The Ultimate Meaning di Balik Idealisme Mahasiswa (3)
Monday, July 24th, 2006Saudaraku,
Komunikasi
efektif seyogyanya tidak sekedar identik dengan “komunikan menangkap, memahami
dan melaksanakan pesan komunikator dengan baik dan benar”. Namun, komunikasi
lah yang seharusnya juga menjadi cahaya pengetahuan
sehingga komunikan dan komunikator memahami bahwa “ini” baik dan benar serta
“itu” tidak baik dan tidak benar. Komunikasi lah yang seharusnya juga melahirkan
motivasi sehingga komunikan dan komunikator
mau dan mampu mengerahkan kontribusi
terbaik kapan dan dimana pun. Komunikasi lah yang seharusnya juga menghadirkan
empati sehingga komunikan dan
komunikator semakin bijak menempatkan
diri dalam suasana diri dan memahami
kondisi satu sama lain. Komunikasi lah yang seharusnya juga meluruskan persepsi sehingga komunikan dan
komunikator yakin bahwa apa yang mereka
pikirkan tentang berbagai hal di lingkup organisasi itu sesuai dengan kondisi
sebenarnya. Komunikasi lah yang seharusnya juga menjadi sarana muhasabah jama’i karena dengan itu komunikan dan komunikator saling mengingatkan dan menasehati. Hal-hal
inilah yang saya namakan sebagai “efek-efek tersirat” yang seharusnya hadir
dalam proses komunikasi.
Salah satu
hambatan dalam meraih “efek-efek tersirat” dalam komunikasi adalah kebiasaan
memendam berbagai hal yang seharusnya dikomunikasikan. Terlepas dari
karakter kita masing-masing, sikap “memendam” masalah-masalah yang signifikan
dalam lingkup sistem organisasi bukanlah sesuatu hal yang tepat untuk dipilih.
Oleh sebab itu, kita harus pandai-pandai memilah dan memilih mana masalah
pribadi dan mana masalah yang menyangkut sistem organisasi. Masalah pribadi
bisa kita pendam atau kita curhat-kan
kepada orang lain. Namun, masalah yang menyangkut sistem organisasi, tidak bisa
tidak, harus kita komunikasikan.
Saudaraku,
Kalau Anda
perhatikan, sebenarnya bukanlah
komunikasi yang bisa menyelesaikan
segenap masalah keorganisasian. Namun, komunikasi
lah yang menghasilkan pengetahuan yang dibutuhkan, motivasi terbaik, empati
yang diharapkan, persepsi yang lurus, dan semangat perbaikan diri dan
organisasi yang senantiasa mantap. Hal-hal inilah sebagai entitas penting
yang memudahkan kita dalam menyelesaikan segenap masalah. Dengan demikian pula,
insya Allah komunikasi tidak hanya berperan sebagai proses penyampaian pesan
belaka, tetapi menjadi washilah pula untuk
mendapatkan mutiara hikmah yang luar biasa banyaknya. Kita bisa belajar banyak
hal, bahkan hanya dari satu sesi komunikasi saja. Wallaahu a’lam.
