Partisi-Partisi Ikhtiar (3)
Sunday, September 3rd, 2006Makna yang lebih dalam dari ayat ke-7 dari surat
Al-Insyirah di atas insya Allah menjadi salah satu strategi penting untuk
mengelola beban-beban kehidupan, bahkan seluruh aktivitas kita. Ketika kita telah
bersungguh-sungguh dan optimal (anshab) dalam menyelesaikan suatu beban
kehidupan di "wilayah"-nya sehingga sampai pada kondisi faragha,
maka kita harus segera beralih untuk menyelesaikan beban yang lain (fan-shab).
Ketika "gelas" diri kita telah kosong setelah sebelumnya penuh, maka
semestinya kita segera mengisinya sampai penuh kembali. Jadi, kita tidak
sekedar "meninggalkan" atau "beristirahat dari" beban
pertama lalu diam saja, tetapi kembali menguatkan fokus dan mengerahkan
kekuatan kita untuk menyelesaikan beban berikutnya agar beban-beban itu bisa
selesai tanpa perlu memanfaatkan "jembatan beban".
Sedikitnya terdapat dua poin penting dalam ayat
ke-7 ini yang insya Allah dapat memudahkan kita untuk berdisiplin dalam
menyelesaikan setiap beban kehidupan di "wilayah"-nya masing-masing.
Dua poin tersebut adalah kesungguhan dan kesegeraan (tidak
menunda-nunda) dalam berikhtiar. Dengan kesungguhan, kita memiliki
peluang yang sangat besar untuk menyelesaikan beban dengan kualitas yang telah
ditentukan sesuai target waktu yang ditetapkan. Dengan kesegeraan, kita
mampu mengefisienkan waktu penyelesaian beban dan memiliki peluang untuk
mengalokasikan waktu tambahan untuk beban lain yang dianggap lebih berat.
Dengan kesungguhan dan kesegeraan, maka insya Allah kita mampu
meminimalkan overlapping dalam penyelesaian beban kehidupan sekaligus
meminimalkan latihan "jembatan beban". Dengan demikian, insya Allah
satu sebab ketenangan berhasil kita raih, satu risiko stress berkepanjangan
mampu kita hindari, dan beberapa langkah menuju kesuksesan telah kita tempuh.
Pertanyaan
yang mungkin muncul kemudian adalah: kapan kita beristirahat?? Sebelum menjawab
pertanyaan ini, ada baiknya kita samakan dulu persepsi mengenai istirahat.
Ada dua jenis istirahat, yakni istirahat non-produktif dan istirahat produktif.
Istirahat non-produktif sebenarnya merupakan wujud dari kemalasan sedangkan istirahat produktif adalah istirahat yang berorientasi pada
penyegaran dan pengumpulan kekuatan diri (self- refreshment dan self-rechargement).
Ciri-ciri istirahat non-produktif adalah lama waktunya tidak jelas (cenderung
berkepanjangan), tidak direncanakan dengan baik apa saja aktivitas-aktivitas
yang dilakukan selama istirahat, dan mungkin masih menyisakan kemalasan setelah
waktu istirahat itu berakhir. Hal sebaliknya terjadi pada aktivitas istirahat produktif
setelah kita letih bekerja. Nah, istirahat produktif inilah yang akan secara alami berada dalam
konteks kesungguhan dan kesegeraan. Jadi, apabila kita menetapkan
bahwa setelah melakukan aktivitas A kita harus beristirahat, maka sebaiknya
kita langsung beristirahat dan tidak menunda-nundanya. Insya Allah apabila kita
bersungguh-sungguh dalam beristirahat, kita akan meraih semangat dan kekuatan
yang tetap besar untuk aktivitas berikutnya.
Saudaraku…
Etos kerja yang Allah ajarkan ini sangatlah luar
biasa. Melalui etos inilah Allah memotivasi hamba-hamba-Nya untuk mengoptimasi
setiap partisi ikhtiar mereka. Namun, boleh jadi kita masih sering mengabaikannya
dan menjadi pribadi yang sering "terlena" dalam satu pekerjaan
sehingga kehilangan banyak waktu untuk pekerjaan lainnya. Kita tidak boleh
menyerah. Saya mengajak diri saya sendiri dan Anda semua untuk terus berikhtiar
menyempurnakan setiap amanah kita dengan kesungguhan dan kesegeraan dalam
menjalankannya. Semoga Allah memberi kemudahan kepada kita. Aamiin.
Wallahu a’lam