Archive for October, 2006

Mentarai Kecil di Nenggala (1)

Tuesday, October 24th, 2006

Ketika pikiran melayang atau terasa begitu mumet, maka menepilah. Kita tidak salah saat melambatkan laju perjalanan kita atau berhenti sejenak untuk menenangkan diri. Yang salah adalah ketika kita melambatkan langkah kaki di tengah-tengah koridor. Jika demikian, malah bukan ketenangan yang kita dapatkan, tetapi mungkin tubuh kita bertubrukan dengan orang lain atau kita dimaki-maki karena menghalangi jalan. Jika demikian, berarti kita telah mencapai puncak egoisme, yakni kita ingin tenang dengan membuat orang lain tidak tenang, kita ingin bebas sementara orang lain terkekang oleh kebebasan kita. Ketenangan dan kebebasan itu pun pada akhirnya tak jua kita dapatkan.

Sebagian pengguna koridor mungkin tidak berjalan sendiri-sendiri. Mereka bergerombol dengan para koleganya sembari tertawa dan dengan serunya membahas tentang urusan-urusan mereka. Karena jumlah mereka banyak, maka mereka agak sulit menepi. Walhasil, mereka “menghabiskan” seluruh lebar koridor. Tidak hanya itu, kesibukan mereka berdiskusi di sepanjang koridor membuat mereka lambat dalam berjalan. Kondisi ini tentu lebih parah daripada berjalan sendiri-sendiri. Orang yang di belakang mereka semakin sulit untuk menembus barikade gerombolan manusia di depannya.

Tidak masalah jika kita begitu sibuk berinteraksi dengan sahabat-sahabat kita. Namun, kita harus tetap ingat bahwa koridor yang kita lalui bersama segenap sahabat bukanlah milik kita. Semoga interaksi kita itu tidak membuat orang lain merasa tidak nyaman. Hargailah orang lain yang mungkin bukan berasal dari komunitas kita. Memiliki komunitas tersendiri bukanlah suatu kesalahan, tetapi akan berubah menjadi sebuah kesalahan ketika kita “lupa” memperhatikan mereka yang juga berjalan di koridor kehidupan yang sama. Semoga kita tidak menjadi komunitas yang “menunggu” ditegur dengan ungkapan “Permisi mas, mbak” oleh para pengguna koridor di belakang kita. Apakah kita harus “menunggu” ditegur agar kita tersadarkan untuk menepi? Mengapa kita tidak berinisiatif untuk memberikan ruang bagi para pengguna koridor selain kita? Jika kita tidak mau menepi atau mempercepat langkah kaki kita, maka lagi-lagi kita terjebak dalam egoisme, yakni egoisme pribadi yang kemudian saling berkumpul membentuk egoisme kelompok.

Boleh jadi, orang-orang yang berjalan lambat di tengah koridor sebenarnya tidak pernah punya niat untuk menghambat para pengguna koridor lainnya. Namun, sayang sekali, mereka lengah. Ya… ini saja penyebabnya. Mereka lengah, mereka terlena dengan urusan-urusan mereka sendiri sehingga tidak sadar ada orang-orang yang terzhalimi akibat perilaku mereka.

Hikmah kedua

Lebar koridor begitu bervariasi. Adakalanya sangat lebar dan adakalanya hanya cukup dilalui oleh satu banjar manusia. Begitu pula kehidupan yang kita jalani bersama. Adakanya lapang dan adakalanya sempit menjepit. Bagaimanapun kondisi koridor itu, kita sebagai pengguna koridor harus terus berusaha untuk sigap dalam berjalan. Tidak perlu terburu-buru, tetapi juga jangan berleha-leha, apalagi berhenti. Kalau terburu-buru, mungkin saja kita menubruk atau tak sengaja menginjak kaki orang lain. Kalau terlalu santai, mungkin saja kita sendiri yang tertubruk atau setidaknya mengakibatkan kemacetan di sepanjang koridor. Di sinilah kita membutuhkan keseimbangan dalam menentukan kecepatan langkah kaki kita. Keseimbangan yang tercipta menggambarkan ikhtiar yang penuh optimisme.

