Archive for August, 2006

Saudara Kandung (3)

Friday, August 11th, 2006

Kegembiraan yang hadir saat
bermain bersama dan emosi yang meluap saat berkelahi dengan kakak ketiga saya
di masa kecil berhasil menjadikannya sebagai saudara kandung yang paling dekat
dengan saya. Kalau dipikir-pikir, kakak ketiga memang tidak terkesan sebagai
pengayom seperti kakak pertama dan kedua, tetapi justru di sinilah letak
keistimewaannya. Posisinya sebagai ‘teman’ membuat saya belajar banyak tentang
arti persaudaraan.
Ada kalanya timbul kegembiraan
dan ada kalanya muncul kejengkelan di antara kami, tetapi semua ini justru
membuat kami semakin dekat. Gembira dan jengkel tak lebih dari sekedar
warna-warna dalam ikatan persaudaraan. Ketika cinta yang mendasarkannya, maka
warna-warna itu berpadu begitu rupa menggoreskan keindahan yang khas di dalam
hati. Inilah pelajaran yang saya dapatkan dari kakak ketiga.

Terus terang, keberartian
ketiga kakak perempuan saya baru benar-benar saya renungkan ketika kami
beranjak dewasa.
Saat ini sebagian besar dari mereka telah menikah dan
punya anak. Meskipun demikian, alhamdulillah saya tidak merasa kekurangan kasih
sayang dari mereka di tengah-tengah kesibukan mereka bekerja, mengurus suami,
dan mengasuh putra-putrinya tercinta. Kasih sayang mereka tidak hilang atau
berkurang, tetapi mewujud sedemikian rupa ke dalam bentuk yang berbeda. Mereka
memang tidak lagi mengurus kebutuhan-kebutuhan saya seperti ketika saya masih
kanak-kanak. Interaksi eksplisit di antara kami pun tak sesering dulu karena
masing-masing sudah memiliki kesibukan tersendiri di lokasi yang berbeda.
Namun, kasih sayang itu justru lebih mengesankan dan…semakin sulit untuk
dilukiskan dengan kata-kata. Kesan itu hadir dengan sendirinya dan semakin
indah ketika direnungkan kembali. Semoga Allah senantiasa memelihara kasih
sayang di antara kita dan saudara kandung kita.

***

Cerita di atas bisa digolongkan sebagai
‘apa-apa yang indah’ dalam hubungan kita dengan saudara kandung. Boleh jadi,
ada juga ‘kerikil-kerikil’ kecil yang menghambat laju cinta kita bersama
mereka. Komentar salah satu teman saya di bawah artikel “Saudara Kandung (1)” patut
menjadi bahan renungan berkaitan dengan kehadiran ‘kerikil-kerikil’ itu. Di
setiap keluarga, boleh jadi terdapat saat-saat ketika kerikil itu kita temui
juga. Ketika jalan dipenuhi kerikil, apa yang harus kita lakukan? Kita tidak
mungkin berhenti karena waktu kehidupan terus berputar. Kita pun tidak mungkin
berbalik ke belakang, karena waktu kehidupan terus bergerak maju ke depan. Yang
bisa kita lakukan hanyalah melewati kerikil-kerikil itu dengan ikhtiar dan doa.
Semoga kita tidak pernah menyerah untuk memperbaiki apa yang harus diperbaiki,
menyingkirkan kerikil-kerikil itu agar jalan di hadapan mudah ditempuh, dan
mencari permata di antara celah-celah kumpulan kerikil. 

Bagaimanapun kondisi
saudara kandung kita, mereka tetaplah manusia yang ditentukan Allah untuk
bertalian darah dengan kita. Kehadiran mereka bukanlah suatu kebetulan, tetapi
menjadi keputusan Allah yang penuh manfaat, baik manfaat yang tampak maupun
tidak. Ketika Allah menetapkan seseorang sebagai saudara kandung kita, insya
Allah dia lah yang terbaik dan paling tepat untuk kita. Wallahu a’lam

Saudara Kandung (2)

Friday, August 11th, 2006

Cerita Tiga Wanita

Semoga Allah memudahkan saya untuk bersyukur kepada-Nya dan melindungi saya dari ketinggian hati dengan apa yang akan saya ceritakan berikut ini. Semoga cerita berikut menjadi sumber motivasi buat saya pribadi dan mudah-mudahan untuk Anda juga. Semoga pula, apa yang saya ceritakan ini tidak menyeret saya ke dalam ’jurang’ ghibah. Aamiin.

