Archive for June, 2006

Bentang di Antara Dua Hati (3)

Friday, June 23rd, 2006

Saudaraku,

Meskipun demikian, tidak setiap suara keras yang terdengar saat marah identik dengan terciptanya jarak antara dua hati. Sebagai contoh adalah seorang ibu yang bersuara keras saat memarahi anak balitanya. Jika ia menyayangi dan menghendaki kebaikan bagi anaknya, kemudian sempat merenung dulu sebelum mengeraskan suaranya, maka suara keras tersebut insya Allah justru semakin mendekatkan hati keduanya. Sang anak pun secara langsung atau tidak langsung akhirnya menyadari bahwa ibunya begitu perhatian dan sayang kepadanya melalui kemarahan itu. Namun, apabila sang ibu sekedar membentak tanpa berpikir mengenai efek dan kondisi saat kemarahan itu terjadi, melainkan hanya didorong oleh hawa nafsunya, maka suara keras yang ditimbulkan akan menciptakan jarak antara kedua hatinya. Kemarahan yang bermula dari rasa sayang itu pun akhirnya menjadi bumerang. Jika hal ini dilakukan terus menerus, maka efeknya bisa jadi negatif. Sang anak yang dibesarkan dengan bentakan-bentakan tak terkendali, cenderung tumbuh menjadi pribadi yang keras dan kasar.

Saudaraku,

Apa yang ingin saya sampaikan melalui uraian dan contoh-contoh di atas adalah bahwa aspek pengendalian menjadi begitu penting ketika kita mengekspresikan kemarahan dengan suara keras. Suara keras yang berdampak menjauhkan jarak antar dua hati hanyalah suara keras yang lahir dari kemarahan tanpa kendali. Dengan demikian, tidak semua suara keras yang terdengar saat marah menyebabkan dua hati saling berjauhan dan tidak pula secara otomatis mengindikasikan bahwa si pemilik suara tidak mampu mengendalikan amarahnya.

Kemudian, mari kita tinjau kisah Ali bin Husain r.a. dengan budaknya. Kisah tersebut menjadi bukti kemampuan Ali dalam mengendalikan amarahnya sesuai tuntunan wahyu Allah. Pada saat itu, Ali memilih untuk tidak langsung membentak budaknya, tetapi ia justru mendengarkan ayat-ayat Allah (Ali Imran:134) yang meluncur dari lisan si budak. Ia kemudian menanggapi setiap potongan ayat itu dengan kata-kata halus yang menunjukkan kebesaran hatinya atas perilaku si budak, yakni ”Aku tahan marahku”, ”Aku maafkan kamu”, dan ”Aku merdekakan kamu”. Dalam riwayat ini tidak disebutkan bahwa Ali membentak budaknya itu, tetapi akhirnya Ali justru melakukan sesuatu yang sangat mulia dan membahagiakan si budak, yakni membebaskan ia dari belenggu perbudakan. Menurut Anda, apakah ada ”jarak” antara hati Ali dan budaknya saat potensi kemarahan menggelegak dalam diri Ali? Bagaimanakah mungkin Ali ”mampu” memerdekakan si budak apabila terbentang jarak antara hatinya dengan hati budaknya?

Saudaraku,

Sungguh luar biasa metode yang Allah ajarkan melalui surat Ali Imran:134 tentang pengendalian amarah. Inilah salah satu ayat yang menurut saya harus menjadi rujukan bagi kita yang senantiasa belajar mengendalikan amarah. Insya Allah, ada beberapa langkah yang bisa kita terapkan untuk mengendalikan amarah sebagai kesimpulan dari kandungan ayat ini dan beberapa uraian yang saya paparkan di atas.

Pertama: Tenangkan diri

Ketika kemarahan muncul, berilah kesempatan kepada diri kita untuk diam sejenak sambil beristighfar. Jika perlu, kita bisa mengambil air wudhu untuk lebih menenangkan hati. Apabila kita langsung merespon gejolak amarah itu secara membabi buta, maka boleh jadi kita hanya memperumit masalah yang tadinya sederhana atau memperbanyak masalah yang tadinya sedikit.

