Archive for June, 2007

Prinsip “Teh Manis” : Meneladani Percakapan Nabi Yusuf a.s. dengan Dua Orang Pemuda (2)

Sunday, June 10th, 2007

Dan bersama dengan dia masuk pula kedalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang di antara keduanya: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur." Dan yang lainnya berkata: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung." Berikanlah kepada kami ta`birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena`birkan mimpi) (Yusuf:36).

Pada ayat ke-36 di atas, dua pemuda itu tampak mengapresiasi kepandaian Nabi Yusuf a.s. dalam menjelaskan makna di balik mimpi. Maka mereka pun menanyakan perihal mimpi mereka kepada sang nabi. Lantas, bagaimana reaksi Nabi Yusuf a.s.? Mari kita perhatikan ayat selanjutnya.

Yusuf berkata: Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian(Yusuf:37).

Wow, jelaslah bagi kita bahwa ternyata Nabi Yusuf tidak to the point memberikan penjelasan mengenai mimpi masing-masing pemuda. “Penjelasan mengenai mimpi” dapat diibaratkan sebagai “gula dalam teh manis” dan ternyata Nabi Yusuf tidak mengutamakan itu. Kita bisa mengamati pada ayat ke-37 ini, bahwa Nabi Yusuf memilih untuk mengutamakan penjelasan mengenai hal substansial : Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. Penjelasan mengenai hal substansial ini, yakni dakwah ilaa tauhiidillah, diteruskan oleh Nabi Yusuf sebagaimana diilustrasikan Allah pada ayat 38 hingga 40.

Dan aku mengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya`qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia itu tidak mensyukuri (Nya)(Yusuf:38).

Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?(Yusuf:39)

Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.(Yusuf:40)

Barulah pada ayat ke 41, kedua pemuda mendapatkan jawaban mengenai ta’bir mimpi mereka dari Nabi Yusuf a.s.

Hai kedua penghuni penjara, "Adapun salah seorang di antara kamu berdua, akan memberi minum tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku)."(Yusuf:41)

Saudaraku,

Kita dapat memahami beberapa poin penting dari enam ayat di atas. Pertama, kita menyadari bahwa pribadi Nabi Yusuf a.s. yang berbudi luhur berhasil menarik simpati dari dua orang pemuda sesama penghuni penjara. Kedua, Nabi Yusuf dengan cerdas memanfaatkan percakapan yang simpatik itu untuk menunaikan tugasnya sebagai pesuruh Allah, yakni mengajak kedua pemuda untuk memurnikan tauhid kepada Allah SWT. Ketiga, Nabi Yusuf tampaknya tidak tergesa-gesa untuk segera menjawab pertanyaan kedua pemuda, karena bukan itulah substansi percakapan di antara mereka. Beliau bisa memahami bahwa kedua pemuda itu akan tetap mendengarkannya dengan seksama sampai ia menjawab pertanyaan mereka. Nabi Yusuf pun menggunakan kesempatan emas itu untuk mengajarkan tauhid kepada keduanya. Kalau saja Nabi Yusuf a.s. langsung menjelaskan mengenai mimpi kedua pemuda itu, boleh jadi mereka tidak terlalu semangat lagi untuk menyimak ajaran tauhid yang disampaikan beliau.

Saudaraku,

Demikianlah kisah percakapan Nabi Yusuf a.s. bersama dua orang pemuda penghuni penjara. Dari situlah saya menyimpulkan sebuah teladan yang saya namakan sebagai prinsip “Teh Manis”. Dalam prinsip sederhana ini, pengutamaan hal-hal substansial bukanlah semata-mata dari segi waktu (dilakukan terlebih dahulu daripada hal-hal pelengkap) karena kita pun bisa “melarutkan gula” terlebih dahulu sembari atau sebelum “menyeduh teh”. Namun, pengutamaan ini lebih ditekankan pada perhatian dan strategi kita dalam mengemas dan menyampaikannya. Penekanan pada aspek perhatian menunjukkan pemahaman kita bahwa hal substansial itu sangat penting dan jangan sampai terlewatkan untuk disampaikan. Sementara itu, penekanan pada aspek strategi menunjukkan bahwa kita memikirkan cara dan waktu yang paling tepat agar hal substansial itu dapat diterima dan dipahami dengan baik. Apa yang dilakukan Nabi Yusuf a.s., dalam petikan ayat 36 hingga 41 di atas, menunjukkan kualitas dirinya dalam mengelola aspek perhatian dan strategi tersebut.

Saudaraku

Mementingkan substansi tanpa melupakan aksesori adalah salah satu upaya kita dalam mencapai keberhasilan hidup, baik dalam interaksi vertikal (antara kita dengan Allah SWT) maupun dalam interaksi horizontal (antara kita dan sesama makhluk Allah SWT). Percakapan antara Nabi Yusuf a.s dan kedua pemuda di penjara itu pun menjadi titik awal kemenangan Nabi Yusuf a.s. atas perilaku semena-mena istri majikannya (bisa disimak pada kelanjutan kisah Yusuf a.s. pada ayat 42 dan seterusnya). Semoga kita terus berlatih dan dimudahkan oleh Allah SWT. dalam menerapkan prinsip ini.

