Archive for July, 2006

The Ultimate Meaning di Balik Idealisme Mahasiswa (3)

Monday, July 24th, 2006

Saudaraku,
Komunikasi
efektif seyogyanya tidak sekedar identik dengan “komunikan menangkap, memahami
dan melaksanakan pesan komunikator dengan baik dan benar”. Namun, komunikasi
lah yang seharusnya juga menjadi cahaya pengetahuan
sehingga komunikan dan komunikator  memahami bahwa “ini” baik dan benar serta
“itu” tidak baik dan tidak benar
. Komunikasi lah yang seharusnya juga melahirkan
motivasi sehingga komunikan dan komunikator
mau dan mampu mengerahkan kontribusi
terbaik kapan dan dimana pun
. Komunikasi lah yang seharusnya juga menghadirkan
empati sehingga komunikan dan
komunikator semakin bijak menempatkan
diri dalam suasana diri  dan memahami
kondisi satu sama lain
. Komunikasi lah yang seharusnya juga meluruskan persepsi sehingga komunikan dan
komunikator yakin bahwa apa yang mereka
pikirkan tentang berbagai hal di lingkup organisasi itu sesuai dengan kondisi
sebenarnya
. Komunikasi lah yang seharusnya juga menjadi sarana muhasabah jama’i karena dengan itu komunikan dan komunikator saling mengingatkan dan menasehati. Hal-hal
inilah yang saya namakan sebagai “efek-efek tersirat” yang seharusnya hadir
dalam proses komunikasi. 

Salah satu
hambatan dalam meraih “efek-efek tersirat” dalam komunikasi adalah kebiasaan
memendam berbagai hal yang seharusnya dikomunikasikan. Terlepas dari
karakter kita masing-masing, sikap “memendam” masalah-masalah yang signifikan
dalam lingkup sistem organisasi bukanlah sesuatu hal yang tepat untuk dipilih.
Oleh sebab itu, kita harus pandai-pandai memilah dan memilih mana masalah
pribadi dan mana masalah yang menyangkut sistem organisasi. Masalah pribadi
bisa kita pendam atau kita curhat-kan
kepada orang lain. Namun, masalah yang menyangkut sistem organisasi, tidak bisa
tidak, harus kita komunikasikan.

Saudaraku,
Kalau Anda
perhatikan, sebenarnya bukanlah
komunikasi  yang bisa menyelesaikan
segenap masalah keorganisasian. Namun, komunikasi
lah yang menghasilkan pengetahuan yang dibutuhkan, motivasi terbaik, empati
yang diharapkan, persepsi yang lurus, dan semangat perbaikan diri dan
organisasi yang senantiasa mantap
. Hal-hal inilah sebagai entitas penting
yang memudahkan kita dalam menyelesaikan segenap masalah. Dengan demikian pula,
insya Allah komunikasi tidak hanya berperan sebagai proses penyampaian pesan
belaka, tetapi menjadi washilah pula untuk
mendapatkan mutiara hikmah yang luar biasa banyaknya. Kita bisa belajar banyak
hal, bahkan hanya dari satu sesi komunikasi saja. Wallaahu a’lam.

The Ultimate Meaning di Balik Idealisme Mahasiswa (2)

Monday, July 24th, 2006

Semakin
kita terbiasa meresapi hikmah-hikmah non-akademik, maka kita seharusnya
terbiasa pula untuk mengekplorasi hikmah baru yang berhubungan dengan suatu
mata kuliah meski tidak dijelaskan secara eksplisit saat kuliah tersebut
berlangsung. Pada gilirannya, kita memiliki peluang besar untuk memaknai kuliah
kita dari berbagai sudut pandang, bukan sekedar memiliki kesempatan untuk
meraih nilai A.  

Akumulasi
dari hikmah yang kita dapatkan, baik dalam kegiatan akademik maupun ekskul,
adalah informasi yang sangat penting bagi kita untuk merumuskan the ultimate meaning. Apa yang kita
lakukan saat merumuskan the ultimate
meaning
adalah mengkombinasikan berbagai hikmah yang telah kita dapatkan
sehingga kita mampu menyimpulkan “redaksi” the ultimate meaning kita
sendiri.

Satu Mutiara di Perjalanan Menuju The Ultimate Meaning

Saudaraku,
Perjalanan
yang kita tempuh dalam usaha penemuan the
ultimate meaning
bagaikan sumber mutiara yang terus memancarkan kilaunya.
Di setiap kilometer yang kita tempuh, akan ada saja hasil perenungan yang
begitu dalam (minimal bagi diri kita sendiri) dari sesuatu yang kita anggap
sepele, biasa, atau kurang penting.  Sehubungan
dengan itu, saya ingin berbagi kepada Anda mengenai satu dari sekian banyak
“mutiara” di perjalanan. Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan “mutiara”
yang saya temukan di dasar samudera
“Komunikasi”.  