Kedua: Renungkanlah respon atas kemarahan

Renungkanlah respon apa yang sebaiknya kita tunjukkan. Sedapat mungkin kita hindarkan suara keras karena suara keras mudah ditunggangi oleh hawa nafsu dan membuat situasi semakin panas karena hati-hati kita terancam bergerak saling menjauh. Menyentuh hati yang jauh tentu saja lebih sulit daripada menyentuh hati yang dekat. Sedapat mungkin kita melembutkan suara saat kita mengklarifikasi hal-hal yang memicu kemarahan kita. Kalau pun harus bersuara keras (dengan membentak misalnya), semoga kita tidak berlama-lama dengan bentakan kita dan kita harus telah meyakinkan diri sebelumnya bahwa hal tersebut adalah untuk kebaikan bersama atau sebagai shock terapy kepada orang yang kita marahi karena menurut kita ia telah berbuat kesalahan. Janganlah kita berhenti merenung dan berdzikir selama kita bersuara keras agar kita tetap bisa mengendalikan kata-kata yang keluar dari lisan kita.

Bersambung…

Bentang di Antara Dua Hati (2)

Friday, June 23rd, 2006

Saudaraku,

Ada sebuah cerita lagi yang patut kita renungkan berkaitan dengan kemarahan. Cerita ini melibatkan Ali bin Husain r.a. dengan seorang budaknya.

Ketika Ali bin Husain r.a. berwudhu, budaknya menjatuhkan wadah air ke atas kepalanya. Takut kalau sudah menyakiti tuannya, budak itu menggumamkan ayat Al-Quran (Q.S. 3:134), ”…Orang-orang yang mengendalikan amarahnya,…” Ali berkata, ”Aku tahan marahku.” Budak itu melanjutkan, ”…Dan orang-orang yang memaafkan orang lain,…” Ali berkata, ”Aku maafkan kamu.” Sang budak menyelesaikan ayat itu, ”…Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” Ali berkata, ”Aku merdekakan kamu.”

Saudaraku,

Semua kemarahan berpangkal pada ketidaksesuaian antara nilai-nilai yang kita anut atau keinginan kita dengan realita yang terjadi. Ketidaksesuaian ini adalah keniscayaan yang bisa terjadi kapan saja sebagai bentuk dinamika kehidupan dunia di genggaman kehendak Allah Swt. Oleh karena itu, munculnya kemarahan pada hakikatnya bukanlah pertanda kehinaan, bukan pula sesuatu yang dilarang. Allah tidak menyatakan pada surat Ali Imran 134 dengan kalimat yang bermakna ”orang-orang yang tidak marah”, tetapi dengan kalimat yang bermakna ”orang-orang yang mengendalikan amarahnya”. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa yang harus kita lakukan adalah mengendalikan amarah tersebut, bukan semata-mata tidak boleh marah. Kemuliaan seseorang tidak dilihat dari jarangnya kemunculan amarah di hatinya, tetapi dari kemampuan ia mengendalikan amarah setiap kali ia datang. Pengendalian amarah ini selanjutnya menjadi wasilah bagi kita untuk mencapai derajat takwa sebagaimana yang telah Allah firmankan pada Ali Imran 133-134[1].

Saudaraku,

Mari kita renungkan kembali dua kisah di atas dalam kerangka ikhtiar pengendalian amarah.

Kemarahan bisa membentangkan jarak antara hati kita dengan hati orang-orang yang kita marahi. Hal ini ditandai dengan suara keras yang kita perdengarkan. Logikanya cukup sederhana, suara yang keras diperlukan untuk menyampaikan pesan kepada orang yang berada relatif jauh dari kita. Kalau ia berada dekat dengan kita, kita cukup bersuara pelan saja. Nah, dalam kondisi marah, suara keras membuat hati kita terasa jauh dari hati orang yang kita marahi meskipun secara fisik kita berdekatan dengannya. Semakin keras kita membentak, maka anehnya jarak yang membentang antara dua hati itu pun semakin lebar. Efek emosional dari bentangan jarak itu adalah rasa geram yang semakin membesar kepada objek kemarahan kita seiring detik demi detik yang kita lalui dalam kondisi marah.

