh karena itu, satu informasi yang diterima di
dua waktu yang berbeda bisa jadi (seharusnya) melahirkan reaksi yang berbeda
setelah informasi itu diolah daya nalar kita. Hal ini mirip dengan aktivitas
yang dilakukan oleh dokter dalam mendiagnosis pasien. Ketika suatu saat banyak
pasien yang mengeluh demam, belum tentu semuanya mengindikasikan satu
penyakit yang sama. Setelah dokter melakukan diagnosis (menggunakan nalarnya
dalam menilai gejala-gejala yang menyertai demam tiap pasien), ia dapat memutuskan apa
penyakitnya dan obat apa yang cocok untuk tiap pasien. Obat-obat tersebut boleh
jadi sama atau berbeda satu sama lain. 

Karena kekuatan nalar
kita terbatas, pengolahan informasi dengan daya nalar tidak menjamin akan melahirkan sikap/reaksi yang
benar-benar terbaik. Masih ada satu entitas lagi yang harus kita rujuk dalam hal
pengolahan informasi. Entitas itu menjadi "bahan bakar" yang tak
pernah habis, seperti minyak zaitun yang terus menerus diproduksi pohonnya
sepanjang tahun. Itulah entitas tertinggi yang merepresentasikan kekuatan
abadi, yang eksistensinya menunjukkan bahwa kekuatan akal pikiran manusia yang
paling cerdas sekalipun tidak ada artinya sama sekali jika dibandingkan dengan
ilmu Penciptanya. Entitas tersebut adalah wahyu Allah ( yang pada tingkat yang
lebih rendah, entitas itu dapat mewujud sebagai ilham atau intuisi). Inilah
entitas yang apabila dipahami niscaya akan membuat kita rela menguburkan
kesombongan kita dalam-dalam. Inilah entitas yang membuat kita selalu merasa
kecil di hadapan-Nya, selalu menghadirkan ketawadhdhuan dalam hati, dan selalu
menghindari sikap meremehkan orang yang dianggap paling bodoh sekalipun.

Wahyu Allah adalah
rujukan tertinggi dalam melahirkan sikap yang tidak hanya logis dan tepat
sasaran menurut ukuran manusia, tetapi juga tepat (atas izin-Nya) menurut
ukuran Allah. Apa yang tepat menurut manusia berdasarkan sejuta penelitian dan
eksperimen ilmiah, belum tentu tepat menurut Allah. Begitu pula sebaliknya.
Dengan demikian, persandaran kita kepada wahyu Allah akan melahirkan
kebijaksanaan tertinggi. Nah, pada tingkat inilah manusia dianggap memperoleh
cahaya di atas cahaya. Seperti yang ditulis Al-Ghazali, pada kondisi ini tidak
ada yang kabur/buram bagi si manusia itu. Saya memahami hal ini sebagai kondisi
yang bebas dari keraguan, tetapi justru ketenangan yang meliputi seluruh isi
hati. Ketenangan ini mewujud karena kita selalu mengharapkan Allah menerangi
perjalanan hidup kita dengan cahaya-Nya. Ketika cahaya Allah telah menerangi
jalan kita, apakah masih ada kekhawatiran bahwa diri ini akan tersesat? 

Saudaraku…

Hikmah
yang bisa kita ambil dari penafsiran Al-Ghazali tentang surat An-Nuur : 35 ini adalah sebuah anjuran agar kita terus belajar untuk
memanfaatkan seluruh potensi daya tangkap kita secara optimal dan sinergis,
mulai dari panca indera, akal, daya nalar hingga kesadaran untuk selalu bersandar
kepada wahyu Allah. Pemanfaatan yang menyeluruh terhadap semua potensi ini,
insya Allah, akan melahirkan pribadi-pribadi cerdas lagi rendah hati.
Pribadi-pribadi seperti ini dapat menembus misteri langit dan bumi dengan
kekuatan mereka, tetapi kaki mereka tetap berpijak di atas tanah. Wallahu a’lam…

Cahaya di Atas Cahaya (2)

Friday, March 24th, 2006

(Sambungan…)

Kemudian, Al-Ghazali
menjelaskan bahwa perumpamaan lampu semprong itu menggambarkan potensi daya
tangkap manusia yang bertingkat-tingkat. Berikut ini adalah lanjutan kutipan M.
Quraish Shihab mengenai potensi daya tangkap manusia versi Al-Ghazali.

Tingkat pertama diperoleh melalui panca indera. Ini
dilambangkan oleh ayat di atas dengan misykaat, yakni sebuah lubang yang tak
tembus. Tingkat kedua adalah pelita yang berada di dalam misykaat itu. Pelita
ini adalah akal yang menerima informasi dari panca indra kemudian mengolahnya
sehingga melahirkan makna dan ide-ide. Makna dan ide-ide itu tidak jelas
batas-batasnya. Nah yang membatasinya adalah semprong atau tabung kaca di mana
pelita itu diletakkan. Tidakkah anda perhatikan cahaya lampu menjadi berpencar,
tidak terkonsentasi, jika tidak dibatasi oleh semprong, yakni tabung kaca itu?
Kaca yang disebut oleh ayat di atas adalah daya imajinasi yang berfungsi
sebagai wadah yang menampung ide-ide. Kaca itu juga membatasi ide-ide itu dan
memberinya bentuk tertentu. Dari mana daya itu memperoleh kekuatan? Dari minyak
zaitun yang bersumber dari Syajarat (en) mubaarakah/Pohon yang banyak
berkahnya. Anda harus ingat, bahwa tanpa minyak, lampu tidak akan menyala.
Minyak yang bersumber dari pohon itu adalah lambang wahyu atau ilham, yakni
intuisi. Di sini berakhir rentetan daya, karena wahyu atau ilham sedemikian
jelas dan kukuh sehingga tidak lagi dipertanyakan kebenaran atau sumbernya.
Bukankah ia dari Allah? 