Komunikasi
adalah aspek yang sangat penting dalam organisasi apa pun, dimana pun dan kapan
pun. Di organisasi yang saya ikuti semasa kuliah (mungkin juga di kebanyakan
organisasi), masalah pada aspek ini seringkali menjadi sebab inefektivitas atau
inefisiensi aktivitas organisasi. Kita seringkali “menyalahkan” aspek yang satu
ini apabila terjadi sekian banyak masalah teknis di lapangan.

Idealnya,
komunikasi yang efektif menjadi pangkal pemecahan berbagai masalah organisasi.
Karena sedemikian pentingnya, materi “komunikasi efektif” menjadi materi dasar
yang wajib dipelajari dan diaplikasikan oleh semua pengurus organisasi. Pada
intinya, setiap pengurus harus memiliki kemampuan untuk menyampaikan informasi
kepada komunikan sedemikian sehingga komunikan itu menangkap informasi dengan
baik, memahaminya, dan meresponnya secara relevan berdasarkan isi informasi dan
maksud penyampaiannya.  

“Komunikasi
efektif” memang menjadi materi dasar bagi setiap pengurus organisasi dan
biasanya diberikan pada awal kiprah si pengurus. Namun ironisnya, kita sebagai
para pengurus organisasi seringkali lengah dalam aspek ini sehingga komunikasi justru
menjadi tidak efektif dan berbagai masalah pun bermunculan. Mengapa demikian?
Hmm…boleh jadi kita belum meraih “efek-efek tersirat” dalam suatu proses
komunikasi!

The Ultimate Meaning di Balik Idealisme Mahasiswa (1)

Monday, July 24th, 2006

Waktu yang
Anda miliki selama menjadi mahasiswa terlalu berharga untuk dilewati “hanya”
dengan rajin kuliah. Beraktivitas di wilayah ekstrakurikuler (ekskul) adalah
pilihan bijak untuk mendampingi aktivitas kuliah di kampus agar keberhargaan
masa kuliah bisa kita raih secara optimal. Dimana sebenarnya letak keberhargaan
masa kuliah kita? Boleh jadi banyak yang menjawab bahwa letaknya ada pada prestasi akademik yang cemerlang, aktualisasi diri yang optimal, pergaulan yang bertambah luas, kemampuan mencari pekerjaan yang baik
setelah lulus
, wawasan yang bertambah,
pengalaman organisasi yang banyak, popularitas sebagai aktivis, dan masih
banyak alasan lain yang menjadi jawaban.

Menurut
saya, sayang sekali kalau kita kuliah dan ber-ekskul ria hanya untuk memenuhi
jawaban-jawaban di atas. Sebab, semua hal duniawi itu pada umumnya memenuhi
hukum kausalitas. Artinya, sebagian besar atau semuanya insya Allah bakal kita
dapatkan seiring perjalanan waktu yang kita tempuh secara bersungguh-sungguh di
setiap kegiatan akademik dan ekskul. Kita jangan berhenti pada hal-hal tersebut
saja. Kita harus mencari sesuatu yang lebih hakiki dan lebih berarti dari semua
itu. Meminjam istilah Ary Ginanjar Agustian, menurut saya kita harus menemukan the ultimate meaning (makna tertinggi)
yang menembus batas-batas duniawi, sebagai puncak keberhargaan masa kuliah
kita. Penemuan the ultimate meaning
di masa kuliah merupakan satu episode pendek dari serangkaian episode panjang
penemuan the ultimate meaning dari
hidup kita. 

Penemuan the ultimate meaning bagi seorang
mahasiswa adalah wujud kesadaran spiritualnya bahwa masa kuliah adalah masa
peletakan nilai-nilai kemanusiaan tingkat lanjut yang akan menjadi pondasi
kehidupannya di kala dewasa, bukan sekedar rentang waktu untuk mencari nilai
akademik terbaik dan memperpanjang Curriculum Vitae dengan sederet pengalaman
kegiatan dan prestasi ekskul. Ketika “pondasi” tersebut tidak kuat atau salah
susun, maka kehidupan masa dewasanya pun terancam goyah.

The ultimate meaning secara
umum berpangkal pada kebutuhan primordial semua manusia, yakni keharmonisan
antara tujuan penciptaan kita oleh Sang Khalik dengan aktivitas kita sebagai makhluk.
Parameter abstrak yang menunjukkan keharmonisan itu adalah Ridha Allah.
Selanjutnya, konsepsi Ridha Allah bisa kita turunkan sesuai dengan kapasitas
kita. Apabila kita sebagai mahasiswa, maka sedapat mungkin kita arahkan seluruh
aktivitas akademik dan ekskul kita agar Allah berkenan meridhai kita.  