Insya Allah kondisi yang terjadi adalah sebaliknya jika kita lebih memilih bersuara lembut saat kemarahan datang. Suara lembut ini dapat mendekatkan kembali dua hati yang bergerak menjauh saat dilanda banjir amarah. Pada akhirnya, kemarahan tersebut ditutup dengan pemaafan, keridhaan, dan rasa cinta. Dalam suasana tenang pun suara lembut ini menjadi lambang cinta. Lihat saja seorang suami yang sedang menyatakan cinta kepada istrinya. Suaranya begitu lembut, pelan, dan bahkan sampai tak terdengar. Kalaupun tak terdengar sang istri tetap dapat merasakan dan memahami curahan cinta itu, cukup dengan menatap mata sang suami. Dan begitu pula sebaliknya. Hal ini disebabkan hati mereka menjadi sangat dekat satu sama lain.

Saudaraku,

Sangat banyak contoh yang menggambarkan bagaimana kelembutan suara bagaikan air yang memadamkan api kemarahan dan berbuah kebahagiaan. Sumber contoh yang paling berharga tentunya adalah diri Rasulullah saw. Beliau adalah pribadi teladan yang paling mampu mengendalikan amarahnya sekaligus melahirkan efek positif dari pengendalian itu. Salah satu contoh dari Rasulullah saw adalah ketika seorang pemuka Quraisy bernama Abul Walid mendatangi Rasulullah saw untuk menentangnya. Setelah puas mencaci maki Rasulullah, apa reaksi Nabi kita ini? Membalas Abul Walid dengan bersuara keras? Tentu saja tidak. Beliau malah balik bertanya dengan tenang, ”Sudah selesaikah Abul Walid? Sekarang dengarkanlah dariku.” Rasulullah kemudian membacakan surat Fushshilat ayat 1 hingga 13 di hadapan Abul Walid. Pada saat itulah, Rasulullah menyentuh hati Abul Walid dengan hatinya yang saling berdekatan. Suara
lembut Rasulullah saw. bukan sekedar suara lembut, melainkan suara lembut yang
penuh hikmah karena berupa untaian ayat suci al-Quran.
Lantunan ayat suci al-Quran ini akhirnya menjadi jalan bagi hidayah Allah yang meluluhkan hati Abul Walid. Tak lama setelah itu, Abul Walid menyatakan beriman kepada seruan Rasulullah saw. Subhaanallah!

Bersambung…


[1] Pada mushhaf Al-Quran yang diterjemahkan Depag RI, “kaazhimiin” diartikan sebagai orang-orang yang menahan amarahnya. Dengan merujuk pada makna yang sama, penggunaan kata “mengendalikan” untuk mengganti kata “menahan” dimaksudkan untuk memberikan penekanan terhadap proses menyikapi kemarahan yang muncul. Mengendalikan amarah dimulai dengan menahan amarah kemudian dilanjutkan dengan penyikapan yang bijaksana terhadap kemarahan dan objek kemarahan itu. 

Bentang di Antara Dua Hati (1)

Friday, June 23rd, 2006

Anda pernah marah? Jika ya, coba ingat-ingat kembali momen-momen ketika Anda meluapkan kemarahan. Apakah ada perilaku umum yang sering berulang saat Anda marah? Apa kira-kira?

Hmm…semoga Anda sepakat dengan saya. Ketika kita sedang marah, maka perilaku umum yang sering kita tampilkan adalah bersuara keras, entah pada saat kita memaki-maki diri sendiri, membentak-bentak objek kemarahan kita, atau pada saat kita berteriak-teriak sambil merusak barang-barang di sekitar kita (melempar piring misalnya J). Bahkan, kalaupun pada saat marah Anda diam seribu bahasa, hati Anda sebenarnya juga berteriak-teriak meskipun tak terdengar oleh Anda sendiri dan orang lain. Teriakan suara hati ini menurut saya termasuk dalam kategori bersuara keras.