Jangan berhenti pada misykaat, karena Anda akan terpaku pada
informasi panca indra yang sangat terbatas, lagi tidak jarang keliru, bahkan
boleh jadi menipu. Bukankah mata menginformasikan, bahwa bintang terlihat lebih
kecil di langit, padahal sesungguhnya amat besar? Jangan berhenti di sana,
karena pelita Anda akan mudah padam, pada saat tidak ada yang menghalangi angin
menghembusnya. Usahakan pelita Anda berada dalam tabung kaca, agar angin tidak
menerpanya. Kukuhkan informasi Anda dengan daya nalar. Tetapi jangan juga
berhenti pada informasi akal, karena pelita Anda boleh jadi tidak menyala
akibat kekurangan minyak atau tidak berminyak sama sekali. Kalau Anda memilih
minyak, usahakanlah tidak memilih minyak biasa, tetapi minyak istimewa, yakni
wahyu ilahi atau ilham serta intuisi. Jika Anda dapat memadukan semua daya itu,
Anda akan memperoleh cahaya di atas cahaya, dan ketika itu tidak ada sesuatu
yang kabur bagi Anda.

Maha Besar Allah yang
telah menganugerahkan kemampuan kepada hamba-Nya dalam menguak tabir hikmah
dibalik keagungan kalam-Nya. Apa yang disampaikan Al-Ghazali adalah mutiara
yang patut kita jadikan perhiasan tafakur diri. Ada
empat entitas nikmat Allah pada diri kita yang dikaitkan dengan empat entitas
di surat
An-Nuur : 35 menurut Al-Ghazali, yakni panca indera
(misykaat/lubang yang tak tembus), akal (pelita), daya imajinasi/nalar (tabung
kaca), dan wahyu/ilham (minyak zaitun).

Panca
indera adalah pintu gerbang bagi seluruh informasi yang masuk ke dalam diri
kita. Keberadaan panca indera, di satu sisi, sangat penting untuk menjamin
keutuhan informasi secara kuantitatif. Namun, di sisi lain,  panca indera tidak mampu menyediakan pemahaman
yang juga utuh serta komprehensif secara kualitatif. Apabila informasi yang
disampaikan oleh panca indera langsung kita tanggapi tanpa diolah lebih lanjut,
maka hasilnya adalah tindakan-tindakan bodoh, seringkali tidak logis, dan cenderung
destruktif. Tindakan-tindakan seperti ini mencerminkan reaksi yang tidak
didasari pemahaman yang menyeluruh terhadap informasi tersebut. Selanjutnya, tindakan
yang hanya didasari pemahaman panca indera akan membuat kita tidak sadar terhadap
efek-efek yang mungkin ditimbulkan dari tindakan tersebut. Inilah segenap
tindakan dari orang yang kalap serta dikuasai amarah dan hawa nafsunya. Pada
titik yang terendah, tindakan mereka tak ubahnya tingkah laku binatang.

Cahaya di Atas Cahaya (1)

Friday, March 24th, 2006

Allah seringkali mengajarkan
ilmu-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang mau berpikir melalui berbagai perumpamaan
. Salah satu perumpamaan yang sangat menakjubkan tercantum pada surat An-Nuur ayat 35. Pada ayat ini Allah menjelaskan
eksistensi-Nya sebagai Pemberi cahaya di langit dan bumi.

Subhaanallah..sungguh indah
redaksi ayat ke-35 dari surat
An-Nuur. Keindahan susunan katanya seiring dengan
kemisteriusan makna di balik kalamullah ini. Apa sebenarnya makna lubang
yang tak tembus
, pelita besar, tabung kaca, dan minyak zaitun yang Allah sebutkan di
ayat ini? Apa pula makna di balik keterkaitan entitas-entitas itu satu sama
lain?

Sebagian ulama tafsir
mengaitkan ayat ini dengan konstelasi benda-benda langit di ruang angkasa. Kehadiran
kata cahaya, pelita, bintang dan sebagainya dipahami
sebagai hal-hal yang terkait langsung dengan objek-objek alam semesta yang
dapat bersinar atau memantulkan cahaya (lihat penjelasan ayat ini di kitab
Tafsir Ibn Katsir). Selain itu, ternyata ada penafsiran yang tidak mengaitkan
ayat tersebut dengan benda-benda langit. Salah satunya adalah yang dikemukakan
oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Misykaat Al-Anwar. Al-Ghazali membawa penafsiran terhadap surat
An-Nuur : 35 ini keluar dari batas-batas paradigma konvensional
(yang mengaitkan ayat ini secara fisik dengan rahasia Allah di ruang angkasa)
menuju paradigma berpikir metaforis-komprehensif yang sederhana tetapi sarat
hikmah mengenai konsep diri untuk seluruh pribadi, terutama pribadi muslim. Paradigma
konvensional boleh jadi cukup sulit untuk dijadikan sarana penghayatan
kandungan ayat ini secara praktis bagi orang-orang yang tidak berprofesi
sebagai saintis di bidang ilmu alam. Namun, paradigma metaforis-komprehensif versi
Al-Ghazali, menurut saya, adalah paradigma alternatif yang cukup mudah dipahami
oleh semua kalangan pembelajar.