Aktivitas akademik adalah yang
utama bagi kita dan aktivitas ekskul kita niatkan untuk mengakselerasi penemuan
the ultimate meaning
.
Setiap kita memiliki hak untuk mendefinisikan the ultimate meaning masing-masing asal tetap berpangkal pada
kebutuhan primordial tadi.

Saya memandang aktivitas
ekskul sebagai proses untuk mengakselerasi penemuan the ultimate meaning; mengapa demikian? Ya, karena setiap fragmen
kehidupan yang kita lalui selama beraktivitas non-akademik ini penuh dengan
sentuhan-sentuhan emosional dalam lingkup hubungan antar manusia dan hubungan
manusia dengan realitas kehidupan. Sentuhan-sentuhan ini secara langsung atau
tidak langsung memotivasi kita untuk meresapi beragam hikmah yang sangat sulit
kita temui di ruang-ruang kuliah, padahal hikmah-hikmah itu sangat kita
butuhkan untuk menempa kedewasaan kita. Perenungan hikmah-hikmah itulah yang
mengaktifkan kesadaran spiritual kita. Nah, kenyataan ini juga berimplikasi
terhadap proses kuliah yang kita jalani.
 

Ruang-Ruang Kehidupan

Wednesday, July 19th, 2006

Saya menemukan sebuah artikel bagus tentang
“Manajemen Waktu” di komputer kantor saya. Saya modifikasi sedikit di beberapa
bagian dan kini saya sajikan untuk Anda.

Suatu hari seorang ahli manajemen waktu berbicara
di depan sekelompok mahasiswa bisnis. Ia tidak berceramah panjang lebar tentang
manajemen waktu, tetapi ia memilih untuk menunjukkan sebuah ilustrasi
sederhana. Ilustrasi itu begitu luar biasa sehingga tidak akan dengan mudah
dilupakan para siswanya.

Ketika dia berdiri di hadapan siswanya dia berkata,
“Baiklah, sekarang waktunya kuis.” Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran
satu galon yg bermulut cukup lebar dan meletakkannya di atas meja. Lalu ia juga
mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan
dengan hati-hati batu-batu itu ke dalam toples. 

Ketika batu-batu itu memenuhi toples sampai ke
ujung atas dan tidak ada batu lagi yang bisa masuk ke dalamnya, dia bertanya,
“Apakah toples ini sudah penuh?” Semua siswanya serentak menjawab, “Sudah.”

Kemudian dia berkata, ” Benarkah? Dia lalu meraih
dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke
dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu
mendapat tempat di antara celah-celah batu. 

Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi,
“Apakah toples ini sudah penuh?”

Kali ini para siswanya hanya tertegun, “Mungkin
belum", salah satu dari siswanya menjawab. 

“Bagus!” jawabnya.

Sang ahli kembali meraih ke bawah meja dan
mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples,
dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong di antara
kerikil dan bebatuan. 

Sekali lagi dia bertanya, “Apakah toples ini sudah
penuh?”

“Belum!” serentak para siswanya menjawab 

Sekali lagi dia berkata, “Bagus!”

Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan
air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas. 

Lalu sang ahli manajemen waktu ini memandang para
siswanya dan bertanya, “Apakah maksud dari ilustrasi ini?” Seorang siswanya yang
antusias langsung menjawab, “Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu
berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain ke dalamnya”

“Bukan", jawab sang ahli, “Bukan itu
maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa : Kalau kamu tidak
meletakkan batu besar itu sebagai yang pertama, kamu tidak akan pernah bisa
memasukkannya ke dalam toples sama sekali. Apakah “batu-batu besar” dalam
hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi,
persahabatanmu, pendidikanmu, mimpi-mimpimu, dan hal-hal lain yang kamu anggap
paling berharga dalam hidupmu. Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar
ini sebagai yang pertama atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk
melakukannya. Jika kamu mendahulukan hal-hal kecil (“kerikil” dan “pasir”)
dalam waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal kecil; kamu
tidak akan punya waktu berharga yg kamu butuhkan untuk melakukan hal-hal besar
dan penting dalam hidupmu.” 

Saudaraku, sudahkah kita mengetahui “batu-batu
besar”, “kerikil”, “pasir”, dan “air” yang akan mengisi ruang-ruang kehidupan
kita? Sudahkah kita mendahulukan “batu-batu besar” dan mengakhirkan “air” untuk
mengisi ruang-ruang itu? Semoga kita bisa segera menjawabnya dengan tegas: YA!

