Quo Vadis, Keislaman Kita? (1)

December 2nd, 2006 by albaab

Pada suatu sesi pengajian Ramadhan 1427 H, penceramah yang juga seorang wirausahawan, KH. Toto Tasmara, menyampaikan pertanyaan yang menggelitik ketika beliau memulai ceramahnya. Dengan santai beliau bertanya kepada peserta pengajian, “Yang hadir di sini, semuanya muslim?” Kontan saja, sebagian besar hadirin menyunggingkan senyum dan tergelak mendengar pertanyaan sang ustadz. Mereka kemudian menjawab dengan kompak, “Yaa…”. Tawa-tawa kecil pun ikut meramaikan jawaban tersebut.

Pertanyaan sang ustadz menjadi unik karena terkesan sekedar guyonan. Pasalnya, dapat dipastikan bahwa semua yang hadir di sesi pengajian Ramadhan itu beragama Islam, minimal tertera kata “ISLAM” di KTP mereka. Namun, “dugaan” para peserta pengajian tersebut tampaknya tidak sepenuhnya benar. Ustadz Toto menyambung pertanyaan pertama itu dengan bertanya lagi kepada para peserta, “Siapa yang bilang Anda itu muslim?”

Pertanyaan yang kedua pada intinya mengajak seluruh yang hadir di sesi pengajian itu untuk merenungkan kembali label muslim yang mereka kenakan. Ustadz Toto kemudian menjelaskan bahwa yang menyebut diri kita muslim, yang menyebut bahwa diri kita adalah orang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, adalah diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Kemudian, beliau bertanya lagi, “Apakah kita yakin bahwa Allah juga bilang bahwa kita adalah muslim?”

Saudaraku,

Kita harus optimis, tetapi kita sama sekali tidak bisa menjamin bahwa segenap predikat positif yang melekat pada diri kita adalah demikian adanya menurut Allah swt. Begitu pula, ketika kita menyebut diri kita orang yang berislam dan beriman. Kebenaran keislaman dan keimanan kita pada akhirnya kembali kepada penilaian mutlak dari Allah swt, bukan dari siapapun selain-Nya, apalagi dari kata “ISLAM” yang tertera pada kartu identitas kita. Oleh karena itu, sangatlah tidak layak bagi kita untuk merasa “sombong” dengan keislaman kita, merasa diri kita paling benar dalam keislaman kita, apalagi sampai menilai keislaman orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam konteks ini, predikat sebagai muslim bukan sekedar bagaikan lencana yang kita pakai lantas otomatis orang lain mendefinisikan diri kita sesuai makna lencana itu, tetapi predikat ini haruslah berkolerasi dengan ikhtiar terus menerus untuk membuktikan bahwa kita pantas disebut sebagai muslim, dan pada akhirnya ditujukan agar Allah berkenan mengakui keislaman kita.

Kondisi yang kemudian mengemuka adalah bukan dari sisi pengertian kita terhadap konsepsi “kebenaran mutlak” mengenai keislaman dan keimanan kita itu. Artinya, sebenarnya kita sudah mengakui bahwa hanya Allah yang bisa menilai apakah memang benar kita berislam dan beriman. Kita pun sudah dan terus berikhtiar untuk memperbarui syahadat kita sebagai gerbang penyerahan diri kita kepada Allah. Namun, kondisi yang akhirnya memunculkan masalah di tubuh umat Islam adalah pada saat kita terjebak dalam atribut keislaman kita, yakni ketika kita terlena dengan sebutan “muslim” dan merasa cukup dengan “pakaian luar” keislaman kita. Hal ini selanjutnya menjadikan kita lengah dan, tanpa kita sadari, membuat ucapan dan prilaku kita ditafsirkan sebagai upaya untuk menilai keislaman orang lain.

Keterlenaan kita dengan sebutan “muslim” dan perasaan cukup dengan “pakaian luar” keislaman sebenarnya adalah isu klasik yang sudah sangat sering diangkat di berbagai forum pengajian. Hal-hal yang termasuk di dalamnya antara lain: Pertama, kita mengakui bahwa Islam adalah the way of life, tetapi dalam pelaksanaannya, masih terlihat berbagai fenomena yang menunjukkan bahwa Islam masih sebatas the way of worship; Kedua, simbol-simbol keislaman menjadi parameter favorit untuk menstratifikasi “tingkat keshalihan” seseorang sementara aspek-aspek substansialnya seringkali terlupakan atau mungkin sengaja dilupakan.

Bersambung…

Mentarai Kecil di Nenggala (1)

October 24th, 2006 by albaab

Ketika pikiran melayang atau terasa begitu mumet, maka menepilah. Kita tidak salah saat melambatkan laju perjalanan kita atau berhenti sejenak untuk menenangkan diri. Yang salah adalah ketika kita melambatkan langkah kaki di tengah-tengah koridor. Jika demikian, malah bukan ketenangan yang kita dapatkan, tetapi mungkin tubuh kita bertubrukan dengan orang lain atau kita dimaki-maki karena menghalangi jalan. Jika demikian, berarti kita telah mencapai puncak egoisme, yakni kita ingin tenang dengan membuat orang lain tidak tenang, kita ingin bebas sementara orang lain terkekang oleh kebebasan kita. Ketenangan dan kebebasan itu pun pada akhirnya tak jua kita dapatkan.

Sebagian pengguna koridor mungkin tidak berjalan sendiri-sendiri. Mereka bergerombol dengan para koleganya sembari tertawa dan dengan serunya membahas tentang urusan-urusan mereka. Karena jumlah mereka banyak, maka mereka agak sulit menepi. Walhasil, mereka “menghabiskan” seluruh lebar koridor. Tidak hanya itu, kesibukan mereka berdiskusi di sepanjang koridor membuat mereka lambat dalam berjalan. Kondisi ini tentu lebih parah daripada berjalan sendiri-sendiri. Orang yang di belakang mereka semakin sulit untuk menembus barikade gerombolan manusia di depannya.