Sigap saja tidak cukup. Kita pun harus tetap mengamati kondisi di sepanjang perjalanan sehingga kita menjadi pribadi yang fleksibel. Jika kita bermaksud memperlambat langkah kaki kita, maka menepilah sehingga orang lain tetap leluasa melaju. Biasakanlah untuk mengamati kondisi di sekitar kita agar langkah-langkah kita tidak menghadirkan kesulitan bagi orang lain. Jangan terlalu banyak berdiskusi di sepanjang koridor karena efeknya hanya akan memperlambat langkah kita. Demikian pula dalam kehidupan, terlalu banyak bicara yang tidak pada tempatnya hanya akan mengurangi tindakan nyata kita atau bahkan merugikan orang lain. Jika kita tidak membiasakan diri untuk santun ketika berjalan di sepanjang koridor, jembatan, lorong, atau yang sejenisnya (sesuatu yang notabene cukup mudah), maka bagaimana mungkin kita bisa santun saat berjalan di atas koridor yang bernama ‘kehidupan’?

Semoga Allah memberikan kekuatan dan petunjuk kepada kita untuk mengamalkan hikmah ini…

Dek Nung, itulah sebagian hikmah yang aku simpulkan. Aku yakin masih banyak yang lain. Dek Nung cari lagi ya J

Oche deh… Makasih ya, Kak!

Tak terasa mentari sudah mengecil di ufuk barat Nenggala. Alwanizza dan Nuha bergegas pulang ke rumah mereka. Mereka tak sabar menunggu hari esok untuk menemukan mutiara hikmah selanjutnya. Wallahu a’lam.

Mentari Kecil di Nenggala (1)

Tuesday, October 24th, 2006

Ha…ha…ha, dek Nung, dek Nung. Ada-ada aja kamu. Tapi…iya juga sih, terkadang susah juga ngejelasin kenapa kita suka atau ga suka. Nah, kalo udah gitu, biasanya kalo kita dimintai alasannya, jawaban kita jadi aneh-aneh atau polos banget kayak jawabanmu itu. He…he…he

Idiih, dasar ka awang! Biarin aja polos, yang penting jujur, he…he. btw, kalo ka awang sendiri gimana misalnya ditanya alasan kenapa suka atau ga suka, trus ka awang ga punya alasannya?

Nah, kalo aku ga bisa jawab secara unik alias mentok, biasanya aku renungin lagi tuh kesukaan atau ketidaksukaan. Aku pikirin, kira-kira hikmahnya apa.

Kasih contoh, dong, kak!

Emm…apa ya? Oya, yang ini aja deh. Aku ga suka sama orang yang jalannya lambat plus ga tau diri.

Weleh..kasian banget tuh orang, udah jalannya lambat, ga tau diri lagi. Hi…hi… aku masih belum ngerti, kak.

Gini, dek. Misalnya kamu jalan di sebuah koridor, jembatan, atau apapun lah yang sejenisnya. Trus, di depan kamu ada sepasang atau segerombolan manusia yang berjalan dengan santai, sambil ngobrol, ketawa-tawa, trus jalannya ga minggir, alias di tengah-tengah, ngabisin badan koridor. Kamu kesel ga?

Yaa..kesel sih, tapi kayaknya ga kesel-kesel banget. Kalo aku juga ga diburu waktu, alias santai juga kayak mereka, buat aku sih fine-fine ajah.

Hmmm…kalo aku, dek, mo santai, mo buru-buru, tetep keseeel banget, he…he. Apapun alasan mereka, mereka tetep aja menghambat pergerakan orang di belakang mereka. Trus, mereka ga nyadar dan baru minggir ke sisi koridor setelah ditegor, iihhh ABCD banget deh. Emang koridornya punya mereka apa??

Weits…weits, santai aja Ka Awang, ga usah marah-marah gitu dong :P. trus, menurut ka awang, hikmahnya apa? Eh, bentar-bentar, mo tau juga nih, tadi “ABCD” maksudnya apa ya??

Aduuh, dek Nung kan ABG, masa’ ga tau ABCD?!!J. ABCD itu singkatan dari “Aduh Boo…Cape Dehh”! Ha…ha…ha

Ha…ha…ha, iya  deh Ka Awang tuh emang ABG banget. Trus, sekarang jelasin hikmahnya, kak! J.

Setelah aku pikir-pikir lagi, aku berusaha membangun sebuah kesimpulan terhadap ketidaksukaanku itu, dek Nung. Semoga dek Nung berkenan menyimaknya ya, he…he J.