Saya membaca bahasan
Al-Ghazali tentang ayat tersebut dalam sebuah buku karangan M. Quraish Shihab
*. Al-Ghazali—sebagaimana dikutip M.
Quraish Shihab—mengawali penjelasannya dengan memaparkan karakteristik lampu
semprong atau lampu tempel. Berikut kutipan M. Quraish Shihab.  

Anda
tentu pernah melihat lampu semprong. Ada sumbu yang menyala karena ada
minyak yang membasahi sumbu itu. Bila lampu atau pelita itu digantung pada satu
tembok tertutup, nyalanya tidak mudah padam karena angin terhalangi untuk
keluar masuk menghembusnya akibat tertutup tembok; apalagi jika nyala apinya di
dalam satu tabung kaca. Cahayanya akan sangat terang jika kacanya bening,
apalagi jika minyak yang digunakan adalah minyak yang jernih. Anda tahu, bahwa
minyak zaitun adalah minyak yang paling jernih apalagi yang selalu diterpa
panas matahari, bukan hanya waktu matahari terbit dari sebelah Timur atau
terbenam di sebelah Barat. Sungguh cahaya pelita itu, dengan keadaan seperti
yang dilukiskan di atas, sangatlah terang, cahaya di atas cahaya. Begitulah
petunjuk Tuhan yang dianugerahkan-Nya kepada makhluk. Ia bertingkat-tingkat.


* buku tersebut berjudul "Yang Tersembunyi : Jin, Iblis, Setan &
Malaikat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Wacana Pemikiran Ulama Masa Lalu
dan Masa Kini
". M. Quraish Shihab menjadikan pembahasan Al-Ghazali ini sebagai
pengantar untuk menjelaskan pola pikir yang digunakannya dalam memaparkan hal
ihwal makhluk ghaib sebagaimana tertera
pada judul buku ini.

Apakah Anda Ingin Menjadi Istri yang Selalu Dicintai Suami? (2)

Friday, March 24th, 2006

(Sambungan…)

2.
Berusaha menjadi perempuan yang bersahaja dalam nafkah, artinya tidak banyak
menuntut, menerima dengan rasa syukur betapa pun sedikitnya pemberian suami,
dan tidak boleh berlebihan dalam membelanjakan nafkah yang diberikan oleh
suami. Bila anda sanggup selalu bersikap seperti ini maka cinta suami akan
selalu tercurah pada anda.

3. Sederhana dalam penampilan, karena dari hasil penelitian umumnya laki-laki
tidak menyukai perempuan yang berpenampilan seronok dengan wajah penuh riasan
tebal, sebaliknya kesederhanaan lebih menarik bagi mereka, sebab menurut mereka
lebih memancarkan kecantikan perempuan. Tetapi ini bersifat relatif, sebaiknya
kenali dulu kecenderungan suami anda, apakah suami anda menyukai penampilan
yang wah atau yang sederhana. "Sebaik-baiknya perempuan adalah yang
menyenangkanmu bila engkau memandangnya, mentaatimu bila engkau perintahkan dan
menjaga dirinya dan
hartamu bila engkau tidak di rumah." (HR Thabrani)

4. Berusaha untuk selalu sabar dan tidak menyakiti hati suami. Perbedaan
pendapat dan perselisihan antara suami istri terkadang dapat memicu terjadinya
pertengkaran kecil atau besar. Bila anda menghadapi keadaan ini, maka ingatlah
bahwa anda sedang berhadapan dengan dengan seseorang yang Allah berikan yang
sangat besar atas diri anda. "Seorang perempuan belum dianggap menunaikan
hak Tuhannya sehingga ia menunaikan hak
suaminya." (HR Ibnu Majah). Untuk itu apapun yang bergejolak di hati anda
maka berusaha untuk tetap sabar agar tidak menyakiti hati suami anda.

5. Dapat mendampingi suami baik dalam suka maupun duka. Apapun yang dialami
suami anda, berusahalah untuk menjadi pendampingnya yang setia. Misalnya di
saat suka menjadi pengingat agar suami tidak terlena, dan di saat duka menjadi
pelipur lara.

6. Berusahalah menjadi partner yang menyenangkan di kamar tidur. Banyak
perempuan yang masih merasa malu untuk bersikap agresif kepada suaminya
sendiri. Hal ini disebabkan adanya anggapan perempuan yang agresif terkesan
murahan dan tidak terhormat. Anggapan ini tidak berlaku bagi seorang istri yang
agresif terhadap suaminya sendiri. Belajarlah cara dan teknik menyenangkan
suami di tempat tidur dan anda akan mendapati suami selalu melimpahkan cintanya
untuk anda.

Apakah Anda Ingin Menjadi Istri yang Selalu Dicintai Suami? (1)

Friday, March 24th, 2006

Saya mengambil artikel eramuslim ini dari salah satu
blog yang saya kunjungi. Semoga isinya bermanfaat untuk Anda dan kita semua,
baik pria maupun wanita, sudah menikah atau belum menikah. Semoga suatu saat
Anda atau saya bisa menemukan atau menulis artikel yang berjudul "Apakah
Anda Ingin Menjadi Suami yang Selalu Dicintai Istri" :)


eramuslim - Kebanyakan istri beranggapan bahwa mereka berhak atas cinta
suaminya, anggapan ini tidak sepenuhnya salah, karena memang salah satu pilar
tegaknya sebuah rumah tangga bahagia adalah adanya mawaddah (cinta) antara
suami istri. Tetapi, patut direnungkan, bahwa cinta tidak datang dengan
sendirinya, dan ketika ia hadir tidak ada yang bisa menjamin ia akan menetap
selamanya. Ini artinya adalah bahwa cinta memerlukan usaha! Jika ingin suami
selalu mencintai anda, maka sebaiknya anda jangan hanya berkata "Loh! Dia kan suami saya, otomatis
dia mencintai saya dong! Kalau tidak ngapain dia memilih saya menjadi istrinya."

