Melengkapi Apa Adanya (3)
Saturday, April 29th, 2006(Sambungan dari "Melengkapi Apa Adanya (2)")
Saudaraku…
Jika ada dua kuali sejenis,
yang satu berisi madu sedangkan yang lainnya berisi air biasa, manakah yang
lebih baik? Anda dan saya tentu sepakat bahwa kuali yang berisi madu relatif
lebih baik daripada kuali yang hanya berisi air biasa. Kuali yang berisi madu
lebih baik bukan karena kualinya, tetapi karena khasiat/manfaat yang terkandung
di dalam madunya. Kita pun sepakat bahwa madu relatif lebih berkhasiat daripada
air biasa. Jika demikian, apa makna yang bisa kita gali dari sini?
Seperti yang didendangkan
grup musik Seurius, “rocker juga
manusia”. Begitu pula sahabat kita dan kita sendiri. Kita dan mereka adalah
manusia yang ditakdirkan memiliki kekurangan yang menjadi bagian tak
terpisahkan dari pribadi masing-masing. Di antara kekurangan-kekurangan itu,
ada saja yang terkadang atau seringkali menghadirkan suasana yang kurang nyaman
bagi lingkungan sekitar. Ketika kita melengkapi sahabat kita apa adanya, boleh
jadi kita berharap mereka mampu meminimalisir kekurangan tersebut setelah kita
“lengkapi” dengan nasihat dan contoh teladan dari kita. Ini adalah harapan yang
manusiawi. Namun, kalau kita tidak hati-hati, kita bisa terperangkap dalam jaring-jaring
ketidakikhlasan (na’udzubillah min
dzaalik). Kita akan merasa kecewa ketika reaksi sahabat kita tidak seperti
yang kita harapkan. Kita akan merasa dongkol seandainya mereka masih
“memelihara” kekurangan-kekurangan itu. Perasaaan-perasaan seperti ini adalah
wujud ketidakikhlasan tersebut…
Saudaraku…
Saya ingin menyampaikan
kepada Anda sebuah harapan alternatif dalam upaya melatih diri untuk meraih
keikhlasan saat melengkapi sahabat kita apa adanya,. Kita tidak perlu berharap
banyak-banyak. Kita cukup berharap dan berusaha agar, cepat atau lambat,
sahabat kita mampu menghadirkan manfaat positif dari kekurangan-kekurangan yang
mereka miliki bagi diri mereka sendiri atau orang lain, baik sedikit maupun
banyak. Kalaupun “kuali” kekurangan sahabat kita masih ada, insya Allah kita
tidak akan larut dalam kekecewaan karena setidaknya “kuali” itu telah berisi
“madu” yang kita beri. Kalaupun akhirnya sahabat kita berhasil meminimalisir
atau bahkan menghilangkan kekurangan itu, maka kita boleh berbahagia tanpa
perlu berbangga hati. Dengan demikian, kita belajar untuk benar-benar menyadari
eksistensi proses perbaikan diri yang
terus menerus sepanjang hayat…
Saudaraku…
Sesuatu yang kita tanam
saat ini, hanya Allah yang mampu memastikan bahwa ia akan tumbuh dengan baik.
Apa yang kita tuai kelak, sangat tergantung dengan bagaimana ia tumbuh selama
ini.
Selamat melengkapi sahabat
kita masing-masing apa adanya!
Wallahu a’lam