Hikmah pertama

Terkadang, kita terlalu sibuk dengan urusan kita atau urusan orang lain yang terkait dengan kita. Kita sibuk berbicara, berdiskusi, dan sebagainya sementara pada saat itu, tanpa kita sadari, kita tengah “mencuri” hak-hak orang lain. Begitulah yang terjadi pada diri sebagian orang yang melewati koridor. Adakalanya mereka berjalan sendiri kemudian berpikir keras atau melamun, sampai-sampai tak sadar kalau gerakan kakinya melambat atau tubuhnya bergerak perlahan di tengah-tengah koridor sehingga terjadi “kemacetan”. Tanpa sengaja, apa-apa yang mereka pikirkan atau lamunkan bagaikan raja, sementara koridor itu adalah daerah kekuasaan sang raja.

Kehidupan ini tak ubahnya sebuah koridor. Setiap orang bergerak di sepanjang koridor kehidupan. Masalah yang kita alami, jika kita tak mampu mengelolanya, hanya akan “memacetkan” koridor kehidupan. Orang lain yang tidak bersalah terkena imbas dari masalah yang kita hadapi. Padahal, koridor kehidupan bukanlah milik kita, tetapi milik Allah. Mengapa kita seolah-olah memiliki koridor itu? Setiap orang memiliki hak yang sama untuk berjalan di atas koridor kehidupan.

Bersambung…

Mentari Kecil di Nenggala (1)

Tuesday, October 24th, 2006

Alkisah, tersebutlah dua orang kakak beradik yang hidup di sebuah desa bernama Nenggala. Mereka berasal dari keluarga petani yang cukup religius, tidak kaya, tetapi juga tidak miskin. Sang ayah adalah lulusan madrasah aliyah, seorang pemilik petak sawah berukuran seribu meter persegi yang ditanami jagung, dan juga seorang buruh tani yang bekerja di kebun nanas milik kepala desa Nenggala. Sementara itu, sang ibu adalah seorang guru mengaji sekaligus penjual ayam kampung di pasar rakyat, satu kilometer dari alun-alun Nenggala.

Nama yang diberikan oleh sang kakek kepada sepasang kakak beradik ini terbilang langka di seantero Nenggala. Sang kakak bernama Alwanizza, sementara sang adik diberi nama Nuha. Menurut sang kakek, "Alwanizza" adalah paduan dua kosakata bahasa Arab, yakni "alwaan" dan "izzah". "Alwaan" adalah bentuk jamak dari kata "laun" yang berarti "warna", sedangkan "izzah" bermakna "kekuatan". Jadi, "alwanizza" bisa dimaknai sebagai "kekuatan yang berwarna-warni". Nama ini menjadi doa agar kelak Alwanizza tumbuh menjadi pribadi yang memiliki beragam kekuatan positif, setidaknya kekuatan hati yang penuh cahaya iman, kekuatan akal pikiran, dan kekuatan jasmani yang baik. Sementara itu, nama "Nuha" diambil langsung dari frase di dalam Al-Quran, yakni "Uli an-Nuha" yang bermakna "orang-orang yang berpikir secara mendalam". Besar harapan orang tua mereka agar Nuha menjadi pribadi yang tercermin dari namanya, yakni pribadi yang senantiasa memikirkan tetes-tetes kekuasaan Allah dalam segenap ciptaan-Nya, mengambil pelajaran darinya, lalu meresapkannya dalam hati agar semakin takut dan tunduk kepada Sang Pencipta.

Nama “Alwanizza” dan “Nuha” yang cukup aneh buat lidah masyarakat Nenggala membuat teman-teman mereka lebih memilih kosakata yang singkat untuk menyapa kedua bersaudara ini. Alwanizza lebih sering dipanggil "Awang", sedangkan Nuha lebih sering disapa "Nung". Akhirnya, mereka berdua pun terbiasa menggunakan kedua nama panggilan ini untuk menyapa satu sama lain.