Wallahu a’lam…

Qurratu A’yun

Tuesday, July 18th, 2006

Seperti Musa alaihissalaam
Yang bertelekan di dalam keranjang kecil
Terbawa tenangnya Nil mengalir
Hingga tergapai permaisuri Fir’aun
“Inilah bayi kecil, penenang hatiku dan hatimu”
“Jangan kau sakiti dia”
“Alangkah bahagianya bila ia menjadi permata kita” 

Begitulah jua dirimu
Penenang hati, penyejuk mata hatiku
Itulah doa yang selalu kupanjatkan
Kepada-Mu

Kecantikanmu bercahaya
Dari hatimu yang berakhlak mulia
Kesempurnaanmu terpancar
Dari keikhlasanmu memandang anugerah-Nya
Di setiap sudut jiwa dan ragamu, jiwa dan ragaku
Kasih sayangmu terwujud indah
Dengan belai tangan yang mengusap perlahan
Kening-kening kecil yang lugu, tertawa ceria, di antara kita
Kehormatanmu membuatku terpana
Saat kau jaga kami selembut senyumanmu
Dan ku merunduk bersyukur

Wahai penyejuk mata, sebaik-baik perhiasan dunia
Penghambaanmu membuatku bangkit
Bersama saling menguatkan, saling mengingatkan
Membawa permata hati, penyejuk hati kita
Meniti jalan yang panjang
Ke satu tujuan…

***

Kupersembahkan terutama untuk sahabatku di Karisma ITB dan Alumni IC yang kan segera mengakhiri masa lajangnya :)

Saat Gundah Berdiam di Hati (2)

Saturday, July 15th, 2006

Taqarrub dan Yakin kepada
Allah Swt
 

Cukup banyak ayat alQuran yang
menyatakan bagaimana Allah menghilangkan kesedihan dan ketakutan dari dada
manusia. Kita lah yang mengendarai mobil ikhtiar kita ketika mobil-mobil lain
melintas dan menghalangi pandangan kita, tetapi hanya Allah yang bisa memberikan kekuatan kepada kita untuk
menyalip mobil2 itu. Inilah cara pertama dan utama untuk meraih ketenangan.
Kita berusaha untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan amalan-amalan harian
kita baik yang mahdhah maupun ghairu mahdhah. Kita pun sering membaca di
alQuran bahwa Allah pasti memberikan kemudahan saat kita bersungguh-sungguh,
bahwa Allah tidak pernah menzhalimi kita, dll. Beberapa ayat yang bisa kita
renungkan lagi adalah al-Lail, al-Insyirah, al-Fath, dll. Quraish Shihab
memaparkan tafsir yang sangat menarik tentang ayat ke-5 dan 6 dari

surat


al-Insyirah. Pada kedua ayat ini terdapat pengulangan kata "al-’usr"
yang bermakna "kesulitan" dan "yusraa" yang bermakna
"kemudahan". Kata "al-’usr" yang berbentuk isim
ma’rifah
dalam kaidah bahasa Arab menunjukkan bahwa isim tersebut menunjuk
kepada satu objek yang sama meskipun penyebutannya diulang, sedangkan "yusraa" yang disebut dua kali menunjuk pada dua objek
yang berbeda meski sifatnya sama. Dengan demikian berdasarkan tafsiran ini,
satu kesulitan insya Allah akan dibarengi oleh dua kemudahan. Subhaanallah!

Kadar taqarrub kita boleh jadi
turun-naik sebagaimana iman yang juga turun-naik. Namun, bukan ini inti
masalahnya. Yang menjadi masalah (dan semoga kita terhindar darinya) adalah
ketika kita membiarkan kadar itu terus turun sehingga mobil kita semakin
melambat dan akhirnya berhenti, tak mampu untuk melaju lagi. Naudzubillah min
dzaalik

Ketika kita menganggap masalah yang
kita hadapi begitu berat sehingga kita menjadi sangat khawatir, maka
lepaskanlah dengan menangis semampu kita saat kita bermunajat atau saat kita
membaca ayat-ayat-Nya. Mari kita benar-benar memosisikan diri sebagai makhluk
yang tidak punya daya apa-apa; makhluk yang berada di dalam genggaman-Nya.
Janganlah ditahan beban yang memberatkan itu. Insya Allah setelah itu kita akan
lebih tenang dan semakin yakin bahwa Laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa

Insya Allah usaha kita untuk mendekat
kepada-Nya dalam bentuk amal shalih akan membuat kita semakin yakin bahwa Allah
akan memberikan segala sesuatu yang tepat dan terbaik.
 