Nah, boleh jadi tidak banyak di antara kita yang pernah bertanya: mengapa saat marah kita bersuara keras, padahal orang-orang yang menjadi sasaran kemarahan kita berada tak jauh dari kita? Bukankah sebenarnya kita cukup bersuara dengan volume sedang atau pelan pada saat “menyampaikan”  kemarahan kita J, karena toh orang-orang yang kita marahi tidaklah budek?

Kalau kita perhatikan, pertanyaan-pertanyaan di atas seolah-olah tidak penting dan terkesan mengada-ada. Marah aja kok repot, pake dianalisis segala kenapa volume suara kita menjadi keras saat marah?, mungkin ini komentar kita saat disodori pertanyaan-pertanyaan tersebut. Nah, sebelum kita berkomentar lebih jauh, ada baiknya kita baca kisah sederhana berikut ini (kalau Anda sudah pernah membacanya, silakan dibaca lagi ya). Setelah membacanya, semoga kita tidak merasa membuang-buang waktu ketika merenungkan kembali pertanyaan-pertanyaan “konyol” di atas.

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya, "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab, "Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."

"Tapi…" sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satu pun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata, "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."

Sang guru masih melanjutkan, "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apa pun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?" Sang guru bertanya sambil

memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban. "Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Sang guru masih melanjutkan, "Ketika Anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata  merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu Anda."

Bersambung…

Setiap Detik Kita Bisa Membina Diri (3)

Thursday, June 8th, 2006

Nah, pada titik inilah kita harus cukup
dewasa untuk mengkritik diri kita sendiri. Sebagian (atau boleh jadi sebagian
besar) kita, sadar atau tidak sadar, masih membatasi pemahaman kita bahwa yang
disebut pembinaan di lingkungan organisasi dakwah adalah apa yang
diselenggarakan secara formal oleh divisi pembinaan organisasi tersebut. Dengan
kata lain, pembinaan menurut kita adalah proses orientasi anggota baru, usrah, ta’lim,
talaqqi, mabit anggota, dan yang sejenisnya. Jika demikian, sungguh kita telah
“mengecilkan” makna pembinaan untuk diri kita sendiri, manusia, makhluk dengan
kompleksitas yang luar biasa.

Pada tingkat pertama, kita seharusnya juga betul-betul menyadari bahwa aktivitas kita sebagai
mentor dan trainer, sebagai class leader
(CL), sebagai panitia kegiatan besar, sebagai perancang track rihlah, sebagai pengonsep perhelatan dakwah,  dan lain sebagainya adalah juga termasuk
aktivitas kecil dalam kerangka pembinaan pembina, pembinaan diri kita
.
Ingatlah, bahwa pembinaan tidak selalu identik dengan aktivitas menerima
sesuatu dari pemateri, tetapi ketika kita memberikan atau melakukan sesuatu
yang berharga, itu pun sejatinya adalah pembinaan diri. Ingat pula, bahwa
hikmah tidak hanya bisa kita raih di ruang-ruang kelas yang dihiasi slide projector dan musik penyemangat,
tetapi hikmah juga berada di balik setiap tetes keringat yang terjatuh saat
kita beraktivitas dalam ruang lingkup organisasi dakwah kita. 

Sahabat-sahabat, pada tingkat selanjutnya
dan inilah yang lebih sulit, kita
betul-betul menyadari bahwa SETIAP DETIK yang kita lewati adalah aktivitas
kecil dalam kerangka pembinaan diri kita
. Dengan demikian, makan bareng sahabat-sahabat, bercanda,
menghamparkan tikar untuk aktivitas pembinaan, rapat divisi, menyetel sound system, latihan teater, kecewa,
bahagia, menangis, lelah, menyewa ruangan, mencari dana, membuat proposal,
mandi, menyisir, berpakaian, kuliah, UTS, UAS, mengerjakan kuis mata kuliah,
praktikum, kuliah lapangan, mengerjakan Tugas Akhir, tergores duri saat rihlah,
basah kuyup di sungai saat rihlah, tidur, mendengarkan curhat adik binaan,
grogi saat mengisi materi, BAK & BAB, dan berjuta peristiwa kecil atau
besar lainnya yang terjadi setiap detik kita anggap sebagai bagian yang tak
terpisahkan dalam proses pembinaan diri dan lingkungan kita, yakni saat-saat
kita menemukan berjuta hikmah
. Jika demikian, Insya Allah kita tidak akan
pernah lagi mengeluh : kok pembinaannya
garing sih, jarang banget diadain, cuma sebulan sekali, monoton lagi.