Sejak kecil hingga dewasa, Alwanizza dan Nuha hidup sederhana, saling memberi dan menerima. Waktu mereka masih kanak-kanak, mereka sering bermain bersama di kebun, membantu sang ibu yang berjualan di pasar, atau mencari sekarung rumput untuk dimakan si kerbau satu-satunya milik sang ayah. Setelah mereka berdua beranjak dewasa, mereka memiliki kebiasaan baru yang cukup unik. Menjelang terbenamnya matahari di ufuk barat Nenggala, si bujang Alwanizza dan si gadis Nuha melepas penat di warung kopi Bu Hindun. Mereka tak sekedar menyeruput teh hijau dan menikmati manisnya pisang goreng. Mereka pun bercerita tentang kehidupan, cinta, dan masa depan…

***

"Di Sepanjang Koridor"

Ka Awang, tadi di sekolah, aku baru aja dapet pelajaran bahasa Inggris tentang “Likes and Dislikes”. Kita disuruh menyebutkan apa aja kesukaan kita dan juga hal-hal yang ga kita sukai. Abis itu kita harus ngejelasin, kenapa kita suka dan kenapa kita ga suka. He…he, nah ngejelasinnya itu yang rada ribet, pake bahasa Inggris, lagi. Soalnya, kadang-kadang sesuatu yang kita suka atau ga suka itu hadir dengan sendirinya aja alias ga ada alasannya, kak. Ya udah deh, kalo aku pusing bikin alasan, aku jawabnya: “I just don’t like it. Fortunately, I have no reason about it”.

Bersambung…

Dialog Dua Hati (4)

Monday, October 9th, 2006

(Kini, giliran sang putra yang menitikkan air mata)

Anakku sayang…mengapa engkau menangis? Apakah karena engkau melihat air mata di pipi Ibu?

Ibu, aku menangis karena memikirkan diriku… Selama ini, boleh jadi aku belum memberikan dengan ikhlas, boleh jadi aku belum memberikan dengan cinta…sehingga apa yang kuberikan, mungkin saja tak bernilai sama sekali di sisi Allah…

Anakku, cinta dan keikhlasan kita adalah rahasia Allah. Tiada satupun makhluk di langit dan bumi yang dapat mengetahuinya kecuali Allah mengizinkan. Jangan menyerah anakku sayang. Tugasmu, tugas Ibu, dan tugas kita semua adalah hanyalah berusaha terus dan terus berusaha untuk menggapai cinta dan keikhlasan itu…kemudian, cukuplah Allah menjadi penolong kita dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. Semoga Allah merahmati kita semua.

Ibuku, ada lagi yang ingin aku tanya, tapi…. sebenarnya aku malu…

Anakku sayang, mengapa harus malu dengan ibumu sendiri?

Baiklah, bagaimana pendapat Ibu tentang seorang pendamping hidup?

(Sang ibu tersenyum melihat putranya yang agak menunduk) Anakku, Ibu yakin engkau sudah tahu bagaimana perihal seorang pendamping yang tepat untukmu. Ibu yakin, engkau pun paham bahwa yang bersatu di dalam mahligai bukan hanya engkau dengannya, tetapi juga Ibu dengan ibunya, ayahmu dengan ayahnya, saudara kandungmu dengan saudara kandungnya, kerabatmu dengan kerabatnya.

Anakku sayang, setelah engkau paham semua itu, Ibu hanya ingin mengingatkan satu hal. Semoga pendamping hidupmu adalah sosok yang mampu menjagamu.

Maksud Ibu? Bukankah aku yang harus menjaganya?

(Sang ibu tersenyum lagi) Anakku, bukanlah karena dia wanita, lantas dia tak wajib menjagamu. Engkau menjaganya adalah hal biasa, tetapi ketika ia mampu menjagamu, itu adalah…hal yang mungkin luar biasa.

Aku semakin tidak mengerti Ibu. Apakah maksudnya menjaga kehormatan dan hartaku?

Menjaga amanat sebagai ummun wa rabbatul bait dan menjaga kehormatan serta hartamu adalah memang kewajiban pendamping hidupmu. Namun, menurut hemat Ibu, semua itu bermula dari kemampuan untuk menjaga tingkah lakunya agar tak menjadi fitnah bagimu. Engkau pun wajib menjaga tingkah lakumu agar tak menjadi fitnah baginya.