Bahwa suami mencintai anda karena anda adalah istrinya, memang betul tetapi
apakah anda yakin cintanya selalu ada dan terus ada selamanya? Banyak perempuan
tidak yakin setelah menjalani kehidupan rumah tangganya sekian tahun, apakah
suaminya masih mencintai dirinya seperti dulu? Untuk itu berhentilah untuk
bersikap pragmatis, berusahalah agar suami anda selalu cinta, bahkan dari hari
ke hari semakin bertambah cintanya kepada anda.

Sebelum membicarakan cara membuat suami selalu cinta, ada satu hal yang menjadi
inti persoalan dan tidak boleh dilupakan, yaitu cinta adalah anugerah yang
diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-hambanya, dan inilah yang disebut dengan
cinta yang hakiki atau cinta sejati. Allah lah pemilik cinta dan Allah lah yang
menjadikan cinta di antara suami istri. "Dan di antara ayat-ayatnya adalah
diciptakanNya untuk mu istri-istri dari jenismu sendiri, agar kamu merasa
tentram kepadanya, dan dijadikannya diantaramu rasa cinta dan kasih sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berpikir." (QS Ar-Ruum: 21)

Oleh karena itu, seorang istri yang selalu ingin dicintai suaminya, hendaknya
menyadari bahwa jurus yang paling efektif untuk meraih itu semua adalah dengan
mendekatkan diri kepada Allah AWT, dengan cara berusaha sekuat tenaga
menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dengan kata lain berusaha
menjadi muslimah yang shalihah. Harm bin Hayyan seorang ulama di masa Khalifah
Umar bin Khattab ra berkata, "Tiada seorang hamba yang mendekatkan dirinya
kepada Allah SWT, melainkan Allah SWT akan mendekatkan hati orang-orang mukmin
kepadanya, dan istri yang senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, maka
Allah akan mendekatkan hati suaminya kepadanya, sampai ia mendapatkan
cintanya."

Enam saran agar suami selalu cinta:
1. Berusaha dengan tulus dan ikhlas menyerahkan hidupnya untuk berbakti kepada
suami sambil berharap pahala Allah SWT, meskipun sang istri sibuk di luar rumah
tapi ia tidak terlena dan lupa bahwa ia memiliki peluang meraih syurga Allah
dengan berbakti kepada suami. "Apabila seorang perempuan menunaikan
sholat, puasa, memelihara kemaluannya dan berbakti, mentaati suaminya, maka ia
akan masuk syurga." (HR Al-Bazzar). Istri seperti ini memiliki nilai yang
tinggi di mata suaminya dan akan selalu dicintai suaminya.

Kembara Cinta Sejati*

Wednesday, March 22nd, 2006

Saudaraku, yang Allah
ciptakan sebagai manusia. Manusia bisa memiliki sejuta alasan untuk mencintai.
Manusia mungkin memiliki beribu kata untuk mengungkapkan kebencian. Manusia
bisa berpikir untuk memilih, apakah ingin mencintai atau membenci. Hari ini
manusia tersenyum karena cinta, besok mungkin ia cemberut tanda benci. Hari ini
manusia berpaling karena benci, besok mungkin menoleh penuh cinta. Manusia
terkadang berpikir bahwa ia harus berlari mencari cinta, padahal cinta itu
lebih dekat daripada urat nadinya. Manusia terkadang sibuk membuktikan bahwa ia
mencintai, padahal cinta itu bisa terlihat jelas dari matanya, dari hatinya, walau
lisannya tak menuturkan sepatah kata pun, walau tubuhnya bergeming saat “menatap”
sesuatu yang ia cintai. 

Mungkin, cinta yang seperti
itu tak lebih dari permainan semata; yakni ketika cinta dipahami hanya sebagai
bunga hati yang mekar sewaktu-waktu, kuncup sekali waktu, layu pada waktu yang
lain, kemudian tumbuh semakin indah atau malah tersungkur lepas dari
tangkainya. Kita tidak bisa berharap pada keniscayaan yang rapuh itu. Kita
membutuhkan cinta yang menjadi cahaya abadi. Cahaya itu seolah lenyap saat kita
berpaling darinya, tetapi sejatinya tak akan pernah padam; ibarat kita yang
disergap kegelapan malam, padahal cahaya matahari masih menerangi hamparan bumi
di hadapannya. Itulah cinta yang menjadi kekuatan. Itulah cinta yang sesungguhnya.
Itulah cinta sejati kita

Cinta sejati adalah cinta
Allah; cinta Allah kepada semua makhluk-Nya, cinta makhluk kepada Allah, dan cinta
di antara makhluk yang diridhai Allah. Saudaraku, semoga kita menjadi manusia
yang terus belajar mencintai-Nya dengan menunaikan apa yang dicintai-Nya dan
membuang jauh-jauh apa yang dibenci-Nya. Saat itulah, kita sebenarnya sedang berusaha
menemukan cinta sejati yang Allah simpan di setiap lubuk hati manusia. Kita
tidak mencari apa yang belum tentu kita dapatkan, tetapi mencoba menemukan
sesuatu yang telah ada sejak kita lahir ke dunia. Sesuatu itu adalah cinta
sejati. Kita tak perlu menembus bumi dan tujuh langit untuk menemukannya karena
ia selalu bersama kita dimanapun berada. Ia ada di sini. 