Tidak masalah jika kita begitu sibuk berinteraksi dengan sahabat-sahabat kita. Namun, kita harus tetap ingat bahwa koridor yang kita lalui bersama segenap sahabat bukanlah milik kita. Semoga interaksi kita itu tidak membuat orang lain merasa tidak nyaman. Hargailah orang lain yang mungkin bukan berasal dari komunitas kita. Memiliki komunitas tersendiri bukanlah suatu kesalahan, tetapi akan berubah menjadi sebuah kesalahan ketika kita “lupa” memperhatikan mereka yang juga berjalan di koridor kehidupan yang sama. Semoga kita tidak menjadi komunitas yang “menunggu” ditegur dengan ungkapan “Permisi mas, mbak” oleh para pengguna koridor di belakang kita. Apakah kita harus “menunggu” ditegur agar kita tersadarkan untuk menepi? Mengapa kita tidak berinisiatif untuk memberikan ruang bagi para pengguna koridor selain kita? Jika kita tidak mau menepi atau mempercepat langkah kaki kita, maka lagi-lagi kita terjebak dalam egoisme, yakni egoisme pribadi yang kemudian saling berkumpul membentuk egoisme kelompok.

Boleh jadi, orang-orang yang berjalan lambat di tengah koridor sebenarnya tidak pernah punya niat untuk menghambat para pengguna koridor lainnya. Namun, sayang sekali, mereka lengah. Ya… ini saja penyebabnya. Mereka lengah, mereka terlena dengan urusan-urusan mereka sendiri sehingga tidak sadar ada orang-orang yang terzhalimi akibat perilaku mereka.

Hikmah kedua

Lebar koridor begitu bervariasi. Adakalanya sangat lebar dan adakalanya hanya cukup dilalui oleh satu banjar manusia. Begitu pula kehidupan yang kita jalani bersama. Adakanya lapang dan adakalanya sempit menjepit. Bagaimanapun kondisi koridor itu, kita sebagai pengguna koridor harus terus berusaha untuk sigap dalam berjalan. Tidak perlu terburu-buru, tetapi juga jangan berleha-leha, apalagi berhenti. Kalau terburu-buru, mungkin saja kita menubruk atau tak sengaja menginjak kaki orang lain. Kalau terlalu santai, mungkin saja kita sendiri yang tertubruk atau setidaknya mengakibatkan kemacetan di sepanjang koridor. Di sinilah kita membutuhkan keseimbangan dalam menentukan kecepatan langkah kaki kita. Keseimbangan yang tercipta menggambarkan ikhtiar yang penuh optimisme.

Sigap saja tidak cukup. Kita pun harus tetap mengamati kondisi di sepanjang perjalanan sehingga kita menjadi pribadi yang fleksibel. Jika kita bermaksud memperlambat langkah kaki kita, maka menepilah sehingga orang lain tetap leluasa melaju. Biasakanlah untuk mengamati kondisi di sekitar kita agar langkah-langkah kita tidak menghadirkan kesulitan bagi orang lain. Jangan terlalu banyak berdiskusi di sepanjang koridor karena efeknya hanya akan memperlambat langkah kita. Demikian pula dalam kehidupan, terlalu banyak bicara yang tidak pada tempatnya hanya akan mengurangi tindakan nyata kita atau bahkan merugikan orang lain. Jika kita tidak membiasakan diri untuk santun ketika berjalan di sepanjang koridor, jembatan, lorong, atau yang sejenisnya (sesuatu yang notabene cukup mudah), maka bagaimana mungkin kita bisa santun saat berjalan di atas koridor yang bernama ‘kehidupan’?

Semoga Allah memberikan kekuatan dan petunjuk kepada kita untuk mengamalkan hikmah ini…

Dek Nung, itulah sebagian hikmah yang aku simpulkan. Aku yakin masih banyak yang lain. Dek Nung cari lagi ya J

Oche deh… Makasih ya, Kak!

Tak terasa mentari sudah mengecil di ufuk barat Nenggala. Alwanizza dan Nuha bergegas pulang ke rumah mereka. Mereka tak sabar menunggu hari esok untuk menemukan mutiara hikmah selanjutnya. Wallahu a’lam.

Mentari Kecil di Nenggala (1)

October 24th, 2006 by albaab

Ha…ha…ha, dek Nung, dek Nung. Ada-ada aja kamu. Tapi…iya juga sih, terkadang susah juga ngejelasin kenapa kita suka atau ga suka. Nah, kalo udah gitu, biasanya kalo kita dimintai alasannya, jawaban kita jadi aneh-aneh atau polos banget kayak jawabanmu itu. He…he…he

Idiih, dasar ka awang! Biarin aja polos, yang penting jujur, he…he. btw, kalo ka awang sendiri gimana misalnya ditanya alasan kenapa suka atau ga suka, trus ka awang ga punya alasannya?

Nah, kalo aku ga bisa jawab secara unik alias mentok, biasanya aku renungin lagi tuh kesukaan atau ketidaksukaan. Aku pikirin, kira-kira hikmahnya apa.

Kasih contoh, dong, kak!

Emm…apa ya? Oya, yang ini aja deh. Aku ga suka sama orang yang jalannya lambat plus ga tau diri.

Weleh..kasian banget tuh orang, udah jalannya lambat, ga tau diri lagi. Hi…hi… aku masih belum ngerti, kak.

Gini, dek. Misalnya kamu jalan di sebuah koridor, jembatan, atau apapun lah yang sejenisnya. Trus, di depan kamu ada sepasang atau segerombolan manusia yang berjalan dengan santai, sambil ngobrol, ketawa-tawa, trus jalannya ga minggir, alias di tengah-tengah, ngabisin badan koridor. Kamu kesel ga?