Anakku sayang, tabiat lisan seringkali menceritakan tingkah laku. Ketika lisanmu tidak menjadi telaga yang sejuk baginya, maka mana mungkin kau bisa menghilangkan dahaga kasih sayangnya. Begitu pula dirinya, pendamping hidupmu. Jika lisannya begitu mudah untuk menyebarkan rahasiamu atau rahasia orang lain, menikmati pembicaraan yang belum tentu benar dan salahnya, maka bagaimana mungkin ia mampu menjaga amanatmu, bagaimana mungkin ia mampu menjadi ummun warabbatul bait, bagaimana mungkin ia mampu menjaga kehormatan dan hartamu, sementara ia tak mampu menjaga “kehormatannya” sendiri. Kalaupun ia berhijab dengan sempurna, maka hijabnya tak kan mampu menutupi ketajaman lisannya. Bahkan tak mustahil, nak, lisannya yang tajam itu akan mengoyak-ngoyak hijabnya sehingga seolah-olah dia tak berhijab lagi.

Semoga Allah melindungi kita dari keganasan lisan kita sendiri. Semoga Allah merahmati lisan kita sehingga tabiatnya senantiasa menyejukkan. Semoga Allah berkenan menjadikannya tempat peraduan orang-orang yang merindu kasih sayang.

Terimakasih Ibu… Temani aku selalu dengan doa dan dengan keridhaanmu. Ya Allah, ampunilah dosaku, dan dosa kedua orang tuaku. Rahmatilah keduanya, ya Allah, sebagaimana mereka mendidikku semasaku kecil…

Dialog Dua Hati (3)

Monday, October 9th, 2006

Waduh…aku bingung harus jawab apa jika ditanya seperti itu. Aku jadi berpikir, apa kira-kira maksud Ibu memberikan permisalan ini?

(Sang Ibu tersenyum) Anakku, semua orang yang normal pasti merasakan hal yang sama jika mereka berada di posisimu. Engkau tidak mau menerima enam ribu rupiah, lima puluh ribu rupiah, satu juta rupiah, bahkan mobil Jaguar sekalipun sebagai pengganti sepiring nasi rames karena harga nasi rames itu sudah tak ternilai lagi.

Apakah yang membuat nasi rames itu tak ternilai, bu?

Bukan karena kelezatannya, bukan karena kandungan gizi di dalamnya, dan bukan pula karena banyaknya. Nasi rames itu tak ternilai karena merupakan pemberian darimu yang penuh cinta dan keikhlasan. Sekecil dan sesedikit apapun yang engkau berikan, ketika diberikan dengan cinta dan keikhlasan, maka seketika itu pula tiada satu makhluk pun yang mampu menilai apa yang engkau berikan, bahkan dirimu sendiri. Seketika itu pula, nilai fisik pemberianmu seolah-olah menjadi tak berarti. Seketika itu pula, hanya Allah yang mampu menilainya secara hakiki dan…siapa yang lebih baik dari Allah dalam menilai dan membalas amal hamba-hamba-Nya? Maka tidaklah heran jika engkau tidak menerima sebesar apapun pembayaran atas pemberianmu, karena tak akan sanggup menyamai nilai apa-apa yang engkau berikan.

Anakku, bahkan sebenarnya engkau bisa memberikan yang tak ternilai tanpa perlu mengeluarkan uang sepeserpun.

Apakah itu, Ibu?

Senyumanmu. Ya, tersenyumlah kepada mereka yang berjumpa denganmu. Dengan senyum itu, semoga terbetik sedikit kedamaian di hati yang melihatnya atas izin Allah. Dengan senyum itu, semoga hati yang terbakar amarah menjadi tenang kembali atas kehendak-Nya. Dengan senyum itu, semoga menjadi washilah hidayah Allah untuk hati yang terpapar penyakit atau hati yang keras membatu. Masihkah ada yang lebih berharga daripada kedamaian, ketenangan, dan hidayah dari Allah?

Anakku, betapa bahagianya engkau jika bisa memberikan sesuatu yang tidak ternilai. Seorang milyuner bisa memberikan segudang emas dan perak, sesuatu yang tetap saja ternilai. Bukankah engkau sejatinya lebih kaya dari milyuner itu, jika engkau bisa memberikan yang tak ternilai? Dan bukankah engkau lebih berbahagia darinya sebab yang engkau berikan jauh lebih berharga, bahkan kau pun tak sanggup menghargakannya? Dan tidaklah seseorang memberikan sesuatu yang tak ternilai, kecuali ia menjadi pribadi yang tak ternilai pula.