Sebab, pembinaan tidak lagi kita anggap sebagai aktivitas yang terpusat pada
satu periode waktu tertentu. Sebab, kita telah menyadari bahwa kita
berkesempatan meraih hikmah dalam rangka membina diri di setiap detik yang kita
alami.

Sebagai “epilog”, saya ingin menyampaikan
sedikit tentang kaderisasi dan kaitannya dengan pembinaan. Kedua istilah ini
sering dipertukarkan satu sama lain untuk mengacu kepada satu maksud yang sama.
“Kaderisasi adalah pembinaan dan pembinaan adalah kaderisasi”, inilah kira-kira
pernyataan yang sering kita simpulkan. Namun demikian, apakah memang kaderisasi
sama dan sebangun dengan pembinaan? Menurut hemat saya, kaderisasi adalah
bentuk khusus dari pembinaan. Jika pembinaan diibaratkan sebagai sebuah
lingkaran besar, maka kaderisasi adalah salah satu lingkaran yang lebih kecil
dan berada di dalam lingkaran besar tersebut. Dengan demikian, kaderisasi
sebangun dengan pembinaan (karena sama-sama berbentuk lingkaran) tetapi tidak
sama (ukurannya) dengan pembinaan. Insya Allah, “epilog” ini menjadi awal dari
bahasan saya yang bertopik “Kaderisasi dan Pembinaan” pada kesempatan
selanjutnya. Sembari mempersiapkan bahasan tersebut, saya akan sangat
berterimakasih apabila Anda berkenan memberikan masukan tentang perbedaan
esensial antara kaderisasi dan pembinaan versi Anda sendiri.
:D

Wallahu a’lam…

Setiap Detik Kita Bisa Membina Diri (2)

Thursday, June 8th, 2006

Sahabat-sahabat, ada dua buah pertanyaan
menarik yang kemudian muncul ketika kita merenungkan lebih dalam lagi tentang
proses pembangunan rumah. Pertama, apakah
aktivitas menyusun batu bata, mengaduk semen, membuat pondasi secara
sendiri-sendiri bisa disebut sebagai aktivitas membangun rumah? Apa kira-kira
jawaban sahabat? Secara logis tentu saja tidak, bukan? Insya Allah lebih tepat
jika kita menganggap bahwa menyusun batu bata saja, mengaduk semen saja, dan
membuat pondasi saja hanyalah komponen aktivitas pembangunan rumah. Bukankah aktivitas
membangun rumah yang sesungguhnya adalah ketika komponen-komponen tersebut
diintegrasikan sedemikian rupa secara sistematis dan proporsional?

Sekarang mari kita adaptasi pertanyaan dan
jawaban di atas ke kondisi pembinaan di suatu organisasi dakwah. Pertanyaannya
menjadi : Apakah usrah, ta’lim, talaqqi,
Training For Trainer, tahsin, tahfizh, dan mentoring secara sendiri-sendiri
bisa disebut pembinaan?
Secara praktis, BISA, tetapi KURANG TEPAT jika
dilihat dari aspek esensialnya. Dari aspek esensinya, aktivitas-aktivitas kecil
itu hanyalah babak-babak pendek dari sebuah skenario besar pembinaan.
Aktivitas-aktivitas kecil tersebut bukanlah pembinaan yang sesungguhnya, tetapi
hanyalah kumpulan ikhtiar di dalam lingkup pembinaan. Pembinaan yang lebih hakiki dan yang lebih sejati adalah proses
mengintegrasikan segenap hikmah yang diraih melalui usrah, ta’lim, talaqqi,
Training For Trainer, tahsin, tahfizh, mentoring, dan beragam aktivitas kecil
lainnya untuk membentuk nilai-nilai positif dalam diri objek binaan sehingga
secara bertahap menjadikannya pribadi yang lebih baik pada aspek iman, ilmu,
dan amal
. Mungkin ada satu pertanyaan kecil yang mengusik setelah ini,
yaitu: apa itu hikmah dan mengapa hikmah yang harus diintegrasikan?

