Karena Mawar Bukanlah Melati
Wednesday, May 17th, 2006Allifandra merenungi
dirinya sendiri. Dalam sendirinya, ia mencoba menghamparkan segenap alpa yang
telah dibuatnya hari ini. Tiba-tiba butir air bercahaya bagai kristal di
pelupuk matanya. Suara ratapnya memecah suasana Isya dan kebekuan air matanya .
Tiada sungai air mata, tetapi sungai-sungai tanya mengalir deras di hatinya. Ribuan
kubik kata “mengapa” menjadi arus yang mencari hilir kedamaian, yang terlempar
ke sana kemari di antara batu-batu yang gagah merintangi…
“Sudahlah Alli. Jangan
jadikan masa lalumu pakaian kebesaran yang hendak kau kenakan untuk pesta esok
hari. Cukuplah ia menjadi bukti kedewasaan yang menuntunmu untuk memilih.
Karena esok harimu adalah masa depanmu. Pesta masa depanmu adalah sesuatu yang
terindah, yang mungkin belum pernah terpikirkan olehmu. Boleh jadi, Allah merahasiakannya
saat ini, karena Dia ingin mengujimu. Dia ingin Tahu, seberapa besar
kepasrahanmu kepada-Nya. Dia ingin Tahu seberapa besar engkau bergantung
pada-Nya. Dia ingin Tahu, seberapa besar engkau memahami Kemutlakan Dzat-Nya di
antara berjuta kenisbian di sekitarmu. Satu hal lagi Alli, segala keputusan di
langit dan bumi ada di Tangan-Nya. Apabila Dia ingin memberikan mawar kepadamu,
maka Dia tidak akan salah dengan memberikan melati…”
“Siapakah engkau?”, teriak
Allifandra dalam hatinya. “Aku adalah suara hatimu, Alli”. “O suara hati, yang
engkau katakan memang benar”, cukup berat Allifandra mengiyakan. Kemudian
keluhnya tercurah lagi: “Tetapi mengapa, mengapa masa laluku masih membayang… Ketika
hikmah yang ingin kupahami, terlintas pula sebuah kenangan… Kenangan itu seolah
ingin kuulang kembali. Ketika aku menatap esok hari, mentari pagi kuharapkan,
tetapi seolah-olah aku tak mau bulan yang kukagumi malam tadi…pergi…”
"Kau tentu tahu, Alli. Sinar mentari tak kan meminang cahaya rembulan. Mentari adalah penerang siang-Nya sementara rembulan
adalah mahkota malam-Nya. Tiada perubahan dalam sunnah-Nya, selama demikian
menurut kehendak-Nya. Apakah mentari yang menerangimu atau rembulan yang menyejukkan
matamu, semoga bukan sekedar itu yang kau cari. Sadarilah siapa Yang sebenarnya
Menerangimu dan Yang sesungguhnya Menyejukkan matamu…”
Getar suara hatinya membuat
Allifandra bertanya lagi, “Bukankah aku berada di taman bunga. Yang menjadi
mahligai keindahan mawar, melati, dan sejuta bunga lainnya?”. Suara hati Allifandra
berisyarat lagi: “Semoga engkau tak tergesa memetiknya. Biarkan takwa
membulatkan hatimu. Hingga pada saat engkau memetiknya, Dia telah memetiknya
untukmu karena begitu Cinta padamu…”
“Karena mawar bukanlah
melati. Meski kau tahu seluruhnya menawan, tak berarti kau kuasa merengkuh
semua. Banyak orang berkata bahwa mawar lebih indah dari melati atau melati
yang justru lebih indah. Semua orang bisa berkata apapun, tetapi hanya satu orang
yang mampu menemukan keindahan sebenarnya. Dialah engkau yang disematkan bunga.
Tak peduli apapun bunganya, si bunga semakin indah terlihat di dadamu…dan bunga
itu pula yang memperindah hakikat dirimu…Alli, setiap orang semakin indah bukan
karena bunga apa yang tersemat di dadanya, tetapi karena itulah bunga yang
paling tepat untuknya…”
“Suara hati, seolah
berat nian ungkapan-ungkapanmu, meski aku sadar begitulah seharusnya kita
memahami anugerah-Nya…”