Quo Vadis, Keislaman Kita? (2)
Islam sebagai the way of life berada pada tataran idealisme yang mungkin tidak selalu mudah untuk diimplementasikan, tetapi pasti menjadi cita-cita kita semua. Sementara itu, islam sebagai the way of worship justru menjadi hal yang sangat mudah untuk dicerna dan dipahami karena notabene terlihat oleh mata kepala (seperti ritual shalat, zakat, haji, dll). Islam sebagai the way of worship pada hakikatnya adalah konsepsi yang berada di konstelasi Islam sebagai the way of life. Orang yang menjadikan Islam sebagai the way of life secara otomatis telah mendudukkan Islam sebagai the way of worship, tetapi tidak sebaliknya. Orang yang menjadikan Islam sebatas the way of worship adalah mereka yang hanya berorientasi pada ibadah yang bersifat ritual. Sebagai contoh sederhana, kita tak pernah absen shalat lima waktu, tetapi sebagian dari kita pun seringkali absen kuliah tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan, telat datang ke kantor atau kampus, malas belajar, malas bekerja, malas berprestasi, tidak profesional dan hal-hal negatif lainnya.
Paradigma yang hanya mengorientasikan Islam sebagai the way of worship selanjutnya mempengaruhi persepsi kita terhadap pemakaian simbol-simbol keislaman. Kita cenderung mudah untuk mengatakan atau minimal beranggapan bahwa orang yang sering memakai baju koko, wanita yang berjilbab dengan baik, orang yang selalu membawa mushaf al-Quran kemana-mana (kecuali ke kamar kecil), orang yang sering berdzikir dan mengaji di masjid sebagai orang-orang yang shalih (atau seringkali disebut “alim”). Hal ini sama sekali tidak salah dan sangat amat wajar serta relevan. Namun, berawal dari kesan wajar inilah kita kadangkala terlena sampai akhirnya terjebak di dalam pakaian luar keislaman kita sehingga di antara kita ada yang sampai men-cap bahwa orang-orang yang tidak seperti mereka adalah muslim yang tidak shalih. Pada titik inilah, kita, baik sadar maupun tidak, telah menstratifikasi “tingkat keshalihan” seseorang, padahal hanya Allah yang memiliki hak stratifikasi itu.
Satu fenomena lagi yang kerap membuat saya prihatin dan geram terkait dengan stratifikasi keshalihan adalah kebiasaan penggunaan sapaan “ikhwan” dan “akhwat”. Kedua istilah ini memiliki akar makna yang sama, yakni ”saudara”. Namun, saya mengamati kecenderungan bahwa sebutan “ikhwan” dan “akhwat” masing-masing telah menjadi monopoli muslim dan muslimah yang berafiliasi dengan institusi atau lembaga dakwah Islam. Seolah-olah, para muslim dan muslimah yang berada di luar lingkaran komunitas itu tidak berhak disebut “ikhwan” atau “akhwat”. Seolah-olah, seorang muslim harus aktif di organisasi dakwah terlebih dahulu kalau mau disebut “ikhwan”; seolah-olah, seorang muslimah harus berjilbab dengan sempurna terlebih dahulu kalau mau disebut “akhwat”. Seolah-olah, sebutan “ikhwan” dan “akhwat” menjadi representasi status sosial yang tidak serta merta dimiliki oleh setiap pribadi yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat. Padahal, selama seseorang mengaku muslim dan beriman, berarti dia adalah saudara kita sesama muslim dan berarti pula kita berhak menunjukkan semangat persaudaraan kita dengan menyapa “wahai, akhii” atau “wahai, ukhtii” kepadanya.
Perkara penyebutan “ikhwan” dan “akhwat” di atas memang hal kecil dan terkesan sepele, tetapi tidak sepenuhnya demikian menurut saya. Jika kita tidak berhati-hati dengan hal kecil tersebut, saya khawatir hal itu secara perlahan akan semakin mengeksklusifkan para aktivis dakwah di masyarakat. Keeksklusifan ini pada gilirannya akan menjadi bumerang bagi efektivitas aktivitas dakwah itu sendiri.