Saya ingin bercerita sedikit tentang ketiga orang kakak perempuan saya. Setelah ibu dan ayah saya, mereka lah yang paling berjasa sehingga menjadi washilah pembentukan kepribadian saya saat ini. Kakak saya yang pertama, dia lah si sulung yang tak jauh berbeda dari semua anak sulung di setiap keluarga. Si sulung memiliki perasaan yang sangat sensitif, jauh melebihi sensitivitas adik-adik perempuannya. Dari sensitivitas itu, hadir cinta yang lembut melindungi dan rasa khawatir pertanda sayang. Begitu lah kakak pertama saya. Dia lah sosok pemimpin dan penjaga bagi adik-adiknya. Dia lah yang tak sungkan memandikan saya ketika saya baru masuk sekolah dasar. Dia lah yang paling keras dan tegas di antara kedua kakak saya yang lain ketika mengurus ketiga adiknya, terutama saya si bungsu. Namun di balik sifat keras dan tegas itu, tersimpan kasih sayang yang begitu lembut. Sampai saat ini, perhatian dan cinta si sulung tak berkurang kepada kami. Dia lah si sulung yang tak pernah absen mengecek kondisi orang tua dan adik-adiknya ketika berada di lokasi yang cukup jauh. Sebuah pesan singkat yang dia kirimkan ke telepon seluler saya terasa begitu sederhana, lugas, dan singkat: ”Masih di kantor? Lembur ya?” Hmm… saat saya renungkan lagi, pesan yang sederhana itu mendadak berubah menjadi sesuatu yang begitu berarti.

Kakak saya yang kedua, dia lah kakak yang paling penyabar. Dia memang tak sekeras dan setegas si sulung, tetapi justru kelemahlembutannya menjadi harmoni kasih sayang di antara kami. Saat saya masih kecil, dia lah yang cukup sering membantu ibu mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan saya. Dia memang persis ibu saya. Masih segar dalam ingatan saya sewaktu saya mengerjakan makalah sebagai tugas mata pelajaran Agama Islam kelas I SMU. Kala itu saya bisa dikategorikan sebagai pengetik komputer pemula sehingga kesalahan kecil saya anggap sesuatu yang besar. Entah mengapa, tanpa sengaja saya menghapus semua tulisan di layar komputer yang sudah berpuluh-puluh halaman itu. Sayangnya, saya tidak bisa ’menghadirkan’ kembali ribuan huruf yang menyusun makalah tersebut. Semua hilang begitu saja. Saya sangat bersedih sampai akhirnya menangis karena sekitar dua hari lagi makalah itu harus dikumpulkan. Belum kering air mata yang mengalir di pipi, kakak kedua saya berusaha membantu saya untuk mengetikkan kembali makalah itu. Dengan sabar dan tenang, ia meminta saya menyiapkan buku-buku referensinya. Dia pun mengambil posisi di depan komputer dan mulai memainkan jari-jarinya di atas keyboard. Saat itu saya masih shock; masih terbayang dalam benak saya ratusan paragraf yang lenyap dalam sekejap, padahal saya membutuhkan waktu lebih dari seminggu untuk menyusunnya.   

Kakak kedua saya mungkin tidak menyadari bahwa langkah sederhana yang penuh cinta itu berhasil meledakkan motivasi saya. Saya kembali bersemangat untuk mengerjakan makalah itu. Alhamdulillah wa asyukuru ilallah, saya berhasil menyelesaikan makalah itu dalam sisa waktu yang singkat. Meskipun hasil akhirnya tidak sebanyak sebelumnya, saya justru berbahagia karena dapat menyajikannya dengan padat tanpa kehilangan poin-poin pentingnya. Inilah yang mungkin menjadi hikmah dari peristiwa tersebut. Segala puji bagi Allah yang telah menghadirkan cinta, cinta yang membuahkan motivasi untuk mencapai hasil yang jauh lebih optimal, cinta yang melahirkan kesadaran bahwa selalu ada hikmah yang menunggu untuk diraih.

Berbeda dengan kakak pertama dan kedua, sosok kakak ketiga saya adalah pribadi yang rada serius tapi santai. Karena jarak usianya paling dekat dengan saya, maka jadilah dia teman main dan teman berantem saya sewaktu kecil. Saat bermain petak umpet, takadal, dan permainan anak-anak lainnya dengan serombongan anak kecil di komplek perumahan tempat saya tumbuh, hampir selalu ada saya dan kakak saya yang ketiga ini.

Saat pukulan dan tendangan dari tangan dan kaki yang mungil melayang ke sana kemari di dalam rumah, berarti saat itu saya sedang adu fisik dengan kakak ketiga saya (he..he..tapi ga sadis-sadis amat kok, ga ampe benjol, paling cuma bikin nangis doing [saya yang nangis maksudnya, he…he :P]).