Anakku sayang, betapa indah balasan dari Allah bagi pribadi-pribadi yang tak ternilai…

(Tanpa terasa air mata terderai, membasahi pipi sang ibu. Tersedu-sedu sang ibu ketika melanjutkan kembali kata-katanya)

Betapa…..kebahagiaan pribadi yang tak ternilai tak hanya berlimpah di dunia, tetapi juga berujung pada kebahagiaan di akhirat kelak, seperti halnya kebahagiaan pertama.

Allah berfirman dalam al-Quran:

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih

Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan

Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati

(Al-Insaan 8-11)

Dialog Dua Hati (2)

Monday, October 9th, 2006

Ibuku, apakah salah menjadi manusia yang kaya dan banyak keturunannya?

(Sang ibu tersenyum). Tidak anakku, tidak salah menjadi orang kaya dan tidak salah pula memiliki banyak keturunan. Bukankah mustahil bagimu untuk berjihad dengan harta, ketika tiada sepeserpun yang kau punya. Tidakkah sejuk hatimu, ketika anak-anakmu menjadi qurratu a’yun yang meneruskan perjuanganmu. Anakku, manusia bersalah ketika ia melupakan Dia Yang Menganugerahinya harta dan anak-anak.

Anakku sayang, betapa indahnya suasana ketika Allah memberikan dengan penuh cinta dan ridha kepadamu. Sedikit atau banyak tetap penuh keberkahan. Sedikit atau banyak tetap penuh dengan mashlahat. Dan betapa semakin indahnya, ketika engkau pun menyadari bahwa pemberian itu tanda cinta-Nya sehingga engkau tetap waspada dalam kesyukuran dan penghambaan, tenang dalam persangkaan baik kepada-Nya, dan semakin kencang engkau berlari meraih sebagian karunia-Nya. Dan puncaknya, betapa bahagianya dirimu ketika Allah memuliakanmu dengan sebutan ”hamba-Ku” lalu menghadiahi kebahagiaan akhirat kepadamu.

Ibu, aku telah memahami nasihatmu, tetapi apakah salah ketika aku merasa, beraat sekali meraih kebahagiaan pertama ini, bukan aku tak ingin, tetapi karena syaithan jin dan syaithan manusia tak pernah berhenti menggodaku.

Anakku, sesungguhnya Ibu pun merasakan hal yang sama. Tiada yang bisa meringankan, tiada yang bisa memudahkan, selain Allah. Semoga kita selalu mengabdi dan memohon pertolongan hanya kepada-Nya.

Ibu, lantas apa kebahagiaan yang kedua?

(Sang ibu menghela napas) Anakku sayang, kebahagiaan yang kedua adalah ketika engkau mampu memberi dengan penuh cinta dan keikhlasan kepada orang-orang di sekitarmu sehingga engkau menjadi manusia yang bermanfaat dan tak ternilai. Sedikit atau banyak yang kau beri, tidaklah menjadi ukuran kebahagiaanmu, tetapi keikhlasan dan rasa cinta yang mengiringinya, itulah yang menjadikan kebahagiaanmu berlipat ganda.

Tahukah engkau anakku, berapa harga sepiring nasi rames yang kau hidangkan kepada sang tamu yang bertandang ke rumah kita?

Hmmm…kalau dihitung-hitung, harganya enam ribu rupiah.

(Sang ibu tersenyum) Anakku, jika sang tamu membayar enam ribu rupiah kepadamu. Apakah akan engkau terima?

Hihi…ibu bisa saja nih…ya enggak saya terima dong, bu. kan, rumah kita bukan warteg. J

Bagaimana jika ia membayar lima puluh ribu rupiah, engkau tertarik anakku?

Emmm…sepertinya tetap tidak tertarik, bu.

Tampaknya masih kurang ya, bagaimana kalau satu juta rupiah untuk sepiring nasi rames?

Ibu ada-ada saja J sepiring nasi rames itu kan, bukan untuk diganti dengan uang, bu.

Anakku, jika engkau tak mengharapkan uang, bagaimana jika sang tamu menggantinya dengan satu unit mobil Jaguar terbaru?

He..he…kalau dikasih mobil Jaguar sih mau banget :P, tapi kalau ada embel-embel bahwa mobil itu sebagai pengganti nasi rames, rasanya aneh aja, bu. Entah mengapa, aku pikir itu tidak pantas.

