Prinsip “Teh Manis” : Meneladani Percakapan Nabi Yusuf a.s. dengan Dua Orang Pemuda (1)

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Anda tentu pernah atau bahkan menyukai teh manis. Anda membuat teh manis sendiri atau meminta orang lain untuk membuatkannya. Pertama kali Anda menyeduh daun teh atau teh celup di dalam segelas air panas. Anda bisa menambahkan gula pada air panas sebelum menyeduh teh atau setelah warna air memerah. Lantas, Anda mengaduk-aduk gula sampai larut sehingga rasa air teh semanis yang Anda inginkan. Jika cuaca sedang panas, Anda mungkin memilih untuk menambahkan beberapa butir es batu supaya teh manis terasa lebih segar. Tak lama kemudian, segelas teh manis nikmat terhidang di depan Anda.

Sembari Anda menyeruput teh manis, saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan sederhana. Mana yang lebih penting bagi Anda dalam suatu perjamuan teh manis, tehnya atau gulanya? Saya yakin dua-duanya penting bagi Anda dan kalau salah satunya tidak ada, maka bukan teh manis namanya. Jika air teh itu tidak diberi gula, maka rasa pahitnya akan mengurangi kenikmatan bagi Anda yang tak suka teh pahit. Sementara itu, jika cuma air panas yang berisi gula, maka Anda pun tidak suka meski rasanya manis, karena Anda kehilangan sesuatu yang lebih penting, yakni sensasi rasa teh J.

Nah, jadi mana nih yang lebih penting? Meski dua-duanya penting, Anda tetap harus mengurutkan. Hmm…kalau pertanyaan itu ditujukan pada saya, maka saya akan menjawab teh jauh lebih penting daripada gula dalam komponen teh manis. Sebab, (daun) teh adalah sumber sensasi dalam segelas teh manis, sementara gula adalah sekedar bumbu penyedap terpenting yang bersifat melengkapi dan tidak memiliki sedikitpun sensasi khas daun teh.

Saudaraku,

Ada sebuah analisis sederhana dari apapun pilihan saya dan Anda. Jika kita perhatikan, pentingnya daun teh seringkali tersamarkan karena hal yang membuat kita bersemangat untuk menikmati teh manis adalah rasa manis dari air teh itu. Kita “lupa” bahwa tanpa daun teh, kita tidak akan pernah menikmati kekhasan rasa air teh. Ditambah lagi, sugesti yang kita bangun bahwa daun teh adalah suatu “konstruksi” yang bersifat built-in atau pasti ada. Sebagai contoh sederhana, kita yang memesan segelas teh manis secara jelas dan tertulis sangat yakin bahwa kita tidak akan dihidangkan segelas kopi. Kalau pun salah, kita pun dengan enteng mengatakan: “Oh, saya pesan teh, bukan kopi” atau “Kopinya buat teman saya, bukan buat saya”. Selanjutnya, perhatian kita lebih tertuju pada rasa manis teh itu; sudah pas kah rasa manisnya, terlalu manis atau malah kurang manis? Setelah kita menilai rasa manisnya, maka barulah perhatian kita beralih ke rasa khas daun tehnya. Inilah salah satu fakta dalam perjamuan teh manis.

Saudaraku,

Proses membuat teh manis sebenarnya mengajarkan kepada kita untuk selalu mengutamakan sesuatu yang lebih penting, tanpa mengabaikan sesuatu dapat melengkapinya (aksesori) sehingga memberikan hasil yang luar biasa. Kapanpun kita menuangkan gula saat membuat teh manis, pastilah kita tidak akan pernah lupa untuk menyeduh daun teh karena daun teh adalah substansinya. Tanpa daun teh/teh celup, kita tidak pernah membuat segelas teh manis, meskipun sekarung gula kita larutkan. Inilah yang saya sebut sebagai Prinsip “Teh Manis”. Prinsip ini seharusnya merevisi kebiasaan kita yang sering memberikan perhatian utama pada aspek pelengkap, dan cenderung “lupa” dengan pentingnya hal-hal yang lebih substansial.

Salah satu implementasi penting dari prinsip ini berada dalam ranah hubungan sosial. Anda mungkin tidak percaya seandainya belum membaca surat Yusuf dari ayat 36 hingga 41, bahwa kita bisa memahami Prinsip “Teh Manis” ini dari percakapan Nabi Yusuf a.s. dengan dua orang pemuda saat mereka bertiga mendekam di penjara. Melalui percakapan itulah, Nabi Yusuf a.s. menyeru kedua pemuda untuk mengesakan Allah SWT.

(Bersambung…)

Leave a Reply