Pemahaman 

Mari kita terus membiasakan diri untuk
bertafakur, merenungi mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan; mengapa
kita berikhtiar, mengapa kita berdoa, dan mengapa kita bertawakkal. Tentu kita
akan sangat sulit memahami (bukan berarti kita tidak cerdas untuk memahami
dengan akal pikiran kita, tetapi lebih kepada kemampuan menerima dan
menjalankan dengan ikhlas apa yang Allah gariskan untuk kita) mengapa kita
harus berikhtiar, berdoa, dan bertawakkal jika kita tidak berusaha mendekat
pada-Nya.

Selain dari alQuran dan asSunnah, kita
perlu juga membaca referensi lain mengenai hakikat ikhtiar, doa, tawakkal, dan
hakikat berbagai hal yang kita cari di dunia ini melalui literatur-literatur
terutama yang berkaitan dengan tazkiyatun nafs dan pengelolaan hati. Insya
Allah jika demikian kita bisa semakin memahami esensi dari apa yang kita
lakukan sehingga diri kita semakin kuat dalam kesabaran dan keistiqamahan.
 

Sabar dan Istiqamah 

Ikhtiar, doa, dan tawakkal adalah
rangkaian proses yang boleh jadi tidak sebentar alias membutuhkan waktu lama.
Karena itu, kesabaran dan keistiqamahanlah yang membuat kita tetap berada dalam
lingkaran proses tersebut. Menurut hemat saya, kesabaran dan keistiqamahan yang
sejati tidak akan hadir kita apabila kita berikthiar, berdoa, dan bertawakkal
hanya untuk "membujuk" Allah agar memenuhi keinginan kita semata,
padahal kita tidak tahu apakah memang keinginan itu baik buat kita. Mari kita
terus berusaha agar sandaran utama dari segenap ikhtiar, doa, dan tawakkal kita
adalah keridhaan Allah. Jika demikian, insya Allah kita akan memiliki tingkat
kesabaran dan keistiqamahan yang semakin hari semakin kuat dalam menjalankan
proses tersebut. Jika kesabaran dan keistiqamahan sudah menjadi bekal kita,
maka dapat dipastikan kita akan mengerahkan ikhtiar terbaik, bukan ikhtiar yang
setengah-setengah; doa terbaik yang diiringi harap dan cemas, bukan doa yang
penuh keraguan dan prasangka buruk; tawakkal terbaik, bukan kepasrahan yang
lebih merupakan wujud keputusasaan…

Saudaraku,
Sebenarnya tidak semua bentuk
kekhawatiran itu berdampak negatif dan kontraproduktif. Kita diperintahkan
untuk bertakwa yang salah satu implikasinya adalah takut/khawatir terhadap azab
Allah (lihat Al-Ma’aarij). Inilah kekhawatiran yang tidak boleh hilang dari
dada kita, tetapi jangan sampai membuat kita putus asa. Inilah kekhawatiran
yang positif karena membuat kita terus berusaha mawas diri. Cara menyikapinya
pada dasarnya tetap merujuk pada siklus yang telah dijelaskan di atas.

Saudaraku,
Teriring doa untuk diri ini yang fakir
dan Anda semua, semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa sabar dan
istiqamah dalam menjalani dinamika hidup dengan ikhtiar, doa, dan tawakkal
kepada-Nya.

Wallahu a’lam…

Saat Gundah Berdiam di Hati (1)

Saturday, July 15th, 2006

Pernahkah Anda merasa gundah gulana
atau khawatir? Saya yakin kita semua pernah merasa khawatir meski intensitas
dan frekuensi kekhawatiran berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.
Jenis kekhawatiran itu pun bermacam-macam, mulai dari kekhawatiran yang
berorientasi pada diri sendiri (khawatir gagal dalam UTS/UAS/SPMB, khawatir
terjatuh, khawatir kalah, dsb) sampai kepada kekhawatiran yang berorientasi
pada orang lain/lingkungan (khawatir mengecewakan orang lain, khawatir akan
keselamatan orang lain, dsb). Apapun, kapanpun, dan dimanapun kita berada saat
kekhawatiran itu muncul dari dalam hati kita, maka seyogyanya kita berikhtiar
untuk menyikapinya secara tepat dan mencegah diri kita agar tidak terhanyut ke
dalamnya. 

Saudaraku,
Sebenarnya cara untuk menyikapi
kekhawatiran itu terangkai dalam kata-kata yang cukup sederhana, tetapi memang
terkadang berat dan butuh kesabaran serta keistiqamahan dalam menjalankannya.
Kata-kata itu adalah "ikhtiar, doa, dan tawakkal". Saya yakin
sebagian besar dari kita memahami kata-kata ini. 