Saat kembara cinta sejati
menjadi langkah-langkah perjalanan hidup, kita akan sampai di bukit waktu yang
tak pernah kita duga. Di situ kita berdiri, mengagumi kekuasaan Allah yang Dia
titiskan dalam diri seorang manusia; sosok yang berselendangkan ukhuwah meski
tak bersatu dalam hubungan darah. Apa yang lantas kita gumamkan? Jangan,
janganlah kita menghardik cinta itu laksana noda yang memburamkan cermin hati
atau seperti jurang yang membentangkan jarak antara kita dengan Diri-Nya.
Janganlah kita menganggapnya cinta asing pengganti keagungan cinta sejati.
Sebelum syaithan mengoyak-ngoyak kesuciannya, cinta itu tak lain adalah
percikan cinta-Nya.

Saudaraku…, janganlah kita salahkan
kehadiran cinta suci itu, sekali lagi jangan! Namun, salahkanlah diri kita jika
tak mampu menjaga kesuciannya. Salahkanlah diri kita apabila berhasil diperdaya
musuh manusia yang paling nyata. Ketika ia menjamah cinta itu dengan
tangan-tangan kotornya, kita tak berdaya untuk mencegahnya. Saat itulah, cinta
suci kehilangan cahaya, kemudian berubah menjadi noda yang menggelapkan jiwa.
Betapa sedihnya kita yang mendapat noda, hanya karena tak kuasa memelihara
kesucian cinta… 

Saudaraku…, cara utama
untuk menjaga kesucian cinta itu adalah menjalinkannya dalam ikatan suci, yang
dengannya Allah menyatukan dua manusia dalam perjanjian agung. Saat itulah,
Allah mempercayakan cinta-Nya di hati kedua manusia. Ketika perjanjian berat
itu belum sanggup kita pikul, maka jagalah kesucian cinta dengan menyerahkannya
kembali kepada Sang Pemilik Cinta. Ketika ikatan suci belum dipersaksikan, maka
jagalah kesucian cinta dengan tak membiarkannya subur di taman hati karena kita
tak kan
sanggup melindunginya dari jarahan tangan-tangan syaithan. Ketika cinta itu
belum berteduh di dalam sekedup penggenap kemuliaan agama, maka jagalah
kesuciannya dengan kelirihan doa dan ikhtiar penghambaan kepada-Nya; agar Allah
menurunkan ketenangan dan kesabaran; agar Allah menajamkan pandangan zhahir dan
bathin untuk menghindari tipu daya syaithan di sepanjang perjalanan; agar Allah
selalu menjaga kita di jalan orang-orang yang mencintai-Nya dan orang-orang
yang mencintai karena-Nya; agar Allah tak memalingkan kita sedetik pun dari
kembara cinta sejati…

* A little taushiyah which is especially directed to
my own self

Perjuangan Belum Usai

Sunday, March 5th, 2006

Kami dedikasikan untuk
orang tua kami yang tak pernah berhenti mengingat dan mendoakan kami…

Pada detik ini…
Segenap rasa berpadu dalam
hati kita semua
Seluruhnya tunduk bersujud,
bersyukur atas kasih sayang Allah, Tuhan yang Maha Esa

Izinkan saya menyapamu, sahabat-sahabat
wisudawan dan wisudawati.
Ibarat sekumpulan pendaki
gunung, kita saat ini, telah berada di puncak gunung perjuangan. Gunung
perjuangan itu adalah masa-masa kuliah kita di Teknik Informatika ITB. Atas nikmat
Tuhan, kita berhasil mencapai puncaknya, lulus sebagai sarjana Informatika.
Saat ini pula, boleh jadi kita berada di puncak kebahagiaan karena perjuangan
kita tidak selalu bebas hambatan. Adakalanya terjatuh, tergelincir, dan
tersengal-sengal. Dan adakalanya pula, kita mampu mendaki dengan cepat dan
penuh semangat. Dan sekarang kita telah melewati itu semua. Karena itu,
wajarlah apabila kebahagiaan kita mencapai puncaknya. Tetapi, tahukah engkau
sahabat-sahabatku, siapa yang jauh lebih berbahagia dari kita? Siapakah yang
puncak kebahagiaannya lebih tinggi dari puncak kebahagiaan kita? 

Sahabat-sahabatku. Bumi ini
tidak hanya diciptakan dengan satu gunung saja. Begitu pula perjuangan kita.
Saat kita berada di puncak gunung perjuangan seperti sekarang ini, mari kita
lihat pemandangan di sekitar. Ternyata masih banyak gunung perjuangan yang jauh
lebih tinggi, yang puncak-puncaknya lebih tinggi dari tempat kita berpijak saat
ini. Itulah serangkaian perjuangan berikutnya setelah kita lulus sebagai
sarjana. Kita tidak boleh berlama-lama di puncak ini. Kita harus bersiap-siap
untuk mendaki kembali. Puncak yang kita pijak saat ini bukanlah yang terakhir,
bukan pula yang tertinggi. Masih banyak perjuangan yang harus kita lewati,
tentunya dengan semangat dan strategi yang lebih mumpuni. Apapun perjuangan
kita setelah ini, apakah bekerja di perusahaan, menciptakan pekerjaan atau
melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi, kita tentu sangat berharap bisa
meraih kesuksesan yang lebih baik dan lebih bermakna bagi kehidupan kita. Akan
tetapi, tahukah engkau sahabat-sahabatku, siapa yang harapannya lebih besar
dari harapan kita? Siapakah yang lebih menginginkan kita sukses daripada diri
kita sendiri?

