Melestarikan Cinta

Salah seorang rekan saya pernah mengirimkan sebuah tulisan yang menggelitik tentang kemesraan antara sepasang suami-istri (mungkin Anda sudah pernah membacanya). Tulisan yang berjudul Usia Pernikahan Mempengaruhi Kemesraan itu menceritakan interaksi suami istri dalam beberapa titik waktu di kehidupan mereka. Two thumbs up buat Anda yang tidak tersenyum sedikitpun saat membacanya =D. Nah, supaya tidak penasaran, saya kutipkan tulisan tersebut sebagai berikut:

Sebelum Bobo:

6 weeks: selamat bobo sayang, mimpi indah ya, mmmuach.

6 months: tolong matiin lampunya, silau nih.

6 years : KESANA-AN DOONG… KAMU TIDUR DEMPET2AN KAYAK MIKROLET GINI SIH?!

Ngajarin Nyetir:

6 weeks : hati2 say, injek kopling dulu baru masukin perseneling ya

6 months: pelan2 dong lepas koplingnya.

6 years : PANTESAN SERING KE BENGKEL, MASUKIN PERSENELINGNYA AJA KAYAK GINI!

Balesin SMS:

6 weeks: iya sayang, bentar lagi nyampe rumah koq, aku beli martabak kesukaanmu dulu ya

6 months: mct bgt di jln nih

6 years : OK.

Dating process:

6 weeks : I love U, I love U, I love U.

6 months : Of course I love U.

6 years : YA IYALAH!! KALAU AKU TDK CINTA KAMU, NGAPAIN NIKAH SAMA KAMU??

Back from Work:

6 weeks : Honey, aku pulang…

6 months : I’m BACK!!

6 years : SI MBOK MASAK APA HARI INI??

Hadiah (ulang tahun):

6 weeks : Sayangku, kuharap kau menyukai cincin yang kubeli

6 months : Aku membeli lukisan, nampaknya cocok dengan suasana ruang tengah

6 years : NIH DUITNYA, LOE BELI SENDIRI DEH YANG LOE MAU

Telepon:

6 weeks : Baby, ada yang pengen bicara ama kamu di telpon

6 months : Eh…ini buat kamu nih…

6 years : WOOIII TELPON BUNYI TUUUHHH….ANGKAT DUOOONG!!!

Tulisan di atas boleh jadi sangatlah hiperbolik, tetapi siapa tahu bahwa percakapan-percakapan singkat di atas adalah refleksi dari realita di tengah masyarakat kita J.

Moral yang ingin disampaikan di sini sebenarnya tidak melulu terkait dengan interaksi suami-isteri. Insya Allah, kita bisa mengambil pelajaran yang lebih generik yang bisa kita kaitkan dengan segala bentuk amanah Allah untuk kita.

Cerita humor di atas berusaha menggambarkan ungkapan cinta yang pelan-pelan kehilangan ruhnya seiring dengan berjalannya waktu. Fenomena surutnya ruh ungkapan cinta tidak hanya terjadi dalam kehidupan suami-istri semata, tetapi juga bisa menjangkiti kehidupan kita sebagai makhluk sosial.

Sebagai suatu fitrah, cinta hadir dalam hati manusia untuk diwujudkan kepada mereka atau sesuatu yang ia cintai. Pada awalnya, cinta cenderung diungkapkan dengan sangat ekspresif. Seorang manajer merawat dengan apik mobil barunya, selalu menginginkan mobil baru itu tampil licin dan mengkilap, dan sangat gusar jika ada goresan sedikit saja. Seorang remaja begitu senang dibelikan telepon seluler (ponsel) baru. Ia sangat hati-hati memakainya, tidak mau bertindak ceroboh sekali pun karena khawatir mencederai ponsel itu, bahkan sampai membatasi atau mungkin malah melarang kakak atau adiknya ketika mereka mau meminjam ponsel itu. Seorang bocah berteriak kegirangan ketika dihadiahi sebuah mobil remote control terbaru. Biasanya ia menjadi begitu posesif dan setia dengan mainan barunya. Hampir setiap hari, sang bocah sibuk mengeksplorasi mobil kendali-jarak-jauh itu, seolah-olah lupa bahwa ia punya sekotak besar yang berisi puluhan mainan lamanya.

Hari berganti hari, bulan tak lelah berevolusi, dan bilangan tahun pun terus bertambah. Apakah semangat sang manajer masih sama dalam merawat mobilnya yang tak lagi baru? Apakah sang remaja masih ingat untuk berhati-hati dalam merawat ponselnya yang sudah layak ‘di-museum-kan’ itu? Apakah sang bocah masih memainkan mobil remote-control itu sementara ayahnya baru saja membelikan tamagotchi versi 4?

Sejauh pengamatan selama ini, pertanyaan-pertanyaan di atas seringkali tak mampu dijawab secara positif. Sedikit atau banyak, semangat kita berkurang dalam menjaga, merawat, dan mencintai apa-apa yang Allah titipkan untuk kita, khususnya yang bersifat harta duniawi, terlepas dari bagaimanapun karakter diri kita yang mempengaruhi kecermatan dalam memelihara sesuatu. Meskipun demikian, turunnya semangat ini tak mustahil pula terjadi dalam hubungan antara sesama manusia, seperti antara kita dengan istri/suami kita, kakak/adik kita, dan dengan sahabat kita. Dalam konteks hubungan antar manusia, turunnya semangat ini ditandai dengan menurunnya kualitas dan kuantitas ungkapan cinta, baik secara verbal maupun non verbal. Turunnya kualitas ini biasanya dibungkus dengan alasan “sudah bukan zamannya”, “sudah tidak pantas lagi”, “malas”, bahkan “bosan”.