Ikhtiar, doa dan tawakkal adalah
beberapa entitas yang memang sudah menjadi kewajiban kita sehari-hari.
Kekhawatiran yang kontraproduktif akan muncul ketika kita tidak sabar dan
istiqamah dalam berproses melalui ketiga entitas tersebut. Kita tidak akan
sabar dan istiqamah, kecuali kita terus berusaha untuk memahami: mengapa kita
harus ikhtiar, mengapa kita berdoa, dan mengapa kita bertawakkal. Pemahaman
terhadap ketiga entitis ini akan melemah, kecuali kita terus mendekatkan diri
kepada Allah dan yakin bahwa Allah pasti memberikan yang terbaik untuk semua
makhluk-Nya. Insya Allah apabila kita sabar dan istiqamah maka Allah akan
memberikan petunjuk dan kemudahan sehingga kita semakin dekat dan yakin terhadap
kemahakuasaan-Nya. Hubungan2 ini pada akhirnya membentuk sebuah siklus yang
harus terus berputar:

Taq_2




Hikmah pertama yang bisa diambil dari
bentuk siklus di atas adalah bahwa proses untuk menghilangkan kekhawatiran
harus terus berlangsung dan berputar, tidak boleh berhenti. Sebab, siapapun
pasti pernah dan akan mengalami kekhawatiran. Selesai kekhawatiran pertama,
maka boleh jadi akan datang kekhawatiran kedua, dan begitulah seterusnya. Oleh
karena kekhawatiran itu datang silih berganti, maka kita harus terus berproses
menghilangkan kekhawatiran itu. Ketika kita berhenti berproses/menghentikan
siklus di atas, maka kekhawatiran itu terus menumpuk dan akhirnya menenggelamkan
kita. 

Saya ingin menawarkan sebuah analogi
terhadap "kekhawatiran". Pada saat kita merasa khawatir, menurut saya
kita berada di sebuah mobil yang melintasi sebuah jalan yang panjang dan lebar.
Kita melihat ujung jalan itu berakhir di batas cakrawala. Kita tidak tahu apa
yang ada di batas cakrawala itu karena jarak pandang kita terbatas. Nah, pada
saat itu banyak mobil lain yang melintas ke depan mobil kita dan akhirnya
menghalangi pandangan kita dari batas cakrawala tersebut.

"Jalan yang panjang dan
lebar" adalah ibarat kehidupan kita yang penuh dengan pilihan dan
kesempatan. "Batas cakrawala" itu adalah perumpamaan dari keputusan
Allah yang cepat atau lambat akan kita capai dengan "mobil" ikhtiar
kita. Kita tidak tahu apa keputusan yang Allah tetapkan untuk kita seperti
halnya kita tidak tahu ada apa di ujung jalan itu. Namun, kita sebenarnya yakin
bahwa kita akan mencapai batas cakrawala itu, apa pun yang kita temui nantinya.
Nah, "mobil-mobil lain yang melintas ke depan kita" adalah
perumpamaan sebab-sebab yang bisa membuat kita khawatir. Kehadiran mobil-mobil
itu tidak bisa kita kendalikan sebagaimana banyak hal dalam hidup ini yang
terjadi tanpa bisa kita kendalikan lalu membuat kita sedemikian khawatir.
Mobilmobil itu lantas menghalangi pandangan kita dari batas cakrawala atau
dengan kata lain boleh jadi membuat kita tidak yakin bahwa kita sebenarnya akan
tetap sampai pada keputusan terbaik dari Allah. Saat itu, kita boleh jadi
melambatkan laju mobil kita, lalu memencet klakson berulang kali sembari
berteriak kesal karena merasa dihalangi. Hmm…mengapa kita tidak
"menyalip" mobil itu sehingga kita bisa melihat kembali batas
cakrawala itu?

Saudaraku, mari kita kaji sedikit
ketiga entitas pada siklus di atas.

Impian Si Katak

Friday, July 7th, 2006

Saya dapet inti cerita ini dari rekan saya. Nah,
die sendiri dapet cerita ini dari rekannya yang ternyata berprofesi sebagai
programmer. Saya juga ga ngerti, kenapa ya cerita ini menjadikan seorang
programmer sebagai pemeran utamanya?! :p. Anyway, this is the story. 

Suatu hari seorang programmer muda menemukan seekor
katak. Ia melihat ada sesuatu yang berbeda pada katak itu. Karena tertarik,
sang programmer mengambil katak itu dan memasukkannya ke dalam kantung plastik.
Katak itu pun sepertinya begitu senang berada di dekat sang programmer.