Yang jauh lebih berbahagia
dari kita, yang puncak kebahagiaannya lebih tinggi dari puncak kebahagiaan
kita, yang harapannya lebih besar dari harapan kita, yang lebih menginginkan
kita sukses daripada diri kita sendiri, adalah mereka yang paling mengenal
kita, adalah mereka yang selalu mendoakan kita, adalah mereka yang menggendong tubuh
mungil kita saat kita lahir ke dunia, adalah mereka yang hatinya tersayat-sayat
ketika melihat kita menangis, adalah mereka yang hatinya berbunga-bunga ketika
melihat kita tersenyum bahagia, adalah mereka yang menangis karena bangga
ketika melihat kita berhasil. Mereka adalah orang tua kita tercinta. Mereka
adalah ayah dan ibu kita.

Ayah dan Ibu, izinkan kami
menyapamu.
Kami sadar, engkau tidak
membutuhkan agar kami membalas semua kasih sayang yang engkau hadiahkan kepada
kami. Kami pun sadar, kami tidak akan mungkin mampu membalasnya sampai
kapanpun. Ketika engkau melihat kami bahagia, ketika engkau melihat kami
berhasil, itu cukup bagimu. Itu cukup untuk menghapus segala penat dan lelahmu
selama membesarkan kami. Itu cukup sebagai tanda terimakasih yang tak ternilai
harganya. Oleh karena itu, semoga kelulusan kami saat ini sebagai sarjana
Informatika menjadi salah satu tanda terimakasih dan hadiah dari kami, anakmu,
untukmu, ayah dan ibu. Terimalah ayah, terimalah ibu, terimalah hadiah kecil
ini, hadiah yang tidak seberapa ini, sebagai wujud bakti kami padamu. Semoga
engkau berkenan menerimanya.  

Ayah dan Ibu…
Kami sematkan tanda ucapan
di hadiah kecil ini, disitu tertulis harapan kami, yakni semoga engkau tak
pernah jemu mendoakan kami agar senantiasa hormat dan berbakti kepadamu. Semoga
engkau berkenan untuk tetap mengiringi perjuangan kami berikutnya dengan doa
dan kasih sayangmu. Ayah…, Ibu…Doakan kami agar kami tidak terlena dalam
kebahagiaan ini. Doakan kami agar Tuhan memberikan kekuatan kepada kami untuk
mendaki gunung perjuangan berikutnya yang jauh lebih tinggi, yang lebih banyak
rintangannya, yang lebih sukar dilewati. Doakan kami, agar kami menjadi
manusia-manusia yang mampu dan selalu bersyukur atas segala nikmat yang
dianugerahkan kepada kami. Doakan kami, agar kami mampu memberikan yang terbaik
dalam perjuangan kami berikutnya, karena
perjuangan kami belum usai…

Salam sayang dan
cinta dari kami, anakmu…

Remembering "The Spirit of Spring"
@Syukuran Wisuda HMIF ITB
Sabtu, 4 Maret 2006

Semburat Bahagia di Jalan Dakwah (3)

Wednesday, March 1st, 2006

Sambungan dari Semburat Bahagia di Jalan Dakwah (2)…

Wahai
orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang
dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah
yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Kalau kita menjual sesuatu, maka kita memberikan
barang kepada pembeli lalu pembeli itu memberikan imbalan kepada kita atas
barang tersebut. Analogi inilah yang digunakan Allah untuk menggambarkan
perdagangan terdahsyat yang pernah ada! Allah yang membeli (dijelaskan lebih eksplisit
dalam surat At-Taubah 111) dan kita yang menjual. Imbalan yang Allah berikan
kepada kita adalah sesuatu yang tak ternilai dan tak terbayarkan oleh apapun di
seluruh jagat raya ini, yaitu surga (Ash-Shaff ayat 12). Wow, kalau imbalannya
surga, lantas apa yang kita jual?? Tentunya sesuatu yang juga tak ternilai. Bukankah tidak mungkin
kita memberikan sesuatu yang ternilai
lalu mendapatkan imbalan berupa sesuatu
yang tak ternilai
? Hukum jual beli hanya mengakui transaksi yang dianggap setara;
sepotong tempe goreng dihargai 250 rupiah, sebuah Mercedes Benz S-Class
dihargai hampir setengah milyar atau bahkan lebih, maka sesuatu yang tak ternilai dihargai dengan sesuatu yang tak ternilai pula! 