Yaa..kesel sih, tapi kayaknya ga kesel-kesel banget. Kalo aku juga ga diburu waktu, alias santai juga kayak mereka, buat aku sih fine-fine ajah.

Hmmm…kalo aku, dek, mo santai, mo buru-buru, tetep keseeel banget, he…he. Apapun alasan mereka, mereka tetep aja menghambat pergerakan orang di belakang mereka. Trus, mereka ga nyadar dan baru minggir ke sisi koridor setelah ditegor, iihhh ABCD banget deh. Emang koridornya punya mereka apa??

Weits…weits, santai aja Ka Awang, ga usah marah-marah gitu dong :P. trus, menurut ka awang, hikmahnya apa? Eh, bentar-bentar, mo tau juga nih, tadi “ABCD” maksudnya apa ya??

Aduuh, dek Nung kan ABG, masa’ ga tau ABCD?!!J. ABCD itu singkatan dari “Aduh Boo…Cape Dehh”! Ha…ha…ha

Ha…ha…ha, iya  deh Ka Awang tuh emang ABG banget. Trus, sekarang jelasin hikmahnya, kak! J.

Setelah aku pikir-pikir lagi, aku berusaha membangun sebuah kesimpulan terhadap ketidaksukaanku itu, dek Nung. Semoga dek Nung berkenan menyimaknya ya, he…he J.

Hikmah pertama

Terkadang, kita terlalu sibuk dengan urusan kita atau urusan orang lain yang terkait dengan kita. Kita sibuk berbicara, berdiskusi, dan sebagainya sementara pada saat itu, tanpa kita sadari, kita tengah “mencuri” hak-hak orang lain. Begitulah yang terjadi pada diri sebagian orang yang melewati koridor. Adakalanya mereka berjalan sendiri kemudian berpikir keras atau melamun, sampai-sampai tak sadar kalau gerakan kakinya melambat atau tubuhnya bergerak perlahan di tengah-tengah koridor sehingga terjadi “kemacetan”. Tanpa sengaja, apa-apa yang mereka pikirkan atau lamunkan bagaikan raja, sementara koridor itu adalah daerah kekuasaan sang raja.

Kehidupan ini tak ubahnya sebuah koridor. Setiap orang bergerak di sepanjang koridor kehidupan. Masalah yang kita alami, jika kita tak mampu mengelolanya, hanya akan “memacetkan” koridor kehidupan. Orang lain yang tidak bersalah terkena imbas dari masalah yang kita hadapi. Padahal, koridor kehidupan bukanlah milik kita, tetapi milik Allah. Mengapa kita seolah-olah memiliki koridor itu? Setiap orang memiliki hak yang sama untuk berjalan di atas koridor kehidupan.

Bersambung…

Mentari Kecil di Nenggala (1)

October 24th, 2006 by albaab

Alkisah, tersebutlah dua orang kakak beradik yang hidup di sebuah desa bernama Nenggala. Mereka berasal dari keluarga petani yang cukup religius, tidak kaya, tetapi juga tidak miskin. Sang ayah adalah lulusan madrasah aliyah, seorang pemilik petak sawah berukuran seribu meter persegi yang ditanami jagung, dan juga seorang buruh tani yang bekerja di kebun nanas milik kepala desa Nenggala. Sementara itu, sang ibu adalah seorang guru mengaji sekaligus penjual ayam kampung di pasar rakyat, satu kilometer dari alun-alun Nenggala.

Nama yang diberikan oleh sang kakek kepada sepasang kakak beradik ini terbilang langka di seantero Nenggala. Sang kakak bernama Alwanizza, sementara sang adik diberi nama Nuha. Menurut sang kakek, "Alwanizza" adalah paduan dua kosakata bahasa Arab, yakni "alwaan" dan "izzah". "Alwaan" adalah bentuk jamak dari kata "laun" yang berarti "warna", sedangkan "izzah" bermakna "kekuatan". Jadi, "alwanizza" bisa dimaknai sebagai "kekuatan yang berwarna-warni". Nama ini menjadi doa agar kelak Alwanizza tumbuh menjadi pribadi yang memiliki beragam kekuatan positif, setidaknya kekuatan hati yang penuh cahaya iman, kekuatan akal pikiran, dan kekuatan jasmani yang baik. Sementara itu, nama "Nuha" diambil langsung dari frase di dalam Al-Quran, yakni "Uli an-Nuha" yang bermakna "orang-orang yang berpikir secara mendalam". Besar harapan orang tua mereka agar Nuha menjadi pribadi yang tercermin dari namanya, yakni pribadi yang senantiasa memikirkan tetes-tetes kekuasaan Allah dalam segenap ciptaan-Nya, mengambil pelajaran darinya, lalu meresapkannya dalam hati agar semakin takut dan tunduk kepada Sang Pencipta.

Nama “Alwanizza” dan “Nuha” yang cukup aneh buat lidah masyarakat Nenggala membuat teman-teman mereka lebih memilih kosakata yang singkat untuk menyapa kedua bersaudara ini. Alwanizza lebih sering dipanggil "Awang", sedangkan Nuha lebih sering disapa "Nung". Akhirnya, mereka berdua pun terbiasa menggunakan kedua nama panggilan ini untuk menyapa satu sama lain.