Saudaraku,
Jika kita terlena di balik pakaian luar keislaman kita, maka mungkin kita akan lupa untuk memberikan apresiasi positif kepada para muslim yang selalu tepat waktu, muslim yang profesional, muslim yang bekerja keras dan cerdas, terlebih lagi jika mereka tidak selalu akrab simbol-simbol keislaman. Boleh jadi, mereka lebih suka memakai kemeja dan mencukur jenggotnya dibandingkan mengenakan koko dan memanjangkan rambut di dagu; boleh jadi, jilbab mereka tetap menutup aurat dengan baik meskipun ujungnya tidak sampai segaris dengan lutut. Bahkan, mungkin mereka baru saja belajar memakai jilbab di tengah desakan hebat tren jilbab modis yang sedikit-banyak mengaburkan pemahaman sebagian muslimah mengenai syariat penutupan aurat wanita.
Bersambung…
December 15th, 2006 at 12:24 am
Inilah hal yang pernah saya pikirkan sebelumnya. Islam terkadang memang dimaknai sebagai suatu yang parsial, hanya berkisar pada masalah ‘ibadah’, yang lainnya? bukan islam mungkin! Tanpa disadari terkadang kita memang terjebak, hal ini tak bisa dirasakan langsung karena kita sendiri terlena oleh ‘islam buatan’ kita.
Satu hal yang mengingatkan saya pula yaitu mengenai status ikhwan, akhwat, dan entah segala macam istilah yang arab sejenis. Saya merasa malah menjadi batu sandungan bagi pejuang dakwah yang sedang bergelora menebarkan dakwahnya. Tanpa terasa ada ke-eksklusif-an yang terlihat.Bagaimana hal ini bisa menjadi sandungan?karena objek dakwah seorang da’i tidaklah mungkin dari orang sudah’lurus’, tapi diprioritaskan pada yang belum mengenal islam dengan baik, meskipun ia mengaku islam.Ketika pandangan eksklusif itu muncul, maka yang belum merasa janggutnya sepanjang para ikhwan dan jilbabnya selebar para akhwat yang telah secara progresif menampakkan simbolnya akan lari dan merasa “gak gue banget dech!”. Akhirnya, jadilah yang menjadi kader adalah orang-orang yang sebelumnya sudah terkader. Munkin,perlu kiranya sebuah dakwah kultural yang mampu merangkul segala heterogenitas.
Saya pernah berpikir,jangan-jangan mereka yang ji lbabnya tidak lebih lebar atau janggutnya tidak lebih panjang dari kita malah lebih islami??? tanya ken….apa!!
Ya,untuk saudara Al-Fikr salut deh untuk segala pemikirannya!
January 22nd, 2007 at 11:32 pm
Tapi, hal yang perlu diperhatikan lagi adalah : sikap para da’i/da’iyah, atau orang2 yang mengenakan busana takwa dengan sempurna. masih banyak yang berkesan eksklusif, superior, kurang peduli atau lebih parah lagi antipati sama orang2 yang dianggap sangat menyimpang.. Padahal latar belakang pendidikan seseorang berbeda, dari keluarga sampai sekolah. dan bukan sepenuhnya kesalahan mereka sendiri. kalo perlakuan aktifis dakwah aja begitu, ya..kabur semua. Asalkan para da’i/da’iyah tersebut bisa menjaga akhlaq n hub dengan sesama.. urusan dakwah jadi lebih mudah :p
January 23rd, 2007 at 7:15 am
y u p . . .
gw prefer kayak tan malaka… dia dikenal sebagai seorang komunis-sosialis ketimbang gharim atau pas peristiwa renagsdengklok pak tua yang memakai kopiah disaat para revolusioner (hatta-soekarno) terdesak membuat naskah proklamasi (gak tau kan^^), atau seorang guru ngaji yang misterius yang mengilhami bung tomo waktu penolakan pendaratan sekutu di surabaya… let people judge my mind and let me keep my faith… ^^ bagus tulisannya kang!!