Anakku, engkau tidak mau menerima uang dan engkau pun segan menerima Jaguar itu sebagai pengganti sepiring nasi rames. Lalu, apa yang sebenarnya engkau harapkan? Jika sang tamu bertanya kepadamu apa yang engkau inginkan sebagai pengganti nasi rames, bagaimana jawabanmu?

Dialog Dua Hati* (1)

Monday, October 9th, 2006

Pagi itu tak seperti biasanya. Adalah seorang ibu yang duduk di atas kursi kayunya, memandangi dengan seluruh jiwa dan raga, putra satu-satunya.

Ada yang berbeda dari pandangan itu. Sebuah harapan terpancar dari raut muka ibunda, yang senyumnya menghangatkan kening sang putra, seorang pemuda yang tengah berlari, menuju kedewasaan akal dan hatinya.

Ibu, apakah yang seharusnya paling diharapkan seorang manusia, sepertiku?

Anakku sayang, setiap manusia, tidak hanya engkau, memiliki harapan-harapan yang sama… Wujudnya boleh jadi berbeda, tetapi hakikatnya sama saja.

Apakah itu, Ibu?

Engkau, Ibu sendiri, dan siapapun yang hadir di dunia ini mengharapkan dua kebahagiaan. Kebahagiaan pertama adalah ketika engkau mendapatkan karunia dari Tuhanmu, sementara Dia mencintai dan ridha kepadamu sehingga Dia memberikannya dengan penuh cinta dan kerahiman-Nya. Engkau pun menyadari bahwa pemberian itu adalah tanda cinta-Nya.

Anakku, bisakah kau bayangkan bagaimana engkau diberikan emas dan perak seukuran bumi, lalu ditambah lagi seukuran bumi. Namun, yang memberikan emas dan perak itu terlebih dahulu menginjak-injak kepalamu sebagai syarat atasmu. Apakah engkau akan menerimanya ataukah engkau menerimanya dengan sepenuh hati, atau bahkan engkau tak peduli sebab injakan itu segera diganti emas dan perak?

Apakah itu yang lebih baik, ataukah jika suatu hari engkau berjalan di siang hari yang terik. Dahagamu tak tertahankan lagi, menunggu sejuknya air untuk membasahi kerongkonganmu sementara pundi-pundi airmu telah kosong dan uangmu tak bersisa. Lalu datang seseorang yang iba padamu. Ia lantas memberikan segelas air untuk kau minum. Ia tersenyum kepadamu penuh keikhlasan. Engkau meneguk air itu dengan semangat sampai rona merah kembali menghiasi wajahmu. Tak lama kemudian, apakah hanya dahaga di sepanjang kerongkonganmu yang hilang? Tidakkah hilang dahaga di hatimu, berganti kegembiraan atas senyuman dan pancaran keikhlasan yang engkau terima?

Anakku sayang, jika demikian, apakah emas dan perak itu lebih berharga daripada segelas air yang kau minum?

Ibu, jika demikian, tentu segelas air lebih berharga bagiku meski emas dan perak lebih mahal jika dijual di pasar-pasar.

(Sang ibu tersenyum) Anakku…memang begitulah. Tidak sedikit manusia yang menilai dari apa yang tampak, apa yang berwujud. Inilah yang membuat mereka tak kuasa menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang diuji. Mereka tak sadar bahwa kaki-kaki mereka berpijak di dalam  lingkaran fitnah. Anakku, emas dan perak memang mahal, tetapi apalah artinya itu semua jika diberikan dengan penghinaan dan berbalut kebencian. Anakku sayang, berlindunglah kepada Allah agar engkau tidak termasuk orang-orang yang dianugerahi perhiasan dunia yang dengan perhiasan itu Allah bermaksud mengazab mereka. Sesungguhnya Allah telah berfirman mengenai orang-orang yang munafik :

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk mengazab mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (At-Taubah 55)

Anakku sayang, betapa sengsaranya orang-orang yang ditipu oleh harta dan keturunan mereka, sementara Allah tidak menyukai mereka. Semburat bahagia dan gelak tawa hampir tiap hari mewarnai wajah mereka, tetapi engkau tidak tahu apakah hati mereka juga bahagia, apakah hati mereka juga tertawa. Kalau tidak hari ini hati mereka menangis, maka suatu hari mereka akan menangis di atas tumpukan harta dan di dalam pelukan anak-anak mereka.

Bersambung…

§Inspired from my daily activities, readings, and others