Sejak kecil hingga dewasa, Alwanizza dan Nuha hidup sederhana, saling memberi dan menerima. Waktu mereka masih kanak-kanak, mereka sering bermain bersama di kebun, membantu sang ibu yang berjualan di pasar, atau mencari sekarung rumput untuk dimakan si kerbau satu-satunya milik sang ayah. Setelah mereka berdua beranjak dewasa, mereka memiliki kebiasaan baru yang cukup unik. Menjelang terbenamnya matahari di ufuk barat Nenggala, si bujang Alwanizza dan si gadis Nuha melepas penat di warung kopi Bu Hindun. Mereka tak sekedar menyeruput teh hijau dan menikmati manisnya pisang goreng. Mereka pun bercerita tentang kehidupan, cinta, dan masa depan…

***

"Di Sepanjang Koridor"

Ka Awang, tadi di sekolah, aku baru aja dapet pelajaran bahasa Inggris tentang “Likes and Dislikes”. Kita disuruh menyebutkan apa aja kesukaan kita dan juga hal-hal yang ga kita sukai. Abis itu kita harus ngejelasin, kenapa kita suka dan kenapa kita ga suka. He…he, nah ngejelasinnya itu yang rada ribet, pake bahasa Inggris, lagi. Soalnya, kadang-kadang sesuatu yang kita suka atau ga suka itu hadir dengan sendirinya aja alias ga ada alasannya, kak. Ya udah deh, kalo aku pusing bikin alasan, aku jawabnya: “I just don’t like it. Fortunately, I have no reason about it”.

Bersambung…

Dialog Dua Hati (4)

October 9th, 2006 by albaab

(Kini, giliran sang putra yang menitikkan air mata)

Anakku sayang…mengapa engkau menangis? Apakah karena engkau melihat air mata di pipi Ibu?

Ibu, aku menangis karena memikirkan diriku… Selama ini, boleh jadi aku belum memberikan dengan ikhlas, boleh jadi aku belum memberikan dengan cinta…sehingga apa yang kuberikan, mungkin saja tak bernilai sama sekali di sisi Allah…

Anakku, cinta dan keikhlasan kita adalah rahasia Allah. Tiada satupun makhluk di langit dan bumi yang dapat mengetahuinya kecuali Allah mengizinkan. Jangan menyerah anakku sayang. Tugasmu, tugas Ibu, dan tugas kita semua adalah hanyalah berusaha terus dan terus berusaha untuk menggapai cinta dan keikhlasan itu…kemudian, cukuplah Allah menjadi penolong kita dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. Semoga Allah merahmati kita semua.

Ibuku, ada lagi yang ingin aku tanya, tapi…. sebenarnya aku malu…

Anakku sayang, mengapa harus malu dengan ibumu sendiri?

Baiklah, bagaimana pendapat Ibu tentang seorang pendamping hidup?

(Sang ibu tersenyum melihat putranya yang agak menunduk) Anakku, Ibu yakin engkau sudah tahu bagaimana perihal seorang pendamping yang tepat untukmu. Ibu yakin, engkau pun paham bahwa yang bersatu di dalam mahligai bukan hanya engkau dengannya, tetapi juga Ibu dengan ibunya, ayahmu dengan ayahnya, saudara kandungmu dengan saudara kandungnya, kerabatmu dengan kerabatnya.

Anakku sayang, setelah engkau paham semua itu, Ibu hanya ingin mengingatkan satu hal. Semoga pendamping hidupmu adalah sosok yang mampu menjagamu.

Maksud Ibu? Bukankah aku yang harus menjaganya?

(Sang ibu tersenyum lagi) Anakku, bukanlah karena dia wanita, lantas dia tak wajib menjagamu. Engkau menjaganya adalah hal biasa, tetapi ketika ia mampu menjagamu, itu adalah…hal yang mungkin luar biasa.

Aku semakin tidak mengerti Ibu. Apakah maksudnya menjaga kehormatan dan hartaku?

Menjaga amanat sebagai ummun wa rabbatul bait dan menjaga kehormatan serta hartamu adalah memang kewajiban pendamping hidupmu. Namun, menurut hemat Ibu, semua itu bermula dari kemampuan untuk menjaga tingkah lakunya agar tak menjadi fitnah bagimu. Engkau pun wajib menjaga tingkah lakumu agar tak menjadi fitnah baginya.

Anakku sayang, tabiat lisan seringkali menceritakan tingkah laku. Ketika lisanmu tidak menjadi telaga yang sejuk baginya, maka mana mungkin kau bisa menghilangkan dahaga kasih sayangnya. Begitu pula dirinya, pendamping hidupmu. Jika lisannya begitu mudah untuk menyebarkan rahasiamu atau rahasia orang lain, menikmati pembicaraan yang belum tentu benar dan salahnya, maka bagaimana mungkin ia mampu menjaga amanatmu, bagaimana mungkin ia mampu menjadi ummun warabbatul bait, bagaimana mungkin ia mampu menjaga kehormatan dan hartamu, sementara ia tak mampu menjaga “kehormatannya” sendiri. Kalaupun ia berhijab dengan sempurna, maka hijabnya tak kan mampu menutupi ketajaman lisannya. Bahkan tak mustahil, nak, lisannya yang tajam itu akan mengoyak-ngoyak hijabnya sehingga seolah-olah dia tak berhijab lagi.

Semoga Allah melindungi kita dari keganasan lisan kita sendiri. Semoga Allah merahmati lisan kita sehingga tabiatnya senantiasa menyejukkan. Semoga Allah berkenan menjadikannya tempat peraduan orang-orang yang merindu kasih sayang.

Terimakasih Ibu… Temani aku selalu dengan doa dan dengan keridhaanmu. Ya Allah, ampunilah dosaku, dan dosa kedua orang tuaku. Rahmatilah keduanya, ya Allah, sebagaimana mereka mendidikku semasaku kecil…

Dialog Dua Hati (3)

October 9th, 2006 by albaab

Waduh…aku bingung harus jawab apa jika ditanya seperti itu. Aku jadi berpikir, apa kira-kira maksud Ibu memberikan permisalan ini?

(Sang Ibu tersenyum) Anakku, semua orang yang normal pasti merasakan hal yang sama jika mereka berada di posisimu. Engkau tidak mau menerima enam ribu rupiah, lima puluh ribu rupiah, satu juta rupiah, bahkan mobil Jaguar sekalipun sebagai pengganti sepiring nasi rames karena harga nasi rames itu sudah tak ternilai lagi.