Tak lama kemudian, sesuatu yang ajaib terjadi. “Wahai
pemuda, sebenarnya saya adalah seorang putri yang sangat cantik”. Sang
programmer kaget bukan main mendengar suara yang berasal dari kantung plastik
yang ditentengnya itu. Ternyata, si katak bisa bicara dan ngaku-ngaku kalau
dirinya adalah putri yang cantik. 

Sang programmer segera membuka kantung plastik,
mengeluarkan si katak, lalu meletakkannya di atas telapak tangannya. “Benar, Tak?”,
sergah sang programmer menuntaskan keheranannya. “Ya, pemuda. Saya akan berubah
wujud menjadi seorang putri yang cantik kalau kau bersedia mencium saya”. “Walah, nyium katak,hiiii..?”, pikir
sang programmer dalam hati. “Setelah saya berubah menjadi seorang putri, saya
bersedia menjadi temanmu selama beberapa hari. Bukankah ini tawaran yang
menarik, wahai pemuda?” Sang programmer terdiam sejenak, wajahnya merengut.
Sejenak kemudian, ia berusaha memasukkan kembali si katak ke dalam kantung
plastik. “Ee…sebentar pemuda..mm, tawaran saya kurang menarik ya..Emh,
bagaimana kalau begini…Saya bersedia menjadi pacarmu selama beberapa hari?”,
sahut si katak penuh harap. Sang programmer ternyata masih tidak tertarik. Ia
kini benar-benar menjebloskan si katak ke dalam kantung. Si katak yang ngebet
banget pengen jadi manusia akhirnya menjerit-jerit kepada sang programmer,
“Ok..ok…jadi teman ga mau, jadi pacar juga ga mau…Kalau begitu, saya bersedia
jadi istrimu…setelah saya berubah wujud jadi manusia..bagaimana? Tawaran yang
sangat menarik bukan?”

Si katak merasa yakin sang programmer akan
menciumnya setelah ia memberikan tawaran ‘tertinggi’ itu. Si katak pun
memejamkan matanya sambil tersenyum seolah-olah menyatakan siap untuk dicium
sang programmer. Si katak sudah tak sabar lagi merasakan satu kecupan mendarat
di keningnya (katak punya kening ga sih?). Sang programmer yang merasa lelah
dengan ulah si katak pun angkat bicara, “Woi, Tak. Gue dah punya temen banyak
banget. Gue juga dah pernah punya pacar. Dan yang paling penting, gue dah punya
istri sekarang. Tapiii……” “Tapi apa??”, selidik si katak. “Tapii…, gue belum
pernah punya katak yang bisa ngomong kayak elu…he..he”, ujar sang programmer
dengan entengnya. “Apaaaaa…..? Dasar, lu tega banget ama gue..huuu…huuu”, protes
si katak sambil menangis tersedu-sedu. 

Saudaraku, cerita ngeyel di atas saya pikir
bukanlah lelucon belaka. Mari kita temukan hikmahnya, sembari menikmati gelak
senyum kita sendiri
:D

Bentang di Antara Dua Hati (4)

Thursday, July 6th, 2006

Ketiga: Maafkanlah 

Sedapat mungkin kita bulatkan
hati untuk memaafkan orang yang kita marahi sebelum ia meringis-ringis meminta
maaf dari kita. Boleh jadi pintu maaf adalah pintu yang sangat sulit kita buka
ketika amarah memuncak. Namun, ternyata di sinilah kebesaran hati kita diuji.
Memberi maaf pada saat marah (bukan setelah amarah kita mereda) kadangkala atau
bahkan seringkali sangat berat untuk dilakukan, karena pada saat itu kita
merasa bahwa kita lah pihak yang dirugikan akibat ulah orang yang kita marahi.
Selanjutnya, kita mungkin merasa tidak layak untuk berinisiatif memberikan maaf
karena kita "khawatir" menjadi ”orang yang tak berdaya”, padahal
saat itu kita merasa sedang ”berkuasa” atau minimal merasa ”benar” sementara
orang yang kita marahi lah yang ”bersalah”.

Memaafkan orang yang
kita marahi janganlah dipahami sebagai tanda kelemahan sikap kita, pengabaian
terhadap konsekuensi dari perbuatan salah, atau seolah-olah menjadi bentuk
persetujuan kita atas hal-hal yang telah jelas salah. Pemahaman yang salah
seperti ini hanya akan membuat kita semakin ”gengsi” untuk memberi maaf atau
tetap memberi maaf tapi terpaksa.  