Lantas, apa yang menyebabkan semangat itu turun, apa yang membuat kita malas dan bosan dalam mencintai, dan apa yang membuat kita “kehilangan” ruh dalam mencintai? Mari kita telusuri dengan analogi sederhana. Anggaplah cinta itu adalah pelita dalam sebuah lampu semprong. Ungkapan cinta adalah sinar yang dipancarkan pelita itu dan motivasi cinta adalah minyak yang terus memberi energi bagi si pelita agar tetap mampu menerangi. Nah, dari analogi ini, kita bisa menemukan akar masalah turunnya semangat itu. Jika pancaran sinar pelita itu semakin meredup perlahan-lahan, maka hal pertama yang patut dicurigai adalah minyaknya sudah habis atau minyaknya kurang berkualitas. Jika semangat kita dalam mengungkapkan cinta terus menurun, maka boleh jadi kita perlu menelisik kembali, apa dan bagaimana sebenarnya motivasi kita dalam mencintai.

Seluruh manusia dianugerahi syahwat (keinginan) oleh Allah terhadap beragam perhiasan duniawi, seperti wanita, emas, perak, dan harta benda lainnya (Ali Imran:14). Artinya, manusia sudah memiliki modal naluriah untuk menyukai sesuatu tanpa perlu “diajari” oleh lingkungannya, yaitu syahwat itu sendiri. Karena syahwat adalah sesuatu yang menggerakkan kita untuk mengungkapkan cinta, maka syahwat bisa dikategorikan sebagai motivasi kita dalam mencintai. Syahwat adalah motivasi kita yang paling manusiawi. Meskipun demikian, karena syahwat seringkali menjadi kendaraan syaithan untuk melenakan manusia, maka syahwat seharusnya tidak menjadi minyak/bahan bakar pelita cinta kita. Syahwat bukanlah “minyak berkualitas” yang dapat menjaga terangnya pelita itu. Maka dari itu, tidaklah heran apabila kita kehilangan ruh dalam mencintai, kehilangan semangat terbaik dalam mencintai, merasa bosan dan malas, selama kita menjadikan syahwat sebagai motivasi cinta kita.

Lalu, minyak apakah yang akan membuat pancaran sinar pelita tak pernah redup? Apa motivasi yang harus kita miliki? Saudaraku, jawabannya sudah sering diungkap di berbagai artikel dan wacana, dialah “ikhlas”. “Ikhlas” adalah motivasi terhebat dan karena begitu hebatnya, sampai-sampai kita pun harus berjuang habis-habisan sepanjang masa untuk meraihnya. Insya Allah, ketika kita terus berusaha memosisikan “ikhlas” sebagai sumber motivasi kita dalam mencintai, maka sejak awal dan sampai kapanpun kita akan memberikan yang terbaik dan proporsional untuk sesuatu/mereka yang kita cintai. Di sisi lain, “ikhlas” akan mencegah kita agar tidak “menuhankan” apa atau siapa yang kita cintai. “Ikhlas” menjadi modal utama kita untuk mencintai, bukan karena kita merasa memiliki apa atau siapa yang kita cintai, bukan pula karena sesuatu/mereka yang kita cintai itu selalu seiring dengan keinginan kita, tetapi karena Yang Memilikinya meminta kita untuk mencintainya.

Jika “ikhlas” menjadi minyak, cinta adalah pelita, dan pancaran sinarnya adalah ungkapan cinta kita, lalu dimanakah posisi “syahwat”? Syahwat adalah anugerah Allah yang tidak boleh kita abaikan, melainkan harus ditempatkan pada posisi yang sesuai. Kedudukan untuk “syahwat” adalah sebagai tali sumbu yang menghubungkan antara minyak dan pelita, sebab “syahwat” pada esensinya adalah fasilitas bagi manusia untuk memenuhi kebutuhannya di dunia ini.

Saudaraku, mari kita berusaha untuk memiliki “lampu semprong” yang diminyaki keikhlasan, yang menjadi ruh pengendali syahwat kita agar pelitanya mampu memancarkan sinar yang terang benderang. Aamiin.

Wallahu a’lam

5 Responses to “Melestarikan Cinta”

  1. Burunk Says:

    “Saudaraku, mari kita berusaha untuk memiliki “lampu semprong” yang diminyaki keikhlasan, yang menjadi ruh pengendali syahwat kita agar pelitanya mampu memancarkan sinar yang terang benderang. Aamiin”

    tanya neh bro lampu semprong dan minyak mana yang lebih penting diantaranya? dan kita mesti mjd yg mana neh? sungguh membingungkan….

  2. Al-Fikr Says:

    minyaknya lebih penting…tapi kalo ga ada lampu semprongnya, nilai manfaat minyak jadi berkurang :)

  3. Burunk Says:

    menurut gw “semprong dan minyak” sama2 penting, karena saling membutuhkan. sehingga dengan keharmonisan keduanya bisa terwujuudlah “Kelestarian Cinta”. tp sayang semprong dan minyak terangnya ga terlalu & sifatnya hanya temporary, kan dah ada lampu neon yg lbh terang dari semprong. hehehhe….

  4. Dtqqrjqh Says:

    Hey, i save funny photos
    here

  5. Nurespourry Says:

    Bite my shiny metal ass, assholes, you were joked!

Leave a Reply