Apakah yang membuat nasi rames itu tak ternilai, bu?

Bukan karena kelezatannya, bukan karena kandungan gizi di dalamnya, dan bukan pula karena banyaknya. Nasi rames itu tak ternilai karena merupakan pemberian darimu yang penuh cinta dan keikhlasan. Sekecil dan sesedikit apapun yang engkau berikan, ketika diberikan dengan cinta dan keikhlasan, maka seketika itu pula tiada satu makhluk pun yang mampu menilai apa yang engkau berikan, bahkan dirimu sendiri. Seketika itu pula, nilai fisik pemberianmu seolah-olah menjadi tak berarti. Seketika itu pula, hanya Allah yang mampu menilainya secara hakiki dan…siapa yang lebih baik dari Allah dalam menilai dan membalas amal hamba-hamba-Nya? Maka tidaklah heran jika engkau tidak menerima sebesar apapun pembayaran atas pemberianmu, karena tak akan sanggup menyamai nilai apa-apa yang engkau berikan.

Anakku, bahkan sebenarnya engkau bisa memberikan yang tak ternilai tanpa perlu mengeluarkan uang sepeserpun.

Apakah itu, Ibu?

Senyumanmu. Ya, tersenyumlah kepada mereka yang berjumpa denganmu. Dengan senyum itu, semoga terbetik sedikit kedamaian di hati yang melihatnya atas izin Allah. Dengan senyum itu, semoga hati yang terbakar amarah menjadi tenang kembali atas kehendak-Nya. Dengan senyum itu, semoga menjadi washilah hidayah Allah untuk hati yang terpapar penyakit atau hati yang keras membatu. Masihkah ada yang lebih berharga daripada kedamaian, ketenangan, dan hidayah dari Allah?

Anakku, betapa bahagianya engkau jika bisa memberikan sesuatu yang tidak ternilai. Seorang milyuner bisa memberikan segudang emas dan perak, sesuatu yang tetap saja ternilai. Bukankah engkau sejatinya lebih kaya dari milyuner itu, jika engkau bisa memberikan yang tak ternilai? Dan bukankah engkau lebih berbahagia darinya sebab yang engkau berikan jauh lebih berharga, bahkan kau pun tak sanggup menghargakannya? Dan tidaklah seseorang memberikan sesuatu yang tak ternilai, kecuali ia menjadi pribadi yang tak ternilai pula.

Anakku sayang, betapa indah balasan dari Allah bagi pribadi-pribadi yang tak ternilai…

(Tanpa terasa air mata terderai, membasahi pipi sang ibu. Tersedu-sedu sang ibu ketika melanjutkan kembali kata-katanya)

Betapa…..kebahagiaan pribadi yang tak ternilai tak hanya berlimpah di dunia, tetapi juga berujung pada kebahagiaan di akhirat kelak, seperti halnya kebahagiaan pertama.

Allah berfirman dalam al-Quran:

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih

Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan

Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati

(Al-Insaan 8-11)

Dialog Dua Hati (2)

October 9th, 2006 by albaab

Ibuku, apakah salah menjadi manusia yang kaya dan banyak keturunannya?

(Sang ibu tersenyum). Tidak anakku, tidak salah menjadi orang kaya dan tidak salah pula memiliki banyak keturunan. Bukankah mustahil bagimu untuk berjihad dengan harta, ketika tiada sepeserpun yang kau punya. Tidakkah sejuk hatimu, ketika anak-anakmu menjadi qurratu a’yun yang meneruskan perjuanganmu. Anakku, manusia bersalah ketika ia melupakan Dia Yang Menganugerahinya harta dan anak-anak.

Anakku sayang, betapa indahnya suasana ketika Allah memberikan dengan penuh cinta dan ridha kepadamu. Sedikit atau banyak tetap penuh keberkahan. Sedikit atau banyak tetap penuh dengan mashlahat. Dan betapa semakin indahnya, ketika engkau pun menyadari bahwa pemberian itu tanda cinta-Nya sehingga engkau tetap waspada dalam kesyukuran dan penghambaan, tenang dalam persangkaan baik kepada-Nya, dan semakin kencang engkau berlari meraih sebagian karunia-Nya. Dan puncaknya, betapa bahagianya dirimu ketika Allah memuliakanmu dengan sebutan ”hamba-Ku” lalu menghadiahi kebahagiaan akhirat kepadamu.

Ibu, aku telah memahami nasihatmu, tetapi apakah salah ketika aku merasa, beraat sekali meraih kebahagiaan pertama ini, bukan aku tak ingin, tetapi karena syaithan jin dan syaithan manusia tak pernah berhenti menggodaku.

Anakku, sesungguhnya Ibu pun merasakan hal yang sama. Tiada yang bisa meringankan, tiada yang bisa memudahkan, selain Allah. Semoga kita selalu mengabdi dan memohon pertolongan hanya kepada-Nya.

Ibu, lantas apa kebahagiaan yang kedua?

(Sang ibu menghela napas) Anakku sayang, kebahagiaan yang kedua adalah ketika engkau mampu memberi dengan penuh cinta dan keikhlasan kepada orang-orang di sekitarmu sehingga engkau menjadi manusia yang bermanfaat dan tak ternilai. Sedikit atau banyak yang kau beri, tidaklah menjadi ukuran kebahagiaanmu, tetapi keikhlasan dan rasa cinta yang mengiringinya, itulah yang menjadikan kebahagiaanmu berlipat ganda.

Tahukah engkau anakku, berapa harga sepiring nasi rames yang kau hidangkan kepada sang tamu yang bertandang ke rumah kita?

Hmmm…kalau dihitung-hitung, harganya enam ribu rupiah.

(Sang ibu tersenyum) Anakku, jika sang tamu membayar enam ribu rupiah kepadamu. Apakah akan engkau terima?