Bersambung…

Saudara Kandung (1)

Sunday, August 6th, 2006

Siapakah orang-orang yang paling spesial dalam hidup Anda? Tentu Anda memiliki jawaban masing-masing. Siapapun yang Anda anggap spesial, pastilah Anda pernah atau seringkali mengalami saat-saat yang mengesankan dan tak kan terlupakan bersama mereka.

Sahabat-sahabat Anda, apakah mereka begitu spesial bagi Anda? Saya yakin jawabannya adalah: “Tentu saja. ‘Sahabat’ adalah predikat bagi teman yang bukan sekedar teman. Ada suatu ikatan persaudaraan yang amat kuat dan begitu indah di antara dua orang sahabat. Ya…, suatu ikatan yang kekuatannya seringkali menyamai (atau bahkan lebih dari) ikatan nasab ”.

Keluarga Anda, apakah mereka begitu spesial bagi Anda? Saya yakin jawabannya adalah: “Ya iya lah…”. Ketika kita lahir sebagai bayi kecil, maka keluarga adalah yang pertama kali menyambut kita. Orang tua kita dan kakak-kakak kita lah yang senantiasa mendampingi kita dengan kasih sayang mereka. Apabila kita mempunyai adik, maka kita pun mencurahkan segenap kecintaan kita kepadanya. Namun, apa yang sering terjadi kita kita beranjak dewasa? Kita menempuh pendidikan di luar kota atau bahkan di luar negeri. Kemudian, mungkin kita bekerja di perantauan yang jauh dari rumah kita sendiri. Kita selanjutnya bertemu sahabat-sahabat setia di tempat kita beraktivitas dan akhirnya menganggap mereka sebagai saudara sendiri.

Saat kehangatan begitu terasa di tengah-tengah lingkaran persahabatan, pernahkah kita merenungkan kembali keberartian keluarga, khususnya saudara-saudara kandung, yang sudah lama tak bersua? Satu hal yang pasti, mereka lah yang paling mengenal kita (setelah orang tua) meskipun kita tidak menyadarinya. Mereka lah yang telah Allah tanamkan benih cinta dan pengetahuan tentang bagaimana kita sebenarnya. Mungkin mereka lebih jarang memuji atau mengkritik kita daripada sahabat-sahabat kita sendiri, tetapi mereka lah yang paling tahu sisi-sisi positif dan negatif diri kita yang paling mendasar meski kita tak pernah membicarakan sisi-sisi itu dengan mereka dan mereka pun tak pernah bertanya.

Saudara kandung seringkali tidak memuji atau mengkritik dengan kata-kata, tetapi mereka memuji dan mengkritik dengan perhatian dan cinta yang tak pernah lekang. Kita mungkin seringkali tak menyadari ketika mereka memuji atau mengkritik kita, tetapi kita begitu mampu menangkap pesan-pesan itu melalui perubahan perilaku kita. Kita menjadi sangat termotivasi untuk memperbaiki diri meski kita jarang mengucapkan kepada mereka: ”Terimakasih ya kak, kakak sudah memotivasi saya” atau ”Terimakasih ya dek, adek sudah memotivasi saya”. Hmm…sebaliknya, kita mungkin begitu sering mengucapkan ungkapan terimakasih kepada sahabat-sahabat kita di kampus atau di organisasi yang telah banyak menyampaikan hikmah-hikmah kehidupan dengan kalimat-kalimat terindah.

Saat kita merenungkan keberartian saudara-saudara kandung kita, mari kita yakinkan diri bahwa merekalah orang-orang pertama yang paling berjasa dalam kehidupan kita. Mereka telah memberikan pelajaran dan motivasi yang sangat berharga meskipun kita menganggapnya ”hanya” sekedar ungkapan cinta sesama saudara yang terikat nasab. Kita mungkin sering berujar (minimal dalam hati): ”Wajar, dong, dia sayang ama gue. Dia kan kakak/adik gue” atau ”Sikap kakak/adik gue terhadap gue baik, tapi kaya’nya wajar-wajar aja. Namanya juga kakak/adik sendiri”. Hmm…mari kita renungkan lagi, bahwa di balik kewajaran sikap saudara kandung kita, di balik sikap mereka yang terkesan”biasa-biasa saja”, tersimpan sebuah harapan agar kita menjadi yang terbaik dan tersimpan sejumlah nasihat yang seringkali sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Jangan segan-segan untuk mengingat kembali saat-saat yang begitu bermakna bersama saudara-saudara kandung kita dan jangan pula berhenti berharap agar saat-saat itu terus kita alami hari ini dan esok. Seperti Anda yang telah dan terus akan mengalami saat-saat yang penuh makna bersama saudara-saudara kandung Anda, saya pun demikian adanya.

Bersambung…