Mentarai Kecil di Nenggala (1)
Tuesday, October 24th, 2006Ketika pikiran melayang atau terasa begitu mumet, maka menepilah. Kita tidak salah saat melambatkan laju perjalanan kita atau berhenti sejenak untuk menenangkan diri. Yang salah adalah ketika kita melambatkan langkah kaki di tengah-tengah koridor. Jika demikian, malah bukan ketenangan yang kita dapatkan, tetapi mungkin tubuh kita bertubrukan dengan orang lain atau kita dimaki-maki karena menghalangi jalan. Jika demikian, berarti kita telah mencapai puncak egoisme, yakni kita ingin tenang dengan membuat orang lain tidak tenang, kita ingin bebas sementara orang lain terkekang oleh kebebasan kita. Ketenangan dan kebebasan itu pun pada akhirnya tak jua kita dapatkan.
Sebagian pengguna koridor mungkin tidak berjalan sendiri-sendiri. Mereka bergerombol dengan para koleganya sembari tertawa dan dengan serunya membahas tentang urusan-urusan mereka. Karena jumlah mereka banyak, maka mereka agak sulit menepi. Walhasil, mereka “menghabiskan” seluruh lebar koridor. Tidak hanya itu, kesibukan mereka berdiskusi di sepanjang koridor membuat mereka lambat dalam berjalan. Kondisi ini tentu lebih parah daripada berjalan sendiri-sendiri. Orang yang di belakang mereka semakin sulit untuk menembus barikade gerombolan manusia di depannya.
Tidak masalah jika kita begitu sibuk berinteraksi dengan sahabat-sahabat kita. Namun, kita harus tetap ingat bahwa koridor yang kita lalui bersama segenap sahabat bukanlah milik kita. Semoga interaksi kita itu tidak membuat orang lain merasa tidak nyaman. Hargailah orang lain yang mungkin bukan berasal dari komunitas kita. Memiliki komunitas tersendiri bukanlah suatu kesalahan, tetapi akan berubah menjadi sebuah kesalahan ketika kita “lupa” memperhatikan mereka yang juga berjalan di koridor kehidupan yang sama. Semoga kita tidak menjadi komunitas yang “menunggu” ditegur dengan ungkapan “Permisi mas, mbak” oleh para pengguna koridor di belakang kita. Apakah kita harus “menunggu” ditegur agar kita tersadarkan untuk menepi? Mengapa kita tidak berinisiatif untuk memberikan ruang bagi para pengguna koridor selain kita? Jika kita tidak mau menepi atau mempercepat langkah kaki kita, maka lagi-lagi kita terjebak dalam egoisme, yakni egoisme pribadi yang kemudian saling berkumpul membentuk egoisme kelompok.
Boleh jadi, orang-orang yang berjalan lambat di tengah koridor sebenarnya tidak pernah punya niat untuk menghambat para pengguna koridor lainnya. Namun, sayang sekali, mereka lengah. Ya… ini saja penyebabnya. Mereka lengah, mereka terlena dengan urusan-urusan mereka sendiri sehingga tidak sadar ada orang-orang yang terzhalimi akibat perilaku mereka.
Hikmah kedua
Lebar koridor begitu bervariasi. Adakalanya sangat lebar dan adakalanya hanya cukup dilalui oleh satu banjar manusia. Begitu pula kehidupan yang kita jalani bersama. Adakanya lapang dan adakalanya sempit menjepit. Bagaimanapun kondisi koridor itu, kita sebagai pengguna koridor harus terus berusaha untuk sigap dalam berjalan. Tidak perlu terburu-buru, tetapi juga jangan berleha-leha, apalagi berhenti. Kalau terburu-buru, mungkin saja kita menubruk atau tak sengaja menginjak kaki orang lain. Kalau terlalu santai, mungkin saja kita sendiri yang tertubruk atau setidaknya mengakibatkan kemacetan di sepanjang koridor. Di sinilah kita membutuhkan keseimbangan dalam menentukan kecepatan langkah kaki kita. Keseimbangan yang tercipta menggambarkan ikhtiar yang penuh optimisme.
Sigap saja tidak cukup. Kita pun harus tetap mengamati kondisi di sepanjang perjalanan sehingga kita menjadi pribadi yang fleksibel. Jika kita bermaksud memperlambat langkah kaki kita, maka menepilah sehingga orang lain tetap leluasa melaju. Biasakanlah untuk mengamati kondisi di sekitar kita agar langkah-langkah kita tidak menghadirkan kesulitan bagi orang lain. Jangan terlalu banyak berdiskusi di sepanjang koridor karena efeknya hanya akan memperlambat langkah kita. Demikian pula dalam kehidupan, terlalu banyak bicara yang tidak pada tempatnya hanya akan mengurangi tindakan nyata kita atau bahkan merugikan orang lain. Jika kita tidak membiasakan diri untuk santun ketika berjalan di sepanjang koridor, jembatan, lorong, atau yang sejenisnya (sesuatu yang notabene cukup mudah), maka bagaimana mungkin kita bisa santun saat berjalan di atas koridor yang bernama ‘kehidupan’?
Semoga Allah memberikan kekuatan dan petunjuk kepada kita untuk mengamalkan hikmah ini…
Dek Nung, itulah sebagian hikmah yang aku simpulkan. Aku yakin masih banyak yang lain. Dek Nung cari lagi ya J
Oche deh… Makasih ya, Kak!
Tak terasa mentari sudah mengecil di ufuk barat Nenggala. Alwanizza dan Nuha bergegas pulang ke rumah mereka. Mereka tak sabar menunggu hari esok untuk menemukan mutiara hikmah selanjutnya. Wallahu a’lam.