Wallahu a’lam.

Prinsip “Teh Manis” : Meneladani Percakapan Nabi Yusuf a.s. dengan Dua Orang Pemuda (1)

Sunday, June 10th, 2007

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Anda tentu pernah atau bahkan menyukai teh manis. Anda membuat teh manis sendiri atau meminta orang lain untuk membuatkannya. Pertama kali Anda menyeduh daun teh atau teh celup di dalam segelas air panas. Anda bisa menambahkan gula pada air panas sebelum menyeduh teh atau setelah warna air memerah. Lantas, Anda mengaduk-aduk gula sampai larut sehingga rasa air teh semanis yang Anda inginkan. Jika cuaca sedang panas, Anda mungkin memilih untuk menambahkan beberapa butir es batu supaya teh manis terasa lebih segar. Tak lama kemudian, segelas teh manis nikmat terhidang di depan Anda.

Sembari Anda menyeruput teh manis, saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan sederhana. Mana yang lebih penting bagi Anda dalam suatu perjamuan teh manis, tehnya atau gulanya? Saya yakin dua-duanya penting bagi Anda dan kalau salah satunya tidak ada, maka bukan teh manis namanya. Jika air teh itu tidak diberi gula, maka rasa pahitnya akan mengurangi kenikmatan bagi Anda yang tak suka teh pahit. Sementara itu, jika cuma air panas yang berisi gula, maka Anda pun tidak suka meski rasanya manis, karena Anda kehilangan sesuatu yang lebih penting, yakni sensasi rasa teh J.

Nah, jadi mana nih yang lebih penting? Meski dua-duanya penting, Anda tetap harus mengurutkan. Hmm…kalau pertanyaan itu ditujukan pada saya, maka saya akan menjawab teh jauh lebih penting daripada gula dalam komponen teh manis. Sebab, (daun) teh adalah sumber sensasi dalam segelas teh manis, sementara gula adalah sekedar bumbu penyedap terpenting yang bersifat melengkapi dan tidak memiliki sedikitpun sensasi khas daun teh.

Saudaraku,

Ada sebuah analisis sederhana dari apapun pilihan saya dan Anda. Jika kita perhatikan, pentingnya daun teh seringkali tersamarkan karena hal yang membuat kita bersemangat untuk menikmati teh manis adalah rasa manis dari air teh itu. Kita “lupa” bahwa tanpa daun teh, kita tidak akan pernah menikmati kekhasan rasa air teh. Ditambah lagi, sugesti yang kita bangun bahwa daun teh adalah suatu “konstruksi” yang bersifat built-in atau pasti ada. Sebagai contoh sederhana, kita yang memesan segelas teh manis secara jelas dan tertulis sangat yakin bahwa kita tidak akan dihidangkan segelas kopi. Kalau pun salah, kita pun dengan enteng mengatakan: “Oh, saya pesan teh, bukan kopi” atau “Kopinya buat teman saya, bukan buat saya”. Selanjutnya, perhatian kita lebih tertuju pada rasa manis teh itu; sudah pas kah rasa manisnya, terlalu manis atau malah kurang manis? Setelah kita menilai rasa manisnya, maka barulah perhatian kita beralih ke rasa khas daun tehnya. Inilah salah satu fakta dalam perjamuan teh manis.

Saudaraku,

Proses membuat teh manis sebenarnya mengajarkan kepada kita untuk selalu mengutamakan sesuatu yang lebih penting, tanpa mengabaikan sesuatu dapat melengkapinya (aksesori) sehingga memberikan hasil yang luar biasa. Kapanpun kita menuangkan gula saat membuat teh manis, pastilah kita tidak akan pernah lupa untuk menyeduh daun teh karena daun teh adalah substansinya. Tanpa daun teh/teh celup, kita tidak pernah membuat segelas teh manis, meskipun sekarung gula kita larutkan. Inilah yang saya sebut sebagai Prinsip “Teh Manis”. Prinsip ini seharusnya merevisi kebiasaan kita yang sering memberikan perhatian utama pada aspek pelengkap, dan cenderung “lupa” dengan pentingnya hal-hal yang lebih substansial.

Salah satu implementasi penting dari prinsip ini berada dalam ranah hubungan sosial. Anda mungkin tidak percaya seandainya belum membaca surat Yusuf dari ayat 36 hingga 41, bahwa kita bisa memahami Prinsip “Teh Manis” ini dari percakapan Nabi Yusuf a.s. dengan dua orang pemuda saat mereka bertiga mendekam di penjara. Melalui percakapan itulah, Nabi Yusuf a.s. menyeru kedua pemuda untuk mengesakan Allah SWT.

(Bersambung…)