Hikmah menurut Ar-Raghib al-Isfahani dalam Mufradatu Alfazhil-Quran (sebagaimana
dikutip Yusuf Al-Qaradhawi) adalah mencapai kebenaran dengan ilmu dan akal.
Sementara itu menurut Iman al-Fakhrur Razi dalam tafsir Al-Kabir-nya (juga dikutip Al-Qaradhawi), hikmah adalah mencapai
kebenaran dalam ucapan dan tindakan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
hikmah itu adalah kebenaran/kebermanfaatan yang ditemukan setelah melalui
proses perenungan yang mendalam dan kemudian direalisasikan dalam tindakan.
Inilah sejatinya apa yang disebut hikmah. Kalau kita padankan dengan bahasa
kontemporer, maka hikmah adalah manfaat yang dipahami secara kognitif,
diekspresikan pada sisi afektif, dan mewarnai aspek psikomotorik seseorang.
Dengan demikian, hikmah bukanlah sesuatu yang sekedar diketahui dan membuat
kita menangis ketika merenungkannya, tetapi sudah sampai pada taraf mengubah perilaku
kita. Nah, perubahan perilaku inilah yang diharapkan dalam proses pembinaan.
Jika misalnya satu aktivitas kecil melahirkan satu hikmah, maka bagaimana
hebatnya jika kita mampu mengintegrasikan hikmah-hikmah dari banyak aktivitas
kecil yang kita ikuti? Kemudian, bagaimana seandainya setiap aktivitas kecil
menghadirkan seratus hikmah? Tentu saja efek pengintegrasiannya menjadi lebih
dahsyat lagi! Subhaanallaah!!!

Sahabat-sahabat, sekarang kita beralih ke
pertanyan kedua: menurut sahabat, mana yang lebih kompleks, bangunan rumah atau
diri manusia? Tentu saja kita semua sepakat bahwa diri manusia jauh lebih
kompleks dari bangunan rumah, meskipun secara fisik sebuah rumah biasanya jauh
lebih besar dari tubuh manusia. Kompleksitas manusia pun ternyata tidak hanya
pada dimensi fisik, tetapi juga pada aspek-aspek non fisik. Nah, misalnya dalam
suatu pembangunan rumah memerlukan 20 (dua puluh) aktivitas kecil. Lalu,
kira-kira berapa aktivitas kecil yang dibutuhkan dalam rangka membangun/membina
diri manusia (setelah kita sadar bahwa manusia jauh-jauh lebih kompleks dari
bangunan rumah)? Jawabannya adalah: TIDAK TERHINGGA. Kalau demikian, masihkah
kita menganggap aktivitas-aktivitas kecil seperti usrah, ta’lim, talaqqi dan
sebagainya sebagai sesuatu yang mencukupi nutrisi pembinaan diri kita? Kalau
dihitung-hitung, aktivitas kecil yang dilaksanakan secara formal dalam proses
pembinaan di suatu organisasi mungkin tidak lebih dari 10 (sepuluh) buah.
Padahal kita membutuhkan aktivitas kecil yang tak berhingga jumlahnya untuk
membangun diri ini. Lalu, bagaimana dong
cara memenuhinya?

Bersambung…

Setiap Detik Kita Bisa Membina Diri (1)

Thursday, June 8th, 2006

Berbicara tentang pembinaan di lingkungan organisasi
dakwah atau bahkan dimanapun adalah seperti mengambil air dari lautan. Ketika
pun kita mengambil air itu berulang kali, air laut itu seakan tidak berkurang
volumenya. Begitu pula saat kita berdiskusi tentang pembinaan yang seakan-akan
tidak ada habis-habisnya. Diskusi tersebut terus berkembang, seringkali sarat
dengan wacana yang beragam tentang makna pembinaan itu sendiri, dan sepertinya
sampai kapan pun bisa menjadi bahan diskusi yang menarik (iya gituh?
J). Meskipun demikian, kita tentunya sepakat bahwa yang lebih
penting adalah bagaimana kita melaksanakan pembinaan itu dan bagaimana setiap
aktivitas pembinaan dapat memberi manfaat yang sebesar-besarnya untuk kita. Nah,
pada rubrik ini, kita akan coba menyoroti pembinaan dari sebuah sudut pandang
yang mudah-mudahan bisa menjadi bahan renungan sahabat-sahabat semua. Selamat
membaca. 