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa
“perdagangan” yang dimaksudkan Allah pada ayat di atas mencakup aktivitas
“menolong agama Allah” yang disebutkan pada surat Muhammad ayat 7 dan Al-Hajj
ayat 40. Berdakwah di jalan Allah adalah ikhtiar yang paling nyata untuk
menolong agama Allah sehingga dengan sendirinya ketika kita berdakwah, berarti
kita tengah terlibat dalam “perdagangan” terdahsyat itu. Dengan demikian, saat
kita berdakwah secara ikhlas, kita sejatinya sedang memberikan sesuatu yang tak
ternilai untuk hamba Allah untuk mendapatkan sesuatu yang tak ternilai (surga
Allah). Dengan kata lain, nasihat dan ajakan kepada orang lain dalam kerangka
dakwah adalah suatu pemberian yang tak ternilai! Subhaanallaah…

Betapa bahagianya orang yang bisa memberikan
sesuatu yang tak ternilai, sesuatu yang tidak pantas dibayar dengan ucapan
terimakasih, uang, pemberian yang serupa, bahkan dengan seluruh isi alam
semesta! Ya, inilah pusat kebahagiaan berdakwah, yakni ketika kita memberikan
sesuatu yang tak ternilai
. Sesuatu yang tak ternilai bukan berarti
tidak punya nilai, tetapi kita tidak sanggup menilainya karena terlalu agung.
Sesuatu itu menjadi tak ternilai bukan karena harganya yang mahal secara
duniawi atau karena jumlahnya yang banyak, tetapi karena diberikan dengan penuh
keikhlasan dalam rangka menghadirkan perubahan yang positif. Orang yang ikhlas
dalam memberikan nasihat, mengajak orang lain menuju kebaikan, atau berinfak di
jalan Allah tidak pernah mengharapkan balasan dari manusia dalam bentuk apapun,
karena secara sadar atau tidak, ia menganggap balasan-balasan duniawi itu tidak
akan sanggup membayar apa yang telah ia berikan. Menurutnya, hanya balasan
Allah berupa keridhaan dan surga-Nya yang setara dengan nilai perbuatannya itu.
Dengan demikian, apa yang diberikan orang ikhlas itu telah menjadi sesuatu yang tak ternilai dan hanya bisa
dibalas dengan sesuatu yang tak ternilai pula!.
 

Lalu bagaimana dengan orang yang tidak
ikhlas dalam berdakwah? Orang-orang yang tidak ikhlas dalam berdakwah boleh
jadi memberikan hal yang sama dengan orang yang ikhlas. Namun, sayang sekali,
ia sendiri (dengan bantuan syaithan) yang menurunkan derajat pemberiannya itu
yang seharusnya tak ternilai menjadi ternilai. Hal ini disebabkan ia
“menerima” dengan senang hati penilaian manusia terhadap pemberiannya itu. Na’udzubillah min dzaalik… 

Saudaraku…,
Sekali lagi, titik pusat kebahagiaan dalam
berdakwah berada pada pemberian yang tak ternilai dan
ketidakternilaiannya itu hanya bisa diraih dengan keikhlasan. Dari titik pusat
itu, keluarlah jari-jari kebahagiaan yang akan membentuk lingkaran keberkahan
hidup. Lingkaran itu terus meluas selama kita istiqamah di jalan dakwah.
Jari-jari kebahagiaan yang sekarang terlihat mungkin tidak banyak, tetapi kita
harus sadar bahwa jari-jari itu sebenarnya berjumlah tidak terhingga, karena titik-titik
yang membentuk keliling lingkaran juga tidak berhingga jumlahnya. Semakin luas
lingkaran keberkahan, maka secara otomatis jari-jari yang tak berhingga itu pun
semakin banyak. Jari-jari kebahagiaan itulah yang membentuk kekayaan hakiki di
dunia dan akhirat. 

Itulah perumpamaan sederhana tentang
melimpahnya keberkahan hidup selama kita berada di jalan dakwah. Keberkahan itu
di alam dunia berbentuk keterjagaan dalam keshalihan, ketenangan hati, dan
kelapangan rizki. Insya Allah, berbagai bentuk kebahagiaan “kecil” di dunia
selama kita berada di jalan dakwah akan membawa kita kepada kebahagiaan “besar”
di kampung akhirat kelak. Kebahagiaan “besar” itu adalah keridhaan resiprokal
dan surga-Nya yang teramat tinggi. Allaahumma
Innaa nas-aluka ridhaaka wal jannah, wa na’uudzubika min sakhatika wa an-naar

Wallahu a’lam

Pustaka :

Al-Quranul Kariim

Katsir, Ibnu.Tafsir Ibn Kathir (digital format)

Madjid, Nurcholish.Pesan-Pesan Takwa.2000.Jakarta:Paramadina

Mahmud.Ali Abdul Halim
Mahmud.Dakwah Fardiyah: Metode Membentuk
Pribadi Muslim
.1995.Jakarta:Gema Insani Press

Marpaung, Parlindungan.
Setengah Isi Setengah Kosong.2005.Bandung:MQS
Publishing

Nursani, Muhammad.Berjuang di Dunia Berharap Pertemuan di
Surga
.2005.Jakarta:Tarbawi Press

Setyawan, Palgunadi T. Daun Berserakan Sebuah Renungan Hati.2004.Jakarta:Gema
Insani Press

Yasmin, Ummu. Materi Tarbiyah.2003.Solo:Media Insani
Press

Taushiyah di lingkungan
Keluarga Remaja Islam Salman (Karisma) ITB

Semburat Bahagia di Jalan Dakwah (2)

Wednesday, March 1st, 2006

Sambungan dari Semburat Bahagia di Jalan Dakwah (1)…

Ungkapan dahsyat para ulama salaf di atas
kiranya dapat menunjukkan bahwa dakwah sebenarnya menjadi “puncak” kebahagiaan para
da’i di dunia sebelum sampai ke puncak kebahagiaan yang hakiki di akhirat kelak
(bertemu langsung dengan Allah sebagai konsekuensi dari keridhaan resiprokal). Lantas,
seperti apakah kebahagiaan di jalan dakwah itu? Kita akan coba merenunginya pelan-pelan
pada beberapa rangkai uraian berikut ini. 