Hihi…ibu bisa saja nih…ya enggak saya terima dong, bu. kan, rumah kita bukan warteg. J

Bagaimana jika ia membayar lima puluh ribu rupiah, engkau tertarik anakku?

Emmm…sepertinya tetap tidak tertarik, bu.

Tampaknya masih kurang ya, bagaimana kalau satu juta rupiah untuk sepiring nasi rames?

Ibu ada-ada saja J sepiring nasi rames itu kan, bukan untuk diganti dengan uang, bu.

Anakku, jika engkau tak mengharapkan uang, bagaimana jika sang tamu menggantinya dengan satu unit mobil Jaguar terbaru?

He..he…kalau dikasih mobil Jaguar sih mau banget :P, tapi kalau ada embel-embel bahwa mobil itu sebagai pengganti nasi rames, rasanya aneh aja, bu. Entah mengapa, aku pikir itu tidak pantas.

Anakku, engkau tidak mau menerima uang dan engkau pun segan menerima Jaguar itu sebagai pengganti sepiring nasi rames. Lalu, apa yang sebenarnya engkau harapkan? Jika sang tamu bertanya kepadamu apa yang engkau inginkan sebagai pengganti nasi rames, bagaimana jawabanmu?

Dialog Dua Hati* (1)

October 9th, 2006 by albaab

Pagi itu tak seperti biasanya. Adalah seorang ibu yang duduk di atas kursi kayunya, memandangi dengan seluruh jiwa dan raga, putra satu-satunya.

Ada yang berbeda dari pandangan itu. Sebuah harapan terpancar dari raut muka ibunda, yang senyumnya menghangatkan kening sang putra, seorang pemuda yang tengah berlari, menuju kedewasaan akal dan hatinya.

Ibu, apakah yang seharusnya paling diharapkan seorang manusia, sepertiku?

Anakku sayang, setiap manusia, tidak hanya engkau, memiliki harapan-harapan yang sama… Wujudnya boleh jadi berbeda, tetapi hakikatnya sama saja.

Apakah itu, Ibu?

Engkau, Ibu sendiri, dan siapapun yang hadir di dunia ini mengharapkan dua kebahagiaan. Kebahagiaan pertama adalah ketika engkau mendapatkan karunia dari Tuhanmu, sementara Dia mencintai dan ridha kepadamu sehingga Dia memberikannya dengan penuh cinta dan kerahiman-Nya. Engkau pun menyadari bahwa pemberian itu adalah tanda cinta-Nya.

Anakku, bisakah kau bayangkan bagaimana engkau diberikan emas dan perak seukuran bumi, lalu ditambah lagi seukuran bumi. Namun, yang memberikan emas dan perak itu terlebih dahulu menginjak-injak kepalamu sebagai syarat atasmu. Apakah engkau akan menerimanya ataukah engkau menerimanya dengan sepenuh hati, atau bahkan engkau tak peduli sebab injakan itu segera diganti emas dan perak?

Apakah itu yang lebih baik, ataukah jika suatu hari engkau berjalan di siang hari yang terik. Dahagamu tak tertahankan lagi, menunggu sejuknya air untuk membasahi kerongkonganmu sementara pundi-pundi airmu telah kosong dan uangmu tak bersisa. Lalu datang seseorang yang iba padamu. Ia lantas memberikan segelas air untuk kau minum. Ia tersenyum kepadamu penuh keikhlasan. Engkau meneguk air itu dengan semangat sampai rona merah kembali menghiasi wajahmu. Tak lama kemudian, apakah hanya dahaga di sepanjang kerongkonganmu yang hilang? Tidakkah hilang dahaga di hatimu, berganti kegembiraan atas senyuman dan pancaran keikhlasan yang engkau terima?

Anakku sayang, jika demikian, apakah emas dan perak itu lebih berharga daripada segelas air yang kau minum?

Ibu, jika demikian, tentu segelas air lebih berharga bagiku meski emas dan perak lebih mahal jika dijual di pasar-pasar.

(Sang ibu tersenyum) Anakku…memang begitulah. Tidak sedikit manusia yang menilai dari apa yang tampak, apa yang berwujud. Inilah yang membuat mereka tak kuasa menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang diuji. Mereka tak sadar bahwa kaki-kaki mereka berpijak di dalam  lingkaran fitnah. Anakku, emas dan perak memang mahal, tetapi apalah artinya itu semua jika diberikan dengan penghinaan dan berbalut kebencian. Anakku sayang, berlindunglah kepada Allah agar engkau tidak termasuk orang-orang yang dianugerahi perhiasan dunia yang dengan perhiasan itu Allah bermaksud mengazab mereka. Sesungguhnya Allah telah berfirman mengenai orang-orang yang munafik :

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk mengazab mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (At-Taubah 55)

Anakku sayang, betapa sengsaranya orang-orang yang ditipu oleh harta dan keturunan mereka, sementara Allah tidak menyukai mereka. Semburat bahagia dan gelak tawa hampir tiap hari mewarnai wajah mereka, tetapi engkau tidak tahu apakah hati mereka juga bahagia, apakah hati mereka juga tertawa. Kalau tidak hari ini hati mereka menangis, maka suatu hari mereka akan menangis di atas tumpukan harta dan di dalam pelukan anak-anak mereka.