Marilah kita memahami
pemberian maaf kita sebagai upaya penyucian hati dari kejengkelan yang bisa
merusak ukhuwah dan itikad untuk saling menasihati satu sama lain agar
kesalahan-kesalahan yang dilakukan tak diulang lagi. Pemahaman seperti ini
menunjukkan kesadaran kita bahwa setiap manusia memiliki potensi kesalahan yang
bisa memicu kemarahan. Pemahaman ini juga akan membantu kita untuk menjauhi
keangkuhan hati dan perasaan bahwa diri kita lah yang paling benar. Pemahaman
ini juga memudahkan kita untuk menenangkan diri dalam keikhlasan karena melalui
pemaafan kita berusaha membersihkan hati. Dengan demikian, kita memposisikan
pemberian maaf sebagai kesempatan bermuhasabah bagi kedua belah pihak sekaligus
membuka lembaran baru. Inilah paradigma yang harus kita bangun dalam pemberian
maaf. Memberi maaf (apalagi dalam kondisi marah) memang seringkali berat bagi
kita, tetapi ketika kita memulainya dari paradigma yang benar, insya Allah
menjadi lebih mudah. 

Keempat: Berbuat Baik 

Ini adalah aspek
terberat dalam proses pengendalian amarah, yakni berbuat baik kepada orang yang
kita marahi. Hal ini seolah-olah menjadi sangat tidak masuk akal karena kita
mungkin beralasan: buat apa saya berbuat
baik kepadanya, toh ia baru saja menzhalimi saya?

Berbuat baik dalam
konteks ini sebenarnya adalah tindak lanjut dari pemaafan yang kita berikan.
Jadi, jangan harap kita bisa berbuat baik kepada orang yang kita marahi, kalau
kita belum memaafkannya. Salah satu pilar pemaafan sebagaimana yang telah
disebutkan di atas adalah kesadaran untuk saling menasihati pasca kemarahan. Saling
menasihati inilah yang menjadi pangkal dari segenap perbuatan baik kita. Ali
bin Husain berbuat baik dengan memerdekakan si budak–sesuatu yang mungkin
tidak pernah terpikir oleh si budak bahwa kemerdekaan dirinya hanya bermula
dari kepiawaian tuannya dalam mengendalikan amarah. 

Ketika marah melanda,
mungkin kita berpikir bahwa melampiaskannya dengan melakukan hal-hal yang
destruktif atau menyakiti objek kemarahan sebagai sesuatu yang bisa meredakan
kemarahan itu sendiri. Ternyata tidak demikian adanya. Kalaupun kita merasa
puas dan tenang setelahnya, yang puas dan tenang sebenarnya adalah hawa nafsu
kita sementara hati kita tetap membara. Hawa nafsu kita tidak akan pernah
benar-benar merasa puas dan tenang selama kita menurutinya, tetapi ia akan
terus menuntut ”kepuasan” dan ”ketenangan”yang lebih besar lagi. Jadi, wajar
saja apabila kemarahan kita justru semakin hebat dan hati kita semakin teriris
ketika kita melampiaskannya dalam bentuk hal-hal yang negatif. ”Kepuasan” dan
”ketenangan” setelahnya adalah kesemuan belaka.

Saudaraku,
Lain halnya apabila
kita berusaha berbuat baik. Usaha ini tidak selalu mudah karena hawa nafsu kita
terus menerus menyeret kita ke kawah amarah yang meluap-luap. Namun, sekali
kita bisa mengalahkannya dengan melakukan perbuatan baik, maka kita akan merasa
hati kita mendadak jauh lebih tenang, kepala kita sontak menjadi lebih dingin,
dan hati-hati kita kembali berderik mendekat satu sama lain. Saling menasihati,
saling mendoakan, dan hal-hal positif lainnya adalah contoh perbuatan baik
pasca kemarahan yang menandakan kelulusan kita dalam mengendalikan amarah.
Insya Allah…

Saudaraku,
Mengendalikan amarah
adalah sesuatu yang lebih komprehensif daripada sekedar menahan amarah
(terlepas dari faktor ”rasa” bahasa). Mengendalikan amarah tidaklah sekedar
menjaga agar ekspresi kemarahan kita tidak meluap-luap tak karuan, tetapi harus
diiringi pula dengan pemaafan sesegera mungkin dan perbuatan baik semampu kita.
Jika demikian, kita baru saja menjadikan kemarahan itu sebagai sarana untuk
mendekatkan diri kepada-Nya di dalam bingkai takwa.

Saudaraku,
Teriring doa untuk diri
ini yang fakir dan Anda semua, semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk dan
kekuatan-Nya kepada kita agar mampu menjadi pribadi-pribadi yang terus belajar
mengendalikan amarah. Wallahu a’lam…

Jangan biarkan terbentang jauh
Jarak di antara hati-hati kita
Biarkan mereka tetap dekat
Hingga tak satu pun kata yang perlu terucap
Cukup pandangan penuh cinta
Dan senyuman seorang sahabat
Yang satukan kita