Sebagian dari kita mungkin masih secara
sempit mengartikan dakwah sekedar berbentuk ceramah di masjid, kajian al-Quran
dan hadits tiap minggu, tabligh akbar di lapangan besar, dan yang sejenis itu.
Ketika kita berpikir sempit seperti ini, boleh jadi kita menganggap bahwa dakwah
(berikut kebahagiaan di dalamnya) hanyalah milik para kiyai, guru agama Islam,
dan para ulama yang memang secara khusus menekuni ilmu agama Islam. Tidak,
anggapan ini sangatlah tidak benar. Kesempatan berdakwah adalah nikmat Allah
untuk kita semua. Kita semua, apapun latar belakang pendidikan dan profesi kita,
berhak berdakwah. Kebahagiaan di jalan dakwah bukan hanya milik mereka yang
sering digelari “al-ustadz”. Kita semua yang mengaku muslim, sangat-sangat
berhak dan seharusnya merasakan juga kebahagiaan tersebut.

Mungkin ada sebagian dari kita yang kemudian
bertanya: Bukankah dakwah itu ada aturannya, ada prinsip-prinsip dan
pedomannya? Ya, ini benar sekali. Allah dan Rasul-Nya telah memberikan
rambu-rambu ini, yang kemudian dirangkum oleh para ulama dalam bab Fiqh Dakwah.
Setiap pribadi yang berjalan di jalan dakwah seyogyanya mempelajari dan
memahami bab ini. Namun, bagaimana dengan kita yang bahkan membaca bab ini saja
belum pernah, apalagi memahaminya,atau merasa belum memiliki ilmu agama yang
cukup? Apakah lantas kita merasa tidak perlu atau menganggap diri kita tidak
boleh berdakwah? Saudaraku.., semoga kita tidak berpikir seperti ini karena siapapun
kita sebenarnya bisa berproses untuk memiliki pemahaman yang komprehensif dan
ilmiah tentang dakwah serta terus memperbaiki diri. Hal yang lebih penting dan
utama adalah bagaimana kita mengobarkan ghirah (semangat) dakwah dalam diri dan
mencintai dakwah itu sendiri. Semangat dan cinta itulah yang selanjutnya
memotivasi kita untuk terus berusaha memahami ilmu dakwah dan meningkatkan
kualitas penghambaan kita kepada Allah swt. Dan..tahukah engkau wahai saudaraku..,
kita akan sangat semangat dan mencintai sesuatu kalau kita paham bahwa sesuatu
itu akan sangat membahagiakan kita. Saat kita memahami kebahagiaan berdakwah,
semoga semangat dan rasa cinta itu mulai dan akan terus berkobar dalam dada…  

Dakwah dalam arti luas berarti mengajak
orang lain melalui hikmah dan pengajaran yang baik, agar senantiasa mengesakan
Allah serta beramal shalih yang dicintai-Nya sekaligus meninggalkan segala
bentuk kemusyrikan, sikap dan perilaku yang dimurkai serta dibenci Allah swt.
Ketika diniatkan untuk meraih ridha Allah semata dan berlandaskan kesadaran
penuh bahwa mengajak kepada kebenaran adalah amanah tiap muslim, maka setiap
perbuatan kita yang sejalan dengan pengertian ini, insya Allah, termasuk dalam
kerangka dakwah. Jika demikian, seorang polisi yang bekerja mengatur lalu
lintas supaya pengguna jalan berlaku tertib pada hakikatnya telah berdakwah;
seorang guru yang mengajarkan ilmunya agar anak didiknya sukses pada hakikatnya
telah berdakwah; seorang direktur yang memimpin dengan sebaik-baiknya agar etos
kerja anak buahnya meningkat pesat pada hakikatnya telah berdakwah; seorang ibu
yang merelakan lebih dari setengah waktunya dalam 24 jam untuk mendidik putra-putrinya
pada hakikatnya telah berdakwah; seorang mahasiswa yang memotivasi rekannya
agar rajin belajar pada hakikatnya telah berdakwah.. Inilah beberapa contoh
yang menunjukkan bahwa betapa banyak kesempatan yang Allah berikan kepada kita
untuk bergelut dalam aktivitas dakwah, meskipun terkadang tidak kita sadari. Jika
kita memanfaatkan kesempatan-kesempatan emas itu, maka peluang kita untuk
meraih kebahagiaan di jalan dakwah semakin terbuka lebar sehingga kebahagiaan
itu menjadi milik kita semua, bukan hanya milik kiyai semata…

Lantas, dimana
sebenarnya letak kebahagiaan berdakwah itu? Pada hakikatnya, seluruh bentuk aktivitas
dakwah yang kita lakukan dapat membahagiakan kita jika direnungkan dengan
sebaik-baiknya. Namun, ada satu hal yang menurut saya menjadi titik pusat
kebahagiaan dalam berdakwah. Titik pusat itu adalah “memberi”. Aktivitas
memberi dalam kerangka dakwah bukanlah aktivitas memberi yang biasa-biasa saja.
Aktivitas memberi tersebut tercakup dalam maksud firman Allah di surat
Ash-Shaff ayat 10 dan 11:

Bersambung ke Semburat Bahagia di Jalan Dakwah (3)…