Bersambung…

§Inspired from my daily activities, readings, and others

Partisi-Partisi Ikhtiar (3)

September 3rd, 2006 by albaab

Makna yang lebih dalam dari ayat ke-7 dari surat
Al-Insyirah di atas insya Allah menjadi salah satu strategi penting untuk
mengelola beban-beban kehidupan, bahkan seluruh aktivitas kita. Ketika kita telah
bersungguh-sungguh dan optimal (anshab) dalam menyelesaikan suatu beban
kehidupan di "wilayah"-nya sehingga sampai pada kondisi faragha,
maka kita harus segera beralih untuk menyelesaikan beban yang lain (fan-shab).
Ketika "gelas" diri kita telah kosong setelah sebelumnya penuh, maka
semestinya kita segera mengisinya sampai penuh kembali. Jadi, kita tidak
sekedar "meninggalkan" atau "beristirahat dari" beban
pertama lalu diam saja, tetapi kembali menguatkan fokus dan mengerahkan
kekuatan kita untuk menyelesaikan beban berikutnya agar beban-beban itu bisa
selesai tanpa perlu memanfaatkan "jembatan beban".

Sedikitnya terdapat dua poin penting dalam ayat
ke-7 ini yang insya Allah dapat memudahkan kita untuk berdisiplin dalam
menyelesaikan setiap beban kehidupan di "wilayah"-nya masing-masing.
Dua poin tersebut adalah kesungguhan dan kesegeraan (tidak
menunda-nunda) dalam berikhtiar. Dengan kesungguhan, kita memiliki
peluang yang sangat besar untuk menyelesaikan beban dengan kualitas yang telah
ditentukan sesuai target waktu yang ditetapkan. Dengan kesegeraan, kita
mampu mengefisienkan waktu penyelesaian beban dan memiliki peluang untuk
mengalokasikan waktu tambahan untuk beban lain yang dianggap lebih berat.
Dengan kesungguhan dan kesegeraan, maka insya Allah kita mampu
meminimalkan overlapping dalam penyelesaian beban kehidupan sekaligus
meminimalkan latihan "jembatan beban". Dengan demikian, insya Allah
satu sebab ketenangan berhasil kita raih, satu risiko stress berkepanjangan
mampu kita hindari, dan beberapa langkah menuju kesuksesan telah kita tempuh. 

Pertanyaan
yang mungkin muncul kemudian adalah: kapan kita beristirahat?? Sebelum menjawab
pertanyaan ini, ada baiknya kita samakan dulu persepsi mengenai istirahat.
Ada dua jenis istirahat, yakni istirahat
non-produktif dan istirahat produktif.
Istirahat non-produktif
sebenarnya merupakan wujud dari kemalasan sedangkan istirahat produktif adalah istirahat yang berorientasi pada
penyegaran dan pengumpulan kekuatan diri (self- refreshment dan self-rechargement).
Ciri-ciri istirahat non-produktif adalah lama waktunya tidak jelas (cenderung
berkepanjangan), tidak direncanakan dengan baik apa saja aktivitas-aktivitas
yang dilakukan selama istirahat, dan mungkin masih menyisakan kemalasan setelah
waktu istirahat itu berakhir. Hal sebaliknya terjadi pada aktivitas istirahat produktif
setelah kita letih bekerja. Nah, istirahat
produktif inilah yang akan secara alami berada dalam
konteks kesungguhan dan kesegeraan. Jadi, apabila kita menetapkan
bahwa setelah melakukan aktivitas A kita harus beristirahat, maka sebaiknya
kita langsung beristirahat dan tidak menunda-nundanya. Insya Allah apabila kita
bersungguh-sungguh dalam beristirahat, kita akan meraih semangat dan kekuatan
yang tetap besar untuk aktivitas berikutnya.

Saudaraku…
Etos kerja yang Allah ajarkan ini sangatlah luar
biasa. Melalui etos inilah Allah memotivasi hamba-hamba-Nya untuk mengoptimasi
setiap partisi ikhtiar mereka. Namun, boleh jadi kita masih sering mengabaikannya
dan menjadi pribadi yang sering "terlena" dalam satu pekerjaan
sehingga kehilangan banyak waktu untuk pekerjaan lainnya. Kita tidak boleh
menyerah. Saya mengajak diri saya sendiri dan Anda semua untuk terus berikhtiar
menyempurnakan setiap amanah kita dengan kesungguhan dan kesegeraan dalam
menjalankannya. Semoga Allah memberi kemudahan kepada kita. Aamiin. 

Wallahu a’lam

Partisi-Partisi Ikhtiar (2)

September 3rd, 2006 by albaab

Latihan "Jembatan Beban", bagaimanapun
juga, bukanlah alternatif solusi yang terbaik di setiap saat. Latihan ini
hanyalah cocok dalam kondisi-kondisi yang cukup atau sangat urgen, itu pun
kalau kita tidak memiliki alternatif lain yang lebih baik. Sebab, pada
hakikatnya persinggungan wilayah pemenuhan beban tetap terjadi. Dalam hal ini,
rutinitas harian yang menjadi "jembatan beban" lah yang menjadi
"korban" persinggungan itu. Rutinitas tersebut memang biasanya tidak
terganggu secara signifikan ketika kita menjadikannya sebagai "jembatan
beban", tetapi sejujurnya memang lebih enak apabila kita menjalankannya
dengan santai tanpa harus "ditumpangi" beban yang cukup besar :).

Selain itu, latihan "Jembatan Beban" ini
sebenarnya memiliki sedikitnya tiga macam keterbatasan. Pertama, kita sebaiknya
tidak menerapkan latihan ini jika kita bersama orang lain saat menjalankan
rutinitas-rutinitas yang berpotensi sebagai "jembatan beban".
Misalnya, saat kita bersantap siang bersama para kolega, kita sebaiknya lebih
memosisikan santap siang itu sebagai kesempatan berbincang ringan dengan
mereka, bukan sebagai "jembatan beban" (kecuali bincang-bincang itu
memang ditujukan untuk membahas si beban besar). Kedua, tidak selamanya latihan
"jembatan beban" mampu menghasilkan solusi yang siap pakai
 sehingga
bisa saja kita malah semakin pusing. Ketiga, latihan ini justru bisa
menyebabkan turunnya produktivitas jika kita tidak bijak dalam menerapkannya. Misalnya,
kita berlama-lama di kamar mandi hanya karena memikirkan beban besar yang kita
bawa sebelum mandi. Nah, kalau seperti ini, bukan hanya produktivitas kita yang
turun, kita pun akan menjadi sasaran kekesalan orang yang mengantre di luar
kamar mandi :D. 

