Selukis Senyum dari Hati ke Wajah, Turun ke Hati
Saturday, January 20th, 2007Saudaraku,
Bayangkan suatu ketika Anda sedang menunggu angkutan umum di halte yang becek. Sebuah mobil mewah kemudian melintas dengan kencangnya, menyambar air bercampur tanah di depan halte, dan akhirnya air berwarna coklat itu mengotori pakaian Anda. Anda kesal? Tentu saja, kita berpotensi untuk kesal jika demikian
. Namun, semoga Anda sepakat dengan saya bahwa kekesalan itu tidak akan membuat pakaian Anda kembali bersih. Kekesalan itu justru membuat Anda uring-uringan dan membuat Anda menghabiskan beberapa menit hanya untuk memasang tampang masam dan dahi yang mengkerut, padahal hal itu sama sekali tidak mampu membersihkan pakaian yang terlanjur kotor. Sebaliknya, apa yang terjadi jika Anda lekas mengganti tampang masam Anda dengan sebuah senyuman?
Saudaraku,
Senyuman itu pun sudah jelas-jelas tidak akan secara otomatis membersihkan pakaian Anda. Namun, insya Allah senyuman akan membantu kita untuk cepat membersihkan (mengikhlaskan) hati dari kemarahan. Dengan hati yang bebas dari amarah, kita akan mampu memfokuskan diri pada solusi, bukan pada sumber masalah. Pada kasus terciprat air kotor di atas, maka senyuman Anda akan membuat Anda berpikir dan bergerak lebih cepat untuk mengatasi pakaian Anda yang kotor. Kalau kita memilih untuk merengut, maka mungkin kita cenderung melampiaskan kekesalan terlebih dahulu (dengan berteriak, ngedumel dalam hati, dll) sebelum akhirnya kita mencari solusi. Akibatnya, sedikit atau banyak waktu kita terbuang percuma. Selain itu, rasa kesal itu pun berpotensi hinggap lebih lama dalam hati karena kita tidak segera menawarkannya dengan selukis senyuman. Boleh jadi, rasa kesal yang cukup lama mendiami relung hati akan membuat kita mudah tersinggung sehingga menurunkan produktivitas kita hari itu. Jika setiap harinya kita bertemu dengan lebih satu hal yang membuat kita kesal, maka tak terbayangkan seberapa rendahnya produktivitas kita jika kita tidak melukis senyum sedikitpun.
Saudaraku,
Senyuman adalah hal kecil dan mudah yang sudah kita ketahui ragam manfaatnya. Di antara sekian banyak manfaat senyuman, saya memahami bahwa core function dari senyuman adalah sebagai langkah pertama dalam menjaga kebersihan hati. Terkait hal ini, kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan dapat kapan saja menghampiri kita. Hal-hal inilah yang membuat kestabilan hati tiba-tiba terganggu tanpa mengenal waktu sehingga hati kita terkotori. Kemudian, Allah-lah yang menciptakan wajah yang mampu tersenyum sebagai pintu gerbang kebersihan hati.
Saudaraku,
Mari kita berlatih terus untuk tersenyum agar senyuman kita berdampak positif dan mampu mendekati core function tersebut. Sebab, ada juga senyuman yang cenderung negatif. Senyuman genit atau senyuman tebar pesona yang berlebihan kepada khalayak ramai cenderung mengotori hati kita dengan keangkuhan, sifat riya, dan hal-hal negatif lainnya, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. (na’udzubillah tsummaa na’udzubillah min dzaalik). Sebaliknya, senyuman yang “sehat” akan mempersiapkan hati kita untuk menjadi pemimpin yang baik bagi “kerajaan” diri. Senyuman yang sehat insya Allah mengimplikasikan sebab-sebab hati yang bersih. Hati yang bersih mudah untuk ikhlas dalam menerima apa yang terjadi pada diri kita setelah berikhtiar. Hati yang bersih akan membuat kita pasrah dan menyerahkan sepenuhnya segala keputusan kepada-Nya. Hati yang bersih akan memerintahkan akal untuk berpikir dengan jernih sehingga dapat menemukan solusi yang relatif cepat dan tepat atas masalah yang menimpa kita. Hati yang bersih akan mudah memaafkan orang lain atas segenap perilaku yang menghadirkan kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan. Hati yang bersih akan mudah menerima dan mencerna nasihat dari orang lain.