February 8th, 2007 at 4:41 pm
menurut saya itu salah satu contoh fenomena ‘kesalahkaprahan’ yang men-generalisasi. seperti saya misalnya seb kul, istilah ikhwan-akhwat agak asing di telinga saya, awalnya saya biasa mendengar muslimin-muslimat. muslimin-muslimat lebih pada arti wanita atau pria dengan indetitasnya sbg seorang muslim, atau bersikap maupun berprilaku sebagai org muslim. ketika saya masuk kul khsusnya organisasi, barulah saya menemukan istilah tsb. tapi karna lingkungan juga, saya pun terbiasa memakai istilah tsb -tanpa bermaksud mem-exclusive-kan atau apapun itu-. ada satu hal yang menurut saya cukup berbeda adalah ktk kita memanggil sapaan dgn istilah ikhwan-akhwat seperti terjalin ikatan persaudaraan yg lebih kuat, dan ya memang arti sebenarnya seperti itu (mungkin juga jadi berbuah do’a)makanya saya senang memanggil teman saya bahkan yang belum berjilbabpun dengan sapaan spt itu (walaupun mereka -yang blm berjilbab- sering bilang “aduh, saya mah bukan akhwat” dll, biasanya saya jelaskan tentang artinya kenapa saya memanggil dengan istilah itu unt memperbaiki salah kaprah. ya, ini juga terkait bagaimana kita memandangnya, yang mudah2n ktk kita berbuat sesuatu terus berusaha menghindarkan -hal-hal yang mudharat pun sekecil-kecilnya terutama saat bermuamalah, aamiin. satu hal lagi hikmahnya, ini menjadi ibrah/pelajaran buat kita semua saat kita mengukung sebuah kata, akan lebih baik kalau kita mengartikan dengan cara kembali lagi ke kata asal, sehingga miskonsepsi bisa dihindari (cont: ttg kata ‘politik’ makna asalnya adalah strategi mengatur kenegaraan, saat ini sudah umum diartikan hanya sebagai ’strategi’saja, sehingga anak kecilpun saat hendak bermain dengan teman2nya memakai kata “ayo teman2 kita berpolitik agar kita yang menang…”)subhanallah. wallahu a’lam
February 13th, 2007 at 3:51 pm
amal shalih aja kok bingung
bukan akhlaq shalih lho.
amal ya amal,bukan cuap2 aja.
sori ga nyambung,panjang bgt tulisannya jadi males baca
April 10th, 2008 at 2:27 am
Setuju banget mas:
…….
Satu fenomena lagi yang kerap membuat saya prihatin dan geram terkait dengan stratifikasi keshalihan adalah kebiasaan penggunaan sapaan “ikhwan” dan “akhwat”.
…….
Saya juga benar2 knal istilah2 itu sejak saya masuk bangku kuliah,walaupun SMP-SMA saya Sekolah Islam.
Sebenarnya juga kan kita ga dapet pahala dari istlah2 tu, setahu saya.
Termasuk pula waktu semester awal saya masuk d kos yang notabene kos Akhwat yang Insyaalah awalnya saya maksudkan untuk bisa lebih menjaga dan membimbing saya menuju Islam yang kaffah.
Wal hasil ternyata banyak kekecewaan dan keprihatinan yang saya temui.
Wallahualam lah
April 12th, 2008 at 3:34 am
Setuju banget mas
…….
Satu fenomena lagi yang kerap membuat saya prihatin dan geram terkait dengan stratifikasi keshalihan adalah kebiasaan penggunaan sapaan “ikhwan” dan “akhwat”.
…….
Walaupun sebelum masuk bangku kuliah saya pernah mendengar istilah2 itu digunakan(soalnya SMP-SMA saya dulu sekolah Islam),tapi saya cukup kaget dengan penekanan istilah2 tu setelah masuk bangkku kuliah (terkesan terjadi stratifikasi “tingkat keshalihan” seseorang).
Satu lagi,menurut pengalaman saya,awal kuliah dulu saya sempat kos d kos2an yang notabene adalah kos2an “Akhwat”(dalam artian istilah tu).Awalnya tu Insyaallah memang niat sedari awal saya supaya minimal dari segi Syar’i lebih terjaga.Tapi lama2 saya merasa ga betah dan ga sanggup bertahan lantaran saya merasa paradigma2,kebiasaan2, penekanan2,arah gerakan/kegiatan yang da tidak disetujui oleh hati nurani dan prinsip diri saya,lebih tertuju pada penggemukan masa golongan dan secara tidak langsung saya merasa d kejar bwt masuk kesana.
Walhasil saya pindah kos(walaupun tetep cari kos yg Insyaallah minimal saya tetep bisa jaga secara Syar’i d situ,minimal bwt diri sendiri lah,walaupun d situ ternyata orangnya gaul2 semuanya).Tapi menurut saya ga papa asal d situ minimal saya bisa jaga diri saya sendiri(kayaknya jadi tingkatan Iman paling rendah mang).
April 23rd, 2009 at 10:34 pm
biasa saja. ndak perlu eksklusif entah yang ngarab-ngarab pi atau yang katanya islami atau yang kesan diluar ndeles kt orang jawa. kita indonesia gitu lhoh. kadang kita terlalu bertele-tele membahas isi padahal kulitnya saja belum ngeh! GARING jadinya.