Apa sih “pembinaan” itu?

Kata
“pembinaan” berasal dari kata dasar “bina” yang ternyata berasal dari bahasa
Arab. Kata “bina” merupakan serapan dari kosakata Arab “binaa-an” yang
merupakan bentuk mashdar (kata benda yang berasal dari kata kerja -red) kata
“banaa-a – yabna-u”. “bana-a – yabna-u” masing-masing adalah fi’il madhi dan
fi’il mudhari’ yang berarti “membangun”. Jadi, “membina” atau “pembinaan” dapat
diselaraskan dengan “membangun” atau “pembangunan”. Membina diri berarti
membangun diri dan membina adik berarti membangun adik.

Apa
yang pertama kali kita pikirkan ketika mendengar kata “membangun”? Setidaknya,
kita akan membayangkan ada banyak komponen (kecil) yang kemudian akan
digabungkan sedemikian rupa sehingga membentuk sesuatu yang lebih besar, lebih
indah, dan tentunya lebih bermakna. Misalnya, kita mengambil contoh aktivitas
membangun rumah. Apa dan siapa saja yang terlibat dalam pembangunan rumah? Pertama,
pasti ada bahan-bahan bangunan seperti batu pondasi, kayu, pasir, semen, dan
batu bata. Kedua, tentu juga ada alat-alat pertukangan untuk mengolah
bahan-bahan bangunan tadi, seperti paku, palu, gergaji, pengaduk semen dan
pasir, dan masih banyak lagi. Ketiga, tukang-tukang bangunan yang akan bekerja
siang malam untuk membangun rumah tersebut di bawah pengawasan seorang mandor.
Nah, kita sudah mengurai tiga kelompok komponen besar dalam pembangunan rumah.
Kira-kira masih ada lagi ga’ ya? Ya,
masih ada. Rumah tersebut tentunya tidak akan dibangun seenak perut tukang
bangunan atau perutnya Pak Mandor, tetapi terlebih dahulu ada orang yang merancang arsitektur rumah tersebut sehingga
sesuai dengan keinginan sang calon
pemilik rumah. Semua aktivitas pembangunan rumah dilakukan berdasarkan
rancangan tersebut agar rumah itu dapat difungsikan dengan sebagaimana
mestinya.

Memahami “pembinaan” dari sisi yang lain

Insya
Allah, aktivitas membangun rumah dapat dijadikan analogi untuk memahami proses
pembinaan dari sisi yang lain. Kalau kita perhatikan aktivitas membangun rumah,
maka kita akan mengetahui bahwa terdapat sekian jenis kegiatan spesifik yang
saling terkait (seperti mengaduk semen dengan pasir, menyusun batu-bata,
mengergaji kayu, dll) dan semuanya berorientasi pada perubahan ke arah yang
lebih positif. Setiap jenis kegiatan spesifik tersebut mengandung dimensi
perubahan tetapi masing-masing masih dalam skala kecil. Sebagai contoh,
mengaduk semen dengan pasir dan air akan menghasilkan campuran yang berguna
untuk menyusun batu-bata. Perubahan yang terjadi hanya sampai di situ. Mustahil
banget, kalau hanya dengan mengaduk semen tiba-tiba bangunan rumahnya langsung
jadi. Bangunan rumah hanya akan
terbentuk dengan sempurna jika dan hanya jika semua perubahan kecil yang
terjadi diintegasikan untuk menghasilkan perubahan yang sesungguhnya
(yang
tadinya hanya lahan kosong menjadi lahan yang di atasnya berdiri sebuah rumah).
 

