Bentang di Antara Dua Hati (3)
Friday, June 23rd, 2006Saudaraku,
Meskipun demikian, tidak setiap suara keras yang terdengar saat marah identik dengan terciptanya jarak antara dua hati. Sebagai contoh adalah seorang ibu yang bersuara keras saat memarahi anak balitanya. Jika ia menyayangi dan menghendaki kebaikan bagi anaknya, kemudian sempat merenung dulu sebelum mengeraskan suaranya, maka suara keras tersebut insya Allah justru semakin mendekatkan hati keduanya. Sang anak pun secara langsung atau tidak langsung akhirnya menyadari bahwa ibunya begitu perhatian dan sayang kepadanya melalui kemarahan itu. Namun, apabila sang ibu sekedar membentak tanpa berpikir mengenai efek dan kondisi saat kemarahan itu terjadi, melainkan hanya didorong oleh hawa nafsunya, maka suara keras yang ditimbulkan akan menciptakan jarak antara kedua hatinya. Kemarahan yang bermula dari rasa sayang itu pun akhirnya menjadi bumerang. Jika hal ini dilakukan terus menerus, maka efeknya bisa jadi negatif. Sang anak yang dibesarkan dengan bentakan-bentakan tak terkendali, cenderung tumbuh menjadi pribadi yang keras dan kasar.
Saudaraku,
Apa yang ingin saya sampaikan melalui uraian dan contoh-contoh di atas adalah bahwa aspek pengendalian menjadi begitu penting ketika kita mengekspresikan kemarahan dengan suara keras. Suara keras yang berdampak menjauhkan jarak antar dua hati hanyalah suara keras yang lahir dari kemarahan tanpa kendali. Dengan demikian, tidak semua suara keras yang terdengar saat marah menyebabkan dua hati saling berjauhan dan tidak pula secara otomatis mengindikasikan bahwa si pemilik suara tidak mampu mengendalikan amarahnya.
Kemudian, mari kita tinjau kisah Ali bin Husain r.a. dengan budaknya. Kisah tersebut menjadi bukti kemampuan Ali dalam mengendalikan amarahnya sesuai tuntunan wahyu Allah. Pada saat itu, Ali memilih untuk tidak langsung membentak budaknya, tetapi ia justru mendengarkan ayat-ayat Allah (Ali Imran:134) yang meluncur dari lisan si budak. Ia kemudian menanggapi setiap potongan ayat itu dengan kata-kata halus yang menunjukkan kebesaran hatinya atas perilaku si budak, yakni ”Aku tahan marahku”, ”Aku maafkan kamu”, dan ”Aku merdekakan kamu”. Dalam riwayat ini tidak disebutkan bahwa Ali membentak budaknya itu, tetapi akhirnya Ali justru melakukan sesuatu yang sangat mulia dan membahagiakan si budak, yakni membebaskan ia dari belenggu perbudakan. Menurut Anda, apakah ada ”jarak” antara hati Ali dan budaknya saat potensi kemarahan menggelegak dalam diri Ali? Bagaimanakah mungkin Ali ”mampu” memerdekakan si budak apabila terbentang jarak antara hatinya dengan hati budaknya?
Saudaraku,
Sungguh luar biasa metode yang Allah ajarkan melalui surat Ali Imran:134 tentang pengendalian amarah. Inilah salah satu ayat yang menurut saya harus menjadi rujukan bagi kita yang senantiasa belajar mengendalikan amarah. Insya Allah, ada beberapa langkah yang bisa kita terapkan untuk mengendalikan amarah sebagai kesimpulan dari kandungan ayat ini dan beberapa uraian yang saya paparkan di atas.
Pertama: Tenangkan diri
Ketika kemarahan muncul, berilah kesempatan kepada diri kita untuk diam sejenak sambil beristighfar. Jika perlu, kita bisa mengambil air wudhu untuk lebih menenangkan hati. Apabila kita langsung merespon gejolak amarah itu secara membabi buta, maka boleh jadi kita hanya memperumit masalah yang tadinya sederhana atau memperbanyak masalah yang tadinya sedikit.
Kedua: Renungkanlah respon atas kemarahan
Renungkanlah respon apa yang sebaiknya kita tunjukkan. Sedapat mungkin kita hindarkan suara keras karena suara keras mudah ditunggangi oleh hawa nafsu dan membuat situasi semakin panas karena hati-hati kita terancam bergerak saling menjauh. Menyentuh hati yang jauh tentu saja lebih sulit daripada menyentuh hati yang dekat. Sedapat mungkin kita melembutkan suara saat kita mengklarifikasi hal-hal yang memicu kemarahan kita. Kalau pun harus bersuara keras (dengan membentak misalnya), semoga kita tidak berlama-lama dengan bentakan kita dan kita harus telah meyakinkan diri sebelumnya bahwa hal tersebut adalah untuk kebaikan bersama atau sebagai shock terapy kepada orang yang kita marahi karena menurut kita ia telah berbuat kesalahan. Janganlah kita berhenti merenung dan berdzikir selama kita bersuara keras agar kita tetap bisa mengendalikan kata-kata yang keluar dari lisan kita.
Bersambung…