Saudaraku,
Demikianlah implikasi dari core function selukis senyuman, sesuatu yang sangat berbobot dan sangat mempengaruhi cara pandang dan pola perilaku kita di setiap lini kehidupan. Oleh karena itu, jelaslah bahwa kita tidak boleh berhenti berlatih untuk mendapatkan senyuman yang “sehat”, yakni senyuman yang mengantarkan hati kita kepada kebersihan. Bagaimanakah kita berlatih untuk tersenyum?
Saudaraku,
Sebaiknya kita selalu menghadirkan wajah yang menyenangkan ketika berinteraksi dengan siapapun. Namun, ini tentu saja adalah kondisi ideal yang kadangkala sulit kita raih. Alih-alih demikian, ada baiknya jika kita membiasakan latihan senyuman.
Latihan senyuman yang paling penting adalah membiasakan untuk tersenyum ketika bertemu muka dengan orang yang saling kenal dengan kita dan orang yang (mungkin) kita kenal. Orang yang saling kenal dengan kita adalah orang tua kita, saudara kita senasab, teman-teman kita, guru kita, murid kita, manajer kita, staf kita, dll. Orang yang (mungkin) kita kenal adalah orang yang kita (mungkin) mengenalnya, tetapi dia (mungkin) tidak mengenal kita. Contohnya adalah orang-orang yang bersama-sama kita ikut ta’lim di masjid, kolega orang tua kita, rekan-rekan kita sekantor tetapi berbeda bagian/divisinya dengan kita, orang yang shalat di sebelah kita di masjid, para office boy atau janitor di instansi tempat kita beraktivitas, petugas keamanan, tukang siomay yang berkeliling di kompleks perumahan kita, dll.
Selanjutnya, mari kita berlatih untuk tersenyum pada saat kestabilan hati kita terganggu. Misalnya saat terciprat air seperti contoh di atas, saat orang lain tak sengaja menginjak kaki kita di bus, saat mendapatkan nilai ujian yang jelek, dll. Tersenyum di saat-saat masalah menimpa seperti itu bukanlah tanda sikap meremehkan atau menggampangkan, tetapi sebagai upaya terapi diri dalam rangka mendekati core function dari senyuman dan langkah awal dalam pencarian solusinya. Tersenyum pada saat marah, sedih, atau kecewa terkadang memang tidak mudah, tetapi justru di sinilah keikhlasan kita diuji oleh Allah. Satu hal yang menjadi catatan saya di sini adalah kita boleh jadi akan sangat sulit tersenyum di waktu marah, kecewa atau sedih apabila kita tidak terbiasa tersenyum kepada orang-orang yang kita kenal atau orang-orang yang mungkin kita kenal.
Lalu, bagaimanakah sebaiknya wajah kita melukis senyuman itu? Menurut saya, kita tidak perlu repot-repot mengatur ekspresi wajah sedemikian rupa agar senyuman kita simetris dan sebagainya. Marilah tersenyum dengan spontan, tidak berlebihan, dan apa adanya. Saya yakin bahwa kekuatan positif senyuman yang pertama dan utama bukanlah dari kecantikan dan ketampanan orang yang tersenyum, atau teknik tersenyum, tetapi dari niat yang mendasari senyuman itu. Nah, niat inilah yang selanjutnya harus kita latih dan inilah aspek latihan yang paling berat.
Saudaraku,
Kita sudah memahami bahwa setiap amal tergantung niatnya. Begitu pula senyuman. Senyuman yang sehat lahir dari niat yang baik. Mari kita berikhtiar untuk selalu ikhlas dalam tersenyum, bukan karena ingin sekedar menyenangkan hati mereka yang melihatnya, dan bukan pula sekedar ingin membuat orang lain menyukai kita. Insya Allah, niat bersih yang mendasari senyuman kita adalah modal yang terpenting dalam rangka mendekati core function dari selukis senyum.
Saudaraku,
Mudah-mudahan segenap latihan tersenyum yang kita lakukan selalu mendapatkan ridha dari Allah swt dan tercatat sebagai upaya kita untuk meneladani Rasulullah SAW, manusia yang paling sehat senyumannya. Senyuman beliau tidak hanya mengimplikasikan hati yang bersih, tetapi bahkan mampu menggetarkan pintu sanubari umatnya sehingga terbuka dan menjadi gerbang masuknya hidayah Allah kepada mereka. Dalam Shahih Bukhari saja, terdapat sedikitnya 31 tema hadits (satu tema terdiri atas beberapa hadits) yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW tersenyum ketika menyampaikan nasihat-nasihatnya. Semoga demikian pula dengan senyuman kita, yakni senyuman yang datang dari hati yang bersih ke wajah kita, lalu turun kembali ke hati agar ia semakin bersih…
Wallahu a’lam.