Dengan demikian, latihan "Jembatan Beban"
pada hakikatnya berada pada garis transisi antara ketidakdisiplinan dan
kedisiplinan dalam menyelesaikan beban-beban kehidupan. Dilihat dari sisi
kedisiplinannya, maka latihan "Jembatan Beban" ini berfungsi sebagai pencegah agar suatu beban yang
signifikan tidak masuk ke "wilayah" pemenuhan beban signifikan
lainnya melalui pemanfaatan "jembatan beban". Sementara itu, jika
dilihat dari sisi ketidakdisiplinannya, latihan ini sewaktu-waktu bisa mengusik
suasana rutinitas harian yang dijadikan "jembatan beban" sehingga
mungkin saja menurunkan produktivitas kita.

Jika kita mampu memperkirakan bahwa setiap beban
dapat dipenuhi di "wilayah"-nya masing, maka semoga kita mampu
berdisiplin untuk tidak mencampurkan satu "wilayah" dengan
"wilayah" lainnya dan otomatis kita tidak membutuhkan latihan
"Jembatan Beban". Jika suatu beban dianggap membutuhkan waktu
penyelesaian lebih dari yang tersedia, maka boleh jadi kita memerlukan latihan
"Jembatan Beban" ini. Ketika kita berniat menerapkan latihan
"Jembatan Beban", kita harus menyadari bahwa kita tidak boleh
sering-sering atau berlama-lama berada di garis transisi ini. Mari kita jadikan
garis transisi ini sebagai jalan untuk melangkah ke depan sehingga kita benar-benar
berada di garis kedisiplinan dalam menyelesaikan beban-beban kehidupan kita. 

Penuhi Kembali "Gelas" Kita yang Kosong

Paradigma mengenai beban kehidupan yang disampaikan
Covey atau pakar-pakar lainnya sebenarnya dan sesungguhnya telah terangkum
sejak empat belas abad yang lalu di dalam al-Quran al-Kariim. Lebih dari
itu, Allah memaktubkan dalam firman-Nya inti solusi dari masalah-masalah
manajemen
waktu yang dibicarakan para pakar sampai saat ini.  

Salah satu surat yang kandungannya mampu menjawab
masalah penanganan beban kehidupan dengan sangat luar biasa adalah surat
Al-Insyirah. Secara spesifik, inti solusi dari masalah tersebut tercantum pada
ayat ke-7 dari surat ini
yang secara umum diterjemahkan sebagai berikut:

"Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu
urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain"

.

Menurut Quraish Shihab dalam buku "Wawasan
Al-Quran", kata faraghta pada ayat di atas (yang diartikan sebagai
"selesai [dari sesuatu urusan]") berasal dari kata faragha
yang bermakna kosong setelah sebelumnya penuh, baik secara material
maupun immaterial. Kata faragha ditemukan sebanyak enam kali dalam al-Quran
dengan berbagai bentuk derivasinya, namun semuanya tetap merujuk pada makna
yang sama. Sebagai contoh, gelas yang tadinya penuh berisi air, lalu airnya
diminum atau tumpah sampai habis, maka gelas tersebut berada dalam kondisi faragha.
Contoh lain adalah ketika hati kita resah, kemudian hati kita menjadi tenang
atau plong, berarti hati kita pun berada dalam kondisi faragha. Dari
sini, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kondisi kosong yang dimaksud dalam arti kata faragha
selalu diawali oleh adanya sesuatu yang mengisi "wadah" kosong itu
sampai penuh.

Penafsiran ayat ke-7 dari surat Al-Insyirah ini
semakin menarik ketika kita memahami makna kata fan-shab yang
diterjemahkan sebagai "kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang
lain". Masih menurut Quraish Shihab, fan-shab secara bahasa berarti berat
atau letih. Pada mulanya, kata ini bermakna menegakkan sesuatu sampai
nyata dan mantap (seperti yang dapat dipahami pada surat Al-Ghasyiyah:19). Kata
ini juga berakar sama dengan kata nashib yang diindonesiakan menjadi
"nasib". Seperti yang biasa dipahami, "nasib" terkait
dengan sesuatu yang telah nyata, jelas, dan sulit dielakkan. 

Jika pemaknaan faragha dan fan-shab
di atas kita terapkan pada maksud ayat ke-7 dari surat Al-Insyirah, maka kita
akan mendapatkan satu kesatuan terjemah yang luar biasa dalam dan
"berat", yakni jika kita berada berada dalam kondisi luang
(faragha) setelah sebelumnya kita telah "penuh" atau sibuk bekerja,
maka bersungguh-sungguhlah mengerjakan yang lainnya sampai engkau letih atau
menegakkan sesuatu yang baru sampai terlihat nyata
(fan-shab).
Sebuah imbauan untuk bergegas atau bersegera begitu nyata dalam ayat ini,
karena Allah memilih kata sambung fa pada kata fan-shab. Dalam
kaidah bahasa Arab, kata fa dan tsumma memiliki makna yang mirip,
tetapi tidak sama. Kata tsumma dipakai untuk menunjukkan adanya jeda waktu yang cukup signifikan antara
satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Sebaliknya, kata fa dipakai
untuk menunjukkan bahwa tidak ada jeda waktu yang signifikan antara satu
peristiwa dengan peristiwa lainnya. Dengan demikian, Allah menginginkan agar
kita langsung mengerjakan (tidak menunda-nunda) aktivitas kedua setelah
menyelesaikan aktivitas pertama dan begitu lah seterusnya. Subhaanallaah

Bersambung