Begitulah pula pembinaan. Di dalamnya terdapat banyak
sekali aktivitas kecil yang semuanya dimaksudkan untuk mengubah objek binaan
dari satu kondisi ke kondisi lain yang lebih baik. Keberartian pembinaan tidak
akan optimal ketika kita berhenti pada perubahan-perubahan skala kecil, tetapi
justru ketika kita mampu mengintegrasikan perubahan-perubahan kecil tersebut
sehingga menghasilkan perubahan yang jauh lebih besar. Nah, kalau di organisasi
dakwah misalnya, aktivitas-aktivitas
kecil yang sudah kita kenal dan selalu kita kaitkan dengan proses pembinaan
antara lain adalah usrah, ta’lim, talaqqi, Training For Trainer, tahsin,
tahfizh, mentoring dan lain-lain
.

Bersambung…

Bumi Terbelah Cinta-Mu

Saturday, June 3rd, 2006

Sungguh pedih…
Saat retak-retak menjalar di atas bumi-Mu
Padahal kaki kami bertahan lemah di atasnya
Padahal tubuh kami masih bersandar
Padahal baru saja penat berlalu darinya
Ketika mentari masih di ufuk timur
Pagi itu menjadi air mata

Nurani kami menjerit
Siapa lagi yang mampu menghentikan
Siapa lagi yang mampu menahan
Siapa lagi yang mampu mendiamkan
Kami tak melihat satupun yang sanggup
Kami tak mendengar seorangpun berkata
"Sebentar lagi semuanya kan reda"

Kami adalah rakyat negara
Kami adalah petani dan pengusaha
Kami adalah guru dan pegawai
Kami adalah siswa dan mahasiswa
Kami adalah pejabat dan tentara
Yang tak lepas dari dosa
Tetapi kami merasakan hal yang sama
Saat itu..

Hanya satu yang sanggup
Yang kami sebut-sebut saat berhamburan
Kami berlari dan berteriak…Allaahu Akbar!!!
Yang kami harap saat terjepit
Kami meringis dan merajuk…..Allaahu Akbar!!!
Yang kami rindukan saat lebam dan terluka
Kami mengaduh dan merintih….Allahu Akbar!!!
Yang kami pintakan ampunan saat sadar kami
tengah diuji
Kami berdoa lirih…Astaghfirullah…

Mungkin sulit bagi kami untuk memahami
Bahwa bumi ini terbelah karena Cinta-Mu
Dengan Cinta Engkau Menguji
Sanggupkah kami bertahan dalam kesabaran
Sanggupkan kami bertahan dalam iman
Sanggupkah kami untuk berbenah diri
Sanggupkah kami untuk kembali…

Tetapi setidaknya kami sangatlah yakin
Bahwa bumi ini tak mungkin bergetar sendiri
Tangan-Mu lah yang menggerakkan
Meski tak pernah kami lihat
Perintah-Mu lah yang menjadikan
Meski tak pernah kami dengar

Jika Engkau masih memberikan kesempatan
Bagi kami untuk menghitung diri
Semakin mendekat pada-Mu
Semakin yakin akan Keagungan-Mu
Maka atas izin dan kehendak-Mu
Ini adalah ujian-Mu

Bukankah guru begitu cinta kepada muridnya
Saat ia mampu menjawab dengan benar soal-soal
tersulit
Maka bagaimanakah luar biasa Cinta-Mu
Saat makhluk-Mu lulus dalam ujian kehidupan
Bukankah murid begitu berharap agar guru
mengajarnya dengan baik
Hingga ia mampu berprestasi dalam belajar
Maka bagaimana mungkin kami tak mengharap
petunjuk dan kasih-Mu
Hingga kami mampu melewati semua ini
Dengan iman, kesabaran, dan kesungguhan

Kami masih ingin bermimpi
Kami masih ingin bersama untuk merajutnya
Menjadi keindahan masa depan
Menjadi kebahagiaan yang sempurna

Kami tak ingin roboh tanpa daya
Kami tak ingin hancur tanpa sisa
Kami tak ingin patah begitu saja…